10 Tahun Perjalanku “Jangan Anak Tirikan PLTN” by Yudi Sandika

25 07 2012

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/16/10-tahun-perjalanku-jangan-anak-tirikan-pltn/

————————————————————————————————-

Tidak terasa dalam beberapa  minggu kedepan , seluruh dunia dan bangsa ini khususnya akan menyambut lembaran baru tahun 2012, tahun yang begitu di nantikan banyak orang dan tahun yang begitu sakral bagi beberapa orang yang berkeyakinan bahwa kiamat akan segera datang di tahun ini, tapi  sampai penghujung ini belum ada tanda ilmiah kearah apa yang mereka yakini, dan merekapun telah mati di tahun-taahun sebelumnya.  Bagi penulis sendiri di tahun 2012 ini adalah tahun yang sangat penuh arti, tahun di mana manusia bisa saling mengkoreksi dan menilai apa-apa yang telah mereka capai di tahun-tahun sebelumnya,  yang jelas tahun ini harus lebih baik dari tahun sebelumnya, dan di tahun 2012 ini adalah genap 10 tahun pergulatan  penulis  dalam diskusi menentang diskriminasi energy. Diskriminasi dan ketidak adilan terhadap opsi “NUKLIR”, yang hanya di dasarkan atas alasan-alasan yang tidak rasional, nalar dan cendrung emosional, politis dan tidak nasionalis.

Melalui UU No 10/1997, PP No 5 tahun 2006, Undang-undang No 17 tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025 Bab IV.2.3. (2015-2019), Inpres No. 1 Tahun 2010, PeraturanPresiden No. 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010-2014, yang menjadi dasar hukum bagi bangsa ini  untuk memanfaatkan teknologi nuklir di berbagai bidang tidak terkecuali sebagai sumber energy. Namun pada kenyataan nya nuklir tidaklah mudah di terima di Negara ini. Bangsa ini sudah terlanjur asyik dengan batu bara dan migas yang entah di sadari atau tidak, cadangan untuk SDA tersebut semakin berkurang,  sebagai catatan untuk minyak cadangan sekitar 23 tahun lagi dan untuk gas sekitar 60 tahun lagi( sumber :http://www.migas.esdm.go.id/#) itu pun dengan prediksi konsumsi energy untuk saat ini. Logika sederhana dengan pertumbuhan ekonomi dan penduduk dapat di pastikan nilai konsumsi akan meningkat  tajam. Di sisi lain eksplorasi terhadap cadangan baru masih di kuasai asing yang di dominasi Amerika , Eropa dan China. Biaya ekplorasi yang mahal dan berteknologi tinggi terutama di wilayah laut dalam membuat bangsa ini tidak berdaya untuk berbuat sesuatu. Bagi hasil adalah jalan keluar yang di ambil , itupun bergantung ke pada biaya  yang di keluarkan investor. Intinya Negara ini tidak bisa berharap banyak dengan system tersebut sebab apabila biaya investor tinggi secara otomatis bagi hasil yang di terima pemerintah akan turun/rendah. Yang di takutkan di kemudian hari adalah bangsa ini hanya bisa bangga dengan data cadangan migas yang dimilikinya ,  tapi tidak bisa merasakan manfaat dari  data cadangan tersebut. Seperti halnya migas , batubara bernasib sama dengan cadangan terbukti sekitar 5,5 miliar ton dengan produksi saat ini dengan asumsi konsumsi saat ini adalah 229,2 juta ton.

Difersifikasi energy adalah kata kunci dalam mengatasi krisis energy yang akan bangsa ini hadapai, singkat kata sesegera mungkin menghilangkan ke bergantungan dengan satu sumber energy khususnya migas dan batu bara(coal), masih banyak alternative sumber energy lain seperti  PLTAir, BioGas, PLTAngin, PLTS, Geothermal dan lain-lain . kabar baiknya sumber-sumber alternative tersebut saat ini sudah berjalan walaupun baru memberikan kontribusi yang kecil,  tercatat dalam kebijakan Mix Energi dengan komposisi batubara 32,7 %, Gas bumi 30.6%, minyak bumi 26.2%, PLTA 2.4%, panas bumi 3.8% dan lainnya 4.4%(ESDM 2009). Terlihat kebergantungan Indonesia terhadap coal dan migas masih tinggi di tengah keadaan yang telah ditulis di atas.

Lalu bagaimana dengan “Nuklir” opsi ini seakan hilang atau di anak tirikan bahkan oleh ibu kandungnya sendiri(beberapa orang di batan). Sungguh keadaan yang cukup menghawatirkan. Indonesia di usianya yang genap 19 tahun yang masih sangat belia telah berhasil mengendalikan situasi kritis dari reactor TRIGA bandung di mana pada situasi kritislah sebuah reactor nuklir bisa berjalan. Jadi nuklir bukanlah barang baru di negri ini. Di asia tenggara ,Indonesia telah mendapat pengakuan dari dunia internasional (IAEA) dalam teknologi Nuklirnya. Hal itu bukan omong kosong belaka, ada beberapa criteria yang harus di penuhi. Indonesia yang sudah cukup lama bergelut di dunia nuklir telah memiliki tiga reactor nuklir skala riset di Jogyakarta, Bandung dan Serpong Tanggrang, Indonesia sudah memiliki dasar hukum dan perundang-undangan di bidang nuklir, riset secara berkala, regenerasi SDM merupakan beberapa criteria yang harus di miliki. Untuk PLTN sendiri telah banyak peneliti yg melakukan penelitin yang berfokus di pemanfaatan nuklir untuk daya/energy. Tercatat publikasi ilmiah mulai dari disain  reactor, studi kelayakan, effisiensi dan BBN, serta telah ratusan anak negri ini menimba ilmu dan langsung  melakukan kerja praktek lapangan di beberapa PLTN di luar negri.

Setelah panjang selama 10 tahun ikut dalam berbagai diskusi dalam seminar dan forum di dunia nyata maupun dunia maya , setidaknya ada beberapa isu pokok yang menyebapkan pandangan miring terhadap PLTN  diantaranya adalah :

1. Apakah SDM Indonesia siap atau mampu?[ baca sejarah, bertanya dengan ahlinya, berpikiran terbuka jangan pesimis, dalam dunia sains dan teknologi tidak ada yang berdiri sendiri ada prinsip korenpondensi, transfer ilmu, lihat Iran sekarang semua Negara segan dengan teknologi nuklirnya, apakah mereka buat atau ciptakan sendiri?? Tentu tidak, ada Rusia di belakangnya , kerjasama yang apik antara keduanya membawa Iran jaya dengan nuklirnya, PLTN di Iran telah di hubungkan dengan jaringan nasional Negara tersebut telah mampu mengadopsi dan menjaga arus transfer ilmu dengan cukup baik , memang begitulah sains di tularkan, dan itulah gunanya kerjasama antar Negara. Selama kerjasama itu saling menguntungkan , mengapa tidak?? Apalagi Indonesia yang sudah mempunyai pondasi kuat di bidang nuklir ,tentunya akan semakin mempermudah prosess transfer ilmu tersebut. Ingat di dunia ini kita tidak sendiri.]

2. Indonesia Negara Korup, apakah tidak takut nanti PLTN nya di korupsi juga?

[tidak ada yang membantah Indonesia masih kental dengan korupsinya, tapi adakah yang membantah bahwa Indonesia sedang menuju perbaikan dalam memberantas korupsi, apakah koruptor yang di tangkap dan diadili berkurang? Atau malah bertambah? Lalu apakah PLTU ,PLTD, dan pembangkit listrik lainya boleh di dirikan di Negara yang katanya korup? Mengapa hanya PLTN yang selalu di hubungkan dengan korupsi? Apakah dampak korupsi di PLTU ,PLTD, dan pembangkit listrik lainya tidah berdampak buruk lebih dari PLTN?] pertanyaan-pertanyaan itulahlah yang menjadi jawabanya. Sudah menjadi aturan tak tertulis di seluruh dunia, bahwa semua operator dan orang-orang yang terlibat dalam oprasional PLTN akan di tempatkan dalam satu komplek yang berjarak beberapa meter dari reactor, selain mengantisipasi kesiapan, dan kesigapan operator dan efektifitas kerja, juga sebagai perisai psikologis bagi sikap disiplin dan tanggung jawab kerja yang tinggi. Di mana apa bila ketidak disiplinan yang menyebapkan kelalaian terjadi maka anak/istri di sebelah reactor akan jadi taruhanya.

3. Chernobyl dan Fukushima .

26 april 1986 Chernobyl sebuah malapetaka nuklir terbesar yang terjadi dari sebuah PLTN, kecelakaan yang menewaskan 31 orang dan membuat 135 ribu lainnya mengungsi serta menurut data terakhir 4000 jiwa akan tewas terpicu kangker Chernobyl Ukraina Utara (adipedia.com). Berbeda dengan chernobyl  tragedi fukushima di picu oleh bencana alam, Ledakan PLTN Fukushima Akibat Gempa dan Tsunami Jepang Tanggal, Waktu dan Kejadian 11 Maret 2011 13.06 Gempa 8,9 Skala atau hampir 9 skala,  laporan IAEA yang di muat dalam berita republika  6 oktober 2011 tercatat 15.000 orang tewas dan 4.000 orang di nyatakan hilang akibat “Gempa dan Tsunami”. Tidak ada korban tewas dari ledakan “Reaktor Fukushima” kecuali 11 orang operator yang mengalami luka, namun  112 ribu orang harus di evakuasi untuk menghindari kebocoran radiasi, namun saat ini mereka semua telah kembali ketempat tinggal masing-masing.

Dua contoh rentetan pristiwa kecelakaan dari sebuah PLTN di atas memang cukup mengerikan, dan sering di jadikan alasan untuk menolak opsi PLTN,  kalau sebagian masyarakat di negara ini masih mengganggap dua tragedi ini  paling mengerikan, bearti makna tragedi sebenarnya belum di pahami sepenuhnya, diawali pada tanggal 6 maret 2008 dunia di kejutkan oleh laporan ketua tim peneliti NSDIC   Ted Scambos bahwa 414 kilometer persegi bongkahan Es (atau setara dengan satu setengah kali kota Surabaya ) “Runtuh”.di Antartika, “ Ini akibat Pemanasan Global” ujar Ted. Hal ini mendapat perhatian khusus seluruh dunia , wajar saja karena di Antartika adalah tempat bersemayamnya 90% Es di dunia. Apa saja konsekuaensi dari pemanasan Global. Jelas contoh kejadian di atas adalah salah satunya, yang secara otomatis akan menyebapkan kenaikan permukaan air laut yang selanjutnya akan menenggelamkan pantai, pelabuhan dan pulau2 kecil di seluruh dunia(NASA) bisa di bayangkan kekacauan yang terjadi saat itu terjadi mungkin evakuasi akan 1000 kali lipat Chernobyl dan Fukushima, ekonomi hancur di sebapkan pelabuhan-pelabuhan dangang tenggelam, dampak lain adalah anomali cuaca  serta iklim dunia , badai/gelombang panas , tahun 2007 di St. George USA suhu mencapai rekor tertinggi 48 drajat celcius, Death Valley California USA sempat menyentuh 53 drajat celcius. Tahun 2003 tragedi di eropa selatan gelombang panas menghantam daerah tersebut, kebanyakan penduduk belum siap menghadapinya 35.000 orang tecatat meninggal dunia dan terbanyak di Prancis sekitar 14.802 penduduk meninggal(ustoday.com). Tapi mengapa berita ini kalah populer di bandingkan Chernobyl dan Fukushima? Tragedi tidak sampai di situ perubahan iklim global menyebapkan bencana , badai, topan, putting beliung di seluruh belahan dunia . Adakah yang menghitung total korbanya?di tambah lagi  gagal panen , kematian ternak mengancam ketersediaan pangan dan akan menuai petaka kelaparan atau minimal kenaikan harga bahan konsumsi. Di bidang kesehatan menipisnya lapisan Ozon menyebapkan radiasi sinar UV tak terbendung lagi, kanker dan bermacam endemik penyakit baru bermunculan , malaria yang terbukti meningkat 60 % akibat peningkatan suhu , merambah ke jantung dan paru-paru akut yang kesemuanya muncul dari tiga hal utama Perubahan Cuaca, Pergeseran ekosistem dan Degradasi lingkungan .Dan perlu di ketahui tragedy ini bersifat global mengancam tiap jengkal dari bagian dunia ini tidak satupun yang bisa lolos dari ancaman ini, kecuali apabila ada yang berinisiatif untuk tinggal di pelanet yang lain kecuali bumi, tua-muda ,di timur atau di barat di utara atau selatan, berbeda dengan Chernobyl yang hanya menjangkau bagian utara Ukraina dan Fukushima di sebagian Jepang dan Pasifik. Jadi bila mau sedikit membandingkan bencana Chernobyl hanya menyebapkan penderitaan  beberapa ribu orang dan menewaskan 33 orang dari ledakan dan kerusakan lingkungan di bagian utara Negara ukraina dan Fukushima menyebapkan penderitaan ratusan ribu pengungsi dan 11 orang terluka akibat ledakan reactor. Tentu isu pemanasan global ini berjuta-juta kali lipat lebih mengerikan.

Lalu apakah itu Pemanasan Global( Global Warming) , Global Warming adalah kejadian di mana meningkatnya suhu rata-rata  di atmosfer, daratan, dan lautan di bumi(globalwarming.com). fenomena ini di sebapkan oleh 3 hal, yang pertama adalah Efek Rumah Kaca yaitu energy yang berasal dari matahari dalam bentuk radiasi gelombang menyentuh bumi dari cahaya menjadi panas yg secara alami di gunakan untuk memanas kan permukaan  bumi dan sisanya di pantulkan kembali ke angkasa namun dengan adanya gas rumah kaca seperti uap air , karbondioksida dan metana, panas yang di pantulkan ini terperangkap dalam atmosfer bumi, terakumulasi dan menjadi panas, hal ini terjadi secara terus menerus. Yang ke dua  adalah efek umpan balik, berlanjut dari efek rumah kaca pemanasan menyebapkan volume air yang menguap  ke atmosfer bertambah, di mana uap air itu sendiri adalah salah satu dari gas rumah kaca, hilangnya lapisan es juga menyebapkan efek umpan balik yaitu menurunya kemampuan Albedo(memantulkan cahaya ) oleh Es. Lautan juga kehilangan fungsinya dalam menyerap karbon di sebapkan berkurangnya organisme penting  di dalamnya. Dan yang ketiga adalah Variasi Matahari yaitu meningkatnya aktifitas matahari.

Tidak terbantahkan lagi emisi Carbondioksida menjadi “Agen Utama” penyebap fenomena Pemanasan Global. Tercatat di tahun terakhir terdapat “8 Miliar Ton CO2 di lepaskan dan masuk ke atmosfer. Di mana 40 % CO2 di hasilkan dari pembangkit listrik berbahan Coal(batubara) dan MIGAS, 33 % dari kendaraan sisanya dari industry dan lain-lain, point penting nya adalah 98 % Karbondioksida di hasilkan dari usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan energy( Globalwarming.com).

4. PLTN tidak aman.? Limbahnya berbahaya? Lagi-lagi Chernobyl dan Fukushima dan beberapa kecelakan nuklir lainnya di jadikan parameter aman atau tidaknya sebuah PLTN , tanpa melihat generasi ke berapakah PLTN-PLTN tersebut, ingat ! tidak ada teknologi yang sempurna, tapi semua teknologi menuju ke kesempurnaan. Kasus terakhir di Fukushima walaupun pada kenyataanya reactor dalam proses padam, telah mengispirasi banyak ilmuan untuk menciptakan teknologi –teknologi baru yang lebih aman dari mulai system keamanan pasif sampai system keamanan berlapis. Terbukti PLTN-PLTN modern sekarang ini relative aman dari berbagai incident. Lalu bagai mana dengan limbah radioaktif dari PLTN? Ada fenomena lucu ketika orang-orang meributkan beberapa drum limbah radioaktif secara berlebihan yang belum tentu menimbulkan petaka (asal kan penangananya benar dan sesuai prosedur), di sisi lain membiarkan “8 Miliar Ton” limbah dari PLTU dan PLTD yang berupa emisi Karbondioksida dan tanpa penanganan khusus di lepas begitu saja ke udara dan telah pasti menimbulkan kehancuran bagi kehidupan.sekarang dan mendatang.  Sampai saat ini banyak di lakukan riset tentang penanganan maupun pemanfaatan limbah nuklir, salah satunya adalah yang di lakukan GE Hitachi dengan mendaur ulang limbah untuk di jadikan BBN kembali. Selain itu NASA telah mempublikasikan tren Kendaraan massa depan yang berbahan bakar nuklir(BBN) berupa Plutonium yang di persiapkan untuk misi ke Mars. Terdapat juga teknologi PUREX( Plutonium uranium Extraction) yang mengektrak kembali BBN menjadi bahan bakar Oksida  Campuran(MOX).

5. Biaya pembangunan infrastruktur  sebuah PLTN kapasitas  2x 1.000 Megawatt berkisar antara 36-48 Triliun rupiah, dengan asumsi harga pembangkit saat ini US$2.000 – US$2.500 perkilowattelectric dan harga jual ke konsumen US$ 6 sen – US$ 7 sen (Rp 540- Rp630) per Kwh, belum termasuk biaya eksternal(dampak lingkungan/sosial dan kecelakaan(jika terjadi), Pengolahan limbah/daur ulang(jika mau)).. , dari uraian singkat di atas , Apakah harga PLTN mahal? Jawaban nya relatif. Yang pertama jika mau menggantikan otak anda dengan otak “tengkulak” ya jawabanya adalah mahal, susah berinvestasi dengan modal begitu besar jangka waktu yang lama, serta resiko kegagalan yang ada, Duit untung yang kembali akan meragukan, walaupun kenyataan nya sampai sekarang masih banyak perusahaan swasta dunia yang masih enjoy dengan bisnis PLTN nya. Yang kedua apabila mau berfikir bijak, apalah arti triliaun rupiah di bandingkan dengan masa depan anak cucu, bangsa dan dunia  yang akan dan sedang menhadapai krisis energi saat ini,coal dan migas menipis dan harga semakin mahal, sementara negara harus mengeluarkan 40- 50 triliun Rupiah tiap tahunnya untuk mensubsidi dan setiap tahun beban ini bertambah, belum lagi penangan dmpak limbah emisi yang menjadi biang pemanasan global, penanganan musim kemarau berkepanjangan, banjir, penyakit yang kesemuanya timbul sebagai akibat dari fenomena Global Warming yang membuat dunia ini lebih cepat menghampiri kiamat. Tentu tidak sopan mengkalkulasi harga nyawa anak cucu dan kelangsungan kehidupan di dunia dengan uang.

6. PLTS  lebih baik?

Dari segi oprasional dan sumber energi tidak dapat di bantah khususnya PLTS sangat ramah lingkungan pengoprasian gampang dan simpel. Begitu juga PLTAngin, yang jadi masalah adalah pertama effisiensi surya sel yang kecil sekitar 18 % , tentu untuk kebutuhan rumah tangga hal ini masih di mungkinkan, tapi untuk pemenuhan energi skala industri masih belum begitu memungkinkan, di sinilah masalahnya. Ingat PLTS bersumber dari rangkaian utama surya cell dan Surya Cell ini tidak tidak jatuh dari langit atau di sulap dari kantong ajaib “Doraemon”,  tercatat dalam memperoleh silokon dengan mereaksikan SiO2(pasir silika) + C(karbon)  —> Si(silikon belum murni) + CO2(Agen Global Warming) di perlukan suhu 1900-2100 drajat Celcius atau di perlukan listrik sebesar 10-30 MW atau sepersepuluh kekuatan PLTU Muara Karang 300 MW (Agen Global Warming) kebutuhan listrik tergantung besar atau kecilnya tanur/furnace, untuk skala industri daya ini mutlak di perlukan . Perlu di ketahui bahwa proses ini baru sampai di pemisahan silikon dari pasir silika, masih banyak tahapan untuk sampai ke waffer sikon, tahapan selanjutnya adalah  refining/permurnian  proses pemisahan dari impurity dan mineral ikutan proses ini berlangsung pada suhu 1700 DrajatCelcius lagi-lagi energy yang cukup besar di perlukan dalam tahapan ini, selanjutnya pembentukan silikonclorida pada suhu 350 drajat celcius, selanjutnya proses untuk mendapatkan kadar kemurnian “Eleven_Nine” atau  99,999999999 % kadar kemurnian untuk mendapatkan  performa terbaik dari sel surya. Tahapan ini di lakukan pada medium yang di sebut reactor Siemens pada suhu 1100 dan di lanjutkan dengan proses pembentukan wafer silicon dengan teknik Czochralski (Cz) pada suhu sekitar 1200 drajat celcius untuk mencapai titik lebur(http://energisurya.wordpress.com). Point pentingnya tidak hanya di masalah besarnya energy dan investasi serta teknologi yang di butuhkan, tapi effisiensi yang kecil berakibat teknologi ini tidak mampu memutuskan / meminimalisir rantai lingkaran setan emisi carbondiaoksida, di mana seperti di ketahui energy yang cukup besar dalam proses ini hanya bisa di penuhi oleh sebuah PLTU, jika opsi PLTN di hapus, artinya semakin industrialisasi silica di perbesar maka jumlah emissi CO2 yang di lepas semakin Besar pula, sebuah korelasi yang tak terbantahkan,  ingat emisi tidak hanya di hasilkan dari suplay energy tapi juga dari proses pemurnian itu sendiri, sehingga penulis menyebut fenomena ini dengan “Double Emission”. Pelepassan CO2 ini belum termasuk proses penambangan pasir silica dan lain-lain. Jadi apabila ada LSM atau organisasi lingkungan hidup yang mengkampanyekan penggunaan PLTS dalam kegiatanya seperti selogan “ Ayo gunakan PLTS” atau “Go energy Surya” berarti  saat itu pula mereka mengkampanyekan” Ayo ciptakan Emisi baru CO2 di bumi” atau “Go Emisi Rumah Kaca”. Sekali lagi semua sumber energy ada plus-minusnya tentunya semua bisa berkontribusi bagi kehidupan sesuai porsinya masing-masing , jangan lantas mendiskriminasikan salah satu sumber energy seperti PLTN, tapi setidaknya apabila opsi PLTN di loloskan maka nantinya di harapkan dapat menyuplai energy secara massif bagi industry silica dalam negri sehingga lingkaran setan emisi rumah kaca dapat di putus atau di minimalkan.

7. Menangani lumpur Lapindo dan Gas 3 Kg saja tidak becus?

Kalau kasus satu ini jawabanya singkat saja, yang pertama masalah lumpur dan gas di bandingkan PLTN jelas berbeda. Tidak Aple to Aple, tidak fair. Yang kedua ada istilah orang lain berbuat, kita yang menanggung dosa. Artinya begini, coba di renungkan dan di kilas balik Mengapa bisa terjadi Tragedi lumpur Lapindo???jawabnya adalah akibat kegilan dan kecanduan bangsa ini terhadap migas, sehingga di saat sadar migas sudah habis. Ekplorasi dan ekloitasi di kejar habis-habisan, “ayo cari lagi migas, minyak sudah mulai naik harganya begitu juga gas, subsidi membengkak” akibatnya target di kejar-kejar factor savety di abaikan dan terjadilah Tragedy Lapindo, malang,begitu malang PLTN yang jadi tumpuan dosa nya. Lapindo di jadikan Alasan Penolakan PLTN..sedih..

Hal serupa terjadi pula pada Kasus gas 3 kg, ketika cadangan minyak menipis dan harga mulai naik , subsidi membengkak lagi, dirasa gas masih banyak(padahal sedikit), buru-buru mengkonversi minyak ke gas. Seperti lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya, akibatnya kerja seperti di kejar-kejar setan, kesiapan di kebut-kebut dan akibatnya banyak tabung yang meledak. Celakanya PLTN lagi-lagi jadi sasaran dan penanggung dosa, dan ledakan tabung gas 3 kg di korelasikan dengan ledakan Reaktor Nuklir yang kontruksinya pun belum di bangun, sungguh Kejam.

8. Politik?

Sebagai Negara besar yang menganut paham demokrasi, isu politik masuk dalam ranah yang sangat sensitive , wajar saja apapun di negri ini sudah terpolitisasi, mulai dari UU sampai ke masalah nyamuk pun di politisasi. Apalagi isu PLTN yang akan menyedot dana yang tidak sedikit, dan mudah sekali bergesekan dengan berbagai kepentingan terutama politisasi ekonomi bisnis,untuk membiayai suatu partai agar besar tentu perlu dana yang besar,dana yang besar dari kader yang besar, kader yang besar dari saudagar minyak dan batubara yang besar, PLTN berdiri minyak dan batu bara tidak laku. Terlalu luas apabila di bahas lebih lanjut. Titik point ketika isu penolakan PLTN  di jadikan komoditi politik, memanfaatkan pengetahuan awam manyarakat tentang nuklir dan ketakutan akan bom nuklir akan berdampak ke pembodohan public. Di sini masyarakat di uji logika dan kecerdasan akal nya, sebagai contok yang pernah terjadi dan sedang terjadi, di mana seorang calon pemimpin mengkampanyekan gerakan anti PLTN sebagai teknik untuk mendapatkan dukungan dan simpati masyarakat pemilih, “saya calon pemimpin daerah ini menolak keras PLTN, jangan jadikan daerah ini Chernobyl, demi anak cucu kita” demikian kira-kira inti kampanyenya. Ini sama saja menelanjangi diri sendiri, masyarakat harus pandai memilih antara calon pemimpin yang belum terbukti dan pemimpin yang telah terbukti. Harus tau criteria mutlak seorang pemimpin. Selain pintar, berahlak,visioner, berjiwa pemimpin (leadership) by doing, berpikiran maju ke depan, mempunyai kemampuan menegerial yang baik. Berikut beberapa contoh pemimpin yang terbukti dan di akui secara nasional maupun internasional:

a. Bill Gates pendiri perusahaan raksasa Microsoft,orang terkaya, ahli sedekah,pemimpin yang terbukti di kagumi banyak orang, pendiri yayasan social terbesar”Bill Gates Foundation”. Berbicara di depan ribuan mahasiswa di Caltek(California Institute Technology) menantang mahasiswa dan generasi muda di seluruh dunia untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang akan terjadi di masa depan termasuk di bidang energy.  Gates yang jenius dan berfikir jauh kedepan melihat peluang energy dari nuklir yang menjanjikan dan menyatakan” I Love Nuclear” kecintaan atas nuklir yang ia sebut sebagai solusi energy masa depan yang aman, membuat nya mengambil keputusan membentuk TerraPower(Perusahan yang bergerak di bidang Energi Nuklir). Pernyataan terakhir ketika kunjungan kerjasama nuklir dengan China Gates menjanjikan “All these new designs are going to be incredibly safe,”. Ya ini yang di sebut reactor supersafe.

b. Patrick Moore salah satu pendiri organisasi internasional GrennPeace, di mana ketika orang kebanyakan masih awam tentang pentingnya lingkungan hidup, Patrick bersama rekan-rekanya telah bergerak dalam tujuan penyelamatan dunia dari polusi dan perusakan. Patrick melihat polusi yang merusak telah terjadi akibat usaha manusia memenuhi kebutuhan energy. Dan ia melihat masih ada peluang memperbaikinya dan melihat peluang itu dari “NUKLIR”. Namun pendapatnya ini mendapat tentangan dari rekan-rekanya di Greenpeace. Di Jakarta beberapa waktu lalu dia menyatakan “Greenpeace telah melakukan kesalahan besar dengan menyamakan bom nuklir dan energi nuklir (PLTN)”

c. Dahlan Iskan pria kelahiran Magetan Jatim CEO  Jawa pos dan Jawa Pos Network, sosok pemimpin yang sederhana , cerdas, berwawasan , banyak di kagumi bawahanya dan rekan kerjanya, sosok yang berani terjun langsung ke lapangan, menerapakan secara effektif konsep LeaderShip by Doing, membuat perubahan dan reformasi positif di salahsatu BUMN yang terkenal sakit parah (PLN). Sekarang di percaya menjadi salah satu mentri di Negara ini. Kekagumannya terhadap nuklir energy di buat dalam catatan yang di publikasi dengan judul “Nuklir Tidak Habis Pikir” sosok cerdas ini sudah mampu melihat peluang dalam mengatasi masalah energy masa depan. Dalam seminar di gedung DPR-RI Dahlan Iskan mengatakan “Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) mau tidak mau harus dikembangkan penggunaannya. Kalau ingin memiliki energi yang handal dan murah maka teknologi nuklir menjadi salah satu jawabannya,”

d. BJ Habibie di kenal dengan bapak Teknologi dan Demokrasi, pemilik banyak hak paten di bidang teknologi penerbangan, membawa Indonesia dalam masa-masa transisi yang kritis menuju perbaikan. Pernah menjadi presiden, mentri, pendiri habibie center dan banyak lagi kegiatan-kegiatan yang mempu memberikan sesuatu bagi kemajuan bangsa indo nesia, untuk nuklir dan PLTN beliau berkomentar“Saya berpendapat sudah waktunya dikeluarkan deklarasi mengenai PLTN ini. Saya mendukung penuh pembangunan PLTN, karena sudah tidak ada jalan lagi,” kata Habibie usai seminar bertajuk ‘PLTN Menjamin Ketahanan Penyediaan Listrik Nasional’ di hotel Grand Melia, Jakarta, Rabu (3/1/2010) okezone.com

e. Komaruddin Hidayat. adalah rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dalam bukunya “ Apa Kata Mereka Tentang Nuklir” membahas pentingnya pemanfaatan energy nuklir untuk kesejahteraan. Dalam acara bedah buku tersebut beliau mengatakan “Makanya saya katakan orang yang menolak pembangunan PLTN sama saja anti kemajuan. Bagaimana mungkin industri bisa berkembang tanpa dukungan energi yang cukup, ”

Dan banyak lagi tokoh-tokoh pemimpin yang memandang perlu penerapan teknologi nuklir di berbagai bidang tak terkecuali di bidang energy, penulis tidak mengatakan mereka yang di sebutkan di atas adalah pemimpin yang sempurna, tapi setidaknya ada nilai-nilai penting yang telah terbukti mereka berikan bagi dunia dan bangsa ini. Tinggal kita sebagai masyarakatlah yang harus pandai-pandai memilih dan menilai sosok calon pemimpin negri ini di masa datang, dalam sains dan teknologi di kenal istilah Kalibrasi dan Verifikasi , Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi. Tidak bermaksud menyamakan manusia dengan benda atau alat, tapi tidak kah kita bisa jadikan ini sebagai salah satu teknik dalam memilih pemimpin.

Sekali lagi, sudah saatnya bangsa ini “sadar energy”, tentunya di sadari bahwa mewujudkan sebuah sebuah sumber energy massif dari pemanfaatan nuklir  tidak dapat di lakukan dalam waktu singkat. Oleh karena itu dalam dunia PLTN ada istilah “Sekarang atau Tidak selamanya”. Dan penulis dari 10  tahun mengikuti diskusi mengenai isu ini telah memilih opsi “Sekarang”. Ya sudah saatnya bangsa ini untuk “Go Nuclear”.





Ngejawab Email soal “PROVEN” (Re-Posting)

19 11 2010

Pertanyaan ttg proven :

Kalo kita buka kamus inggris-indonesia (di internet aja), proven : teruji, terbukti. Maksudnya sudah jelas sesuatu yg telah terlihat hasilnya setelah mengalami waktu tertentu tanpa perubahan konsep awal dan berjalan seperti yg diharapkan, sesuatu yg kekuatannya telah diuji (meski dalam hal ini part by part).

Terus kalo baca PP No.43 Tahun 2006, pasal 4 ayat 2, bunyinya gini nih:

“Yang dimaksud dengan teknologi teruji (proven technology) adalah teknologi yang digunakan dalam suatu desain yang telah terbukti melalui pengalaman operasi reaktor paling singkat 3 (tiga) tahun secara selamat dengan faktor kapasitas rerata minimal 75% (tujuh puluh lima persen)”

Jelas sih kalo baca sepintas, kayaknya cuman pada variable waktu dan daya saja. Dimana kalo kita ngidupin reaktor dengan daya minimal (rata2) 75% ampe 3 tahun, terus enggak ada accident atau incident dapat dianggap teruji. Ternyata gak itu aja maksudnya, padahal kalo kita mau jeli, proses izin dari tapak, konstruksi, komisioning, operasi/komersial, ampe dekomisioning semua harus melewati izin tiap tahapnya. Otomatis semua kudu melalui proses pe-nguji-an (di-proven-in kali ye) untuk semua variabel yang berpengaruh dan terikat pada setiap tahapan dan bersifat lampau setelah dioperasikan selama 3 tahun. Contoh tahap tapak, variable seimik, geologi, dsb. Tahap konstruki, uji material dan keandalan system, dsb. Jelas semua kudu di UJI atai di PROVE, terus dikasih lisensi kalo lolos proses PROVE.

1.    Tolong definisi proven disini seperti apa ya? apakah PLTN yang sudah komersial dan dipakai dibanyak negara yang dioperasikan sampai saat ini belum dikatakan proven?

Kalo definisi saya (saya loh), kayak yg di atas saya tulis itu, soal PROVEN. Jelas udah proven dong, skalanya pake daya minimal (rata2) 75% terus udah lebih dari 3 taon.

2.    Apakah standar designya reaktornya dengan menggunakan data gempa terbaru bisa dikatakan proven? atau ini jadinya proven terhadap gempa? jadi nunggu gempa dulu berkali-kali baru proven? Mengacu ke gempa di Kashiwazaki Jepang, apakah PLTN tersebut belum bisa dikatakan proven?

Kalo soal data terbaru, tentunya skala gempa make skala sejarah gempat terkuat pada suatu tapak. Ya gak lucu kita maksain bangun reactor di daerah yg emang gempanya (sejarahnya) pernah gede banget. Kalo bicara gempa, kan sebenernya bicara goyangan (ada yg naik dan turun, dan yg kiri-kanan), teknologi keselamatan reactor emang ngacu pada aspek kelakuan system thermalnya terhadap “goyangan”, selain secara mekanik juga, misalnya tidak mematahkan pipa pendingin yg bisa mengarah kepada kebocoran air pendingin (misal PWR) di system primer akibat goyangan gempa. Kualitas bahan terkait sifat elastisitasnya jelas diperhitungkan untuk menghadapi kondisi seperti itu, belum soal korosi, perubahan bahan akibat paparan panas dan radiasi (di primer). Soal di PLTN KK (KashiwazaKi), memang muncul data baru tentang pergerakan tanah yg melewati batas desain pergerakan tanah (bdpt). Dari sini emang jelas, balik ke proven, bisa saja kita berkilah, “kok gak proven?” , “kok masih ada radiasi yg keluar?”, tapi kalo kita udah gak percaya orang2 kita, minimal deh kita percaya ame hasil investigasi IAEA tentang besaran radiasi yg keluar ternyata masih di bawah ambang keselamatan. Buka aja http://www.iaea.org/ terus masukin judul “Kashiwazaki” di search, banyak tuh dokumen2 yg nyeritain soal gempa dan akibatnya. Jadi proven tentunya berdasarkan kondisi lampau.

Soal gempa berkali2 ngehantem reactor nuklir, bukannya enggak ada, banyak malah, reaktor2 di jepang hampir tiap hari kena gempa. Tapi yg angkanya melebihi bdpt, baru reactor KK (kalo ada yg lainnya mohon tambahin deh). Dari situ pelajaran mahal bagi desainer reactor (bukan soal generasi reaktornya aja) , skala ketahan gempa untuk reactor praktis ditingkatkan, tentunya untuk reactor generasi sejenis tapi belum dibangun akan ada adjust terhadap beberapa parameter. Bisa saja kita berkilah, meski ada gempa yg melebihi skala desainnya, toh reactor enggak meledak kayak Chernobyl. Persoalannya, sampe saat ini belum ada mekanisme iptek yg bisa pasti memastikan skala gempa tertinggi dan kapan gempa muncul. Tengoklah Aceh, siapa sangka? Padang? Padahal dengan adanya gempa kemarin, saya enggak denger tuh PLTU atau system pembangkit konvensional rusak parah atau trafo atau system pendinginnya meledak? Padalah standar industry dan perizinan PLT konvensional di bawah PLTN. Yang ada kapal PLN, naik ke atap rumah orang.

3. Kalau pengertian proven disesuaikan dengan negara( kondisi gempa misalnya-red) maka tidak ada yang namany proven universal. Dan apabila proven disini diikuti dengan kudu adanya pembuktian hasil2 terbaru, yang kejadiannyapun belum terjadi. Artinya tidak ada yang namanya teknologi proven, tapi yang ada adalah teknologi kadaluarsa,solanya proven berdasarkan waktu, seperti makanan sudah tidak layak makan.

Saya setuju banget tuh, soal proven terkait waktu ke depan gak ada (bahasanya aja TERUJI, alias udah di UJI), sekali kali proven disini terkait waktu kebelakang (lampau), kan bunyinya setelah 3 taon. Seperti yg dinomor dua, gara2 ada masalah pada PLTN KK karena melebihi bdpt-nya, maka ketika mereka mau bangun baru reactor sejenis dan se-generasi tentunya adjust didesain dilakukan terkait data baru tadi. Kalo yg lama mah kan udah dimatiin. Kalo kita bakal beli reactor sejenis dan modelnya udah proven (udah ada dan dioperasikan), tetep yg dibangun yg baru plus adjust2 tadi selama anomaly yg muncul dalam pengoperasiannya di lampau. Saya kadang juga suka bingung, kalo kita yakiin banget bahwa ada PROVEN ke masa depan kayak yg udah pasti, sekali lagi kejadian gempa di Sumatera dan Jawa akhir2 ini, sebelum kejadiankan gak ada yg nebak atau mastiin. Namun, minimal deh meski kita enggak tahu “kapan”nya dan “berapa” besarnya, dengan negok lagi ke belakang (PLTN KK) tadi, skala gempa pltn yg mau dibangun angkanya akan dibuat ekstrim (dan ini emang filosofi di desain keselamatannya) meski akan berdampak kepada biaya (akan membengkak, dan kalo gak ekonomis ya udah ngiler lagi).

4.    Mohon pandangannya, memisahkan design reaktor core, design thermal hydrolic dan turbinnya, serta design bangunannya apakah tahan gempa kekuatan berapa sekala richter atau kuat ditubruk pesawat boing 737 bisa dikatakan proven.

Sepengetahuan saya emang gak ada eksperimen skala 1:1, seperti menabrakkan pesawat 737 ke salah satu PLTN di amerika misalnya, atau saat turbinya beroperasi di goyang2 dengan mesin  uji yng memiliki skala gempa tinggi banget, dsb. Yang pernah ada cuman 1, yaitu Chernobyl, meskipun eksperimennya bertujuan untuk menghemat BB dan bisa menghasilkan plutonium yg banyak. Toh dunia belajar dari situ bahwa eksperimen skala 1:1 diharamkan (lihat lagi di internet akibat Chernobyl, itulah sosok yg mengerikan dari kecelakaan nuklir, tapi lihat juga penyebabnya, biar per). Makanya dalam eksperimen, para pakar  nuklir di dunia pake scale-down dan tentunya gak kan persis banget dengan skala 1:1-nya, via eksperimen yg diskalakan, hasil2 (korelasi) dimuatkan dalam bentuk kode2 komputer, sehingga riset berjalan dua arah, eksperimental (empiric) dan simulasi computer. Kalo nanya bukti pertanyaan No.4, ya gak ada lah. Tapi kalo nanya bukti part by part di ujikan atau yg scale-down ada, tinggal cari deh di jurnal2 riset internasional soal riset tek.keselamatan nuklir. Pesawat terbang aja yg ada riset skala 1:1, tetep aje dari tahun ke tahun ada yg jatuh dan memakan korban. Tapi apakah saat kita ke Yogya dan kudunya naik pesawat karena waktu mau seminar mefet, terus jadi anti pesawat yah enggak, trus dari pada kreta api yg 8 jam, tetep aje kreta juga ada kecelakaannya. So, PROVEN ke masa depan gak pernah ada. Semua rahasia yg nyiptain alam. Semua ilmuwan hanya bisa menebak (estimasi) dengan pengalaman empiricnya (uji lampaunya) dan berdasarkan data2 anomali dari setiap kejadian di lampau. Jadi kalo saya ditanyian apakah PLTN aman? Saya jawab tidak, karena parameter masa depan hanya bisa diestimasi saja dan gak ada angka pastinya. Tapinya, kita juga kudu jujur, kalo ditanya: apakah pesawat terbang, kapal laut, mobil, sepede motor dan sepede gowes…dikatakan AMAN? Pasti enggak juga, karena gak pernah ada berita bahwa tidak pernah ada pesawat yg jatuh atau kapal laut yg tenggelam kan. Semua manusia masih menggunakannya meski tahu resiko ketidak amanannya ada. Karena apa??? Karena kebutuhan bukan, butuh transportasi. Maka kalo bicara soal energy, mari kita juga mempertimbangkan ke soal kebutuhannya, bahwa bangsa ini butuh energy banyak. Sumber2 energi terbarukan lainnya kan belom dimanfaatkan? Iya emang, dan kita bisa mix semua, tinggal cari yg suplay energy-nysa agak konstan, terus kita jadiin “backbone”-nya system energy nasional, jadi biar gak biar pet, bukan soal kuantitasnya aja, tapi stabilitas penyediaan suplay energy. Misal, batu bara lagi syusah nyari, terus laut dan angin lagi kenceng2nya, pratktis transportasi batu bara terganggu, supply energy terganggu. Kalo dijadiin backbone batu bara sulit rasanya.

5.  Mohon juga pandangannya, bahwa bahaya radiasi itu terletak pada sistem kontainment core reaktor, yaitu pada bagian fuel pin, fuel assembly,reactor vessel, ditambah dengan pelindungan reaktor beton plus bagunan itu sendiri. Kalau gempa berapapun besarnya, bahan bakar plus radiasinya masih terkungkung dalam vessel dan reaktor dengan sendirinya shutdown sendiri, dan   core reaktornya tidak mengalami pelelehan, maka reaktor tersebut bisa dikatakan proven?

Standar keselamatan dalam reactor, berbasis pada tiga pilar yaitu pengontrolan reaktivitas (neutronik), pemindahan panas (thermal hydraulics) yang berlebihan dari inti reaktor dan menjaga/menjamin agar material radioaktif tidak keluar (pertahanan berlapis). Maksudnya adalah, meskipun reaktivitas dikendalikan dan reactor bisa dipadamkan, decay heat selalu ada (dibawah 10% deh), disini peran thermal hydraulics jadi dominan, karena konsepnya bagaimana2 caranya dengan waktu yg cepat dan kondisi tepat agar kelebihan panas bisa dibuang dari system atau diturunkan dari system, sehingga tidak ada panas berlebih di teras (meski padam) yang kalo tidak terjaga akan menyebabkan fenomena pendidihan muncul, yg tentunya akan mengarah ke persoalan burnout, kalo udah burnout alias gosong, dimungkinkan cladding leleh (kejadian TMI-2). Tapi kalo system bisa cepat2 kita dingingkan, dan fenomena boiling tidak terjadi, endak ada panas berlebih diteras yg sedang padam. Reaktor save. Saya setuju unsur radioaktif juga ada di dalam air pendingin primer, sebagai hasil belahan fisi, dan nilainya lebih rendah dibandingkan fuel dari cladding ke luar karena patah atau melting. Dan radiasi emang ada di mana-mana, di sekitar kita jelas radiasi ada, radiasi dari kosmik. Sebagai gambaran, asal cairan pendingin di system primer bisa dijaga untuk tetap pada temperatur di bawah saturasi, maka tidak akan mengarah ke boiling. Tapi, kalo sudah berlebih, alias temperatur cairan pendingin (air, misalnya) berada pada saturasinya, maka fenomena boiling akan menjadi dominan, kondisi saturasi pada air adalah kondisi dua-fasa (two-phase), prosesnya boiling, dalam boiling seiring inputan kalor yg konstan dari decay heat reactor yg padam ke cairan, maka lama-lama perubahan rejim pendidihan dari didih inti, ke-didih transisi dan didih film, sementara cairan tidak mengalami penuruan temperature, akan terjadi.Celakanya kalau sampai film boiling dan bertahan terus2an tanpa adanya pendinginan, cladding akan akan naik temperturnya, dimulai dari burnout dan titik leleh cladding akan terlampaui. Belum lagi munculnya hydrogen selama film muncul, yg justeru bisa menyebabkan terjadinya ledakan di teras (jika ada oksigen yg masuk). Dengan memahami sifat termal fluida pendingin maupun material lainnya, pengendalain termal bisa kita lakukan, tentunya kalo soal kepanasan, cara kita adalah cepet2 ngedinginin. Hal sederhana ini juga terjadi dengan kita, kalo badan kepanasan, maka kalo kita enggak buka baju terus ngidupin kipas angin juga belum ilang itu gerahnya, paling kalo ada sungai kita berendem di situ atau di bak kamar mandi. Persoalan termal pembangkit konvensional non-nuklir dengan nuklir bedanya adalah, bahwa nuklir mengatur dari 100% ke arah bawah, sedangkan non-nukir dari bawah ke 100%. Ini yg lumayan unik menurut saya.

Maaf kalo saya kepanjangan menjawabnya. Saya bukannya nuklir minded, saya lebih seneng mikir bahwa kita butuh energy terserah energy apapun itu, yg penting kita enggak “biyar per” dan “sumber energy untuk memicu ekonomi, tersedia dengan melimpah”, Tengoklah yg mudik, mereka butuh mudik apapun caranya dilakonin, padahal angka korban selama mudik lumayan terbilang tinggi dari tahun ket tahun, enggak ada yg gak kapok tuh, dan diulang terus2an. Tapikan PLTN gak kan nekad seperti kasus mudik bukan?

Meskipun, semua peralatan yg diciptakan manusia memiliki resiko dan bahaya, yg tentunya akan mengancam keselamatan manusia, tetap bahaya radiasi adalah sesuatu yg mengerikan, tidak tercium, tidak berwarna dan tidak terasa, tahu-tahu sudah teradiasi. aja Justeru dari sifat radiasi tersebut, konsep, perhitungan, analisis di bidang nuklir bukan pekerjaan asal-asalan, dan tentunya dengan step2 perizinannya dan pengawasannya baik nasional , LSM dan internasionall, para ahlinya bekerja dengan seriyus. Belum lagi PROVEN-nya. Apakah PLTU Batu-bara ada Provennya? Atau kalo mau per, bahwa disekitar PLTU Batubara, polusi udara tidak boleh melebihi ambang batas pencemaran? Pastinya ada juga bukan. Juga dengan pembangkit lainnya.? Sama saja, yg jelas KITA BUTUH ENERGI.

Salam energi,

Mulya Juarsa

Mahasiswa Pascasarjana DTM-FTUI

(re-posting, 7 Oktober 2010, dari halaman “Flash Nuklir”)

 





Pembahasan Draft Rancangan Kebijakan Energi Nasional

8 11 2010

Sumber : http://www.ristek.go.id/?module=News%20News&id=7248

Seiring pembangunan dan pertumbuhan bangsa penggunaan energi pun bertambah. Namun penyediaan energi terutamanya energi berbasis fosil semakin sulit karena semakin berkurangnya sumber daya alamnya. Kondisi yang semakin mendesak ini membuat penggunaan energi baru dan terbarukan menjadi suatu keniscayaan.

Dewan Energi Nasional (DEN) sebagai lembaga pemerintah yang dipimpin langsung oleh presiden, bertugas untuk menghasilkan kebijakan energi yang akan menjadi acuan bagi seluruh instansi dan pihak terkait. Kebijakan energi nasional ini nantinya akan mengakomodir aspirasi dan kepentingan pihak pemerintah dan unsur pemangku kepentingan baik dari akademisi, industri hingga pemerhati lingkungan.

Dalam rangka penyusunan draft kebijakan energi nasional yang akan diusulkan ke DPR, anggota DEN melaksanakan sidang anggota ke-6 yang rutin dilaksanakan setiap 2 bulan sekali di Kantor Kementerian ESDM, pada  Kamis, 4 November 2010.

Kebijakan yang dibahas meliputi kebijakan umum energi nasional, kebijakan energi berdasarkan jenis, kebijakan konservasi dan efisiensi energi dan pelaksanaan pengawasan kebijakan lintas sektor tentang kebijakan pemanfaatan bahan bakar gas (bbg) di sektor transportasi.

Menurut ketua harian DEN yang juga selaku Menteri ESDM, Darwin Saleh, pengguna energi paling besar adalah transportasi dan industri sehingga penggunaannya harus diatur.

Selain itu, mengingat bahwa kebijakan energi nasional ini jika ditetapkan nantinya akan dijadikan acuan hingga 2050.  Menteri Negara Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata menyarankan, agar setiap pasal dan poin yang dibahas haruslah disepakati secara mufakat.

“Salah satu pokok penting dalam draft kebijakan umum energi nasional adalah meningkatkan pangsa sumber daya energi baru dan terbarukan, yang salah satunya adalah energi nuklir. Sebagian anggota DEN menyetujui pembangunan PLTN untuk menghindari krisis listrik yang berkepanjangan”, ujar Darwin.

Kesiapan pemanfaatan nuklir dan tenaga ahli nuklir dalam mendukung pembangunan PLTN merupakan tanggung jawab BATAN, yang menjadi salah satu LPNK di bawah koordinasi Ristek.

Seluruh rincian pokok kebijakan energi tersebut mengarah kepada penciptaan ketahanan dan kemandirian energi yang berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Turut hadir dalam sidang ini, dari pihak pemerintah antara lain: Menteri Negara Lingkungan Hidup, Gusti Hatta; perwakilan dari Kementerian Transportasi, Bappenas, serta Kementerian terkait lainnya. Sedangkan yang hadir dari unsur pemangku kepentingan antara lain: Agusman Effendi, Rinaldy Dalimi, Tumiran, Mukhtasor. (mha/humasristek)





Kecelakaan, Resiko dan Kebutuhan Energi

9 09 2010

Soal resiko dari kecelakaan PLTN, jangan ditanya deh. Biaya yang dihabiskan Rusia pada tahun 1986 untuk Chernobyl (tipe RMBK, pendinginnya pakai grafit) sekitar 80 Milyar US, dan masalah radiasinya sampai detik ini masih ditangani. Terus, kejadian lebih awal, reaktor TMI2 di USA (tipe PWR900, pendinginnya pakai air ringan H20), juga mengalami kecelakaan, terasnya leleh sampai 20 ton-an, namun tidak ada radiasi yg lepas ke lingkungan. Kedua kejadian tersebut disebabkan oleh faktor manusia dan sistem reaktor sendiri.

Chernobyl mengalami ledakan (“ledakan”, namun bukan seperti hiroshima atau nagasaki) karena personel menggunakan reaktor real (beneran) skala 1:1 untuk eksperimen efsiensi  thermal bahan bakarnya, dengan alasan untuk penghematan BB agar listrik yg dihasilkan optimal. Namun ini hanya alasan saja, karean produksi dari sisa bakar reaktor bisa menghasilkan Plutonium untuk bom atom. Didukung desain reaktor yg menggunakan grafit, sehingga reaktivitas sistem jadi positip, alias kalo panas naik, neutron yg diproduksi makin banyak. Kemudian reactor hanya ditutup oleh beton dan dibagian luar bejana hanya ditutup dengan penutup tidak dari konkret (kayak pabrik). Bisa dibayangkan kalo reactor mengalami superkritis, ledakan akan terjadi dan merusak struktur bangunan pengukungnya. Ledakan tidak akan menghancurkan bangunan2 di sekitar, tidak seperti kasus bom kuningan atau Bali. Namun, pecahan2 partikel dari reactor yg memiliki sumber radiasi tinggi akan muncrat kemana-mana. Belum awan radioaktfnya, wow, mengerikan deh. Kota disekitar reactor sampai saat ini belum bisa dihuni oleh manusia. Bahan bisa dicari lewat youtube dengan judul video Chernobyl Disaster Incident (ada 10 bagian, rata2 30 MB).

Sesaat setelah kejadian dan hingga beberapa bulan, ratusan ribu engineering dan tentara dikerahkan untuk menutupi atau mengurangi dampak radiasi yg muncul. Sampai saat ini, kondisi reactor masih seperti dulu. Reaktor ditutupi dengan “peti mati batu”  disebut sarkofagus (sarcophagus). Untuk Chernobyl, sarkofagus terbuat dari lempengan baja tahan karat, dan biaya untuk membuatnya sekitar 1,4 milyar US. Ini bentuk suatu kegagalan dan keteledoran yg pernah dilakukan manusia, meskipun hanya sedikit memakan korban (jika dibandingkan dengan angka kecelakaan lalin, tiap tahun di Indonesia akibat mudik dengan sepeda motor). Namun harus diakui, kerusakan lingkungan yg bisa dikategorikan permanen tidak bisa dihindari.

Lalu kecelakaan yg pertama untuk PLTN sebenarnya terjadi di Amerika Serikat, pada tahun 1979 yaitu reactor TMI (Three Mile Island) unit 2, inipun diawalai oleh kegagalan pompa air demineral di sistem sekunder, pompa mati dan reaktor sebenarnya mati. Otomatis tekanan di primer naik, kemudian tekanan harus dibuang melalui katup pengaman atau disebut sebagai pilot-operated relief valve (PORV) yang berada pada system tabung penekan reactor (pressurizer) di system primer. Permasalahnya, ketika tekanan sudah normal kembali (sekitar 155 bar), katup masih terbuka, sedangkan di panel di ruang kendali menunjukan katup sudah menutup kembali. Operator baru sadar setelah 8 menit bahwa di lapangan katup masih terbuka, dan teras sudah mendidih dan bahan bakar dan penyokongnya di dalam bejana reaktor leleh, 20 ton lelehannya, meskipun telah diambil tindakan dengan mengguyur teras melalui system pendingin teras darurat (ECCS, emergency core cooling system). Meskipun teras meleleh, namun tidak ada ledakan atau material radioaktif yg terlepas ke lingkungan lelehan tetap terjaga di dalam bejana reactor (lapis ke-3 proteksi keselamatan reactor). Meskipun, efek radiasi disekitar lingkungan komples TMI2 ( radius 10 mil) tidak terjadi indikasi bahwa adanya korban dari masyarakat sekitar TMI2 akibat paparan radiasi, hingga saat ini (tidak seperti kasus Chernobyl).

Namun, demikian tetap saja yang namanya kecelakaan adalah kecelakaan dan akan memakan korban. Apalagi ini sola radiasi, yang tidak terlihat dan terasa oleh panca indra normal kita. Musuh yg tak tampak ini, pastinya akan mematikan dan berbahaya. Lantas apakah karena kejadian seperti di TMI2 bahkan Chernobyl, semua PLTN di dunia dimatikan? Bayangkan, pada bulan Juni 2010 disemua Negara (30 negara) yang total memiliki PLTN sekitar 438 unit telah menyumbangkan listrk di dunia sebesar 372 GWatt. Kemudian ada 16 negara yg sedang membangun PLTN sebanyak 61 unit dengan sumbangan listrik sebesar 59 GWatt (sumber : http://www.euronuclear.org/info/encyclopedia/n/nuclear-power-plant-world-wide.htm). Sekitar 14% lebih listrik dunia saat ini berasal dari energy nuklir reaksi fisi, dan diperkirakan pada tahun 2050 akan menjadi 25% dari produksi litrik dunia (IEO-2010), tentunya nuklir akan didampingi oleh sumber energy terbarukan (renewable energy), seperti biogass, solar, angin, dll.

Cerita macem begini, sebenarnya banyak dan bisa dicari via internet dan bukan hal yg ditutup-tutupi. Kedua hal tersebut menunjukkan bahaya dan resiko dari kegagalan sistem yg dibuat manusia (kecuali buatan Sang Maha Pencipta). Tahun 2008, 300-an orang mati dalam kecelakaan motor karena mudik. Tahun 2009 jumlahnya naik menjadi 700-an orang. Semua karena motor, belum yg kendaraan roda empat dan truk, semua karena kendaraan yg diciptakan manusia. So, semua benda/sistem yg diciptakan manusia tidak ada yg sempurna sama sekali dan memiliki resiko negative, berbahaya dan mematikan. Tidak ada yg namanya reaktor nuklir bakal tidak mengalami kecelakaan, ilmuwan dan engineeringnya sendir masih menggunakan probabilitas kecelakaan. Gak ada yg pasti deh. Kembali keterkaitan teknologi yang sama-sama diciptakan manusia, seperti PLTN dan disini keta focus ke persoalan kebutuhan energy saja. Maka, jika memikirkan kebutuhan akan energy untuk terus memicu ekonomi tentunya segala sumber energy akan digunakan, termasuk nuklir. Saya berfikiran, jika sudahlah kita masukkan defines pro dan kontra terhadap suatu produk, maka yg  bicara disini lebih ke arah kepentingan pergolongan, individu atau tatanan tertentu. Sebaiknya soal kebutuhan harus didasarkan kepada kebutuhan orang banyak dan umum. Jangan digeser-geser ke area yg abu-abu, apalagi dilatar belakangi kepentingan politis. Maka, sia-sialah persoalan ilmiah dibicarakan, sia-sialah uang Negara dihamburkan untuk mempelajari dan menguasai suatu IPTEK yg dimiliki oleh Negara-negara maju. Alasan-alasan yg sering dugunakan untuk yg kontra adalah: terlalu mahal, sumber cadangan masih banyak, ketidak siapan SDM, dan keterbergantungan kepada Negara lain. Mari kita berjujur ria, berikan contoh apakah sebagian besar produk2 yg kita nikmati kita buat sendiri, apakah memang kita terus bergnatung kepada Negara luar.  Karena BBM saja, Negara kita sudah menjadi net importir. Soal SDM, nah ini yg paling seru, karena kita selalu mengkaitkan berbagai peristiwa kecelakaan atau kegagalan sebagai lemahnya SDM kita dan malah gak sungkan2 menghina kemampuan bangsa sendiri. Padahal kalo bangsa lain yg menghina marahnya minta ampun deh. Lucu jadinya, saya malah punya fikiran dangkal, bahwa nampaknya kalo SDM kita bisa dianggap pinter maka akan menjadi ancaman bagi kaum tertentu atau rejim tertentu. Tengok saja pak Habiebie, berbagai cara agar beliyau tidak maju menjadi pimpinan, karena orang takut, takut dipimpin sama orang pinter. Tengok juga bahwa SDM kita sebenarnya banyak yg malang-melintang di Negara orang dan memperoleh prestasi tingkat dunia, karena bukan soal materinya saja, tapi penghargaan dari masyarakat mereka dapatkan. Terlalu mahal dalam investasi untuk PLTN iya memang, karena system  keselamatan yg selalu berlapis dan waktu konstruksi yang memakan waktu sampai 5 tahun. Namun kalo jujur, biaya operasionalnya jelas bisa rendah disbanding pembankit lain dan efek polusi lingkungan tidak signifikan selama operasi. Lalu sumber energy lain masih banyakkan? Betul memang, namun kebanyakan masih sporadic dan untuk kebutuhan yg besar harus disatukan dan inipun memerlukan teknologi dan biaya yg tidak sedikit pula. Cadangan yg lain, wajib kita manfaatkan seoptimal mungkin, demi kelangsungan bangsa dan harga diri bangsa. Tidak ada satupun sumber energy yg tidak boleh dimanfaatkan.

Mari kita berfikir, bahwa sanya setiap keadaan ataupun hal-hal yang bersifat “kebutuhan” apalagi menyangkut energy hendaknya jangan dipolitisir dan dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat atau golongan tertentu. Negara butuh energy untuk memicu ekonomi dengan dukungan perkembangan teknologi yang pesat, Negara perlu “bahan bakar” agar bisa melesat maju sehingga bangsa ini tidak terus-terusan di hina, dilecehkan dan dijelekkan, baik oleh Negara lain maupun sebagian warga bangsa yang memiliki kepentingan pribadi dan bersifat sesaat.  Soal energy sebaikknya kita kembalikan ke persoalan “kebutuhan” dan ke kaidah “ilmiahnya”. Indonesia ibarat tubuh, jika tubuh kekurangan energi alias tidak makan/minum, maka tubuh akan lemas, segala penyakit akan mudah datang.

=== masih bingung, 9 September 2010 ===





Berita soal PLTN

25 08 2010
Bagian 1

57,6 Persen Terima Pembangunan PLTN

Selasa, 24 Agustus 2010 | 17:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Hasil jajak pendapat yang disampaikan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menyatakan bahwa 57,6 persen dari 3.000 orang di Jawa dan Bali dapat menerima rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN.

Mereka sebagian besar menilai bahwa penggunaan energi nulir dapat menjaga kestabilan pasokan energi. “Denpasar yang paling menerima karena kekhawatiran dapat terjadi krisis energi listrik,” ujar Ibnu Hamad, tenaga ahli lembaga penelitian Tridakomi Andalan Semesta yang juga Guru Besar Komunikasi Universitas Indonesia saat memaparkan hasil penelitian untuk BATAN di kantor BATAN, Kuningan, Jakarta, Selasa (24/8/2010).

Meskipun tingkat penerimaan masyarakat terhadap pembangunan PLTN tersebut cukup tinggi, hasil jajak pendapat juga menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadap PLTN masih rendah. “Masyarakat yang kurang paham 51,2 persen, tidak paham 28,9 persen, yang cukup paham 18,9 persen, yang tidak 28,9 persen,” kata Ibnu.

Ketidakpahaman tersebut dikarenakan hanya sedikit responden yang pernah menerima sosialisasi tentang PLTN dari BATAN. “Kalau sosialisasinya benar, bisa meningkat penerimaannya,” tambahnya.

Penerimaan terhadap rencana pembanguan PLTN paling banyak datang dari kalangan pengurus organisasi massa, anggota DPRD serta aparat pemerintah.

Selain karena nuklir dapat menjadi pasokan energi, mereka menerima karena PLTN merupakan program pemerintah dan berkontribusi bagi perkembangan IPTEK. Sedangkan yang menolak, yakni sekitar 24,6 persen dikarenakan mereka khawatir akan kecelakaan atau kebocoran nuklir, penyalahgunaan nuklir menjadi senjata, serta pencemaran radioaktif akibat pembangunan PLTN.

Penelitian jajak pendapat tersebut dilakukan guna mengukur sejauh mana sosialisasi BATAN mengenai PLTN berhasil. “Paling tidak tahun ini dua kali, pada semester pertama pada semester kedua, kami laporkan sebelum tahun anggaran selesai,” ujar Kepala BATAN, Hudi Hastowo dalam kesempatan yang sama.

Jajak pendapat yang dilaksanakan 31 Mei-15 Juni di 22 daerah dalam 7 provinsi Jawa-Bali tersebut dilakukan dengan metode wawancara tatap muka. Sebanyak 3.000 responden yang dipilih secara acak terdiri dari 2000 masyarakat umum, 1.000 orang tertentu.

http://sains.kompas.com/read/2010/08/24/17364111/57.6.Persen.Terima.Pembangunan.PLTN

Bagian 2

Indonesia Belum Siap untuk Membangun PLTN

Selasa, 3 Agustus 2010 | 04:24 WIB

Jakarta, Kompas – Hingga 2019, belum ada proyeksi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir karena pertimbangan banyak faktor, antara lain ketersediaan energi nonmigas lainnya yang lebih potensial, aspek penguasaan teknologi, penerimaan masyarakat, serta pendanaan.

Meski nuklir perlu tetap dipertimbangkan sebagai energi alternatif masa depan di Indonesia, sesuai undang-undang ketenaganukliran, bangsa ini harus mandiri dalam pengembangan teknologi nuklir untuk pembangkit listrik. Dan, teknologi yang dipilih bukan fisi atau penguraian, melainkan fusi atau penggabungan nuklir yang jauh lebih aman.

Hal ini terangkum dalam Forum Diskusi tentang Prospek PLTN dalam Memenuhi Kebutuhan Listrik yang Terjangkau di Jakarta, Senin (2/8). Sebagai pembicara adalah Deputi Bidang Teknologi dan Energi Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional Adi Wardoyo; Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir As Natio Lasman; Direktur Bisnis dan Manajemen Risiko PLN Murtaqi Syamsuddin; serta anggota Dewan Energi Nasional, Rinaldy Dalimi.

Rinaldy, secara pribadi, lebih cenderung agar Indonesia mengembangkan energi terbarukan yang potensial, yaitu bahan bakar nabati, panas bumi, energi surya, dan tenaga gelombang atau arus laut. Semua sumber untuk energi terbarukan itu telah tersedia di sejumlah tempat di Indonesia.

”Pemerintah dalam hal ini harus segera memutuskan ya atau tidak pembangunan PLTN di Indonesia. Jangan ini dibiarkan berlarut tanpa kejelasan karena biaya sosial akan sangat besar,” ujar Rinaldy. Meski begitu, ia melihat risiko PLTN memang sangat tinggi sehingga pemerintah sulit mengambil keputusan.

Dari biaya pembangkitan listrik dengan berbagai jenis bahan bakar di dunia, Murtaqi mengungkapkan, PLTN adalah yang termurah, hanya 4,19 sen dollar per kilowatt jam, sementara dengan bahan bakar lain 6,33 sen dollar-18,33 sen dollar per kWh. ”Kalau bisa dengan harga yang baik, kenapa tidak?” ujarnya. Namun, pembangunan PLTN di Indonesia memiliki banyak kendala, antara lain biaya kapital sangat tinggi dan masa konstruksi amat lama.

Sementara Adi Wardoyo mengatakan, rencana penggunaan nuklir telah ada pada 1960-an dan terus mengarah pada rencana pembangunan PLTN.(YUN)

http://sains.kompas.com/read/2010/08/03/04240479/Indonesia.Belum.Siap.untuk.Membangun.PLTN





Surat dari sahabatku Ai Melani buat pak SBY

23 08 2010

Daejeon, 09 Juli 2010

Kepada Yth
Presiden RI
Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
PO BOX 9949 Jakarta 10000
Jl. Alternatif Cibubur Puri Cikeas Indah No. 2
Desa Nagrag Kec. Gunung Putri
Bogor – 16967

Dengan Hormat,

Perkenalkan, nama saya Ai Melani saya adalah mahasiswa pasca sarjana Korea Advanced Institute of Science and Technology jurusan Teknik Nuklir.

Adapun maksud saya menulis surat ini adalah Saya ingin mempertanyakan kebijakan energi yang bapak gulirkan dan saya baca di detikfinance.com tertanggal 18 Juni 2010, bahwa RI belum berniat membangun PLTN.
Saya menyayangkan pernyataan Bapak tersebut, mengingat beberapa pemerintah daerah telah menyatakan kesediaan wilayahnya untuk dibagun PLTN di wilayahnya sebutlah Gubernur Bangka Belitung, Gubernur Kalimantan timur, gubernur gorontalo. Hal ini menunjukkan bahwa PLTN bukanlah hal yang ditolak di bumi Indonesia, seperti yang bapak sampaikan.

PLTN menjadi sebuah keniscayaan bagi Indonesia, jika Negara kita ingin maju baik secara ekonomi, infrastruktrur dan teknologi, karena untuk maju kita memerlukan energy yang tersedia 24jam sehari dan 365 hari, dan ini hanya bisa dipenuhi oleh energy yang berbasis dasar seperti energi nuklir.

Persiapan pembangunan nuklir untuk tujuan damai pun yang telah dipersiapkan oleh Presiden Soekarno sampai Presiden Megawati baik SDM, perangkat hukum, kelembagaan dan berbagai fasilitas Iptek nuklir lainnya, kemudian telah Bapak tindaklanjuti dengan beberapa perangkat hukum antara lain Peraturan Presiden No 5 tahun 2006, dan Undang No 17 tahun 2007 serta dukungan politik DPR dan dukungan teknis IAEA, maka tidak ada lagi alasan apapun untuk menunda pembangunan PLTN.

Indonesia dari sisi persiapan sudahlah siap jika dibanding Negara seperti Uni Emirat Arab yang tahun 2009 menandatangani kontrak pembangunan PLTNnya dengan korea selatan. Indonesia dari sisi persiapan sudahlah siap jika kita bandingkan dengan Vietnam yang tahun 2010 ini menandatangani kontrak pembangunan PLTNnya dengan rusia.

Indonesia bisa dinyatakan siap juga, mengingat kita telah mengoperasikan reaktor riset lebih dari 48 tahun. Dan seluruhnya dinyatakan aman dan selamat beroperasi.
Oleh karena itu menimbang:
1.Telah tersedianya wilayah untuk pembangunan PLTN
2.Telah terbukti bahwa pengoperasian reactor riset terbilang aman dan selamat
3.Telah tersedianya SDM yang mencukupi secara kapabilitas dan kapasitas secara intelektual
4.Telah tersedianya badan pengawas dan pelaksana teknis dengan perangkat peraturan dan petunjuk teknisnya

Saya meminta Bapak untuk mengeluarkan instruksi presiden yang menyatakan bahwa Indonesia GO NUKLIR mulai tahun 2010 dan mulai melaksanakan pembangunan PLTN untuk siap beroperasi mulai tahun 2017 sebagaimana direncanakan. Serta menganulir pernyataan Bapak di Detik finance tersebut diatas.

Demikian, atas perhatian Bapak saya ucapkan terima kasih,
Hormat Saya,

Ai Melani
Mahasiswa Pasca Sarjana Korea Advanced Institute of Science and Technology

suber/link: http://www.facebook.com/?ref=home#!/note.php?note_id=416037478330

Fotonya Ai:





Reaktor Nuklir Jangan Dilewatkan

21 08 2010

PLTN Terus Diupayakan

Sumber : http://www1.kompas.com/read/xml/2010/08/20/03343774/reaktor.nuklir.jangan..dilewatkan
JUMAT, 20 AGUSTUS 2010 | 03:34 WIB

Jakarta, Kompas – Meskipun Indonesia kaya akan sumber daya alam dan energi, tapi jangan sampai melewatkan energi nuklir sebagai sumber daya energi alternatif, khususnya untuk listrik. Namun, untuk penerapannya harus dengan memperkuat kemampuan sendiri lebih dulu.

”Jangan terlena dengan banyaknya sumber daya alam dan energi yang tersedia. Kita akan memanfaatkan energi nuklir semaksimal mungkin,” kata Wakil Presiden Boediono saat menjawab pertanyaan peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLIV Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (19/8).

Komen juarsa : Terlena dengan publikasi bahwa energy kita masih berlimpah, terlena dengan bisnis energi yaitu penjualan batu-bara dan penambangannya, proyek2 energi konvensional lainnya. Memaksimalkan pemanfaatan energi nuklir: karena nilai ke-ekonomian, dan terlepas dengan urusan politis dan penerimaan masyarakat.

Dalam acara pembekalan oleh Wapres Boediono itu hadir Menko Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto; Gubernur Lemhannas Muladi; serta 100 peserta PPRA Lemhannas.

Sebelumnya, seorang peserta menanyakan tindak lanjut pembangunan reaktor nuklir di Indonesia. Wapres Boediono pada 12-13 April lalu mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri Nuclear Security Summit di Washington DC, Amerika Serikat.

(no cemment)

”Ini (nuklir) adalah teknologi yang tidak bisa tidak harus dikuasai. Karena itu, penguasaannya jangan sampai dilewatkan begitu saja. Ke depan, itu (pemakaiannya) sangat jelas,” tambah Wapres.

Komen juarsa : Jelas ini menunjukkan bahwa kompetensi BATAN selaku litbang nuklir harus terus-terusan di tingkatkan termasuk peran serta dari instansi litbang lain dan PT, riset nuklir juga tidak melulu PLTN namun aplikasi nuklir dsb. Disiplin tidak terkolerasi dengan peningkatan kompetensi, kompetensi akan terkolerasi dengan riset dan hasil riset yang diperhitungkan di dunia, misalnya bagi peneliti tentunya karya ilmiah yang terus-terusan diterbitkan di internasional dengan media jurnal int. yang memiliki impact factor tinggi. Paten-paten dan metode-metode ilmiah terkait keilmuan dan keteknikan nuklir perlu diperbanyak, nuklir eksperties terkait SDM semakin diperhitungakan secara internasional.

Menurut dia, di sejumlah negara maju, kebangkitan kembali reaktor nuklir sudah terlihat. ”Risiko itu tetap ada. Dalam hidup ini, semua berisiko, mulai dari batu bara dan juga gas. Jadi, masalah reaktor nuklir harus dipelajari dengan benar-benar,” katanya.

Komen juarsa: Wapres sadar bahwa energy nuklir sudah kembali menjadi alternatif pilihan pokok (energy base) sebagai energy source untuk pembangkitan, dan ke depan akan menjadi primadona ketika sumber2 konvensioanl sudah mulai habis. Resiko atau safety factor dalam pengoperasian “machine” apapun akan selalu ada, terlebih PLTN yang memiliki resiko radiasi jika terlepas ke lingkungan saat terjadi accident. Mempelajari disini, tentunya dengan litbang dasar, dan terapan serta keseriusan pihak penyelenggara litbang dalam menguasi dan mengembangkan teknologi PLTN, khususnya safety dan aplikasinya.

Wapres menambahkan, energi nuklir memang mahal, tapi pembiayaannya bisa murah jika teknologinya dikuasai.

Tentang kapan waktunya reaktor nuklir untuk penyediaan energi direalisasikan, Wapres Boediono menjawab, ”Saya akan melihatnya sejalan perkembangan beberapa tahun ke depan. Namun, intinya, kita harus melakukan ini dengan memperkuat kemampuan kita sendiri dulu.”

Komen juarsa : kembali ke statemen di atas tentang “penguasaan tek. Nuklir” dan terkait dengan pernyataan “kemampuan kita sendiri dulu”, dimana hal itu sangat multi tafsir, maksudnya jika kita harus mampu dahulu untuk menguasai teknologi nuklir tanpa adanya transfer teknologi memalui first unit PLTN (seperti Korea dan Jepang), maka reaslisasi PLTN tidak bisa dihitung kapan waktunya, dan semua bergatung kepada kemampuan lembaga litbang yang memiliki tusi NUKLIR. Perkembangan beberapa tahun ke depan, adalah alasan untuk menunggu situasi politis, terkait kepercayaan masyarakat Indonesia tentang KEAMANAN dan KESELAMATAN teknologi PLTN, bisa jadi ketika pak Bud mencalonkan jadi presiden baru berani di realisasikan, selain tentunya juga karena pertimbangan ke-ekonomian. Jadi, pernyataan di atas menunjukkan kontardiktif terkait waktu karena factor kemampuan SDM Indonesia dalam menguasai teknologi PLTN, dan factor ke-ekonomiannya. Pak wapres adalah ekonom, factor ini juga menjadi pertimbangan logis bagi beliau, namun unsur ketidak percayaan terhadap SDM agak kental nampaknya.

Boediono mengakui, waktunya tidak bisa ditentukan pasti. ”Namun, kita akan berusaha sampai suatu saat kita sepakati bersama lokasinya, kita akan bangun reaktor nuklir untuk tujuan pembangkit listrik. Ini adalah cita-cita yang akan kita teruskan.” (har)

Komen juarsa : Kembali bahwa factor waktu semakin tidak jelas, dan banyak sekali parameter yang akan mempengaruhinya. Faktor public acceptance (terkait pemilihan tapak dan persetujuan masyarakt RI), komitmen internasional untuk nuklir tujuan damai, pencapaian nilai ekonomi yang baik, dengan “energy saving is money saving”, bahwa PLTN masih menjadi pembangkit listrik yang murah dan dapat menyediakan sumber energy dengan kuantitas besar.

……renungan dan guratan fikiran, 20 Agustus 2010 (mulai menulis, saran Lutfi)








%d blogger menyukai ini: