Flash-Nuklir

03 Juli 2012

Para Pakar Nuklir Bicara Potensi Pembangunan PLTN di Indonesia

Di Tanah Air, Image Nuklir Masih Menyeramkan

sumber Jawa Pos : http://indopos.co.id/index.php/arsip-berita-indopos/66-indopos/25237-para-pakar-nuklir-bicara-potensi-pembangunan-pltn-di-indonesia-1.html

Di saat sebagian negara-negara di dunia memanfaatkan tenaga nuklir untuk mengatasi krisis energi, Indonesia justru sebaliknya. Nuklir masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat tanah air. Bagaimana menyikapi kendala tersebut? Berikut wawancara INDOPOS dengan dua pakar nuklir Indonesia yang belum lama ini mengikuti pertemuan Board of Governors (BoG) Badan Nuklir Dunia (IAEA) di markas PBB Wina, Austria.

PEMBANGUNAN Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) mulai menjamur di Eropa. Masyarakat di benua biru ini sadar akan pentingnya sumber energi alternatif yang tidak memakan banyak biaya. Nuklir adalah salah satu pilihannya. Di Eropa Barat, negara-negara seperti Belgia, Prancis, Belanda, Spanyol, Inggris Raya, dan Jerman, minimal memiliki satu PLTN.

Di Eropa Tengah dan Timur, Swiss, Slovenia, Slovakia, Ukraina, Rusia, Swedia, Finlandia, Hongaria, hingga Bulgaria juga telah membangun PLTN dengan jumlah yang beragam. Total ada 186 PLTN yang beroperasi di benua biru dengan net capacity MWe 162,317. Jumlah itu masih bisa bertambah seiring dengan adanya beberapa pembangunan PLTN yang belum rampung atau under construction di sejumlah negara Eropa.

Di Asia, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, Pakistan, India, Iran, dan Tiongkok sudah melangkah dalam mengatasi krisis energi dengan mengoperasikan PLTN. Bahkan negara seperti Uni Emirat Arab (UEA) yang kaya akan sumber daya alam seperti minyak dan gas, juga berencana membangun PLTN. Pemerintah UEA sudah menunjukkan keinginannya tersebut dengan mengoperasikan 4 reaktor nuklir di negaranya. Semua ini dilakukan untuk satu tujuan: energi alternatif!

Bagaimana dengan Indonesia? Sejak era Presiden RI Soekarno hingga saat ini, Indonesia baru sebatas memiliki reaktor nuklir. Ada tiga lokasi yang dijadikan tempat reaktor nuklir yang kini dikelola Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan dalam pengawasan Badan Pengawasan Tenaga Nuklir (Bapeten) RI. Di Jogjakarta bernama Kartini reaktor nuklir research, MPR RSG-GA Siwabessy di Serpong, Banten, dan Triga Mark III di Bandung, Jawa Barat.

Dr. Hudi Hastowo, selaku Kepala BATAN, menyempatkan waktunya untuk berbincang-bincang dengan INDOPOS belum lama ini mengatakan bahwa persoalan pembangunan PLTN di Indonesia sangat bergantung kepada masyarakat. Menurut dia, masyarakat Indonesia masih melihat nuklir sebagai sesuatu yang bahaya dan tidak ada untungnya sama sekali.

’’Kalau niat untuk membangun PLTN itu sudah sejak tahun 1972. Tapi untuk merealisasikannya tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Semua tergantung masyarakatnya. Kalau masyarakatnya sudah merasa memerlukan nuklir untuk energi listrik dan lain-lainnya, baru bisa terwujud,’’ terang Hudi kepada koran ini memulai diskusi ringan seputar PLTN di sebuah rumah makan Tiongkok di distrik 19 Wina, Austria, pekan lalu.

Kenapa bergantung kepada masyarakat? Hudi menjelaskan, masyarakat Indonesia harus benar-benar ’’jatuh’’ terlebih dahulu agar bisa tersadar akan pentingnya energi alternatif. Sejauh ini, pemikiran masyarakat terhadap nuklir selalu pragmatis. Nuklir itu berbahaya, nuklir itu menyeramkan, nuklir itu tidak menyehatkan. Nuklir adalah sebuah kata yang selalu menakutkan bagi setiap orang.

Tentu benar, jika hal ini dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi pada Perang Dunia II. Dua kota, Hiroshima dan Nagasaki di Jepang menjadi korban bom nuklir oleh Amerika Serikat. Sehingga sejak itu negara-negara pemenang dalam Perang Dunia II berlomba untuk mengembangkan senjata pemusnah masal tersebut sampai saat ini. Wajar, jika masyarakat dunia selalu dihantui ketakutan yang besar dengan penggunaan nuklir yang tidak untuk tujuan damai.

Lain halnya, jika nuklir dimanfaatkan untuk kesehatan, baik untuk diagnosa maupun untuk pengobatan atau terapi. Masyarakat kedokteran menggunakan radioisotop Radium ini untuk pengobatan kanker, dan dikenal dengan Brakiterapi. Meskipun kemudian banyak ditemukan radioisotop yang lebih menjanjikan untuk brakiterapi, sehingga Radium sudah tidak direkomendasikan lagi untuk digunakan.

”Kalau masyarakat belum sadar akan hal ini, saya rasa sulit untuk membangun PLTN. Setidaknya dalam waktu 5 tahun ke depan ini tidak akan ada rencana pembangunan PLTN,” ucap Hudi.

Selain pemikiran masyarakat, situasi politik di tanah air juga sedikit banyak memengaruhi rencana pembangunan PLTN. Menurut Hudi, harus ada keinginan tinggi antara pemerintah dan pihak eksekutif untuk sama-sama mengatasi krisis energi, khususnya listrik, yang saat ini terus meninggi kebutuhannya. Selain itu juga, kata Hudi, seandainya PLTN dioperasikan itu secara langsung bisa mengurangi pengeluaran sumber energi lainnya. Batubara, misalnya.

”Kalau mau buat PLTN yang 1000 Mega saja bisa menghemat sekitar 3,5 juta ton batubara. Nah kalau batubaranya tidak digunakan kan bisa ada pihak yang rugi? Ini juga bisa menjadi kendala. Karena batubara kan sudah menjadi komoditi,” ujar Hudi.

Hudi lantas mencontohkan Austria. Negara berpenduduk 8,6 juta jiwa ini masih bisa ditutupi kebutuhan energinya. Meski bukan negara yang mengoperasikan PLTN, namun pemerintah Austria membeli suplai listriknya dari PLTN Prancis.

”Tidak heran kalau listrik di Austria tidak byarpet (nyala-mati). Mereka bisa membeli dari negara-negara tetangga energinya. Salah satunya dari Prancis. Austria juga membuat PLTA (pembangkit listrik tenaga angin) untuk menutupi kebutuhan energi listriknya. Tapi yang paling besar dari nuklir,” ucap Hudi.

Untuk saat ini, kata Hudi, lebih baik langkah untuk membangun PLTN di Indonesia dikesampingkan dahulu. Fokus utama BATAN, sesuai dengan amanat yang diberikan Presiden RI, adalah melaksanakan dan mengembangkan program FEWH (food, energy, water, and health).

”Kita sosialisasikan saja nuklir untuk kesehatan, pangan, dan air ke masyarakat. Biar masyarakat tidak takut dengan yang namanya nuklir. Biar masyarakat tahu manfaat dari nuklir tersebut. Soal pembangunan PLTN, biar waktu saja menjawab,” tukas Hudi.

Risiko dan Perolehan Manfaat Listriknya Seimbang

sumber Jawa Pos :http://indopos.co.id/index.php/arsip-berita-indopos/66-indopos/25261-para-pakar-nuklir-bicara-potensi-pembangunan-pltn-di-indonesia-2-habis.html

Nuklir memang tidak sempurna dan mahal untuk dibangun. Namun, selain target kebutuhan pada 2025 yang harus mulai dipersiapkan sejak dini, perlu diingat bahwa baru 66 persen penduduk Indonesia yang menikmati listrik. Sejauh ini, nuklir sudah memenuhi 15 persen kebutuhan listrik dunia dan mencegah emisi 2,1 miliar ton CO2 per tahun. Dan di benua Eropa sendiri sudah dibangun sedikitnya 186 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

PEMILIHAN nuklir mungkin dapat dianalogikan dengan pemilihan menggunakan pesawat terbang ketika bepergian jauh. Alasan utama orang menggunakan pesawat terbang bukan karena percaya pada pilotnya tetapi karena manfaatnya yang signifikan dibandingkan risikonya. Sebagian besar orang menganggap bahwa manfaat menggunakan pesawat terbang sebanding dengan risiko yang mungkin terjadi.

Energi nuklir merupakan jawaban bagi kemungkinan terjadinya krisis energi di Indonesia pada masa depan. Selain bahan baku yang masih melimpah dan efisien, teknologi tersebut relatif aman. Teknologinya sudah ada. Salah satu buktinya adalah tiga reaktor nuklir yang sudah berdiri di tanah air. Pertanyaannya kini, bagaimana merespons kekhawatiran masyarakat terhadap bahaya nuklir itu sendiri?

Indonesia memiliki badan yang ditugaskan khusus oleh Pemerintah RI sebagai pengawas, penjamin keselamatan dan juga memonitor pengelolaan nuklir. Badan itu adalah Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) RI. Menurut Kepala Bapeten RI, As Natio Lasman, pihaknya siap memberikan aspek pengawasan jika ada pihak swasta yang ingin membangun PLTN di Indonesia. ” Bila dilihat dari aspek pengawasannya, maka kami dari Bapeten siap untuk memproses pengajuan perizinan untuk pembangunan PLTN. Namun sebagaimana yang telah saya sampaikan bahwa untuk membangun dan kemudian mengoperasikan PLTN terdapat berbagai tahap perizinan yang harus dilalui,” tegasnya.

Lebih lanjut dijelaskan As Natio, dalam pengelolaan sebuah reaktor nuklir, termasuk PLTN, ada 5 tahap perizinan yang harus dilalui. Kelima tahap tersebut adalah tahap perizinan tapak, konstruksi, komisioning, operasi, dan dekomisioning. Bilamana perizinan tersebut telah disetujui, berarti Bapeten telah menjamin keselamatan dan kesehatan bagi pekerja, masyarakat, dan lingkungan hidup.

”Bapeten sendiri mempunyai inspektur keselamatan nuklir yang senantiasa akan menginspeksi reaktor nuklir tersebut sehingga perizinan yang telah diberikan benar-benar dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya. Perlu saya sampaikan bahwa inspeksi tersebut dapat dilaksanakan secara periodik ataupun sewaktu-waktu,” ucap As Natio kepada INDOPOS usai mengikuti pertemuan Board of Governors (BoG) Badan Nuklir Dunia (IAEA) di markas PBB Wina, Austria, pekan lalu. Jika segala tahap perizinan ini bisa dilalui oleh pihak yang ingin membangun PLTN, demikian, As Natio, Bapeten menjamin pengelolaan PLTN tersebut akan berjalan dengan aman.

Untuk membangun suatu PLTN, kata As Natio, jangan hanya dilihat dari satu aspek saja. Teknologi, misalnya. Namun perlu dilihat dari berbagai aspek lainnya, termasuk sosialisasinya. Menurut As Natio, kiranya seluruh stake holder harus bekerja seoptimal mungkin bila pembangunan PLTN ingin direalisasikan. ”Namun perlu saya sampaikan, bahwa pembangunan PLTN di mana pun juga adalah termasuk bagian dari strategi masing-masing negara untuk memastikan mendapatkan pasokan energi secara terus menerus,” terang orang nomor satu di Bapeten RI ini.

Lantas bagaimana dengan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia? Seperti diketahui Indonesia sendiri memiliki banyak pakar nuklir. Bahkan Indonesia diakui negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina memiliki SDM yang berlimpah. Namun, meski memiliki SDM yang melimpah, hingga saat ini realisasi pembangunan PLTN itu sendiri belum juga terwujud. Ibarat pemain sepak bola yang memiliki skill tinggi, tapi sayang tidak ada ajang untuk mengasah kemampuan seperti kompetisi reguler. Ini bisa menjadi kendala di kemudian hari.

Kini, SDM nuklir di Indonesia sudah udzur dan tidak sedikit yang mendekati usia pensiun. Kemampuan para junior di dua lembaga nuklir tanah air, Batan dan Bapeten, juga tidak sama seperti seniornya. Dikhawatirkan, saat Indonesia terdesak untuk membangun PLTN, SDM yang diperlukan sudah tidak memadai.

As Natio sendiri tidak menampik akan hal tersebut. Menurut dia, perlu strategi untuk mengatasi dan mempertahankan kemampuan SDM nuklir di tanah air. ”Memang perlu strategi untuk itu, bagaimana agar transfer pengetahuan dari senior kepada yunior dapat terus berlangsung, bagaimana kesempatan mendidik staf ke luar negeri perlu terus diupayakan, bagaimana memanfaatkan berbagai peluang yang diberikan oleh IAEA (the International Atomic Energy Agency) untuk terus memaintain pengetahuan yang ada dan terus mengikuti perkembangannya,” ujar As Natio Lasman yang diamini Hudi Hastowo, kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional saat berbincang dengan koran ini di lobi Hotel Kaiser Franz Joseph Wina, Austria , pekan lalu.

Bapeten sendiri hampir setiap bulan mengirim para stafnya untuk mengikuti on the job training di negara-negara maju, demikian juga dengan terus menghidupkan in-house training di Bapeten. Selain hal tersebut, demikian As Natio, hubungan dengan perguruan-perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan dalam bidang tenaga nuklir seperti yang ada di UGM dan ITB perlu terus dilakukan. ”Jika hal ini dilakukan, saya rasa SDM nuklir di Indonesia bisa tetap terjaga,” tukas As Natio.

07 Oktober 2010

NGEJAWAB EMAIL ORANG SOAL “PROVEN”

Dari: Mulya Juarsa <mulya.juarsa@yahoo.com> …Tambah ke Kontak
Kepada: wartabatan@yahoogroups.com

Dari: Sidik Permana <psidik@gmail.com>
Judul: Re: [IndoEnergy] Re: Prospek PLTN …
Kepada: IndoEnergy@yahoogroups.com
Tanggal: Rabu, 6 Oktober, 2010, 8:41 AM

Pertanyaan ttg proven :

Kalo kita buka kamus inggris-indonesia (di internet aja), proven : teruji, terbukti. Maksudnya sudah jelas sesuatu yg telah terlihat hasilnya setelah mengalami waktu tertentu tanpa perubahan konsep awal dan berjalan seperti yg diharapkan, sesuatu yg kekuatannya telah diuji (meski dalam hal ini part by part).

Terus kalo baca PP No.43 Tahun 2006, pasal 4 ayat 2, bunyinya gini nih:

“Yang dimaksud dengan teknologi teruji (proven technology) adalah teknologi yang digunakan dalam suatu desain yang telah terbukti melalui pengalaman operasi reaktor paling singkat 3 (tiga) tahun secara selamat dengan faktor kapasitas rerata minimal 75% (tujuh puluh lima persen)”

Jelas sih kalo baca sepintas, kayaknya cuman pada variable waktu dan daya saja. Dimana kalo kita ngidupin reaktor dengan daya minimal (rata2) 75% ampe 3 tahun, terus enggak ada accident atau incident dapat dianggap teruji. Ternyata gak itu aja maksudnya, padahal kalo kita mau jeli, proses izin dari tapak, konstruksi, komisioning, operasi/komersial, ampe dekomisioning semua harus melewati izin tiap tahapnya. Otomatis semua kudu melalui proses pe-nguji-an (di-proven-in kali ye) untuk semua variabel yang berpengaruh dan terikat pada setiap tahapan dan bersifat lampau setelah dioperasikan selama 3 tahun. Contoh tahap tapak, variable seimik, geologi, dsb. Tahap konstruki, uji material dan keandalan system, dsb. Jelas semua kudu di UJI atai di PROVE, terus dikasih lisensi kalo lolos proses PROVE.

1.    Tolong definisi proven disini seperti apa ya? apakah PLTN yang sudah komersial dan dipakai dibanyak negara yang dioperasikan sampai saat ini belum dikatakan proven?

KaKalo definisi saya (saya loh), kayak yg di atas saya tulis itu, soal PROVEN. Jelas udah proven dong, skalanya pake daya minimal (rata2) 75% terus udah lebih dari 3 taon.

2.    Apakah standar designya reaktornya dengan menggunakan data gempa terbaru bisa dikatakan proven? atau ini jadinya proven terhadap gempa? jadi nunggu gempa dulu berkali-kali baru proven? Mengacu ke gempa di Kashiwazaki Jepang, apakah PLTN tersebut belum bisa dikatakan proven?

Kalo soal data terbaru, tentunya skala gempa make skala sejarah gempat terkuat pada suatu tapak. Ya gak lucu kita maksain bangun reactor di daerah yg emang gempanya (sejarahnya) pernah gede banget. Kalo bicara gempa, kan sebenernya bicara goyangan (ada yg naik dan turun, dan yg kiri-kanan), teknologi keselamatan reactor emang ngacu pada aspek kelakuan system thermalnya terhadap “goyangan”, selain secara mekanik juga, misalnya tidak mematahkan pipa pendingin yg bisa mengarah kepada kebocoran air pendingin (misal PWR) di system primer akibat goyangan gempa. Kualitas bahan terkait sifat elastisitasnya jelas diperhitungkan untuk menghadapi kondisi seperti itu, belum soal korosi, perubahan bahan akibat paparan panas dan radiasi (di primer). Soal di PLTN KK (KashiwazaKi), memang muncul data baru tentang pergerakan tanah yg melewati batas desain pergerakan tanah (bdpt). Dari sini emang jelas, balik ke proven, bisa saja kita berkilah, “kok gak proven?” , “kok masih ada radiasi yg keluar?”, tapi kalo kita udah gak percaya orang2 kita, minimal deh kita percaya ame hasil investigasi IAEA tentang besaran radiasi yg keluar ternyata masih di bawah ambang keselamatan. Buka aja http://www.iaea.org/ terus masukin judul “Kashiwazaki” di search, banyak tuh dokumen2 yg nyeritain soal gempa dan akibatnya. Jadi proven tentunya berdasarkan kondisi lampau.

Soal gempa berkali2 ngehantem reactor nuklir, bukannya enggak ada, banyak malah, reaktor2 di jepang hampir tiap hari kena gempa. Tapi yg angkanya melebihi bdpt, baru reactor KK (kalo ada yg lainnya mohon tambahin deh). Dari situ pelajaran mahal bagi desainer reactor (bukan soal generasi reaktornya aja) , skala ketahan gempa untuk reactor praktis ditingkatkan, tentunya untuk reactor generasi sejenis tapi belum dibangun akan ada adjust terhadap beberapa parameter. Bisa saja kita berkilah, meski ada gempa yg melebihi skala desainnya, toh reactor enggak meledak kayak Chernobyl. Persoalannya, sampe saat ini belum ada mekanisme iptek yg bisa pasti memastikan skala gempa tertinggi dan kapan gempa muncul. Tengoklah Aceh, siapa sangka? Padang? Padahal dengan adanya gempa kemarin, saya enggak denger tuh PLTU atau system pembangkit konvensional rusak parah atau trafo atau system pendinginnya meledak? Padalah standar industry dan perizinan PLT konvensional di bawah PLTN. Yang ada kapal PLN, naik ke atap rumah orang.

3. Kalau pengertian proven disesuaikan dengan negara( kondisi gempa misalnya-red) maka tidak ada yang namany proven universal. Dan apabila proven disini diikuti dengan kudu adanya pembuktian hasil2 terbaru, yang kejadiannyapun belum terjadi. Artinya tidak ada yang namanya teknologi proven, tapi yang ada adalah teknologi kadaluarsa,solanya proven berdasarkan waktu, seperti makanan sudah tidak layak makan.

Saya setuju banget tuh, soal proven terkait waktu ke depan gak ada (bahasanya aja TERUJI, alias udah di UJI), sekali kali proven disini terkait waktu kebelakang (lampau), kan bunyinya setelah 3 taon. Seperti yg dinomor dua, gara2 ada masalah pada PLTN KK karena melebihi bdpt-nya, maka ketika mereka mau bangun baru reactor sejenis dan se-generasi tentunya adjust didesain dilakukan terkait data baru tadi. Kalo yg lama mah kan udah dimatiin. Kalo kita bakal beli reactor sejenis dan modelnya udah proven (udah ada dan dioperasikan), tetep yg dibangun yg baru plus adjust2 tadi selama anomaly yg muncul dalam pengoperasiannya di lampau. Saya kadang juga suka bingung, kalo kita yakiin banget bahwa ada PROVEN ke masa depan kayak yg udah pasti, sekali lagi kejadian gempa di Sumatera dan Jawa akhir2 ini, sebelum kejadiankan gak ada yg nebak atau mastiin. Namun, minimal deh meski kita enggak tahu “kapan”nya dan “berapa” besarnya, dengan negok lagi ke belakang (PLTN KK) tadi, skala gempa pltn yg mau dibangun angkanya akan dibuat ekstrim (dan ini emang filosofi di desain keselamatannya) meski akan berdampak kepada biaya (akan membengkak, dan kalo gak ekonomis ya udah ngiler lagi).

4.    Mohon pandangannya, memisahkan design reaktor core, design thermal hydrolic dan turbinnya, serta design bangunannya apakah tahan gempa kekuatan berapa sekala richter atau kuat ditubruk pesawat boing 737 bisa dikatakan proven.

Sepengetahuan saya emang gak ada eksperimen skala 1:1, seperti menabrakkan pesawat 737 ke salah satu PLTN di amerika misalnya, atau saat turbinya beroperasi di goyang2 dengan mesin  uji yng memiliki skala gempa tinggi banget, dsb. Yang pernah ada cuman 1, yaitu Chernobyl, meskipun eksperimennya bertujuan untuk menghemat BB dan bisa menghasilkan plutonium yg banyak. Toh dunia belajar dari situ bahwa eksperimen skala 1:1 diharamkan (lihat lagi di internet akibat Chernobyl, itulah sosok yg mengerikan dari kecelakaan nuklir, tapi lihat juga penyebabnya, biar per). Makanya dalam eksperimen, para pakar  nuklir di dunia pake scale-down dan tentunya gak kan persis banget dengan skala 1:1-nya, via eksperimen yg diskalakan, hasil2 (korelasi) dimuatkan dalam bentuk kode2 komputer, sehingga riset berjalan dua arah, eksperimental (empiric) dan simulasi computer. Kalo nanya bukti pertanyaan No.4, ya gak ada lah. Tapi kalo nanya bukti part by part di ujikan atau yg scale-down ada, tinggal cari deh di jurnal2 riset internasional soal riset tek.keselamatan nuklir. Pesawat terbang aja yg ada riset skala 1:1, tetep aje dari tahun ke tahun ada yg jatuh dan memakan korban. Tapi apakah saat kita ke Yogya dan kudunya naik pesawat karena waktu mau seminar mefet, terus jadi anti pesawat yah enggak, trus dari pada kreta api yg 8 jam, tetep aje kreta juga ada kecelakaannya. So, PROVEN ke masa depan gak pernah ada. Semua rahasia yg nyiptain alam. Semua ilmuwan hanya bisa menebak (estimasi) dengan pengalaman empiricnya (uji lampaunya) dan berdasarkan data2 anomali dari setiap kejadian di lampau. Jadi kalo saya ditanyian apakah PLTN aman? Saya jawab tidak, karena parameter masa depan hanya bisa diestimasi saja dan gak ada angka pastinya. Tapinya, kita juga kudu jujur, kalo ditanya: apakah pesawat terbang, kapal laut, mobil, sepede motor dan sepede gowes…dikatakan AMAN? Pasti enggak juga, karena gak pernah ada berita bahwa tidak pernah ada pesawat yg jatuh atau kapal laut yg tenggelam kan. Semua manusia masih menggunakannya meski tahu resiko ketidak amanannya ada. Karena apa??? Karena kebutuhan bukan, butuh transportasi. Maka kalo bicara soal energy, mari kita juga mempertimbangkan ke soal kebutuhannya, bahwa bangsa ini butuh energy banyak. Sumber2 energi terbarukan lainnya kan belom dimanfaatkan? Iya emang, dan kita bisa mix semua, tinggal cari yg suplay energy-nysa agak konstan, terus kita jadiin “backbone”-nya system energy nasional, jadi biar gak biar pet, bukan soal kuantitasnya aja, tapi stabilitas penyediaan suplay energy. Misal, batu bara lagi syusah nyari, terus laut dan angin lagi kenceng2nya, pratktis transportasi batu bara terganggu, supply energy terganggu. Kalo dijadiin backbone batu bara sulit rasanya.

5.  Mohon juga pandangannya, bahwa bahaya radiasi itu terletak pada sistem kontainment core reaktor, yaitu pada bagian fuel pin, fuel assembly,reactor vessel, ditambah dengan pelindungan reaktor beton plus bagunan itu sendiri. Kalau gempa berapapun besarnya, bahan bakar plus radiasinya masih terkungkung dalam vessel dan reaktor dengan sendirinya shutdown sendiri, dan   core reaktornya tidak mengalami pelelehan, maka reaktor tersebut bisa dikatakan proven?

Standar keselamatan dalam reactor, berbasis pada tiga pilar yaitu pengontrolan reaktivitas (neutronik), pemindahan panas (thermal hydraulics) yang berlebihan dari inti reaktor dan menjaga/menjamin agar material radioaktif tidak keluar (pertahanan berlapis). Maksudnya adalah, meskipun reaktivitas dikendalikan dan reactor bisa dipadamkan, decay heat selalu ada (dibawah 10% deh), disini peran thermal hydraulics jadi dominan, karena konsepnya bagaimana2 caranya dengan waktu yg cepat dan kondisi tepat agar kelebihan panas bisa dibuang dari system atau diturunkan dari system, sehingga tidak ada panas berlebih di teras (meski padam) yang kalo tidak terjaga akan menyebabkan fenomena pendidihan muncul, yg tentunya akan mengarah ke persoalan burnout, kalo udah burnout alias gosong, dimungkinkan cladding leleh (kejadian TMI-2). Tapi kalo system bisa cepat2 kita dingingkan, dan fenomena boiling tidak terjadi, endak ada panas berlebih diteras yg sedang padam. Reaktor save. Saya setuju unsur radioaktif juga ada di dalam air pendingin primer, sebagai hasil belahan fisi, dan nilainya lebih rendah dibandingkan fuel dari cladding ke luar karena patah atau melting. Dan radiasi emang ada di mana-mana, di sekitar kita jelas radiasi ada, radiasi dari kosmik. Sebagai gambaran, asal cairan pendingin di system primer bisa dijaga untuk tetap pada temperatur di bawah saturasi, maka tidak akan mengarah ke boiling. Tapi, kalo sudah berlebih, alias temperatur cairan pendingin (air, misalnya) berada pada saturasinya, maka fenomena boiling akan menjadi dominan, kondisi saturasi pada air adalah kondisi dua-fasa (two-phase), prosesnya boiling, dalam boiling seiring inputan kalor yg konstan dari decay heat reactor yg padam ke cairan, maka lama-lama perubahan rejim pendidihan dari didih inti, ke-didih transisi dan didih film, sementara cairan tidak mengalami penuruan temperature, akan terjadi.Celakanya kalau sampai film boiling dan bertahan terus2an tanpa adanya pendinginan, cladding akan akan naik temperturnya, dimulai dari burnout dan titik leleh cladding akan terlampaui. Belum lagi munculnya hydrogen selama film muncul, yg justeru bisa menyebabkan terjadinya ledakan di teras (jika ada oksigen yg masuk). Dengan memahami sifat termal fluida pendingin maupun material lainnya, pengendalain termal bisa kita lakukan, tentunya kalo soal kepanasan, cara kita adalah cepet2 ngedinginin. Hal sederhana ini juga terjadi dengan kita, kalo badan kepanasan, maka kalo kita enggak buka baju terus ngidupin kipas angin juga belum ilang itu gerahnya, paling kalo ada sungai kita berendem di situ atau di bak kamar mandi. Persoalan termal pembangkit konvensional non-nuklir dengan nuklir bedanya adalah, bahwa nuklir mengatur dari 100% ke arah bawah, sedangkan non-nukir dari bawah ke 100%. Ini yg lumayan unik menurut saya.

Maaf kalo saya kepanjangan menjawabnya. Saya bukannya nuklir minded, saya lebih seneng mikir bahwa kita butuh energy terserah energy apapun itu, yg penting kita enggak “biyar per” dan “sumber energy untuk memicu ekonomi, tersedia dengan melimpah”, Tengoklah yg mudik, mereka butuh mudik apapun caranya dilakonin, padahal angka korban selama mudik lumayan terbilang tinggi dari tahun ket tahun, enggak ada yg gak kapok tuh, dan diulang terus2an. Tapikan PLTN gak kan nekad seperti kasus mudik bukan?

Meskipun, semua peralatan yg diciptakan manusia memiliki resiko dan bahaya, yg tentunya akan mengancam keselamatan manusia, tetap bahaya radiasi adalah sesuatu yg mengerikan, tidak tercium, tidak berwarna dan tidak terasa, tahu-tahu sudah teradiasi. aja Justeru dari sifat radiasi tersebut, konsep, perhitungan, analisis di bidang nuklir bukan pekerjaan asal-asalan, dan tentunya dengan step2 perizinannya dan pengawasannya baik nasional , LSM dan internasionall, para ahlinya bekerja dengan seriyus. Belum lagi PROVEN-nya. Apakah PLTU Batu-bara ada Provennya? Atau kalo mau per, bahwa disekitar PLTU Batubara, polusi udara tidak boleh melebihi ambang batas pencemaran? Pastinya ada juga bukan. Juga dengan pembangkit lainnya.? Sama saja, yg jelas KITA BUTUH ENERGI.

Salam energi,

Mulya Juarsa

Mahasiswa DTM-FTUI


Dari: soedardjo batan <soedardjobatan@yahoo.com>
Kepada: WARTABATAN <wartabatan@yahoogroups.com>
Terkirim: Rab, 6 Oktober, 2010 21:41:33
Judul: [WARTABATAN nuke] Re: Prospek PLTN …

— Pada Rab, 6/10/10, Sidik Permana <psidik@gmail.com> menulis:

Dari: Sidik Permana <psidik@gmail.com>
Judul: Re: [IndoEnergy] Re: Prospek PLTN …
Kepada: IndoEnergy@yahoogroups.com
Tanggal: Rabu, 6 Oktober, 2010, 8:41 AM

Pertanyaan ttg proven :

1. Tolong definisi proven disini seperti apa ya? apakah PLTN yang sudah komersial dan dipakai dibanyak negara yang dioperasikan sampai saat ini belum dikatakan proven?2. Apakah standar designya reaktornya dengan menggunakan data gempa terbaru bisa dikatakan proven? atau ini jadinya proven terhadap gempa? jadi nunggu gempa dulu berkali-kali baru proven? Mengacu ke gempa di Kashiwazaki Jepang, apakah PLTN tersebut belum bisa dikatakan proven? 3. Kalau pengertian proven disesuaikan dengan negara( kondisi gempa misalnya-red) maka tidak ada yang namany proven universal. Dan apabila proven disini diikuti dengan kudu adanya pembuktian hasil2 terbaru, yang kejadiannyapun belum terjadi. Artinya tidak ada yang namanya teknologi proven, tapi yang ada adalah teknologi kadaluarsa,solanya proven berdasarkan waktu, seperti makanan sudah tidak layak makan. 4. Mohon pandangannya, memisahkan design reaktor core, design thermal hydrolic dan turbinnya, serta design bangunannya apakah tahan gempa kekuatan berapa sekala richter atau kuat ditubruk pesawat boing 737 bisa dikatakan proven. 5. Mohon juga pandangannya, bahwa bahaya radiasi itu terletak pada sistem kontainment core reaktor, yaitu pada bagian fuel pin, fuel assembly,reactor vessel, ditambah dengan pelindungan reaktor beton plus bagunan itu sendiri. Kalau gempa berapapun besarnya, bahan bakar plus radiasinya masih terkungkung dalam vessel dan reaktor dengan sendirinya shutdown sendiri, dan   core reaktornya tidak mengalami pelelehan, maka reaktor tersebut bisa dikatakan proven?
Proven bangunan, gedung, rumah tahan gempa vs. bangunan PLTN tahan gempa, bagaimana membedakannya. mohon sharingnya.* PLTN proven –> terhadap kecelakaan * PLTN proven –> terhadap gempa * PLTN proven –> terhadap tumbukan pesawat boeing* PLTN proven –> terhadap “teroris”* PLTN proven –> terhadap “stabilitas supplai bahan bakar”* dll.

salamSidik

2010/10/6 soedardjo batan <soedardjobatan@yahoo.com>

24 Agustus 2010

Soal kecelakaan Reaktor tipe RMBK 1000 di Ukraina, namanya Chernobyl

(maaf ini baru awalnya saja dulu, biar rada ramean dikit)

Sumbernya dari : http://www.world-nuclear.org/info/chernobyl/inf07.html

Komplek PLTN Chernobyl, berada sekitar 130 km sebelah utara Kiev, Ukraina, dan di selatan sekitar 20 km dari perbatasan dengan Belarus. Chernobyl terdiri dari empat reaktor nuklir dari desain RBMK-1000 (Gambar 1), unit 1 dan 2 dibangun antara tahun 1970 dan 1977, sedangkan unit 3 dan 4 dari desain yang sama diselesaikan pada tahun 1983. Dua lagi RBMK reaktor sedang dalam proses pembangunan di lokasi pada saat kecelakaan. Kemudian di sebelah tenggara pabrik, terdapat danau buatan sekitar 22 kilometer persegi, terletak di samping sungai Pripyat, sebuah anak sungai Dniepr. Danau tersebut dibangun untuk menyediakan air pendingin untuk reaktor.

Wilayah Ukraina digambarkan sebagai Belarusia-tipe hutan dengan kepadatan penduduk yang rendah. Sekitar 3 km dari reaktor, di kota baru, Pripyat, ada 49.000 jiwa. Kota tua Chornobyl, yang memiliki jumlah penduduk 12.500 berada sekitar 15 km ke arah tenggara kompleks.Populasi penduduk dalam radius 30 km dari Chernobyl berjumlah antara 115.000 dan 135.000 orang.

Tipe reaktor RBMK 1000 adalah rancangan Uni-Soviet yang terdiri dari grafit  yang digunakan untuk memoderasi tabung tekanan, dengan menggunakan bahan bakar uranium oksida yang diperkaya (2% U-235). RMBK 1000 merupakan reaktor air (air ringan, H20) mendidih, dengan dua loop yang memberikan umpan uap langsung ke turbin, tanpa adanya penukar panas. Air dipompa ke bagian bawah kanal bahan bakar dan kea rah atas menghasilkan pendidihan pada tabung-tabung tekanan yang kemudian uap yang dihasilkan digunakan untuk memutar dua buah turbin dengan kapasitas pembangkita listrik 500 MWe. Air yang digunakan sebagai pendingin juga digunakan untuk menjadi uap yang digunakan menggerakkan turbin.Tabung tekanan vertikal berisi bahan bakar uranium dioksida yang dibungkus oleh paduan zirconium-alloy dimana air pendingin mengalir disekitarnya. Penyambungan saluran bahan bakar menembus pelat bawah dan pelat penutup inti dan dilas untuk masing-masing. Sebuah mesin pengisian bahan bakar khusus dirancang untuk memungkinkan bundel bahan bakar dapat diganti-ganti tanpa mematikan (shutdown) reaktor.

Gambaran RMBK pada kondisi kecelakaan:

Efek radiasi:

Timeline Accident: masih pake bahasa Inggris

April 25
01:06 The scheduled shutdown of the reactor started. Gradual lowering of the power level began.
03:47 Lowering of reactor power halted at 1600 MW(thermal).
14:00 The emergency core cooling system (ECCS) was isolated (part of the test procedure) to prevent it from interrupting the test later. The fact that the ECCS was isolated did not contribute to the accident; however, had it been available it might have reduced the impact slightly.
The power was due to be lowered further; however, the controller of the electricity grid in Kiev requested the reactor operator to keep supplying electricity to enable demand to be met. Consequently, the reactor power level was maintained at 1600 MWt and the experiment was delayed. Without this delay, the test would have been conducted during the day shift.
23:10 Power reduction recommenced.
24:00 Shift change.
April 26
00:05 Power level had been decreased to 720 MWt and continued to be reduced. AlthoughINSAG-1 stated that operation below 700 MWt was forbidden, sustained operation of the reactor below this level was not proscribed.
00:28 With the power level at about 500 MWt, control was transferred from the local to the automatic regulating system. The operator might have failed to give the ‘hold power at required level’ signal or the regulating system failed to respond to this signal. This led to an unexpected fall in power, which rapidly dropped to 30 MWt.
00:43:27 Turbogenerator trip signal blocked in accordance with operational and test procedures.INSAG-1 incorrectly reported this event occurring at 01:23:04 and stated: “This trip would have saved the reactor.” However, it is more likely that disabling this trip only delayed the onset of the accident by 39 seconds.
01:00 The reactor power had risen to 200 MWt and stabilised. Although the operators may not have known it, the required operating reactivity margin (ORM) of 15 rods had been violated. The decision was made to carry out the turbogenerator rundown tests at a power level of about 200 MWt.
01:03 A standby main circulation pump was switched into the left hand cooling circuit in order to increase the water flow to the core (part of the test procedure).
01:07 An additional cooling pump was switched into the right hand cooling circuit (part of the test procedure). Operation of additional pumps removed heat from the core more quickly leading to decreased reactivity, necessitating further absorber rod removal to prevent power levels falling. The pumps delivered excessive flow to the point where they exceeded their allowed limits. Increased core flow led to problems with the level in the steam drum.
01:19 (approx.) The steam drum level was still near the emergency level. To compensate, the operator increased feedwater flow. This raised the drum level, but further reduced reactivity to the system. The automatic control rods went up to the upper tie plate to compensate but further withdrawal of manual rods was required to maintain the reactivity balance. System pressure began to fall and, to stabilise pressure, the steam turbine bypass valve was shut off. Since the operators were having trouble with the pressure and level control, they deactivated the automatic trip systems to the steam drum around this time.
01:22:30 Calculations performed after the accident found that the ORM at this point proved to be equal to eight control rods. Operating policy required that a minimum ORM of 15 control rods be inserted in the reactor at all times.
01:23 (approx.) Reactor parameters stabilised. The unit shift supervisors considered that preparations for the tests had been completed and, having switched on the oscilloscope, gave the order to close the emergency stop valves.
April 26: the test
01:23:04 Turbine feed valves closed to start turbine coasting. This was the beginning of the actual test. According to Annex I of INSAG-7, for the following approximately 30 seconds of rundown of the four coolant pumps, “the parameters of the unit were controlled, remained within the limits expected for the operating conditions concerned, and did not require any intervention on the part of the personnel.”
01:23:40 The emergency button (AZ-5) was pressed by the operator. Control rods started to enter the core, increasing the reactivity at the bottom of the core.
01:23:43 Power excursion rate emergency protection system signals on; power exceeded 530 MWt.
01:23:46 Disconnection of the first pair of main circulating pumps (MCPs) being ‘run down’, followed immediately by disconnection of the second pair.
01:23:47 Sharp reduction in the flow rates of the MCPs not involved in the rundown test and unreliable readings in the MCPs involved in the test; sharp increase of pressure in the steam separator drums; sharp increase in the water level in the steam separator drums.
01:23:48 Restoration of flow rates of MCPs not involved in the rundown test to values close to the initial ones; restoration of flow rates to 15% below the initial rate for the MCPs on the left side which were being run down; restoration of flow rates to 10% below the initial rate for one of the other MCPs involved in the test and unreliable readings for the other one; further increase of pressure in the steam separator drums and of water level in the steam separator drums; triggering of fast acting systems for dumping of steam to condensers.
01:23:49 Emergency protection signal ‘Pressure increase in reactor space (rupture of a fuel channel)’; ‘No voltage – 48 V’ signal (no power supply to the servodrive mechanisms of the EPS); ‘Failure of the actuators of automatic power controllers Nos 1 and 2’ signals.
01:24 From a note in the chief reactor control engineer’s operating log: “01:24: Severe shocks; the RCPS rods stopped moving before they reached the lower limit stop switches; power switch of clutch mechanisms is off.”

——————————————————————————————————————————————————————-

20 Agustus 2010

Reaktor Nuklir Jangan Dilewatkan

PLTN Terus Diupayakan

Sumber : http://www1.kompas.com/read/xml/2010/08/20/03343774/reaktor.nuklir.jangan..dilewatkan
JUMAT, 20 AGUSTUS 2010 | 03:34 WIB

Jakarta, Kompas – Meskipun Indonesia kaya akan sumber daya alam dan energi, tapi jangan sampai melewatkan energi nuklir sebagai sumber daya energi alternatif, khususnya untuk listrik. Namun, untuk penerapannya harus dengan memperkuat kemampuan sendiri lebih dulu.

”Jangan terlena dengan banyaknya sumber daya alam dan energi yang tersedia. Kita akan memanfaatkan energi nuklir semaksimal mungkin,” kata Wakil Presiden Boediono saat menjawab pertanyaan peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLIV Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (19/8).

Komen juarsa : Terlena dengan publikasi bahwa energy kita masih berlimpah, terlena dengan bisnis energi yaitu penjualan batu-bara dan penambangannya, proyek2 energi konvensional lainnya. Memaksimalkan pemanfaatan energi nuklir: karena nilai ke-ekonomian, dan terlepas dengan urusan politis dan penerimaan masyarakat.

Dalam acara pembekalan oleh Wapres Boediono itu hadir Menko Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto; Gubernur Lemhannas Muladi; serta 100 peserta PPRA Lemhannas.

Sebelumnya, seorang peserta menanyakan tindak lanjut pembangunan reaktor nuklir di Indonesia. Wapres Boediono pada 12-13 April lalu mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri Nuclear Security Summit di Washington DC, Amerika Serikat.

(no cemment)

”Ini (nuklir) adalah teknologi yang tidak bisa tidak harus dikuasai. Karena itu, penguasaannya jangan sampai dilewatkan begitu saja. Ke depan, itu (pemakaiannya) sangat jelas,” tambah Wapres.

Komen juarsa : Jelas ini menunjukkan bahwa kompetensi BATAN selaku litbang nuklir harus terus-terusan di tingkatkan termasuk peran serta dari instansi litbang lain dan PT, riset nuklir juga tidak melulu PLTN namun aplikasi nuklir dsb. Disiplin tidak terkolerasi dengan peningkatan kompetensi, kompetensi akan terkolerasi dengan riset dan hasil riset yang diperhitungkan di dunia, misalnya bagi peneliti tentunya karya ilmiah yang terus-terusan diterbitkan di internasional dengan media jurnal int. yang memiliki impact factor tinggi. Paten-paten dan metode-metode ilmiah terkait keilmuan dan keteknikan nuklir perlu diperbanyak, nuklir eksperties terkait SDM semakin diperhitungakan secara internasional.

Menurut dia, di sejumlah negara maju, kebangkitan kembali reaktor nuklir sudah terlihat. ”Risiko itu tetap ada. Dalam hidup ini, semua berisiko, mulai dari batu bara dan juga gas. Jadi, masalah reaktor nuklir harus dipelajari dengan benar-benar,” katanya.

Komen juarsa: wapres sadar bahwa energy nuklir sudah kembali menjadi alternatif pilihan pokok (energy base) sebagai energy source untuk pembangkitan, dan ke depan akan menjadi primadona ketika sumber2 konvensioanl sudah mulai habis. Resiko atau safety factor dalam pengoperasian “machine” apapun akan selalu ada, terlebih PLTN yang memiliki resiko radiasi jika terlepas ke lingkungan saat terjadi accident. Mempelajari disini, tentunya dengan litbang dasar, dan terapan serta keseriusan pihak penyelenggara litbang dalam menguasi dan mengembangkan teknologi PLTN, khususnya safety dan aplikasinya.

Wapres menambahkan, energi nuklir memang mahal, tapi pembiayaannya bisa murah jika teknologinya dikuasai.

Tentang kapan waktunya reaktor nuklir untuk penyediaan energi direalisasikan, Wapres Boediono menjawab, ”Saya akan melihatnya sejalan perkembangan beberapa tahun ke depan. Namun, intinya, kita harus melakukan ini dengan memperkuat kemampuan kita sendiri dulu.”

Komen juarsa : kembali ke statemen di atas tentang “penguasaan tek. Nuklir” dan terkait dengan pernyataan “kemampuan kita sendiri dulu”, dimana hal itu sangat multi tafsir, maksudnya jika kita harus mampu dahulu untuk menguasai teknologi nuklir tanpa adanya transfer teknologi memalui first unit PLTN (seperti Korea dan Jepang), maka reaslisasi PLTN tidak bisa dihitung kapan waktunya, dan semua bergatung kepada kemampuan lembaga litbang yang memiliki tusi NUKLIR. Perkembangan beberapa tahun ke depan, adalah alasan untuk menunggu situasi politis, terkait kepercayaan masyarakat Indonesia tentang KEAMANAN dan KESELAMATAN teknologi PLTN, bisa jadi ketika pak Bud mencalonkan jadi presiden baru berani di realisasikan, selain tentunya juga karena pertimbangan ke-ekonomian. Jadi, pernyataan di atas menunjukkan kontardiktif terkait waktu karena factor kemampuan SDM Indonesia dalam menguasai teknologi PLTN, dan factor ke-ekonomiannya. Pak wapres adalah ekonom, factor ini juga menjadi pertimbangan logis bagi beliau, namun unsur ketidak percayaan terhadap SDM agak kental nampaknya.

Boediono mengakui, waktunya tidak bisa ditentukan pasti. ”Namun, kita akan berusaha sampai suatu saat kita sepakati bersama lokasinya, kita akan bangun reaktor nuklir untuk tujuan pembangkit listrik. Ini adalah cita-cita yang akan kita teruskan.” (har)

Komen juarsa : Kembali bahwa factor waktu semakin tidak jelas, dan banyak sekali parameter yang akan mempengaruhinya. Faktor public acceptance (terkait pemilihan tapak dan persetujuan masyarakt RI), komitmen internasional untuk nuklir tujuan damai, pencapaian nilai ekonomi yang baik, dengan “energy saving is money saving”, bahwa PLTN masih menjadi pembangkit listrik yang murah dan dapat menyediakan sumber energy dengan kuantitas besar.

……renungan dan guratan fikiran, 20 Agustus 2010 (mulai menulis, saran Lutfi)

—————————————————————————————————————————————————————-

One response

26 04 2013
SéQuito

Thank you for the auspicious writeup. It in fact was a
amusement account it. Look advanced to more added agreeable from you!

By the way, how could we communicate?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: