Menghilangkan Ketergantungan “mesbuk”

3 08 2012

Semenjak diluncurkan pertama kali di USA pada bulan Februari 2004, facebook (terjemaah bahasa gue : “mesbuk”) menjadi jejaring social yang sangat dominan diberbagai belahan dunia ini. Benua ke benua, Negara ke Negara, kota ke kota, desa ke desa hinga person ke person saling terkoneksi, ditambah dengan fitur-fiturnya yang semakin memanjakan penggunanya. Semenjak dari anak kecil hingga orang tua (kakek-nenek) seakan berlomba dalam menggunakan jejaring social ini. Berbagai strata social, pendidikan hingga beragam status bisa saling terkoneksi dan semua hanya dilakan dengan cukup menekan “klik” saja.

Sharing informasi, baik berupa kata-kata, dokumen, foto hingga video dapat dengan mudah dilakukan via facebook melaui wall teman, wall pribadi maupun inbox. Terlebih ada fitur dimana beberapa orang bisa membuat groups, sehingga tidak semua teman-teman yg enggak sealiran bisa masuk, terus groups bisa dibuat hingga tidak terhitung dan nampaknya akan lahir terus setiap harinya sesuai dengan dinamika perubahan social, dinamika waktu (lampau, sekarang maupun masa depan), benefitas, dan sebagainya. Semua yg mulanya kita niatkan untuk men-share sesuatu kepada kalayak (all friends) akhirnya terbagi menjadi segmen-segmen informasi khusus melalui facebook groups, dikotomi atau pengelompokan memang sudah menjadi habitat manusia, baik di alam nyata maupun di dunia cyber. Yang jelas facebook telah menjelma menjadi salah satu media komunikasi yang paling padat di dunia ini, sampai-sampai pesan-pesan yg biasanya disampaikan via surat konvensional, surat elektronik (email), short message service (sms) by phone menjadi berkurang kuantitasnya, mengingat berkirim informasi melalui facebook bisa apa saja dan dengan siapa saja secara bersamaan dan terdokumentasi dengan baik. Tentunya fitur timeline menjadikan dokumentasi kita jadi lebih apik dan teratur berdasarkan waktu. Hingga pada akhirnya ketika komputer kita, baik laptop atau destop terhubung dengan jaringan internet, maka biasanya situs facebook yang pertama kali kita buka. Lumayan minimal 15 menit (paling cepat) kita pasti melototin layar monitor yg berisi “pesan-pesan” facebook, dan tanda merah sebagai status pesan masuk yg selalu kita harapkan.

Positifnya facebook? Wuih banyak juga, selain menimbulkan kreatifitas, seperti munculnya ide-ide untuk menuliskan sesuatu di status atau sekedar humor atau informasi yg bersensasi sehingga teman-teman yg membaca jadi terhibur atau malah ikut prihatin karena neyuarakan kegalauan, dukacita atau kesedihan lainnya, bisa juga terjalinnya hubungan keluarga atau perteman yg telah lama terputus atau terpisah, informasi keberadaan kawan atau apa saja. Saya termasuk pengguna aktif sejak tahun 2008 (telat 4 taon dari semenjak facebook ada), dan sudah lumayan juga groups facebook yg saya buat. Alhamdulillah sebagian besar groups facebook tersebut saya jadikan media share kepada rekan sejawat dan mahasiswa saya, meski kadang lucu juga status saya berderet cuman sendirian sedangkan mahasiswa yg menimpali (komen) paling juga hanya beberapa orang dan kadang itu-itu aja orangnya. Lucunya, kalau saya buat status aneh dan lucu atau apalah, kadang gak tertuga komen begitu banyak. Jujur sih, kadang kalo dapat komen banyak jadi terpuaskan dan merasa terperhatikan, ini memang yg disebut narsis kali. Ditambah dengan seringnya meng-upload setiap kegiatan pribadi (untung aje, kegiatan rutin nongkrong di toilet enggak di update). Pokoknya, positifnya adalah makin banyaknya pertemanana dan jaringan, serta media untuk mengurangi strees hidup.

Negatifnya? Kayaknya ndak ada deh? Iya sih, dari 2008 hingga akhir Juli 2012 kemarin belum terasa benar negatifnya, namun entah kenapa usai sholat subuh tangga 1 Agustus 2012 kemarin tiba-tiba kok merasakan kejenuhan yang amat sangat dengan facebook. Terbayang, bahwa tanpa disadari, hampir 30-40% waktu saya di depan computer setiap harinya pasti nagkring di facebook, baik itu nyetatus ke student soal kegiatan dan informasi ilmuah, nyetatus prasaan hati (baik kesel, happy atau apa aja), ngomentari status temen, update macem2 deh, hingga cuman bacaain status orang dan nge-like doang. Wuuuiihh…30-40% di pesbuuk??? Kalo sehari saya buka laptop sekitar 8 jam saja, berarti 2,4-3,2 jam sehari waktu saya untuk facebook, taruklah rata-rata setiap hari saya buka atau di depan komputer 4 jam saja, maka setiap hari rata-rata waktu untuk mesbuk sekitar 1,2-1,6 jam/hari dikalikan 365 hari. Luar biasa facebook itu ternyata. Jadi dalam setahun waktu saya untuk mesbuk rata-rata memakan waktu 18-24 hari. Belum dengan kegiatan lain yang menggunakan situs internet lainnya selain facebook? So, saya fikir saya sudah seperti “ketergantungan” alias “nyandu” dengan facebook. Dan entah karena apa pula tiba-tiba fikiran “negatif” tentang facebook datang dan tanggal 1 Agustus 2012 itulah saya non-aktifkan sementara akun facebook saya (belum brani permanen, belum sungguh2 soalnya). And, gila luar biasa, setelah di tutup itu akun facebook, selama dua hari ini ternyata saya diserang “kegelisahaan” yg luar biasa, kegelisahan ingin melihat “kondisi” all friends di facebook, ada kabar apa, ada info baru apa, atau ada foto dan video apa? Semua bikin penasaran dan itu kali yang disebut “sakaw nyetatus”?. Selama 2 hari, hampir beberapa kali saya ingin membuka lagi akun saya, namun Alhamdulillah, masih bisa di tahan. Makanya, di hari ke-3 ini saya dah mulai bisa kuasai kedaan, dan menuliskan perasaan saya ini melalui blog saya. Hhhmmmm, luar biasa, pengalaman ini terulang kembali ketika saya waktu masih muda, yang berhenti dari kebiasaan minum-minum, namun bisa dan akhirnya bisa jadi sarjana dan sekarang hampir s3, dan sudah punya anak 4.

Memang akan menjadi mudah saat kita dengan kata-kata baik lisan maupun tulisan diharuskan beropini apakah sesuatu itu ada positifnya atau ada negatifnya? Bagi saya semua hal, pasti ada positif negatifnya. Mudah saja, ibadah sholat adalah hal yg paling positif, tapi ketika kita dengan tidak sengaja dan sengaja melakukannya karena “ria” ibadah kita menjadi hal yg negatif. Begitu juga dengan studi, semakin tinggi jenjang studi kita akan semakin positif untuk kita dan keilmuan, namun jika kita melupakan hal-hal yg harusnya bisa kita lakukan agar bermanfaat, maka pendidikan akan merubah kita menjadi manusia yg angkuh dan sombong. Semua yg kita kejar hanya bermuara untuk diri kita dan kelompok2 kita. Jadi yakinlah, bahwa semua hal yang ada di depan mata akan berubah kearah kutub mana saja, positif maupun negatif. Alkohol akan menjadi negatif jika di minum, namun positif jika digunakan untuk membersihkan luka. Kembali lagi, semua hal tetap tersusun dari hal yang negatif dan positif, seperti semua unsur di kehidupan jagat raya ini. Selalu ada hal yg saling berlawan, dan yang saling berlawanan itu tentunya harus saling melengkapi dan menyeimbangkan kita. Namun, jika salah satunya mulai tidak seimbang, kita buru-buru kudu sadar dan mulai menyeimbangkan kembali. Yaahh, seperti kasus penutupan akun facebook saya, saya merasakan bagian negatifnya mulai lebih besar dan harus saya kurangi.

Tapi, this is true my friend. Menghilangkan kebiasaan mesbuk, sungguh luar biasa sulitnya dan terasa lumayan menyiksa. Untunglah, kondisi ini saya lakukan saat Ramadhan, sehingga untuk 2 hari ini sudah mulai teratasi. Masak puasa makan, minum dan lainnya tahan, mesbuk aja enggak sih? Silahkan deh mencoba, daripada hidup terus-terus terjajah.

Semoga teman-teman bisa faham deh, setelah baca tulisan saya ini kenapa saya tutup (sementara) akun facebook. Karena, saya hanya manusia biasa saja, yang hanya ingin hidup tenang dan selalu berkeinginan menyeimbangkan kondisi hidup saya.

Oh ya, agar kita bisa tetap berhubungan silahkan bagi yang ada keperluan atau sekedar nyapa kirim  aja ke email saya : myjuar@yahoo.com (ini rutin saya buka tiap hari). terimakasih.

mulya.juarsa@facebook.com – 3 Agustus 2012





Pandangan “kerdil”

14 08 2011

Udah lama gak ngumpul dengan semua jurusan di FT, siang ini (sabtu, 13 Agustus 2011), FT ngadain presentasi dan diskusi pemaparan tentang : “collaboration program” dengan FT di PT negare tetangge. Pemaparan program berisi: joint lecture, joint research (for joint publication), dan on the job training. Peserta lumayan pade antusias ngikutin pemaparan dari tiap2 perwakilan jurusan, sambil ngabuburit katanya. Parameter yg disampaikan juga beragam, ade yg sebenernya belom punya joint program tapi sudah menggunakan parameter internasional untuk capaiannya, pelus investigasi untuk mitra yg bakal dijoinin udah setinggi ape kapabilitasnnya. Meski rada2 kurang nyambung dengan yg diminta oleh pihak fakultas, namun lumayan dapet tambahan elmu tentang parameter menuju WCU (bukan WC Umum yeee….). Terus dari jurusan berikutnye, pemaparan tema riset yg nyaris seperti presentasi hasil penelitian dan pelatihan tentang metodologi riset, ini pun lumayan, karena nambah elmu lagi, meski juga belom seperti yg diharapkan oleh fakultas. But, show must go on, peserta ke tiga udah mulai memaparkan bentuk kerjasamanya (joint-nya), tema2 risetnya juga dah nongol. Lumayan apik juga, namun semua masih bersifat umum, tapi dah jauh lebih mantaf. Lalu dari jurusan ane sendiri, udah maparin bahan untuk lecture-nya, tema dan paper hasil riset yg bakal dijoinin, dan training yg juga sudah dibuat matriksnya. Ternyata, pemaparan sudah mendekati harapan dari fakultas. Hal yang perlu disimak dan simpulkan dari pemaparan ke-4 jurusan adalah, bahwa semua memiliki keinginan yang sama untuk “memenuhi” perjanjian kerjasama (LoI) yg udah disepakati dan ditandatangani, meski kesiapannya beda-beda. Kekhasan materi yg bakal dijoin juga sudah nampak berbasis kebutuhan jurusan masing2. Namun, ada hal yg lumayan menonjol dari hasil tersebut, bahwa rasa percaya diri nampaknya malah jadi problematika bagi para peserta diskusi. Perasaan “kerdil” lebih terdominasi, dibandingkan usaha untuk terus berbuat yang terbaik. So, emang ini dah sifatnye manusia juga, merasa “kerdil”.

Pandangan “kerdil” terhadap diri sendiri ketika kite harus kerjasame dengan pihak lain (yang di dalam kepala, kite anggap lebih ‘canggih’) selalu mendominasi. Salah satu peserta malah serius menanyakan pentingnya kerjasama tersebut, malah menganjurkan sebaiknya dengan mitra “local” saja dahulu agar menjadi sejajar. Wah? Ini memang statemen yg bikin peserta diskusi, ditengah puasa dan menahan hawa nafsu, menjadi “seger”. Heranya, kenapa harus dengan mitra local segala, dan meski ini juga diperlukan, tapi gak ada salahnya kita harus berani “memandang matahari”. Bukankah cita2 kudu digantung setinggi langit, or belajar ampe ke negeri china? Dalam era global kayak gini, kok masih sih berfikiran” “local aje dulu deh…” busyet emang. Bolehlah peserta memiliki “intelligence quotient” bagus, namun perlu diimbangi dengan “emotional quotient” yg bagus juga, belom kalo unsure “spiritual quotient” juga harus masuk, nambah perfecto deh. Jadi, meski punya IQ yg bagus namun EQ-nya gak bagus, khususnya gak-pedean alias ngerasa “kerdil” ini masalah pokok jadinya. Peserta yg bertanya tadi emang memiliki rekam jejak yg bagus IQ-nya, dan rata2 pade begitu, namun persoalan EQ yg selalu muncul ketika kite harus “thinking outside the box” atau “to collaborate” menjadi persoalan yg harus dibahas dan dituntaskan. Gimana bisa kalo perasaan “kerdil” mendominasi seorang educator memberikan motivasi buwat studentnya? Buwat dirinya sendiri saja sudah sulit mungkin, dan emang kalo terkait persoalan EQ jadinya rada2 soal kejiawaan gethu, dan biasanya juga kudu diredam sama SQ-nya. Wah? Ngomong ape gue? Kok jadi pabeulit gini. Gini aja deh, kita tidak akan pernah salah kalo memiliki keinginan dan niat untuk bertarung dengan sesuatu atau seseorang yg kita anggap jauh lebih baik dan bagus dari kita, dan emang gak ada salahnya juga berkompetisi dengan yang sederajat. Namun, semua hal bisakan dilakukan secara pararel, gak atu-atu (alias serial). Kenapa begitu?, Allah menciptakan kita dengan segala citra yg ada di dari semua ciptaanNya, dan yakin kekurangan yg muncul dari diri kita sebagai mahluk yg diciptakanNya hanya berbasis pada kita sendiri, akal dan hati. Seyakinnya, bahwa kita tidak diciptakan sebagai “orang kerdil”, yang ada hanya diri kita sendiri karena factor akal dan hati yang gak seimbang, akhirnya memiliki padangan kerdil, gawatnya adalah memandang dirinya sendiri “kerdil”. Rendah diri bukan aib atau dosa bawaan, tapi bentukan lingkungan dan aktivitas hidup dan juga cara kita memandang hidup itu sendiri. Semua bisa diubah, kalo kita terus2an mensyukuri bahwa kita diciptakan dengan segala “rasa” yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Gue juga gak seneng, kalo kita juga “kepedean” alias pake perasaan doang kagak main fikiran, biasanya kepedean malah jadi salah atau diketawain orang. Tetep soal akal (IQ) dan hati (EQ) kudu seimbang, dan kalo kita inget soal kita sebagai mahluk yg penuh citra (SQ) semua bisa pada jalurnya. Jalur dimana kita sebagai manusia punya manfaat untuk manusia2 disekitarnya, untuk manfaat, gak kudu juga harus memiliki embel2 atau bahan2 yg banyak, untuk manfaat kudu punya keikhlasan, bahwa apa yg ada dikita adalah bukan punya kita dan dimiliki oleh “kita-kita” lainnya, jadi kata kuncinya SI (share dan ikhlas). Untuk bermanfaat gak juga harus berposisi dimenara gading, bermanfaat seperti kalau kita sedang berjalan dan kita dengan sadar menyingkirkan beberapa batu2 di jalan yg dimungkinkan akan mencelakan orang lain, sebagai contonya. Kembali ke judul gue ini, pandangan kerdil, pada akhirnya gue harus nyimpulin, bahwa kalo kita masih memiliki pandangan seperti itu, berarti kita tidak mensyukuri apa yg sudah diciptakan dan diberikan kepada kita dari Sang Maha Pencipta. Apalagi, kalo merasa diri kerdil terus lebih seneng juga mengkerdilkan orang lainya, agar dia merasa tetep “tinggi”diantara orang2 yg dianggap kerdil. Hidup ini singkat, kalo semua harus dilakukan secara serial, kapan lagi kita bisa optimalisasi nilai2 kemanusiaan kita? Kapan lagi kita memaknai dan mensyukuri hidup ini kalau selalu merasa “kerdil”. Terakhir, rekan senior dalam diskusi itu menjawab pertanyaan rekan kita yang merasa “kerdil” tadi dengan sederhana “do the best thing that you think is able to do ( by YSG)” dan berkembang tidak hanya di dalam kotak, tapi juga di luar kotak.

[foto dari : Balawing (Foto: telegraph) web:http://www.detikhealth.com/read/2011/06/12/102610/1658409/763/manusia-terkerdil-kembali-diumumkan]

Udah akh, jadi puyeng juga. Soalnya, kadang jug ague ngerasa “kerdil” (kadang2 sih). Selamat beribadah shaum, semoga nyampe ke Idul Fitri.

————————————————————————————————

Tambahan dari KOMPASIANA (http://edukasi.kompasiana.com/2010/07/21/iq-eq-sq-dan-aq/)

IQ, EQ, SQ dan AQ

(ada 4 malah…)

Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuanmenalarmerencanakanmemecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar.

Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan. Stenberg& Slater (1982) mendefinisikannya sebagaitindakan atau pemikiran yang bertujuan danadaptif.

Saat ini cukup popular tentang tiga kecerdasan manusia, yaitu Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, dan Kecerdasan Spiritual. Tapi Kecerdasan Adversitas? Dalam buku sumber yang penulis gunakan sebagai rujukan tulisan ini –buku yang didapatkan dari seorang sahabat penulis yang baik hati, Bapak Kusmayanto Kadiman, terdapat banyak sekali wawasan dan pemahaman baru yang sangat menarik untuk dinikmati.

Intellgence Quotient (IQ) adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika dan rasio seseorang. Dengan demikian, hal ini berkaitan dengan keterampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran akan sesuatu yang tampak, dan penguasaan matematika. IQ mengukur kecepatan kita untuk mempelajari hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan latihan, menyimpan dan mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam proses berpikir, bekerja dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta memecahkan permasalahan dan menerapkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Jika IQ kita tinggi, kita memiliki modal yang sangat baik untuk lulus dari semua jenis ujian dengan gemilang, dan meraih nilai yang tinggi dalam uji IQ.

Emosional Quotient (EQ) mempunyai dua arah dan dua dimensi, arah ke dalam (personal) berarti sebuah kesadaran diri (self awareness), penerimaan diri (self acceptance), dan hormat diri (self respect), dan penguasaan diri (self mastery) dan arah keluar (interpersonal) berarti kemampuan memahami orang (to understand others), menerima orang (to accept others), mempercayai orang (to trust others), dan mempengaruhi orang (to influence others).

Spiritual Quotient (SQ) intinya adalah transendensi, yaitu proses penyeberangan, pelampauan, penembusan makna yang lazim, khususnya dari wilayah material ke wilayah spiritual, dan dari bentuk yang kasar ke bentuk yang sublime. Dalam hal ini hidup bukan semata-mata untuk memperoleh materi semata akan tetapi harus betul-betul dihayati sebagai serangkaian amal bagi sesama manusia dan beribadah kepada Tuhan. Sehingga tidak cukup jika kita hanya mengandalkan kecerdasan intelegensi dan emosional saja. Mempertebal iman dan taqwa kita akan membangun budi dan akhlak mulia sehingga segala sesuatu yang kita lakukan semata-mata mohon perkenan dan ridho Tuhan, sehingga apa yang kita kerjakan akan terasa bermakna, nikmat, dan kita lakukan penuh dengan suka cita, tanpa keterpaksaan belaka.

Nah, yang terakhir adalah Adversitas Quotient (AQ), pernah dengar? Menurut kamus adversity berarti kemalangan, kesulitan, dan penderitaan. AQ disini adalah kecerdasan kita pada saat menghadapi segala kesulitan tersebut. Beberapa orang mencoba untuk tetap bertahan menghadapinya, sebagian lagi mudah takluk dan menyerah. Dengan demikian kecerdasan adversitas adalah sebuah daya kecerdasan budi-akhlak-iman manusia menundukkan tantangan-tantangannya, menekuk kesulitan-kesulitannya, dan meringkus masalah-masalahnya sekaligus mengambil keuntungan dari kemenangan-kemenangan itu.

Ingin sukses dan berhasil? Cukup cerdaskah saya, anda, kita?





Bener gak sih? (common life)

5 08 2011

Dah lama banget gak nulis…entah kenapa??? (gak tahu ada di posisi mana?) kepikiran siklus hidup secara umum, seperti roda yg terus berputar. Gue coba gambarin apa yg lewat dikepala gue, terus gue tulisin di blog ini. Mungkin untuk mencari momentum adalah kondisi yang sulit, karena segitiga kuning juga berputar dan entah kapan bisa ketemu dengan point of life …..

Komen-komennya dunk?

Dan dimanakah anda berada saat ini?





when the law becomes unclear…

20 01 2011

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

???????????? @x*^-/$.>+**1….

 

 

 

 

 

 

 

 

 





Datang dan Pergi: Sebuah Reposisi Sosial

16 01 2011

Hingar bingar pemilihan kepala daerah, dari ketua RT sampai ke Presiden akan selalu menarik perhatian publik, bak menonton laga sepak bola, masing-masing pendukung akan mengunggulkan “jagoannya” untuk menang dalam laga, yang menang akan larut dalam kegembiraan dan yang kalah akan larut dalam kesedihan dan kekesalan. Seperti sepak bola juga, pemilihan ketua daerah, tentunya terbagi dalam strata liga, liga kecil, liga menengah dan liga utama. Liga kecil, bisalah saya sebut untuk pemilihan ketua RT sampai lurah, liga menengah untuk bupati/walikota dan gubernur, sedangkan liga utama adalah pemilihan presiden dan wakil presidennya. Kontribusi hingar bingar hingga keuangan akan naik seiring tingkatan pemilihan, ada dibeberapa daerah untuk ketua RT dan RW akan memerlukan uang dalam prosesi pemilihannya, dan uang disini tentunya untuk biaya administasi pemilihan dan iklan. Daerah yang syarat dengan penghasilan dari retribusi bangunan, pedagang dan tambang akan menyedot perhatian dan kekhususan bagi calon2 ketua/kepala. Namun, untuk liga kecil, syarat politis masih belum begitu diperlukan. Karena kepentingan yang muncul pada liga kecil, sifatnya hanya sesaat. Barulah, ketika strata pemilihan naik, dimulai dari liga menengah ke liga utama, syarat politis menjadi syarat pokok bagi peserta pemilihan, dan hal ini akan linier atau malah eksponesial dengan kebutuhan uangnya sebagai biaya pemilihan yang bersifat politis. Berbagai ragam cara akan dilakoni untuk menjadi juara, dari yang per-peran sampai yang curang-curangan, ini memang sangat bergantung kepada mentalitas sang calon dan tujuan pokok sang calon untuk menjadi pemimpin. Bagi masyarakat sendiri, kehadiran “konser” pemilihan kepala daerah dan Negara pada zaman sekarang, lebih sebagai kagiatan yang bisa dikatakan semi-wajib untuk mengikutinya, dan terkadang bagi sebagian masyarakat akan menjadi hiburan semata, seperti nonton bola tadi. Prediksi atau perkiraan siapa sang juara/pemenang akan menjadi menu utama bagi masyarakat saat sedang di kedai kopi, di tempat kerja dan amalah di dalam kendaraan umum. Kekecewaan masyarakat akan proses pemilihan yang begitu berbelit-belit dan ternyata memakan dana yang tidak sedikit terkadang pula menjadi isyu dan bagian dari dinamika masyarakat itu sendiri, untuk setelah pemilihan berlangsung, kita semua akan kembali kepada rutinitas dan aktivitas menjalani kehidupan dan bekerja. Lupa dan mungkin sudah tidak mau mengingat “proses” yang terjadi selama pemilihan lalu berlangsung. Tanpa kita sadari bahwa, keadaan dalam proses masyarakat sedikit banyak mengalami perubahan oleh kebijakan dan peraturan yang dibuat oleh para pemenang liga tersebut. Indikasi ekonomi dan kesulitan hidup biasanya akan menjadi parameter pokok dalam mengukur perubahan social yang muncul dari kebijakan dan peraturan yang dibuat oleh pemimpin, khususnya untuk pemenang dari liga menengah dan utama.

Sejak republic ini didirikan dan pemilihan dilakukan, model dan ragam cara untuk melakukan pemilihan telah mengalami berbagai modifikasi dan perbaikan. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah, adalah janji-janji manis atau iklan-iklan yang semakin menarik dan pada akhirnya sulit untuk dibuktikan secara keseluruhan menjadi konsumsi masyarakat dan berakibat kepada masyarakat yang notabene adalah pemegang suara yang disumbangkan bagi pemenang. Sebagian kelompok masyarakat dan biasanya ini tidak besar, atau bolehlah disebut golongan tertentu, yang memang merupakan golongan masyarakat yang mendorong dan menginginkan “jagoannya” untuk memang akan segera mengalami reposisi social. Mereka tidak akan segan melakukan apa saja dan menyumbangkan apa saja, asal jagoannya menang dan kepentingan mereka dapat diakomodir oleh jagoannya jika kelak menang. Kita banyak belajar dari sejarah, ketika terjadi pergantian pemimpin, sebagian besar golongan masyarakat yang berada pada lingkar mantan pemimpin akan mengalami perubahan strata social dan malah lebih cenderung untuk dibatasi ruang lingkupnya, terkadang ada juga yang dikejar-kejar oleh hukum. Padahal saat, jagoannya berkuasa, golongan ini sangat sulit disentuh oleh hukum. Namun, masih ada juga yang memiliki kesaktian dan masih sulit didekati hukum. Karena biasanya mereka itu memegang kartu truf pemimpin yang baru. Bagi mereka (golongan dan pemimpin), reposisi sosial yang terjadi pada setiap pergantian pemimpin biasanya sudah diantisipasi dengan melebarkan dan mengguritakan antek-antek atau agen-agen yang akan memberikan kesinambungan kekuasaan dan keleluwasaan untuk hidup di atas aturan dan hukum. Bagi anggota golongan yang kurang loyal dan kurang bermodal, biasanya tidak akan diselamatkan dan cenderung akan dijadikan kambing hitam untuk menutupi dosa-dosa masa lalu. Meskipun reposisi sosial terjadi pada mereka, masyarakat tetap pada persoalan hidup yang disibukkan dengan aturan dan perjuangan untuk mempertahankan hidup, masyarakat umum tidak akan pernah mengalami reposisi sosial. Datang dan perginya pemimpin melalui aksi pemilihan, bagi sebagian besar masyarakat adalah seperti menyaksikan kekalahan atau kemenangan dalam suatu pertandingan atau merayakan pergantian tahun, dimana setelah acara selesai mereka akan kembali kepada kehidupan nyata dan rutinitas. Sementara bagi pemain yang menang dan kalah, akan ber-musyawarah untuk kepresisian dalam reposisi sosial mereka.

Reposisi sosial pada tatanan atau strukutur di bawah pemenang pemilihan biasanya terjadi secara ekstrim, sudah menjadi konsumsi umum, bahwa semakin banyak kontribusi para golongan pendukung terhadap pemenang, maka reward dalam posisi-posisi di dalam strukutur akan semakin besar dan menggiurkan. Soal kredibilitas dan akuntabilitas, hanya dijadikan lips saja saat aksi pemilihan terjadi, pada kenyataannya, yang loyal dan berkontrubut banyaklah yang akan memperoleh posisi sosial yang tinggi. Sulit bagi si pemenang untuk memberikan posisi bagi kalangan di luar golongan yang notabene kurang berkontribusi di dalam pemilihan yang padahal terkadang lebih unggul dalam kredibilitas dan akuntabilitas untuk mengisi posisi tertentu. Kenyataannya yang ada, dan jika memang harus ada, maka persentasenya hanya sebagian kecil dari sejumlah posisi yang ada. Alhasil, reposisi sosial dikalangan pendukung utama dan pemimpin akibat datang dan perginya sang pemimpin tidak memberikan dampak terhadap reposisi sosial pada masyarakat secara umum.

Pergantian posisi jabatan dibawah strukutur sang pemenang, selain ekstrim terkadang penuh dengan kepentingan sesaat dan kurang didasari pada pertimbangan kepentingan umum. Karena perjuangan yang dituju adalah melanggengkan suatu golongan untuk tetap eksis pada strata sosial yang paling tinggi di masyarakat, kalau perlu di atas hukum sendiri. Namun, ada pula, reposisi yang dilakukan tetap didasari atas pertimbangan professional dan kepentingan kemajuan bersama, dan lumrah juga, bagi yang tergantikan posisinya akan berada pada posisi yang oposan, dan cenderung menkritik dan menghujat. Padahal, dengan menjadi oposan yang terkadang didasari aksi sakit hati, malah akan mengganggu perbaikan yang dituju melalui reposisi. Perubahan dari pendukung menjadi oposan juga bagian dari reposisi sosial tentunya. Menghadapi reposisi sosial dari setiap pergantian pemimpin selayaknya disikapi dengan dewasa dan lapang dada, yang terpenting reposisi sosial yang terjadi akan juga berlaku kepada masyarakat, yaitu naiknya tingkat kehidupan masyarakat baik materiil dan morilnya, sehingga semual elemen masyarakat dan para pemimpin sama-sama mengalami reposisi sosisal ke arah yang lebih baik.

Meskipun pemilihan kepala daerah atau pergantian pemimpin, bagi sebagian masyarakat awam bisa dijadikan sebagai tontonan yang manarik dan mungkin berikutnya akan terlupakan, namun perlu diingat oleh sang pemenang, bahwa masyarakat akan selalu bertambah kecerdasannya dan akan semakin kuat kewenangan mereka dalam memberikan nilai terhadap kinerja para pemenang. Akibatnya bagi sang pemenang atau pemimpin baru yang mengabaikan sifat masyarakat tersebut, maka nilai nol atau “ketidak percayaan” terhadap para pemimpin akan hilang, dan tentunya pada laga berikutnya tidak akan dilirik atau dipilih lagi. Pemilik suara dan pengawas adalah masyarakat, dan selayaknya mereka juga mengalami reposisi sosial ke arah yang lebih baik dan kualitas hidup yang meningkat sebagai perubahan fase akibat datang dan perginya pemimpin dan sekali lagi bukan sekedar untuk golongan tertentu saja.

Minggu, 16 Januari 2011 (04:06)

 

Sumber foto :

– http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1286368505/pemilihan-ulang

– http://kpupesisirselatan.blogspot.com/2010/10/pelantikan-pps.htmll





Rezeki Allah SWT takkan pernah terhenti…

23 11 2010

Alhamdulillah, setelah penantian yang lumayan panjang, termasuk jadwal yg ngundur dan bolak-balik ke bidan, akhirnya penantian selesai. Minggu, 21 November 2010, tepat jam 10.05, pendatang baru dalam keluarga juarsa (new comer in Juarsa), lahir, seorang bayi laki-laki dengan massa 3,4 kg (saya gak mau nulis berat, gak enak sama Fisika), panjang 49 cm dalam keadaan selamat dan sehat walafiat. Namun ada masalah dengan ibundanya, setelah melahirkan ada pendarahan yg muncul. Dan ini yg pertama kali setelah 3 kali dia melahirkan, cukup panik dan kepikiran banget, soalnya baru sekarang terjadi. Alhamdulillah setelah diberi obat oleh Bidan, baik suntik dan pil, pendarahan terhenti. Semalam istriku dan anakku, menginap, ditemani Ibundaku yg begitu sabar menunggui cucunya. Aku sendiri dan ketiga anakku yg lain di rumah, tertidur lelap setelah seharian menanti dan cemas. Ternyata melahirkan setelah usia mencapai lebih dari 35 tahun, cukup beresiko. Karena adanya kontraksi otot yg kurang akan menyebabkan pendarahan (demikian kata Bidan). Bini ane emang udah berumur 37 tahun…dah lewat 2 tahun dari 35. So, sebaiknya menghindari resikonya ke depan. Heran juga ya, pada jaman dahulu sampe ada wanita yg punya anak belasan orang, kok aman2 aja yah? Yang jelas, aku ucapkan berjuta2 terimakasih atas perjuangan Istriku Tercinta, setelah 9 bulan dibebani oleh kehamilan dan perjuangan hidup mati saat melahirkan, sungguh takkan sanggup aku tanggung dan terus membayang, betapa seorang ibu di atas segalanya. Terimakasih cinta.

Anakku yg ke empat ini aku beri nama “SASKARA WIRASENA JUARSA” , Uda-nya yg besar Khalid Muhammad Juarsa, Uni-nya Zalya Annisa Juarsa dan Aa-nya yg kecil adalah Tri Mulya Aflah Juarsa. Agak berbeda dengan nama anakku yg ke-4 ini, kakak-kakaknya masih memakai bahasa arab untuk mencerminkan arti dan sifat-sifat yg baik bagi anakku, yg tentunya menjadi doa. Namun, Saskara aku beri nama berdasarkan bahasa jawa dan sunda kuno, tokh artinya juga mencerminkan kebaikan dan doa untuk dia. Soal nama, ketika hamil 4 bulan aku udah kasak-kusuk cari nama, palagi jaman sekarang, internet dah dimana-mana, jadinya aku nyiapin 2 nama (cowok dan cewek). Ketika yg lahir cowok, maka nama cowok yg udah disiapin tinggal di publish saja. Lalu ngurus Aktenya. Arti nama anakku yg ke-empat, kira-kira begini: “SASKARA” = kemurnian & kebenaran, “WIRASENA”=kumpulan pemberani, “JUARSA”=Jiwa, sehingga jika digabung menjadi Saskara Wirasena Juarsa, doanya adalah : Jiwa yg merupakan kumpulan para pemberani untuk menegakkan kebenaran dan kemurnian, baik aturan hidup, agama dan negara. Semoga ya Allah, amin.

Ini foto Saskara Wirasena Juarsa dengan babenye:

Terimakasih kepada para Guru, saudara/i, para sahabat dan kolega, serta para murid, tetangga atas kiriman doanya dan dukungan morilnya kepada keluarga kami. Semoga Allah memberikan imbalan berlipat ganda atas keihklasannya. Amin.





1 Jiwa Indonesia di Tanah Asing adalah Seluruh Jiwa Bangsa

17 11 2010

Mungkin berita akhir-akhir ini di media massa sangat beragam, dari berita artis yg pindah profesi jadi pemain blue film, artis yg berantem, pelaku koruptor dan para tahanan yg bisa bolak-balik pelesiran meski secara hukum dia sebagai pesakitan. Beragam memang, terlebih bencana kembali menghampiri negeri kita, meski memang kita semua tahu bahwa kita adalah Negara bencana, karena secara geografis berada pada daerah the ring of fire dan daerah pertemuan berbagai lempeng kulit bumi. Bencana tsunami di Mentawai memakan korban jiwa sekitar 447 orang, meletusnya Merapi sekitar 135 orang [sumber : http://nasional.vivanews.com/news/read/187408-korban-tewas-merapi-135-orang–mentawai-447]. Belum kesemua itu ditambah deretan bencana-bencana alam sebelumnya, dari tsunami Aceh, gempa di Sumbar dan Nias, ribuan nampaknya menjadi korban jiwa alias meninggal. Belum termasuk korban Wasior di Papua. Takkan terhitung korban2 luka parah, korban luka ringan dan korbang kehilangan harta benda, semua karena bencana, meskipun ini bukanlah dari kelalaian, tapi cara Tuhan menegur dan mengasihi kita. Kita akan coba terus berhitung secara statistik, kira2 berapa rata2 orang Indonesia meninggal (bukan karena factor alamiah, umur, dan sakit) setiap tahunnya? Mungkin akan ketemu angka yg lumayan fantastis. Sekali lagi ini semua factor alam dan kehendak Illahi. Kita hanya pasrah & nrimo, berdoa, dan berusaha membantu & menolong mereka, sembari terus2an beristighfar bahwa ajal akan selalu menghampiri kapanpun, dimanapun serta dalam keadaan dan waktu yg tidak bisa diduga-duga.

[sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Pacific_Ring_of_Fire.png]

Korban kelalaian manusia sendiri sudah cukup fantastis angkanya, seperti korban kecelakaan lalulintas, yang diperkirakan memakan korban antara 29-50 orang per-harinya atau belasan ribu per-tahun [sumber: Road Safety Association (RSA), dari Detik.com, 23 Novemeber 2009], tidak termasuk yg luka parah dan luka ringan serta kerugian material karena hancurnya kendaraan. Korban-korban kelalaian lain seperti kecelakaan kerata api, kapal laut dan pesawat terbang, karena sebagian besar diakibatkan oleh kelalaian manusia juga menambah daftar korban jiwa di negeri tercinta ini. Begitu mudahnya nyawa melayang karena factor kelalain, meskipun anda dan saya akan sepakat, bahwa ini bagian dari takdir hidup kita sebagai manusia di muka bumi ini. Namun yg perlu dicermati, adalah the way we die, apakah serumit itu atau malah semudah itu? Hanya kecerobohan or kelalaian. Tapi bener sih, bahwa korban kecelakaan trasnportasi, ledakan tabung gas, dan keteledoran lainnya akibat diri sendiri dan sebagian karena prosedur dan aturan tidak kita taati, jadi bukan karena “kesengajaan”.

[sumber : http://langsungenak.com/images/medium/idul-adha.jpg]

Cerita ini memang saya coba kaitkan dengan semaraknya hari raya Kurban (Idul Adha), dimana makna dari hari raya ini adalah diujinya kemampuan manusia untuk mengorbankan sesuatu yg paling dicintai, paling dipertahankan dan paling dimilikinya. Dimana, Nabi Ibrahim AS, menunjukkan kecintaan dan ketaqwaan beliyau untuk mengorbankan anaknya Nabi Ismail AS, hanya semata kepada Allah SWT. Sedangkan di masa sekarang kita sibuk dengan makna simbolik dengan menyembelih hewan2 kurban setiap Idul Adha tiba. Saya fikir tidak sesederhana itu sobat, pengorbanan tidak mesti kita lakukan setiap Idul Adha hanya dengan memotong hewan kurban dan membagikan daging kurban ke semua penduduk (termasuk yg mampu, seharunya hanya kepada kaum fakir saja), pengorbanan seharusnya dilakukan setiap hari dengan iklhas dan berserah kepada Allah, dari 1 Idul Adha ke Idul Adha berikutnya. Perngorbanan akan sifat sirik, sifat dengki, tamak, dendam, keukeuh, marah, dan sifat2 buruk lainnya yg cenderung kita pertahankan karena ego dan kecintaan kita akan duniawi. Berkorban bahwa posisi atau jabatan hilang karena pembenahan dan kebutuhan oleh pihak tertentu, sehingga tanpa harus mengadakan demo-demo yg akhirnya menimbulkan kekeruhan dan konflik juga salah satu cara untuk berkurban. Berkorban dan dikorbankan adalah predikat dan objek, semua tergantung dari subjek untuk makna apa hal tersebut terjadi.

[sumber : http://www.berita8.com/newspic.php?tgl=2010-11-17&id=1504&view=view]

Kembali ke soal berita-berita di mass media, korban jiwa, luka paran hingga cacat dan luka ringan yg terjadi bukan karena factor alam dan keteledoran diri sendiri adalah korban yang timbul pada para tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, saya senengnya nyebut Tanah Asing. Inilah yg lebih memilukan, pada saat mereka, para TKI disebut sebagai pahlawan devisa, tapi disaat yg bersamaan mereka menjadi korban kekejaman para tuan-tuan dan system di tanah asing. Sementara, penyelenggara Negara hanya berusaha dan memperbaiki ketika telah ada korban. Berkilah, bahwa hanya sekian persen (dianggap tidak signifikan) yg jadi korban dibandingkan success story TKI-TKI lainnya, saya anggap sebagai tidak adanya kemampuan perlindungan terhadap jiwa orang Indonesia yg ada di perantauan tanah asing. Musibah yang datang menimpa mereka bukan karena, sekali lagi, keteledoran atau bencana alam, tapi karena kelalaian penyelenggara. Bahwa system sangat sulit untuk melindungi 1 jiwa-pun orang kita yang berada di tanah asing, meskipun setelah terjadi, proses hukum dan keadilan ditegakkan, namun cerita-cerita tersebut masih berulang dan menjadi bagian dari berita di mass media, yg kadang juga hanya mengambil porsi berita yg tidak signifikan dibandingkan cerita selebritis. Hal yang sangat dilupakan adalah, ketika kita baru merayakan hari Pahlawan tanggal 10 Nopember lalu dan hari raya Kurban tanggal 17 Nopember ini, bahwa semua korban harus memiliki makna dan jalannya masing-masing. Betapa para pejuang rela berkorban jiwa untuk meneggakkan bendera merah putih melawan penjajah, namun  dengan semena-mena kita lalai, warga kita menjadi korban di tanah asing dan cerita ini menjadi cerita klasik. Sangat kontradiktif, bahwa korban-korban TKI sepertinya antiklimask dari makna hari Pahlawan dan makna Idul kurban. Mereka merantau sebagai pahlawan devisa, pahlawan keluarga untuk lepas dari jerat kemiskinan, namun malah menjadi korban kekejaman asing, dan ini merupakan bentuk penghinaan yang paling keras terhadap bangsa ini, dibandingkan kita bicara penghinaan soal simbol2 dan batasan wilayah. Dimana sekarang bangsa ini berada? Setumpuk buku2 sejarah yg bercerita tentang heroisme perjuangan bangsa dan harga diri bangsa, berbagai ritual dan acara yg bersifat menguatkan keutuhan kemanusian, sepertinya meluncur sebagai bagian dari hidup kita saja. Tiba saatnya, para pahlwan devisa diberikan perlindungan yg menyeluru dari Negara, menertibkan jalur penyaluran TKI illegal. Seorang SUMIATI telah menjadi korban kekejaman dan kelalaian sistem, meskipun hanya 1 jiwa, karena 1 jiwa orang Indonesia di tanah asing adalah seluruh jiwa Bangsa ini.

———

Coba untuk relax, MJ, 17-11-2010








%d blogger menyukai ini: