Berawal dari “ditendang” dan maknanya (part 2 : selama dan setelahnya))

26 06 2012

Terakhir pada upload di blog saya tanggal 29 Maret 2012 di kalimat akhirnya saya tulis “cerita bakal berlanjut, seputar pengalaman berharga saya selama 1,5 bulan di Korsel dan akhirnya ketemu juga makna “ditendang” tadi” , and ternyata untuk nulis butuh kondisi badan, hati dan fikiran yg jernih ya? Atau bahasa anak muda sekarang kudu sedang “em-muud”. Gila juga ya, dah 3 bulan hampit saya baru pengen nerusin lagi itu cerita, sementara pengalama2 dan perasaan yg terkait dengan prosesi selama 1,5 bulan di Daejeon dah mulai luntur. Tapi, janji adalah janji, ya sudah saya tetap harus menuliskannya dan tentunya dengan segala kekurangannya.

Tiba di Daejeon, pada musim dingin bukanlah hal yang menyenagkan ternyata, terlebih kostum yg saya pake untuk udara di daerah pucak bogor, jadinye menderita deh. Tapi, meski dengan Manahan dingin, dan pengen pipis, setiba di Daejeon, teman saya Miss. Ai Malani dah ngejemput dan nganterin ke dormitory-nya KAIST, nama “Hwaam-Dom” dormitory, dan ini dormitory putra yang jaraknya terjauh dari main campus. But, tempatnya nyaman banget, saya tinggal di lantai 1 gedung dua, jadi ruangan R.2105. Ruangan tersebut semestinya untuk dua orang, namun atas kebaikan professornya Ai, bias buat sendirian. Lumayan juga untuk 1,5 bulan saya bayar 400.000 won. Ini harga jauh lebih murah ketimbang saya tinggal di hotel bintang dua, kelebihannya lagi ada kantin mahasiswanya yg lumayan murah untuk sekali makan (maksimal 4500 won) dan ternyata Bis Limousine yg KAIST punya untuk antar jemput mahasiwa juga mampir ke Dom ini, gile itu bis limousine and antar jemputnya dari jam 07.50 ampe jam 03.00.  Jadi kalo mau pulang dari kampus jam 03.00 juga masih ada bis. Kelihatan banget, mahasiswa di sini dimanjain banget sama pemerintahnya, sampe kampus punya anggaran untuk sewa bis dan mengadakan bis yg jenisnya “limousine” tadi untuk antar jemput mahasiswa di dalam kota (bukan di dalam kampus) yang menghubungkan semua asrama-asrama dan kampus utamanya. Jadi, memang gak ada alesan untuk bilang gak ada ongkos atau gak ada kendaraan, semua sudah di siapin. Hari pertama, setalah mengambil kunci dan menyimpan koper di dormitory, hari itu juga langsung meluncur ke kampus, dan langsung mengikuti seminar mingguan mereka. Oh, ya tempat yang bakal jadi medan belajar saya selama 1,5 bulan adalah lab. Riset yang di pimpin oleh professornya Ai Melani, namanya Prof. Soon Heung CHANG, Ph.D dan Lab. Riset Energy System Design and Safety (ESDAS), Department of Nuclear & Quantumn Engineering (NQe. ) KAIST, Build. N7 Room.2418, alamat Gwahangno 335 (373-1 Guseong-dong), Yuseong-gu, Daejeon 305-701. Kegiatan riset di ESDAS Lab. Memang menjurus kea rah Nuclear Technology Safety, khususnya di bidang Heat Transfer yang berfokus kepada Critical Heat Flux (CHF) dan System Design. Tentunya pula kenapa saya memilih program ke ESDAS jelasnya memang relevan dengan aktivitas riset yang saya lakukan semenjak saya bekerja di BATAN dan relevan dengan tema studi S3 saya di DTM FTUI Depok. Kegiatan pokok saya, tentunya melakukan riset bareng dan berdiskusi dengan mereka, khususnya di bawah bimbingan Prof. Chang terkait hasil-hasil penelitian S3 saya selama ini, dan goalnya adalah validasi paper internasional saya untuk syarat S3 dari pengalaman dan masukan teman2 di ESDAS.

Oke deh, balik hari pertama tadi, saya akhirnya berkenalan dengan anggota Lab.ESDAS, dan sekaligus saya juga disediakan tempat dengan mereka. Tadinya sih mau diberikan diruangan peneliti khusus, namun saya tolak karena pengen lebih dekat dnegan mahasiswa S2 dan S3 di Lab. ESDAS, tokh ogut juga kan masih mahasiswa (belakangan nyesel juga, ternyata di ruangan yg saya tolak berisi cewek2 cantik….huaaaaa, nasiip). Oh ya teman2 mahasiswa S2 dan S3 saya selain Ai Melani yang orang Indonesia, saya gambarkan di bawah seklagus posisi duduk saya.

web: http://esdas.kaist.ac.kr/xe/index.php

Usia mereka rata-rata di bawah 30 tahun (gue tua sendiri jadinye nih). Syukur, ternyata mereka semua teman-teman yang baik, dan selalu siap sedia untuk membantu saya. Sikap dan kehangatan mereka dalam berteman dan terhadap tamu patut dijadikan contoh, jika suatu saat kita juga menerima tamu dari luar negeri yg belajar dan bekerja sama dengan kita.

Setelah di minggu pertama saya di ajak muter-muter oleh Ai, sekigus juga mengurus soal dormitory, kartu pengenal (security card) yg saya bisa akses ke mana aja dengan menempelkan kartu pada pintu-pintu setiap ruangan di KAIST maupun di dormitory. Intinya, semua serba dimudahkan dan dilancarkan. Belum fasilitas mahasiswa untuk makan, olah raga, dsb serba lengkap. Soal jajanan lebih menarik lagi, bahwa harga-harga makana dan minuman di dalam kampus ternyata di subsidi oleh kampus sebesar 30%. Jadi kalo saya beli jus jeruk 1,5 liter di toko2 24 jam yg harganya 5000 won, di dalam kampus jadi 3000 won. Dan hanya rokok aje yg gak di subsidi (busyet dah), namun harga rokok lebih murah dari harga makan, rokok paling mahal 2500 won, makan paling murah 4000 won. Beda dengan di kita, rokok 13.500, nasi bungkus 8000 rupiah dah dapet. Intinya semua kondisi di KAIST memaksa semua mahasiswa untuk focus belajar dan hidup dalam rutinitas yg tidak menjemukan. Kok, enggak menjemukan? Karena itu tadi, semua fasilitas sudah disiapkan, seperti warung burger aja buka sampe jam 02.00 pagi. Terus di dalam lab sendiri, yg namanya kopi, teh atau bahan2 untuk minuman sudah selalu tersedia. Semua nampaknya Negara yg nyiapain, entah gimana tuh caranya. Iklim kompetisi juga berkembang dengan baik, dan tidak saling sikut. Terus yg saya lihat, teman2 Korea lebih “humanis” ketimbang ketika saya dulu sekolah di Negara sakura. Saya dan teman-teman di lab., masih punya waktu luang untuk sekedar ngobrol (Selain diskusi) dan kadang diajak makan bareang di luar, sehingga rutinitas yang saya ikuti tidak menjemukan. Komitmen terhadap diri mereka sendiri terlihat sangat kuat pada diri mereka, soal dating jam berapa dan pulang jam berapa saya lihat bukan menjadi urussan pokok. Tapi, tugas yg dikerjakan harus selesai dengan baik dan tepat waktu. Alhasil, saya sebelum berangkat masih membawa paper yg kasar untuk jurnal internasiional, waktu di korea, saya memperbaiki jurnal tersebut, malah bisa dibilang, “merombak” paper awal saya. Banyak perhitungan yg saya lakukan ulang, dan memasukkan analisis baru hasil diskusi dengan teman-teman disana. Kalo di Indonesia, baca jurnal begitu susahnya konsentrasi, selama di korea lumayan banyak jurnal yg terbaca dengan baik. Sehingga paper saya mengalami banyak perubahan, dan terkahir diperiksa dan dikoreksi oleh supervisor, dalam hal ini Prof. Chang yang kebetulan, selain professor KAIST beliyau juga Presiden Asosiasi Nulklirnya Korea (gile bener nih, ketemu ma biangnya langsung).

Biar rada singkat, detial2 cerita lain gak saya masukin deh, intinya dengan makna “ditendang” adalah, keberadaan saya di selama di korea adalah proses re-boot dari otak, mentalitas dan suasana yg selama ini sudah mulai menjenuhkan, apapun alasannya. Kondisi belajar di Negara orang dengan culture dan kondisi yg berbeda memberikan semangat baru dan motivasi baru dalam diri saya, dan saya baru faham betul, kenapa Prof. Raldi memaksa saya harus ke luar negeri selama mengikuti jenjang sekolah S3 ini. Selain untuk me-reboot kondisi saya yg kurang menguntungkan, juga sekaligus memvalidasi pekerjaan saya selama ini kepada institusi yang dianggap lebih faham akan riset saya dan sekaligus netral dalam hal ini ESDAS Lab., KAIST.  Selain saya jauh lebih pede tentunya juga banyak hal yang bisa ditularkan kepada teman2 di Indonesia atau berbagi pengalamanlah istilahnya.

Jadi ditendang di sini adalah istilah untuk kita hijrah dari kondisi diri sendiri yg kurang baik, untuk sementara naik ke level energy tertentu hingga kita recovery dan kembali dengan kondisi yg lebih fresh dan highly motivated. Jadi, jangan sungkan2 untuk pindah dari zona yg kita anggap aman yg sebetulnya secara pelan2 membunuh kreativitas kita, untuk segera pindah ke zona yg kelihatannya tidak nyaman, tapi justeru akan memberikan kemampuan kita untuk membuat kreativitas2 baru dan berguna. Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk saya pribadi dan keluarga, serta teman2.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.





Berawal dari “ditendang” dan maknanya (part 1 : sebelum berangkat)

29 03 2012

Sudah dua bulan lebih dari tulisan terakhir saya bulan Januari lalu, saya baru ada mood lagi. Teringat soal galau akademik dan minder ilmiah yang saya tulis, kemudian masa depan memang sama sekali tidak yang bisa memperkirakan. Semua terjadi dengan semestinya dan mengalir seperti aliran sungai yg berawal dari mata air kecil di pegunungan hingga ke muara laut, aliran air yg berliku-liku, melebar-menyempit dan membawa bermacam-macam material dengan segala persoalannya. Namun, sekali lagi, air tetap akan ke laut juga. Inget terus omongan Prof. Raldi, soal “proses” dan “kerja”, ibarat perjalanan air sungai itu juga kali ya apa yg beliyau maksud. Beliyau memang unik, setelah saya berkativitas di kampus lagi after the storm of galau, tetep aja beliyau bicara bahwa saya harus ke luar negeri,”ngapain kek” katanya, yg penting elo gaul dan kudu gue “tending” dari sini. Sempet tuh sambil berkelakar meminta daua sohib saya, Nata dan Ridho untuk mengeksekusi saya dalam hal “ditendang” dari kampus untuk ke LN. Jujur saja, waktu itu kepikiran males juga ninggalin keluarga (dengan 4 anak) dan kondisi fikiran dan pengen lulus aja, tokh saya fikir saya juga dah disekolahin juga di LN meski cuman 3 tahun di Jepang, juga sudah ke beberapa Negara. Pada saat itu memang saya belum ngeh bentul maksud Professor saya yg nyentrik itu, didukung pula oleh Prof. Nandy dengan tugas tambahan nulis “dibawah pohon apel”, busyet juga deh.

Foto dengan teman-teman master dan candidate doctor di ESDAS Lab. KAIST

Iseng-iseng pas buka SIAK-NG ada pengumuman soal AUN-ROK alias tawaran exchange fellows program ke Korea (ROK: Rep.of Korea), dan pada saat itu juga saya lagi apply proposal riset insentif 2012 (biar gairah nge-riset-nya0, finally saya applied juga tuh program. Gimana enggak di apply, kalimat “ditendang” itukan selalu terngiang-ngiang ditelinga saya. Rada pontang panting dikit akhirnya syarat2 saya sipin dan saya diurutan 13 pas narok berkas di rektorat. Yg bikin menarik dari formulir AUN-ROK adalah disamping tanda-tangan saya kana da tanda tangan Rektor UI, saya fikir, kapan lagi bisa bersandingan tanda tangan dengan orang nge-top (emang beliyau lagi ngetop sih akhir2 ini). Pokoknya dua program udah saya apply, jujur sih pengennya Riset Insentif saya diteriam (padahal nyiapinnya cuman 3 hari) dan yg ke LN kagak aja deh (dengan persiapan juga 3 hari). Tokh saya fikir salah satu dari itu tetep membuat saya bakal bergairah, kalo disuruh milih ya mending tetep di Depok sih.  Gal kerasa waktu pengumuan dan dateng, dan ternyata proposal riset saya gak diterima. Lemes juga sihm ya sudahlah saya terima aja dengan lapang dada, mengingat persiapannya juga pas-pasan. Ekh gak disangka gak dinyana, ternyata AUN-ROK saya yg malah diterima, busyet dah, malah kebalik dari yg saya inginkan. Makanya, soal masa depan emang gak bisa ditebak or ditentuin. Saya Tanya ke panitia sambil iseng ada berapa yg apply? Wow ternyata ada 200-an dari seluruhperguruan tinggi anggota AUN, oh ya AUN itu Asian University Network (linknya ini: http://www.aun-sec.org/) anggotanya ada 26 PT se-asean. Dari Indonesia ada 4, UI, ITB, UGM dan Airlangga. Fellow yg diterima cuman 6 orang, singapur 3, Malaysia 2 dan Indonesia 1 (gue kebeneran, dari UI lagi). So, rada bingung, apa yay g bikin gue diterima? Ups baru nyadar ternyata dalam aplikasi saya udah masukin surat undangan dari perguruan tinggi di Korea yg bakal saya datengin. Dari KAIST, Korean Advanced Institute of Science and Technology yg ternyata KAIST urutan ke 90 dunia, saat ini nomor 1 di Korea. Surat saya peroleh dari Professor KAIST atas bantuan temen saya yg lagi S3 disana, yaitu Ms. Ai Melani (maaf saya pake Ms. Untuk menunjukkan bahwa doi masih jomblo) juga email saya langsung ke Profesornya Ai disertai attachmen 2 paper terakhir saya yg berbahasa Inggris, maka keluarlah surat itu. Nah, sekai lagi gak ada yg bisa nebak, dan dampak “ditendang” bakal saya alami deh.

Meanwhile, sebelum berangkat saya juga masih ada beberap komitmen dengan tempat saya ngajar untuk segera menyelesaikan semua bimbngan saya, agar ke depan urusan saya bisa lebih focus ke penyelesaian study saya sendiri. Kadang lucu juga, gue asik-asik minta ke student gue agar buru2 selesai studinya, ekh gue sendiri malah “klemar-klemer”. But, shows must go on dan segala komitmen dengan mereka kudu saya selesaikan sebelum saya berangkar ke Korea. Alhamdulillah, berkat bantuan kajur TM tempat saya ngajar, mereka finally bisa pada sidang dengan hasil yg memuaskan (emang tuh anak2 pada bagus2 sih). Bayangin 3 hari sebelum saya berangkat dilakukan sidang, sampe habis waktu saya untuk keluarga yg mestinya malah saya bisa berleha-leha dengan mereka sebelum berangkat, ini mah malah diluar ngurusin anak orang, anak gue juga sih. Anyway, semua berjalan dengan semestinya, dan permohonan maaf yg sebesar-besarnya kepada anak2 dan istri saya yg masih jauh dari seorang ayah yg baik.

Kemudian, tepat tanggal 19 Februari 2012 saya udah ada di Soetta, pesawat Koran Air malam berangkatnya. Lucunya, meski sebelum berangkat (hari minggu) saya masih sempet jalan2 ke BSD ma anak istri, namun pas mau berangkat saya malah nongkrong hampir 3 jam di tukang cukur (tuh tukang cukur biasanya sepi, tumben ngantri….). Sampe Taxi nungguin saya. Belum lagi saya sendiri juga gak sempet pamit ke Sensei saya, waduh durhaka bener nih saya saya fikir, ya itu tadi, menyelesaikan komitmen dengan para mahasiwa bimbingan saya. Senin, 20 Februari saya akhirnya tiba di Incheon sekitar jam 8-nan kurang (keluar dari bandara) dan naik Bisk e Kota tempat KAIST berada, yaitu Daejeon. Jaraknya sekitar 2,5-3 jam pake Limousine Bus (22.100 Won harga tiketnya). Diperkirakan saya sampe ke Daejeon jam 10-11 an bis dari Incheon jam 8.25 dan saya dah janjian di Halte Lotte dengan Ms. Ai Melani yg katanya merindukan saya. Oh ya, kenapa saya kenal Ai, karena doi pernah riset bareng di lab. Termohidrolika Eksperimental BATAN dengan saya dan temen2 di sana, dalam rangka studi dia di KAIST tentunya. Terus, ternyata nyampeke Incheon udara lumayan dingin banget, ampe -7 derajat celcius? Mana gak bawa jaket tebel, pake jaket biasa aje. Busyet dah, bener2 gemeteran tuh badan.  Sambil nahan dingin dan duduk termenung di dalam bis, termenunglah, mikirin kayak apa perjalanan saya selama 1,5 bulan di Korea ini dan apa makna “ditendang” tadi? Masih belom kepikiran.

== cerita bakal berlanjut, seputar pengalaman berharga saya selama 1,5 bulan di Korsel dan akhirnya ketemu juga makna “ditendang” tadi ==

Daejeon, South Korea

March 29, 2012





How High and How Low can we go with Heat Transfer

11 01 2012
(a lecture note from : Course of Thermal Engineering Science and Two Phase Flow, conducted by Professor Dr. Raldi Artono Koestoer,DEA in Eng.Faculty, Indonesia University, Depok, January 10, 2012)

Kecelakaan reaktor nuklir pada tahun 1979 di USA yang menyebabkan melelehnya sebagian teras di PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) Three Mile Island unit 2 (TMI-2) telah menjadi kejadian yang terus dievaluasi untuk peningkatan performa keselamatan reaktor nuklir. Penyebab dasar dari kejadian TMI-2 adalah gagalnya sistem pendinginan[1]. Kemudian peristiwa yang sangat mengejutkan yang terjadi pada tahun 2011, adalah kejadian kecelakaan di PLTN Fukushima Dai-ichi yang sekaligus menimpa 3 unit PLTN akibat gempa[2]. Meskipun skala gempa mencapai 9 skala Ritcher namun sistem pengendalian teras berjalan baik, dimana teras mengalami pemadaman reaksi fisi (shutdown) dan listrik di PLTN padam (station blackout). Sementara, panas peluruhan (decay heat) yang tersisa sekitar 7% dari daya nominal harus didinginkan melalui pompa sirkulasi yang merupakan sistem pendinginan aktif. Pompa pendingin bersumber dari listrik genset dan berjalan sekitar 40 menit, namun ketinggian air tsunami melebihi prediksi dan masuk ke area PLTN. Banjir akibat tsunami ternyata menghantam instalasi genset dan sekaligus merusak genset yang berlanjut pada padamnya sistem pendingian panas peluruhan diteras. Kejadian ini menyebabkan gagalnya sistem pendinginan aktif. Gagalnya manajemen termal pada akhirnya menyebabkan ledakan gas hydrogen dan menyebarnya radiasi ke lingkungan (manajemen penahan radiasi gagal).

oret2an dari kursus HT Prof. Ral

So, kelihatan banget kalo ngeliat tulisan gue di atas (diambil dari pendahuluan buwat proposal riset ristek), betapa pentingnya memahami konsep kalor. Sebagian kita memandang bahwa persoalan perpindahan kalor hanya bagian dari kehidupan saja, seperti pepatah untuk api, kecil jadi kawan besar jadi lawan. Untuk kalor saya punya pepatah sendiri, kecil berguna dan besar jauh lebih berguna, kecil tetep panas dan besar pasti lebih panas. Rata-rata sistem konversi energi yang mengkonversi energi termal menjadi energi kinteik-eletrik, selalu berhadapan dengan persoalan bagaimana kalor itu berpindah. Setelah itu bagaimana mengelolanya (thermal management). Kali ini di Lab. Applied Heat Transfer Research Groups DTM-FTUI, Prof. Dr. Raldi A. Koestoer, DEA berkenan memberikan semacam kursus singkat namun padat. Judul kursusnya keren juga : “Course of Thermal Engineering Science and Two Phase Flow”. Kalo ngebaca judulnye pasti kite kepikiran bahwa, yg diomongin melulu rumus-rumus dan gambar2 yg ngejelimetkan, tetapi Prof. Ral menyampaikannya kepada kita tetunya dengan dimensi yg berbeda dari yg mungkin dosen lain lakukan. Ada sih coret2annya dari lecture beliyau, sbb.: Dari gambar bahwa, persoalan Heat Transfer (HT) memang tidak bisa berdiri sendiri, menyangkut indisipliner keilmuan, dari teknik, mipa sampe sosbud. Bujug deh, gimana bisa ya? Gini, dari yg saya tangkep, selama kalor itu mengalami proses perpindahan dari sumbernya (katakanlah dari teras reactor) kemudian manasisn air dan air jadi uap buwat muter turbin, terus di konversi ke listrik dan terus dialirin ke mana-mana, pabrik, rumah tangga, sekolahan dll., ternayata selama proses perpindahan dan konversi energinya, banyak melibatkan interdisipliner keilmuan. Gak mungkin dunk PLTN di bangun kalo masalah sosbudpol-nya gak diselesaikan, lha wong pembangkit biasa2 aje juga kadang di demo terkait pembebasan lahan dan kesempatan kerja oleh masyarakat sekitar, lom lagi ada oknum2 yg mau jual bangsanya agar kita gak kan pernah mandiri energi, refot emang. Makanya, terkait soal itu kerjasama dan penerapan berbagai disiplin keilmuan kudu digunakan, gak bisa melulu orang mechanical or nuclear engineering yg ngatasin. Balik lagi ke HT, aspek keilmuan tekniknya saja udah berjibun yg kudu digunakan, belum lagi sciencenya. Namun Prof Ral menjelaskan dengan caranya sendiri, bahwa tidak semua persoalan dasar atau hulu istilahnya kudu kita lakukan dulu, bisa bypass, dan mencari apa saja yg kita perlukan. Konsep HT dalam penguasaannya sebenarnya bagaimana memahami secara benar dan gambling (komprehensif) perilaku kalor saat berpindah baik itu kondisi stedi (stabil) atau un-steady/gak stabil/transien. Bagagaiman kalor itu berpindah jika difahami buntutnya akan lari juga ke arah geometric, luasan. Sehingga, jika ke peralatan konversi skala mini pemikirannya adalah bagaimana kita bisa pindahkan kalor secara besar-besaran melalui volume yg kecil, dengan memperluas bidang pelepasan kalornya. Ini tantangan untuk perkembangan ke arah pendinginan pralatan elektronika dan sistem pembangkit mini lainnya. Sedangkan pada kondisi massif, kondisi transien, bagiamana suatu kuatitas kalor yang begitu besar dengan sesegera mungkin bisa kita kurangi hingga ke batas aman melalui media dan geometri yg khusus.  Ini kasus pada kecelakaan PLTN atau pembangkit lain seperti yg disampaikan pada pendahuluan di atas. Selain, bahwa studi terkait keilmuan dan engineering adalah diutamakan dalam pemahaman dan penguasaan metode, sehingga nanti saat mengembangkan atau bekerja pada institusi masing-masing semua bisa dilakukan dengan metode sendiri-sendiri.

So, selain HT juga beliau mengkaitkannya dengan persoalan filosfi dan kereligian, bahwa kunci pokoknya selain pada usaha dan kerja keras juga ada pada dikabulkannya apa yg kita tuju. Untuk lengkapnya, saya sampaikan sajian presentasi Prof. Raldi.

Terimakasih Prof. Ral atas kesediaan untuk terus membimbing kami dan ngebawelin kami, thanks a lot.

Gunungsindur, 11 Januari 2012





Sifat Fisik R11 saat Saturasi (rada seriyus…)

19 12 2011

Triklorofluorometana (freon-11 ,CFC-11, atau R-11) adalah suatu chlorofluorocarbon. Fase cair, tidak berwarna dan hampir tidak berbau yang memiliki temperatur didih di sekitar suhu kamar. R11 merupakan refrigeran yang digunakan secara luas pertama kali di dunia. Karena titik didihnya yang tinggi (dibandingkan dengan refrigeran lainnya) yang dapat digunakan dalam sistem dengan tekanan operasi rendah. Karena kandungan klorin yang tinggi dan karena mudahnya atom klorin berpindah ketika molekul terkena sinar ultraviolet, R-11 memiliki potensi penipisan ozon tertinggi dari refrigeran apapun, sehingga produks R11 diakhiri pada 1 Januari 1996.

Namun perlu juga diketahui sifat fisik R11 saat berada dalam kondisi saturasi, bersumber dari:

http://www.wolframalpha.com

http://webbook.nist.gov/chemistry/fluid/

Diperoleh gambar kurva hubungan tekanan saturasi dan temperatur saturasi R11 serta perubahan densitas R11 terhadap perubahan tekanannya.





EDFEC3-TM-First Show(Lab.TE)

25 12 2010

Video anak-anak mesin yg sedang presentasi awal tugas akhir di Lab. Termohidrolika Eksperimental PTRKN BATAN.

Mahasiswa Mesin angkatan 2007, FTUIKA Bogor:

Wahyudin (presentasi sudah) – 07215210622 Konversi Energi
Ikhwan Satria Anugrah (presentasi sudah)- 07215210387 Konversi Energi
Luqmanul Hakim – 07215210007 Konversi Energi
M. Ade Satria – 07215210388 Konversi Energi
A Ruba’i (presentasi sudah) – 07215210137 Konversi Energi
Oskar Riko – 07215210438 Konversi Energi
Budi Utomo (presentasi sudah) – 07215210593 Konversi Energi
Ferlian Novandra – 07215210543 Konversi

Videonya:








Kunjungan Heat Transfer Groups (HTG) DTM-FTUI

16 12 2010

Sudah beberapa kali rencana kunjungan ini dibuat, akhirnya jadi juga. Rabu, 15 Desember 2010, rombongan Heat Transfer Groups (HTG) dari Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTM-FTUI) berkunjung ke Lab. Termohidrolika Eksperimental di PTRKN dan Reaktor Riset Triga di PRSG. Rombongan dibimbing oleh dosen DTM-FTUI yang juga merupakan promotor dan co-promotor ane, Prof. Dr.Ir. Raldi Artono Koestoer, DEA (http://koestoer.wordpress.com/) sebagai promotor ane, dan co-promotornya Prof. Dr.Ing. Ir. Nandy Setiadi Djaya Putra, beliyau Prof termuda UI yang usianya baru 40 tahun (ane sendiri ude 41 tahun). Kemudian anggota rombongan, ada 6 orang mahasiswa pasaca sarjana, teridiri dari S3 bu Yuyu, dan S2 ada 5 org, Ridho cs.

Rombongan dengan kendaraan Pascasarjana FTUI dan mobilnya Prof. Raldi, datang jam 09.20, diskusi di Lab. Termohidrolika Eksperimental PTRKN kira-kira2 30-45 menit. Kebetulan di Lab. TE ada 8 orang mahasiswa mesin FTUIK Bogor yg sedang PKL dan 1 orang sarjana fisika dari FMIPA UNPAD yang lagi belajar software program (Fluent). Jadi, di lab. agak rame. Member termo, kebeneran yg ada adalah kasubbidnye Kiswanta, S.Si kemudian setap, Ainur, Edy S. dan Joko PW. Setelah dari PTRKN rombongan berkunjung ke PRSG untuk melihat reaktor riset, rombongan dipandu oleh Bp. Ir. Suroso yang emang berasal dari PRSG (sekarang jadi peneliti di PTRKN), dan beliyau cukup mumpuni untuk tahu seluk-beluk reaktor. Syukurlah, hari itu kita beruntung, reaktor sedang jalan dengan daya setengah dari daya optimalnya. Jadi kita bisa lihat efek CHERENKOV, bagus deh. Kebetulan kita ndak boleh moto (belom izin sih), jadi sekadar gambaran ane tunjukin deh foto dari website lain (http://www.projectrho.com/rocket/radiation.php).

Efek Cherenkov

Akhirnya rombongan HTG selesai berkunjung, dan acara kita tutup dengan makan siang di Pecel Madiun, dengan menu yg lumayan ajiib yaitu Pecel Nasi dan Dawet Spesial, maknyus pokonya. Nah di bawah saya upload deh foto2 saat HTG DTM-FTUI berkunjung plus menu2 di PM.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tambahan pengetahuan tentang Cherenkov Radiation (sumber : http://www4.nau.edu/meteorite/Meteorite/Book-GlossaryC.html)

CHERENKOV RADIATION – Radiation emitted by when a massive particle moves faster than the speed of light in the medium through which it is traveling. No particle can travel faster than light in vacuum, but the speed of light in other media (water, glass, etc.) is considerably lower. When any charged particle moves through water it tends to polarize the water molecules in a direction adjacent to its path, thus distorting the local electric charge distribution. After the particle has passed, the molecules realign themselves in their original, random charge distribution, emitting a pulse of electromagnetic radiation. When the speed of the particles is less than the speed of the light in water, the pulses tend to cancel due to destructive interference; however, when the speed of the particle is greater than the speed of light in water, the light pulses are amplified through constructive interference. The phenomenon is analogous to the acoustic “sonic boom” observed when an object exceeds the speed of sound in air.

Cherenkov radiation was first observed by Marie and Pierre Currie in the early part of the 20th century. The effect was named after Pavel Alekseyevich Cherenkov, who won the 1958 Nobel Prize for being the first to rigorously characterize it. Cherenkov radiation is observed in nuclear reactors when fission products decay and produce high-energy β particles. The β particle velocities exceed the speed of light in water (2.3 × 108 m/s) producing blue Cherenkov radiation (below).

http://spectrum.ieee.org/image/37182

 





hari yg melelahkan dan patut disyukuri…

1 12 2010

Rabu, 1 Desember 2010, genap 1 tahun 3 bulan kuliah di DTM FTUI Depok, dah semester III, waktunya ujian kualifikasi. Tujuannya untuk menguji kemampuan mahasiswa S3 apakah layak untuk lanjut ke jenjang selanjutnye. Kalo lulus kadang disebut kandidat doktor, bah mantap juga ngedengernya. Padahalan sih, lulusnya enggak tahu kapan. Anyway, satu tahapan udah dilalui tinggal beberapa tahap selanjutnye, sabar dan jalanin aja. Keywords dari ujian gue, bahwa gue ngelompatnya kejauhan dan ade hal2 penting yg kelewat dan justeru menjadi kunci jawaban untuk masalah yg ane hadapi, so, Prof. Ral bilang ane kudu balik ke belakang dikit, yg artinya tugas kudu ane jalanin, kaga ade pake tawar2. Hehehe, siap Prof.

Oh, ya tadi inget petuah dari pak Engkos Kosasih (Dr, penguji). Bedanya orang pinter ama bodoh, ternyata jelas banget yah, kata beliyau kalo orang pinter itu selalu sadar bahwa dia masih bodoh, sehingga membuatnya terus2 belajar. Nah, kalo orang bodoh, enggak sadar2 bahwa dirinya bodoh, jadinya kagak pernah belajar2. Make Sense banget.

hari yg meleahkan dan patut ane syukur, ujian kualifikasi udah, ekh dapet juara I lagi di BPA-AIJ 2010. Alhamdulillah.

So cekidot deh pideonya.

Para penguji:

action…

Sumber video dari Blognya Prof. Raldi (http://koestoer.wordpress.com) atau dicari di Youtube juga bisa Bro/Sis.








%d blogger menyukai ini: