Temporary Single Parent

16 08 2012

Istilah “single parent” atawa orang tua tunggal biasanya berlaku pada suami atau istri yg hidup tanpa pasangannya karena berbagai sebab terjadinya perpisahan, namun juga memiliki anak-anak yang harus di asuh. Sulit membayangkan menjadi menjadi ortu tunggal, dan selama ini my wife always beside me untuk “mengasuh” anak-anak (ada 4 anak kami). Namun, beberapa hari ke depan selama seminggu saya akan merasakan hidup sebagai ortu tunggal, dikarenakan istri saya akan bepergian ke luar negeri tanpa saya dan anaka-anak alias mandiri. Rupanya ini mungkin bales dendam istri saya yang hampir setiap tahunnya saya tinggal ke luar negeri untuk urusan riset ataupun studi, dulu selama 6 bulan pernah ketika anak kami masih satu orang. Kemudian 2-3 bulan, sepuluh hari, seminggu dan beberapa hari. Gak kebayang tuh, gimana istri saya ngurus anak-anak saya sedang ke luar negeri, maklum anak-anak kan rada2 mirip babenye, rada susah diatur.

 Kenapa istri saya bisa pergi ke luar negeri selama seminggu, panjang ceritanya.  Di awali dengan saya studi lanjut untuk s3 pada September 2009, yang otomatis segala tunjangan kerja saya dicabut dan meski ada beasiswa bulan tetep masih minus (hehehe, curhat dikit akh). Nah, istri berinisiatif untuk nyari tambahan karena minus tadi itu. Rupanya ada bisnis MLM yg sifatnya on-line, alias gak perlu ke pelanggang nemuin face to face, cukup di depan computer dan internetan. Yang dibutuhkan mesin fax sama printer scan, jadi deh itu usaha dengan di awali bonus bulan hanya seratus ribuan dengan modal daftar 37 rebuan deh. Singkat cerita, setelah beberapa tahun (2012 ini) posisinya di itu bisnis produk kosmetik dari Sweden dah jadi Gold Director (disingkat GD), keren juga kedengerannya GD gethuu, tapi jangan bayangin kayak direktur lainnya hehehehe. Nah, tahun ini dia dapet tiket dan akomodasi gratis ke Stockholm, Swedia untuk pelesiran dan ada semacam training kali ya, selama seminggu (termasuk perjalanan). Ternyata pula tanggal berangkatnya, hari raya Idul Fitri ke-2, yaitu hari Senin tanggal 20 Agustus 2012 dan baru kembali hari Minggu 26 Agustus 2012. Istri berangkat dengan penerbangan Luthfansa dan transit di Munich, Germany sebelum ke Stockholm, Swedia. Nah ini dia, akhirnya saya jadi ortu tunggal sementara (temporary single parent), dan ini jadi pengalaman pertaman saya seumur-umur ngasuh 4 anak tanpa istri tercinta. Tapi, saya rada curang dikit, karena kebetulan ada ibu kandung saya yang sedang tinggal di rumah saya, jadinya gak begitu puyeng2 amat nantinya (ngandelin nyokap).

Semoga saja perjalan istri saya kali ini akan memberikan yang terbaik untuk keluarga kami, istri belajar bagaimana rasanya berlibur tanpa keluarga dan saya belajar mengasuh anak-anak tanpa istri yang tentunya diharapkan akan meningkatkan kualitas kehidupan keluarga kami. Mohon doanya teman-teman, agar istri saya dapat kembali dengan selamat dan perjalanannya lancer dan aman.





Menghilangkan Ketergantungan “mesbuk”

3 08 2012

Semenjak diluncurkan pertama kali di USA pada bulan Februari 2004, facebook (terjemaah bahasa gue : “mesbuk”) menjadi jejaring social yang sangat dominan diberbagai belahan dunia ini. Benua ke benua, Negara ke Negara, kota ke kota, desa ke desa hinga person ke person saling terkoneksi, ditambah dengan fitur-fiturnya yang semakin memanjakan penggunanya. Semenjak dari anak kecil hingga orang tua (kakek-nenek) seakan berlomba dalam menggunakan jejaring social ini. Berbagai strata social, pendidikan hingga beragam status bisa saling terkoneksi dan semua hanya dilakan dengan cukup menekan “klik” saja.

Sharing informasi, baik berupa kata-kata, dokumen, foto hingga video dapat dengan mudah dilakukan via facebook melaui wall teman, wall pribadi maupun inbox. Terlebih ada fitur dimana beberapa orang bisa membuat groups, sehingga tidak semua teman-teman yg enggak sealiran bisa masuk, terus groups bisa dibuat hingga tidak terhitung dan nampaknya akan lahir terus setiap harinya sesuai dengan dinamika perubahan social, dinamika waktu (lampau, sekarang maupun masa depan), benefitas, dan sebagainya. Semua yg mulanya kita niatkan untuk men-share sesuatu kepada kalayak (all friends) akhirnya terbagi menjadi segmen-segmen informasi khusus melalui facebook groups, dikotomi atau pengelompokan memang sudah menjadi habitat manusia, baik di alam nyata maupun di dunia cyber. Yang jelas facebook telah menjelma menjadi salah satu media komunikasi yang paling padat di dunia ini, sampai-sampai pesan-pesan yg biasanya disampaikan via surat konvensional, surat elektronik (email), short message service (sms) by phone menjadi berkurang kuantitasnya, mengingat berkirim informasi melalui facebook bisa apa saja dan dengan siapa saja secara bersamaan dan terdokumentasi dengan baik. Tentunya fitur timeline menjadikan dokumentasi kita jadi lebih apik dan teratur berdasarkan waktu. Hingga pada akhirnya ketika komputer kita, baik laptop atau destop terhubung dengan jaringan internet, maka biasanya situs facebook yang pertama kali kita buka. Lumayan minimal 15 menit (paling cepat) kita pasti melototin layar monitor yg berisi “pesan-pesan” facebook, dan tanda merah sebagai status pesan masuk yg selalu kita harapkan.

Positifnya facebook? Wuih banyak juga, selain menimbulkan kreatifitas, seperti munculnya ide-ide untuk menuliskan sesuatu di status atau sekedar humor atau informasi yg bersensasi sehingga teman-teman yg membaca jadi terhibur atau malah ikut prihatin karena neyuarakan kegalauan, dukacita atau kesedihan lainnya, bisa juga terjalinnya hubungan keluarga atau perteman yg telah lama terputus atau terpisah, informasi keberadaan kawan atau apa saja. Saya termasuk pengguna aktif sejak tahun 2008 (telat 4 taon dari semenjak facebook ada), dan sudah lumayan juga groups facebook yg saya buat. Alhamdulillah sebagian besar groups facebook tersebut saya jadikan media share kepada rekan sejawat dan mahasiswa saya, meski kadang lucu juga status saya berderet cuman sendirian sedangkan mahasiswa yg menimpali (komen) paling juga hanya beberapa orang dan kadang itu-itu aja orangnya. Lucunya, kalau saya buat status aneh dan lucu atau apalah, kadang gak tertuga komen begitu banyak. Jujur sih, kadang kalo dapat komen banyak jadi terpuaskan dan merasa terperhatikan, ini memang yg disebut narsis kali. Ditambah dengan seringnya meng-upload setiap kegiatan pribadi (untung aje, kegiatan rutin nongkrong di toilet enggak di update). Pokoknya, positifnya adalah makin banyaknya pertemanana dan jaringan, serta media untuk mengurangi strees hidup.

Negatifnya? Kayaknya ndak ada deh? Iya sih, dari 2008 hingga akhir Juli 2012 kemarin belum terasa benar negatifnya, namun entah kenapa usai sholat subuh tangga 1 Agustus 2012 kemarin tiba-tiba kok merasakan kejenuhan yang amat sangat dengan facebook. Terbayang, bahwa tanpa disadari, hampir 30-40% waktu saya di depan computer setiap harinya pasti nagkring di facebook, baik itu nyetatus ke student soal kegiatan dan informasi ilmuah, nyetatus prasaan hati (baik kesel, happy atau apa aja), ngomentari status temen, update macem2 deh, hingga cuman bacaain status orang dan nge-like doang. Wuuuiihh…30-40% di pesbuuk??? Kalo sehari saya buka laptop sekitar 8 jam saja, berarti 2,4-3,2 jam sehari waktu saya untuk facebook, taruklah rata-rata setiap hari saya buka atau di depan komputer 4 jam saja, maka setiap hari rata-rata waktu untuk mesbuk sekitar 1,2-1,6 jam/hari dikalikan 365 hari. Luar biasa facebook itu ternyata. Jadi dalam setahun waktu saya untuk mesbuk rata-rata memakan waktu 18-24 hari. Belum dengan kegiatan lain yang menggunakan situs internet lainnya selain facebook? So, saya fikir saya sudah seperti “ketergantungan” alias “nyandu” dengan facebook. Dan entah karena apa pula tiba-tiba fikiran “negatif” tentang facebook datang dan tanggal 1 Agustus 2012 itulah saya non-aktifkan sementara akun facebook saya (belum brani permanen, belum sungguh2 soalnya). And, gila luar biasa, setelah di tutup itu akun facebook, selama dua hari ini ternyata saya diserang “kegelisahaan” yg luar biasa, kegelisahan ingin melihat “kondisi” all friends di facebook, ada kabar apa, ada info baru apa, atau ada foto dan video apa? Semua bikin penasaran dan itu kali yang disebut “sakaw nyetatus”?. Selama 2 hari, hampir beberapa kali saya ingin membuka lagi akun saya, namun Alhamdulillah, masih bisa di tahan. Makanya, di hari ke-3 ini saya dah mulai bisa kuasai kedaan, dan menuliskan perasaan saya ini melalui blog saya. Hhhmmmm, luar biasa, pengalaman ini terulang kembali ketika saya waktu masih muda, yang berhenti dari kebiasaan minum-minum, namun bisa dan akhirnya bisa jadi sarjana dan sekarang hampir s3, dan sudah punya anak 4.

Memang akan menjadi mudah saat kita dengan kata-kata baik lisan maupun tulisan diharuskan beropini apakah sesuatu itu ada positifnya atau ada negatifnya? Bagi saya semua hal, pasti ada positif negatifnya. Mudah saja, ibadah sholat adalah hal yg paling positif, tapi ketika kita dengan tidak sengaja dan sengaja melakukannya karena “ria” ibadah kita menjadi hal yg negatif. Begitu juga dengan studi, semakin tinggi jenjang studi kita akan semakin positif untuk kita dan keilmuan, namun jika kita melupakan hal-hal yg harusnya bisa kita lakukan agar bermanfaat, maka pendidikan akan merubah kita menjadi manusia yg angkuh dan sombong. Semua yg kita kejar hanya bermuara untuk diri kita dan kelompok2 kita. Jadi yakinlah, bahwa semua hal yang ada di depan mata akan berubah kearah kutub mana saja, positif maupun negatif. Alkohol akan menjadi negatif jika di minum, namun positif jika digunakan untuk membersihkan luka. Kembali lagi, semua hal tetap tersusun dari hal yang negatif dan positif, seperti semua unsur di kehidupan jagat raya ini. Selalu ada hal yg saling berlawan, dan yang saling berlawanan itu tentunya harus saling melengkapi dan menyeimbangkan kita. Namun, jika salah satunya mulai tidak seimbang, kita buru-buru kudu sadar dan mulai menyeimbangkan kembali. Yaahh, seperti kasus penutupan akun facebook saya, saya merasakan bagian negatifnya mulai lebih besar dan harus saya kurangi.

Tapi, this is true my friend. Menghilangkan kebiasaan mesbuk, sungguh luar biasa sulitnya dan terasa lumayan menyiksa. Untunglah, kondisi ini saya lakukan saat Ramadhan, sehingga untuk 2 hari ini sudah mulai teratasi. Masak puasa makan, minum dan lainnya tahan, mesbuk aja enggak sih? Silahkan deh mencoba, daripada hidup terus-terus terjajah.

Semoga teman-teman bisa faham deh, setelah baca tulisan saya ini kenapa saya tutup (sementara) akun facebook. Karena, saya hanya manusia biasa saja, yang hanya ingin hidup tenang dan selalu berkeinginan menyeimbangkan kondisi hidup saya.

Oh ya, agar kita bisa tetap berhubungan silahkan bagi yang ada keperluan atau sekedar nyapa kirim  aja ke email saya : myjuar@yahoo.com (ini rutin saya buka tiap hari). terimakasih.

mulya.juarsa@facebook.com – 3 Agustus 2012





Pengurangan 12 Huruf

4 07 2012

Huruf Abjad Indonesia akan dikurangkan menjadi 12 huruf saja (sumber: PPI Jerman & KAIST INA) <– http://www.facebook.com/groups/kaist.indonesia/
——————————————————————————–

LIPI (Lembaga Ilmu Penyederhanaan Indonesia) akan memformulakan aturan baru dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Salah satunya adalah mengurangi jumlah abjad pada bahasa Indonesia.

Abjad yang digunakan saat ini berjumlah 26. Para pakar Komunikasi merasa Ke-26 abjad tersebut masih terlalu banyak, lagipula ada beberapa abjad yang jarang digunakan.

Pertama, huruf X, diganti dg gabungan huruf K dan S. Kebetulan hampir tidak ada kata dalam bahasa Indonesia asli yg menggunakan huruf ini, kebanyakan merupakan serapan dari bahasa asing. Misal taxi menjadi taksi, maximal menjadi maksimal.

Selanjutnya, huruf Q diganti dg KW. Kata-kata yang mengunakan huruf ini juga sangat sedikit sekali.

Huruf Z. Huruf Z diganti menjadi C. Tidak ada alasan kuat tentang hal ini.

Huruf Y diganti dg I. Hal ini dilakukan sebab bunii huruf tersebut mirip dengan I.

Lalu huruf F dan V keduania diganti menjadi P. Pada lepel ini masih belum terjadi perubahan iang signipikan.

Hurup W kemudian diganti menjadi hurup U.

Berarti sampai saat ini kita sudah mengeliminasi 7 hurup.

Hurup iang bisa kita eliminasi lagi adalah R, mengingat baniak orang iang kesulitan meniebutkan hurup tsb. R kita ganti dengan L.

Selanjutnia, gabungan hulup KH diganti menjadi H.

Iang paling belpengaluh adalah hulup S iang diganti menjadi C.

Hulup G juga diganti menjadi K.

Dan hulup J juga diganti menjadi C.

Caia laca cudah cukup untuk hulup-hulup konconannia.
Cekalank kita kanti hulup pokalnia.
Cuma ada lima hulup pokal,A,I,U,E,O.
Kita akan eliminaci dua hulup pokal.

Hulup I mencadi dua hulup E iaitu EE. Cementala hulup U mencadee dua hulup O iaitoo OO.

Cadi,campe cekalank, keeta belhaceel menkulangee hooloop-hooloop keeta. Kalaoo keeta tooleeckan lagee, Hooloop-hooloop eeang telceeca adalah : A,B,C,D,E,H,K,L,M,N,O,P,T.

Haneea ada 12 belac hooloop!! Looal beeaca bookan? Padahal cebeloomneea keeta pooneea 26 hooloop.

Eenee adalah penemooan eeank cankat penteenk dan cikneepeekan! Co,ceelahkan keeleemkan tooleecan anda denkan menkkoonakan dooa belac hooloop telceboot.

kala kala manucia alay hulup hulup belkulang

loaaal beecaa! coopel cekalee

celamat malam ..calam cejahtela untuk cemua ….

(Disadur dari Paskibra Aloysius)





Berawal dari “ditendang” dan maknanya (part 2 : selama dan setelahnya))

26 06 2012

Terakhir pada upload di blog saya tanggal 29 Maret 2012 di kalimat akhirnya saya tulis “cerita bakal berlanjut, seputar pengalaman berharga saya selama 1,5 bulan di Korsel dan akhirnya ketemu juga makna “ditendang” tadi” , and ternyata untuk nulis butuh kondisi badan, hati dan fikiran yg jernih ya? Atau bahasa anak muda sekarang kudu sedang “em-muud”. Gila juga ya, dah 3 bulan hampit saya baru pengen nerusin lagi itu cerita, sementara pengalama2 dan perasaan yg terkait dengan prosesi selama 1,5 bulan di Daejeon dah mulai luntur. Tapi, janji adalah janji, ya sudah saya tetap harus menuliskannya dan tentunya dengan segala kekurangannya.

Tiba di Daejeon, pada musim dingin bukanlah hal yang menyenagkan ternyata, terlebih kostum yg saya pake untuk udara di daerah pucak bogor, jadinye menderita deh. Tapi, meski dengan Manahan dingin, dan pengen pipis, setiba di Daejeon, teman saya Miss. Ai Malani dah ngejemput dan nganterin ke dormitory-nya KAIST, nama “Hwaam-Dom” dormitory, dan ini dormitory putra yang jaraknya terjauh dari main campus. But, tempatnya nyaman banget, saya tinggal di lantai 1 gedung dua, jadi ruangan R.2105. Ruangan tersebut semestinya untuk dua orang, namun atas kebaikan professornya Ai, bias buat sendirian. Lumayan juga untuk 1,5 bulan saya bayar 400.000 won. Ini harga jauh lebih murah ketimbang saya tinggal di hotel bintang dua, kelebihannya lagi ada kantin mahasiswanya yg lumayan murah untuk sekali makan (maksimal 4500 won) dan ternyata Bis Limousine yg KAIST punya untuk antar jemput mahasiwa juga mampir ke Dom ini, gile itu bis limousine and antar jemputnya dari jam 07.50 ampe jam 03.00.  Jadi kalo mau pulang dari kampus jam 03.00 juga masih ada bis. Kelihatan banget, mahasiswa di sini dimanjain banget sama pemerintahnya, sampe kampus punya anggaran untuk sewa bis dan mengadakan bis yg jenisnya “limousine” tadi untuk antar jemput mahasiswa di dalam kota (bukan di dalam kampus) yang menghubungkan semua asrama-asrama dan kampus utamanya. Jadi, memang gak ada alesan untuk bilang gak ada ongkos atau gak ada kendaraan, semua sudah di siapin. Hari pertama, setalah mengambil kunci dan menyimpan koper di dormitory, hari itu juga langsung meluncur ke kampus, dan langsung mengikuti seminar mingguan mereka. Oh, ya tempat yang bakal jadi medan belajar saya selama 1,5 bulan adalah lab. Riset yang di pimpin oleh professornya Ai Melani, namanya Prof. Soon Heung CHANG, Ph.D dan Lab. Riset Energy System Design and Safety (ESDAS), Department of Nuclear & Quantumn Engineering (NQe. ) KAIST, Build. N7 Room.2418, alamat Gwahangno 335 (373-1 Guseong-dong), Yuseong-gu, Daejeon 305-701. Kegiatan riset di ESDAS Lab. Memang menjurus kea rah Nuclear Technology Safety, khususnya di bidang Heat Transfer yang berfokus kepada Critical Heat Flux (CHF) dan System Design. Tentunya pula kenapa saya memilih program ke ESDAS jelasnya memang relevan dengan aktivitas riset yang saya lakukan semenjak saya bekerja di BATAN dan relevan dengan tema studi S3 saya di DTM FTUI Depok. Kegiatan pokok saya, tentunya melakukan riset bareng dan berdiskusi dengan mereka, khususnya di bawah bimbingan Prof. Chang terkait hasil-hasil penelitian S3 saya selama ini, dan goalnya adalah validasi paper internasional saya untuk syarat S3 dari pengalaman dan masukan teman2 di ESDAS.

Oke deh, balik hari pertama tadi, saya akhirnya berkenalan dengan anggota Lab.ESDAS, dan sekaligus saya juga disediakan tempat dengan mereka. Tadinya sih mau diberikan diruangan peneliti khusus, namun saya tolak karena pengen lebih dekat dnegan mahasiswa S2 dan S3 di Lab. ESDAS, tokh ogut juga kan masih mahasiswa (belakangan nyesel juga, ternyata di ruangan yg saya tolak berisi cewek2 cantik….huaaaaa, nasiip). Oh ya teman2 mahasiswa S2 dan S3 saya selain Ai Melani yang orang Indonesia, saya gambarkan di bawah seklagus posisi duduk saya.

web: http://esdas.kaist.ac.kr/xe/index.php

Usia mereka rata-rata di bawah 30 tahun (gue tua sendiri jadinye nih). Syukur, ternyata mereka semua teman-teman yang baik, dan selalu siap sedia untuk membantu saya. Sikap dan kehangatan mereka dalam berteman dan terhadap tamu patut dijadikan contoh, jika suatu saat kita juga menerima tamu dari luar negeri yg belajar dan bekerja sama dengan kita.

Setelah di minggu pertama saya di ajak muter-muter oleh Ai, sekigus juga mengurus soal dormitory, kartu pengenal (security card) yg saya bisa akses ke mana aja dengan menempelkan kartu pada pintu-pintu setiap ruangan di KAIST maupun di dormitory. Intinya, semua serba dimudahkan dan dilancarkan. Belum fasilitas mahasiswa untuk makan, olah raga, dsb serba lengkap. Soal jajanan lebih menarik lagi, bahwa harga-harga makana dan minuman di dalam kampus ternyata di subsidi oleh kampus sebesar 30%. Jadi kalo saya beli jus jeruk 1,5 liter di toko2 24 jam yg harganya 5000 won, di dalam kampus jadi 3000 won. Dan hanya rokok aje yg gak di subsidi (busyet dah), namun harga rokok lebih murah dari harga makan, rokok paling mahal 2500 won, makan paling murah 4000 won. Beda dengan di kita, rokok 13.500, nasi bungkus 8000 rupiah dah dapet. Intinya semua kondisi di KAIST memaksa semua mahasiswa untuk focus belajar dan hidup dalam rutinitas yg tidak menjemukan. Kok, enggak menjemukan? Karena itu tadi, semua fasilitas sudah disiapkan, seperti warung burger aja buka sampe jam 02.00 pagi. Terus di dalam lab sendiri, yg namanya kopi, teh atau bahan2 untuk minuman sudah selalu tersedia. Semua nampaknya Negara yg nyiapain, entah gimana tuh caranya. Iklim kompetisi juga berkembang dengan baik, dan tidak saling sikut. Terus yg saya lihat, teman2 Korea lebih “humanis” ketimbang ketika saya dulu sekolah di Negara sakura. Saya dan teman-teman di lab., masih punya waktu luang untuk sekedar ngobrol (Selain diskusi) dan kadang diajak makan bareang di luar, sehingga rutinitas yang saya ikuti tidak menjemukan. Komitmen terhadap diri mereka sendiri terlihat sangat kuat pada diri mereka, soal dating jam berapa dan pulang jam berapa saya lihat bukan menjadi urussan pokok. Tapi, tugas yg dikerjakan harus selesai dengan baik dan tepat waktu. Alhasil, saya sebelum berangkat masih membawa paper yg kasar untuk jurnal internasiional, waktu di korea, saya memperbaiki jurnal tersebut, malah bisa dibilang, “merombak” paper awal saya. Banyak perhitungan yg saya lakukan ulang, dan memasukkan analisis baru hasil diskusi dengan teman-teman disana. Kalo di Indonesia, baca jurnal begitu susahnya konsentrasi, selama di korea lumayan banyak jurnal yg terbaca dengan baik. Sehingga paper saya mengalami banyak perubahan, dan terkahir diperiksa dan dikoreksi oleh supervisor, dalam hal ini Prof. Chang yang kebetulan, selain professor KAIST beliyau juga Presiden Asosiasi Nulklirnya Korea (gile bener nih, ketemu ma biangnya langsung).

Biar rada singkat, detial2 cerita lain gak saya masukin deh, intinya dengan makna “ditendang” adalah, keberadaan saya di selama di korea adalah proses re-boot dari otak, mentalitas dan suasana yg selama ini sudah mulai menjenuhkan, apapun alasannya. Kondisi belajar di Negara orang dengan culture dan kondisi yg berbeda memberikan semangat baru dan motivasi baru dalam diri saya, dan saya baru faham betul, kenapa Prof. Raldi memaksa saya harus ke luar negeri selama mengikuti jenjang sekolah S3 ini. Selain untuk me-reboot kondisi saya yg kurang menguntungkan, juga sekaligus memvalidasi pekerjaan saya selama ini kepada institusi yang dianggap lebih faham akan riset saya dan sekaligus netral dalam hal ini ESDAS Lab., KAIST.  Selain saya jauh lebih pede tentunya juga banyak hal yang bisa ditularkan kepada teman2 di Indonesia atau berbagi pengalamanlah istilahnya.

Jadi ditendang di sini adalah istilah untuk kita hijrah dari kondisi diri sendiri yg kurang baik, untuk sementara naik ke level energy tertentu hingga kita recovery dan kembali dengan kondisi yg lebih fresh dan highly motivated. Jadi, jangan sungkan2 untuk pindah dari zona yg kita anggap aman yg sebetulnya secara pelan2 membunuh kreativitas kita, untuk segera pindah ke zona yg kelihatannya tidak nyaman, tapi justeru akan memberikan kemampuan kita untuk membuat kreativitas2 baru dan berguna. Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk saya pribadi dan keluarga, serta teman2.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.





Berawal dari “ditendang” dan maknanya (part 1 : sebelum berangkat)

29 03 2012

Sudah dua bulan lebih dari tulisan terakhir saya bulan Januari lalu, saya baru ada mood lagi. Teringat soal galau akademik dan minder ilmiah yang saya tulis, kemudian masa depan memang sama sekali tidak yang bisa memperkirakan. Semua terjadi dengan semestinya dan mengalir seperti aliran sungai yg berawal dari mata air kecil di pegunungan hingga ke muara laut, aliran air yg berliku-liku, melebar-menyempit dan membawa bermacam-macam material dengan segala persoalannya. Namun, sekali lagi, air tetap akan ke laut juga. Inget terus omongan Prof. Raldi, soal “proses” dan “kerja”, ibarat perjalanan air sungai itu juga kali ya apa yg beliyau maksud. Beliyau memang unik, setelah saya berkativitas di kampus lagi after the storm of galau, tetep aja beliyau bicara bahwa saya harus ke luar negeri,”ngapain kek” katanya, yg penting elo gaul dan kudu gue “tending” dari sini. Sempet tuh sambil berkelakar meminta daua sohib saya, Nata dan Ridho untuk mengeksekusi saya dalam hal “ditendang” dari kampus untuk ke LN. Jujur saja, waktu itu kepikiran males juga ninggalin keluarga (dengan 4 anak) dan kondisi fikiran dan pengen lulus aja, tokh saya fikir saya juga dah disekolahin juga di LN meski cuman 3 tahun di Jepang, juga sudah ke beberapa Negara. Pada saat itu memang saya belum ngeh bentul maksud Professor saya yg nyentrik itu, didukung pula oleh Prof. Nandy dengan tugas tambahan nulis “dibawah pohon apel”, busyet juga deh.

Foto dengan teman-teman master dan candidate doctor di ESDAS Lab. KAIST

Iseng-iseng pas buka SIAK-NG ada pengumuman soal AUN-ROK alias tawaran exchange fellows program ke Korea (ROK: Rep.of Korea), dan pada saat itu juga saya lagi apply proposal riset insentif 2012 (biar gairah nge-riset-nya0, finally saya applied juga tuh program. Gimana enggak di apply, kalimat “ditendang” itukan selalu terngiang-ngiang ditelinga saya. Rada pontang panting dikit akhirnya syarat2 saya sipin dan saya diurutan 13 pas narok berkas di rektorat. Yg bikin menarik dari formulir AUN-ROK adalah disamping tanda-tangan saya kana da tanda tangan Rektor UI, saya fikir, kapan lagi bisa bersandingan tanda tangan dengan orang nge-top (emang beliyau lagi ngetop sih akhir2 ini). Pokoknya dua program udah saya apply, jujur sih pengennya Riset Insentif saya diteriam (padahal nyiapinnya cuman 3 hari) dan yg ke LN kagak aja deh (dengan persiapan juga 3 hari). Tokh saya fikir salah satu dari itu tetep membuat saya bakal bergairah, kalo disuruh milih ya mending tetep di Depok sih.  Gal kerasa waktu pengumuan dan dateng, dan ternyata proposal riset saya gak diterima. Lemes juga sihm ya sudahlah saya terima aja dengan lapang dada, mengingat persiapannya juga pas-pasan. Ekh gak disangka gak dinyana, ternyata AUN-ROK saya yg malah diterima, busyet dah, malah kebalik dari yg saya inginkan. Makanya, soal masa depan emang gak bisa ditebak or ditentuin. Saya Tanya ke panitia sambil iseng ada berapa yg apply? Wow ternyata ada 200-an dari seluruhperguruan tinggi anggota AUN, oh ya AUN itu Asian University Network (linknya ini: http://www.aun-sec.org/) anggotanya ada 26 PT se-asean. Dari Indonesia ada 4, UI, ITB, UGM dan Airlangga. Fellow yg diterima cuman 6 orang, singapur 3, Malaysia 2 dan Indonesia 1 (gue kebeneran, dari UI lagi). So, rada bingung, apa yay g bikin gue diterima? Ups baru nyadar ternyata dalam aplikasi saya udah masukin surat undangan dari perguruan tinggi di Korea yg bakal saya datengin. Dari KAIST, Korean Advanced Institute of Science and Technology yg ternyata KAIST urutan ke 90 dunia, saat ini nomor 1 di Korea. Surat saya peroleh dari Professor KAIST atas bantuan temen saya yg lagi S3 disana, yaitu Ms. Ai Melani (maaf saya pake Ms. Untuk menunjukkan bahwa doi masih jomblo) juga email saya langsung ke Profesornya Ai disertai attachmen 2 paper terakhir saya yg berbahasa Inggris, maka keluarlah surat itu. Nah, sekai lagi gak ada yg bisa nebak, dan dampak “ditendang” bakal saya alami deh.

Meanwhile, sebelum berangkat saya juga masih ada beberap komitmen dengan tempat saya ngajar untuk segera menyelesaikan semua bimbngan saya, agar ke depan urusan saya bisa lebih focus ke penyelesaian study saya sendiri. Kadang lucu juga, gue asik-asik minta ke student gue agar buru2 selesai studinya, ekh gue sendiri malah “klemar-klemer”. But, shows must go on dan segala komitmen dengan mereka kudu saya selesaikan sebelum saya berangkar ke Korea. Alhamdulillah, berkat bantuan kajur TM tempat saya ngajar, mereka finally bisa pada sidang dengan hasil yg memuaskan (emang tuh anak2 pada bagus2 sih). Bayangin 3 hari sebelum saya berangkat dilakukan sidang, sampe habis waktu saya untuk keluarga yg mestinya malah saya bisa berleha-leha dengan mereka sebelum berangkat, ini mah malah diluar ngurusin anak orang, anak gue juga sih. Anyway, semua berjalan dengan semestinya, dan permohonan maaf yg sebesar-besarnya kepada anak2 dan istri saya yg masih jauh dari seorang ayah yg baik.

Kemudian, tepat tanggal 19 Februari 2012 saya udah ada di Soetta, pesawat Koran Air malam berangkatnya. Lucunya, meski sebelum berangkat (hari minggu) saya masih sempet jalan2 ke BSD ma anak istri, namun pas mau berangkat saya malah nongkrong hampir 3 jam di tukang cukur (tuh tukang cukur biasanya sepi, tumben ngantri….). Sampe Taxi nungguin saya. Belum lagi saya sendiri juga gak sempet pamit ke Sensei saya, waduh durhaka bener nih saya saya fikir, ya itu tadi, menyelesaikan komitmen dengan para mahasiwa bimbingan saya. Senin, 20 Februari saya akhirnya tiba di Incheon sekitar jam 8-nan kurang (keluar dari bandara) dan naik Bisk e Kota tempat KAIST berada, yaitu Daejeon. Jaraknya sekitar 2,5-3 jam pake Limousine Bus (22.100 Won harga tiketnya). Diperkirakan saya sampe ke Daejeon jam 10-11 an bis dari Incheon jam 8.25 dan saya dah janjian di Halte Lotte dengan Ms. Ai Melani yg katanya merindukan saya. Oh ya, kenapa saya kenal Ai, karena doi pernah riset bareng di lab. Termohidrolika Eksperimental BATAN dengan saya dan temen2 di sana, dalam rangka studi dia di KAIST tentunya. Terus, ternyata nyampeke Incheon udara lumayan dingin banget, ampe -7 derajat celcius? Mana gak bawa jaket tebel, pake jaket biasa aje. Busyet dah, bener2 gemeteran tuh badan.  Sambil nahan dingin dan duduk termenung di dalam bis, termenunglah, mikirin kayak apa perjalanan saya selama 1,5 bulan di Korea ini dan apa makna “ditendang” tadi? Masih belom kepikiran.

== cerita bakal berlanjut, seputar pengalaman berharga saya selama 1,5 bulan di Korsel dan akhirnya ketemu juga makna “ditendang” tadi ==

Daejeon, South Korea

March 29, 2012





“Galau Akademik” & “Minder Ilmiah” (curhat aje)

17 12 2011

Istilah galau dalam bahasa Indonesia menunjukkan maksud bahwa kita dalam kondisi “gelisah”, “cemas”, “khawatir”, “resah”, “kusut” dan “was-was” atau kondisi yg memperlihatkan instability of morality (bener gak nih..tulisannye?). Sedangkan minder, bermaksud menunjukkan kondisi diantara “eweuh-pakeweuh” dengan “rendah diri”. Sedangkan bagi saya minder menunjukkan kurang kuwatnya hati atau merasakan ketidak mampuan diri yang amat sangat. Ini tulisan buat prologue aje biar rada keliatan ngilmiah gitu. Tapi, cerita yang sebenarnya adalah ane pengen curhat soal beberapa bulan ke belakang kondisi galau dan minder berkecamuk dan menyebabkan “blackout” dalam motivasi dan fikiran ane terkait studi (akademik) dan keilmuan yg ane tekuni (ilmiah). Juga hal-hal lain yang masih kefikiran terus.

Entahlah ane mesti mulai cerita darimane ye?, yang jelas seingat ane setelah ujian kualifikasi dalam fikiran berkecamuk segala hal, apalagi pasca kejadian gempa bumi di Jepang (ape hubungannye???), sekitar awal Maret 2011. Saat itu ane sering buwat state, bahwa ane sedang “disorientasi” (bahasa apa lagi ini?).  Gempa bumi yg ternyata hampir meruntuhkan jargon bahwa PLTN dikatakan sangat aman, ternyata menunjukkan karakter yg sebelumnya gak pernah diprediksikan orang-orang, termasuk yg ngedisainnya, saat itu reaktor Fukushima Dai-ichi (ane singkat FD-1) mengalami kecelakaan parah (severe accident). Dari aspek ilmiah, peristiwa tersebut menunjukkan gagalnya sistem pendinginan (manajemen termal) di reaktor nuklir pasca pemadaman reaksi fisi (shutdown), dan mengarah pada kecelakaan parah yang akhirnya melepaskan material radiasi ke lingkungan. Kaitannya dengan ane terus ape? Nah, kaitannye dengan ane adalah, semenjak sekolah sarjana ampe sekolah doktor sekarang, latar belakang riset ane adalah kecelakaan parah yg sebelumnya juga terjadi pada PLTN, tepatnya Three Mile Island Unit-2 (disebut TMI-2), di Amerika taon 1979 (hampir 31 tahun lalu). Meski peristiwa di TMI-2 enggak ngelepasin radiasi sebesar di FD-1, namun kegagalan manajemen termal (pengendalian panas) masih menjadi momok dalam kasus jika dan jika PLTN mengalami kecelakaan. Bayangin, modal kejadian di TMI-2 untuk riset ane yg boleh dibilang seumur hidup, belom tuntas, ekh ternyata ada peristiwa terbaru yang menunjukkan kondisi yg lebih parah dan tidak terbayangkan. Gimana ane gak shock? Pengennya output riset ane bisa memberikan kontribusi dalam pencegahan serupa jika terjadi kasus seperti TMI-2 melalui solusi dalam peningkatan manajemen termalnya,  ekh udah muncul kejadian FD-1. Seakan-akan yg ane lakukan menjadi sesuatu yg tidak berguna dan gak ada arahnya, maka timbulah perasaan “minder ilmiah” yang menguat sejak itu. Efeknya dari minder ilmiah yang ane alamin, menjadi kondisi “galau akademik” alias males2an ke kampus, bener-bener disorientasi deh. Ane selalu inget yg Prof. Raldy (Guru gue) diskusiin soal manajemen thermal, pengendalian kalor pada PLTN sangat unik kata beliyau, beda banget dengan pembangkit lainnya. Pembagkit lainnya, jika mengatur kalor umumnya dilakukan dari state 0% ke state 100% daya optimal. Sedangkan nuklir, beliyau bilang, ngendaliinnya dari state 100% daya ke 0% daya. Gue bayangin kalo di dunia penerbangan, kondisi PLTN kayak kita mau nge-landing-in pesawat kali ya, sedangkan pembangkit lainnya seperti mau take-off. Masalahnya adalah, kita sebenernye menerima kuantitas energi yg sudah sedemikian besar dan masif, dan mengendalikannya kea rah yang lebih rendah bukanlah pekerjaan mudah. Untungnya pada kondisi normal (operasional) ilmu fisika reactor sudah sangat establish, sehingga dengan mengatur sifat kristis dari reaksi fisi dengan menggunakan batang kendali (BK) yg berisi Boron (menyerap neutron), dimana kalo BK nyelup semuanye ke dalam teras reaksi fisi terhenti daya dianggap nol (padahal masih ada decay heat), nah kalo itu BK dinaikin semuanya ke atas, maka daya optimal. Jadi dengan menaikkan dan menurunkan BK, proses pengendalian teras dan thermalnya untuk daya telah dilakukan pada kondisi steady-state (normal). Masalahnya kalo ada kecelakaan, meski BK sudah nyelup semuanya dan reactor dibilang shutdown, namun decay heat (sisa panas peluruhan) masih ada, dan nominlnya 10% dari daya optimalnya. Dalam kondisi transien seperti ini, pengaturan termal memerlukan disiplin dan keilmuan yg tinggi, jika gagal, maka TMI-2 dan FD-1 sebagai akibatnya. Gilakan, elmu yg ane gelutin? Bayangin aja, belum dapet hasil apa2 ekh kejadian baru muncul, sekali lagi, shock.

Okehlah, terlepas juga dari persoalan kejadian kecelakaan FD-1, minder ilmiah memang nampaknya juga sudah menjalar seperti wabah muntaber atawa DBD or fluburung. Memang ini ditunjukkan dengan rendahnya hasil2 riset dari saya dan temen2 yg sebagian besar tidak mampu untuk dipublish secara internasional, tentunya di jurnal yg ade impact factornya. Minder untuk kasus tersebut emang macem2 penyebabnya, umunya disorientasi antara tujuan cita-cita sebagai periset ame cari tambahan uang dapur, dan ini udah menjadi masalah klasik alias sejak jaman purba udah begitu adanye. Masalahnya solusi belum juga ade. Kemudian kejenuhan juga bisa sebagai penyebab, selain hal-hal laen seperti sibuk di partai atau di organisasi lainnya. Sehingga minat untuk terus menekuni jadi punah, dan ketika harus “bertanding” muncul minder ilmiahnya. Jadi apa yang dikerjakan, sepertinya hanya menggugurkan kewajiban saja, datang pagi pulang sore teng. Kondisi itu juga menyebabkan ane jadi disorientasi, karena pengap dengan keadaan seperti itu. Ini memperparah galau akademik, sehingga berbulan-bulan ane kurnag kontinyu ngampus. Meski kalo dibilang berkilah masih ade sih yg dikerjain, seperti melakukan eksperimen terkait studi ane, juga ngembangin lab.riset, dapetin hibah dan publish ke internasional conference melalui kampus tempat gue ngajar dan ngeriset. So, tetep aje ane salah, kewajiban untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan kampus tempat ane belajar sama sekali gak berjalan dengan mulus, dan sialnya bukan persoalan klasik penyebabnya alias gak punya ongkos, tapi itu minder ilmiah yg mengakibatkan kegalauaan akademik. Was-was, resah, cemas, khawatir dan gelisah saban mau ke kampus untuk memenuhi tuntutan akademik.

Namun yang namanya hujan pasti ada berhentinya, demikian juga dengan kemarau pasti ade ujannye. Akhirnya, Prof ane manggil (melalui Negara lain lagi, Austria). Setelah ketemu, semua galau akademis mulai sirna pelan-pelan, dan hal yang paling membuat ane terkesan dengan state Prof ane, beliyau bilang, semua harus dikerjain, kerja dan kerja, perkara hasilnya? Kalo bagus, Alhamdulillah, kalo jelek? Ane sudah memperoleh sesuatu dari kerja tersebut, justeru dari jelek or salah tersebut banyak hal yg bisa ane pelajari. Begitu kata beliyau. Finally, untuk minder ilmiah juga mulai berkurang, bahwa dengan adanya kejadian FD-1 akibat gempa besar di Jepang, menunjukan bahwa elmu itu emang gak ade batesannya, setiap peristiwa dalam kecelakaan adalah momentum untuk terus memperbaiki performa, prosedur dan aturan, termasuk juga sosial budayanya. Jadi, bener emang yg ane kerjain ternyata bukan sia-sia, dan masih banyak ceruk-ceruk yang harus diarungi. Dengan mantafnya kondisi akademik dan ilmiah, guna mempertahankan state kondisi, terpaksa beberapa kegiatan yg bisa dikatakan menyita waktu, fikiran, tenaga dan perasaan terpaksa ane shutdown juga, biar focus ceritanye. Apa lagi, kegalauan akademik dan minder ilmiah emang lagi mewabah di kampus tempat ane ngajar, dan persoalan yg muncul lebih banyak kea rah non-teknis, termasuk kerjaan yg perlu dikerjakan gak dikerjakan, dan yg gak perlu dikerjakan malah dikerjakan, dari pade puyeng, dan malu sama rakyat, ya sudah ditinggal saja dahulu. Tokh kewajiban ane kan buwat institusi yg nyekolahin ane. Terusan, telah dua bulan ini ane lakonin kewajiban ane di kampus, ternyata ada sesuatu yg ane sesali kenapa gak dari dulu dilakonin, yaitu “kekeluargaan” yg dimiliki oleh temen2 di AHTRG (http://appliedheattransfer.wordpress.com) dengan kehangatan, team-work dan flexibility yg menjadikan cikal bakal bagi institusi riset bergengsi di masa depan.

Alhamdulillah, seperti Sensei ane bilang, bahwa emang ane harus melalui proses semacam di atas dalam ber-studi, dan beliyau bilang jangan berkecil hati, pengalaman adalah guru yg terbaik, dan pengalamanpun gak kudu yg bagus2 saja, tapi termasuk yg jelek2. Thanks berat buat Sensei ane yg gak henti-henti memotivasi dan menegur dikala ane lengah dan teledor. Semoga keminderan ilmiah dan kegalauan akademik yang mengarah pada disorientasi cita-cita bisa ditepis berbasis pengalam jelek yang kemaren-kemaren. Please Allah help me and blessing me, also for the people I respect, I care and I care about.

17 Desember 2011, Gunungsindur Bogor.

thanks to: Hedriawan Anandaputra-DTM FTUI (yg ude ng-state galau akademik)





Video kucing…

4 09 2011

Gak ade ide buat nulis, uda deh selingan ane coba up-load video via youtube. Sebenarnya sih pake WordPress juga bisa upload video, cuman kudu bayar..lumayan cinh setaon 56USD. Busyet dah…pake yang gratisan aje deh dulu. Upload video by youtube terus di link deh dengan wordpress. beresss and met nglihat deh. Tulis dunk komen2nye…

Aplikasi dari ANDROID, “Talking Tom Cat” suara gue aseli….

Videonya anak-anak, iseng katanye:








%d blogger menyukai ini: