My Fam

Aku lahir sebagai anak pertama, dari seorang ibu yang menikah sangat muda (16 thn) dan ayahku yg sudah bekerja sebagai polisi (22 thn). Tahun 1969, sebagai anak pertama yang lahir tidak normal (kandungan muda) dengan massa cuman 1,9 kg, semua tetangga memprediksikan bahwa usia bayi Juarsa tidak akan lama. Pada jaman itu, plus keadaan ekonomi ortu, apalagi ayahku hanya prajurit polisi, dengan inkubator yang dibuat oleh kakekku (dari Ibu) cukup inovatif. Inkubator hanya kotakan tripleks, dengan lampu pijar 25 watt yang jaraknya dipasang 15 cm dari badanku. Kemudian sisi kiri dan kanan tubuh mungilku diletakkan 2 botol (bekas sirop) air panas yang dibaluti oleh handuk. Allah berkehendak lain, dengan tetap aku dimandikan menggunakan minyak kelapa, Alhamdulillah sampailah aku pada usia sekarang. Bekerja sebagai seorang peneliti, memiliki istri dan 3 orang anak. Disinilah aku faham sekali, peranan sebagai orang tua, bercermin dari kedua orang tuaku. Terimakasihku tak terhingga kepada ibundaku, dan almarhum ayahandaku. Tak luput kepada almarhum kakekku (jawara betawi) dan nenekku yang telah membesarkanku dari bayi hingga kelas 2 SMP, terimakasih tak terhingga dan penghormatanku kepada mereka, khususnya kakek yg telam menanamkan niail-nilai perjuangan dan keteknikan.

Asal usul keluargaku cukup bervariasi, ayahandaku memiliki kedua orang tua yang berasal dari campuran suku, kakekku dari bapak (kami sering menggunakan istilah “embah”) adalah keturunan Banten, sedangkan embah perempuanku memiliki ayah asli orang Klaten dan ibunya (buyutku) orang Sunda Bogor. Kemudian jika dari pihak ibuku, kakekku adalah Betawi tulen dan nenekku adalah Sunda Bogor. Meski garis keturunanku (fihak laki-kali) adalah sebagai orang Banten, namun nuansa beragam suku mengalir dalam darahku. Ketika aku memiliki istri, istriku adalah orang Minang, orang Salo, Kab. Agam. Kondisi asal usulku membuatku, istri dan anak-anakku menjadi lebih terbuka dalam memandang wawasan nusantara dan kebangsaan. Bahwasannya keragam dalam kehidupan adalah anugrah yang luar biasa dari Allah SWT. Kami mensyukuri itu.

Aku memulai pendidikanku pada tahun 1977, di SD/MI Al Wasliyah Medan, Sumatera Utara hingga kelas II. Kemudian masuk kelas III di SDN Baranang Siang Bogor hingga aku lulus SD. Masih di jalan Malabar Bogor, aku melanjutkan SMP ku di SMPN 3 Bogor dan masa SMA aku habiskan masih di Bogor di SMAN 4 Bogor. Alhamdulillah aku bisa melanjutkan PT, tahun 1989-1990 di Fisika USU Medan. Namun kuliahku gagal, karena ke-egoisanku ingin berada di PTN yang aku idam-idamkan. Akhirnya mulai tahun 1991 aku masuk ke Fisika UNPAD Bandung, meski ini bukan PTN yang aku inginkan. Hingga tahun 1996 aku lulus dari Fisika UNPAD. Tahun 1997 adalah tahun dimana semua arah hidupku mulai berubah, dan memasuki gerbang tanggung jawab yang lebis besar. Pada tahun 1997, aku masuk sebagai PNS di BATAN dan pada tahun yang sama aku menikahi seorang gadis Minang, alumnus Kimia UNAND. Kami bertemu saat menyelesaikan TA Sarjana di BATAN Serpong. Pada tahun 2000-2003 aku berkesempatan memperoleh beasiswa dari pemerintah RI untuk melanjutkan studi S2 di Kyoto University, Kyoto dan Osaka Jepang pada Graduate School of Energy Science, Dept. Akhirnya mulai tahun 2009, aku duduk kembali di bangku kuliah untuk melanjutkan studi ke jenjang S3 di DTM FTUI Depok. Memang hidup penuh kejutan, dan apa yang kita rencanakan terkadang berubah, dan semua karena kehendaNya dan untuk kebajikanku. Alhamdulillah. Tidak lupa, sejak tahun 2005 aku bergabung sebagai Dosen Fisika Dasar di Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor hingga saat ini.

Awal nikah, dari tahun 1997-2000, aku sudah 3 kali pindah kontrakan, dan masih di kota Bogor.  Syukurlah, ketika studi S2 ku selesai, dengan sedikit sisa-sisa beasiswa dari Jepang, aku mengkredit rumah di daerah, Gunungsindur Kab.Bogor mulai tahun 2005. Tempat tinggalku cuku dekat dengan laboratorium tempat aku bekerja, di PUSPIPTEK, kira-kira 10 menit dengan kendaraan umum. Hingga kini aku telah dikarunia dengan 4 orang anak, 3 putra dan 1 putri. Alhamdulillah, semua itu aku rasakan sebagai kemurahan Allah dalam memberikan makna dan arti kehidupanku hingga saat ini.

Tentangku, hanya sekilas.

Foto-foto keluarga Ane

Bini ane, namanye Syahniza
 Anak-anakku (Khalid, Aflah, Zalya, dan Sena)

Wajah-wajah belas kasih
Gue ame adik2 (Mulya Juarsa, Permas Fifi Al Fian, Permas Nur Yahya, Siti Khadijah)
Gue digendong ame nyokap waktu umur 14 bulan…
Bokap (Almr. Mas Hartono DS) & Nyokap (Titi R.)
Salo, 14 Oktober 1997
Bandung, 2004
Bandung, 2008



%d blogger menyukai ini: