Pagi hari buta, deru nafas menyambung nyawa

9 08 2012

Alhamdulillah, ramadhan tahun ini bisa juga aku nikmati. Meski kegiatan pokokku aku istirahatkan sejenak karena kepenatan, kejenuhan dan kekecewaan dengan diri sendiri. Syukurlah, bahwa hidup tetap harus memiliki makna, khususnya bagi diri sendiri dan sekitar. Meskipun, istirahat “belajar” tapi aku harus menjalani aktivitas yang menambah keinginanku untuk tetap “belajar” akan keberartian hidup dan kemanfaatan dalam hidup. So, akhirnya selama ramadhan ini kegiatanku setiap jumat hingga minggu subuh (dua malam) bolak-balik ke kampus di Bogor. Kebetulan, seminggu sebelum ramadhan lab.riset kami pindahan ke gedung yang baru di bagian belakang kampus (enggak ke belakang banget sih). Dan selama bulan September 2011 hingga Juli kemarin frekuensiku ke lab di Bogor sangat jarang, maklum kudu fokus ke studi ceritanya. Alhasil, lab menjadi sepi dan selalu kosong, sehingga apa yg dulu dicita-citakan nyaris tinggal kenangan. Alhamdulillah, kepindahan lab. ke tempat baru dan kesadaranku bahwa ndak mesti juga untuk mengejar studiku semua hal yg mungkin akan bersifat positif harus ditinggalkan juga. Sementara yang namanya umur, hanya Allah yg tahu dan entah kapan kita dipanggil. Istighfar, dan kembali ke kegiatan mengasuh mahasiswa dan rekan-rekan di lab Bogor yg memang ingin sekali maju dan berkembang.

Singkat cerita, setiap Jumat siang aku sudah ke kampus Bogor dan kembali setelah sholat shubuh ke rumah pada hari Minggunya. Bersyukur, bahwa istri dan anak-anak sudah terbiasa dan mengerti soal hebitku ini. Meski merekapun tahu, kepergian ayahnya tidak untuk mencari uang dan memang tidak ada uang sebagai bayaran. Aku hanya yakin, bawah rezeki hanya Allah yang mengatur dan mengadakan. Terkadang sedikit sedih juga, dengan kondisi saat ini yang memang penghasilanku sedang kurang baik (karena status belajar) dan juga cuti dari kampus tempat ngajar (karena pengen fokus) kemudian berada pada kondisi ramadhan seperti ini. Kembali aku harus bersyukur, anak-anakku memang bukan tipikal perengek dan peminta-minta, meski mereka berpuasa dan teman-temannya sudah mulai belanja disana-sini, mereka sama sekali tidak menanyakan perihal tetek-bengek soal asesoris berlebaran. Justeru sikap mereka seperti itu yg bikin hati ini jadi tambah pilu dan luka. Sedangkan waktuku kadang lumayan banyak di luar. Meski penghasilanku sedang dalam kondisi “studi”, Alhamdulillah istriku berperoleh rezeki yg lumayan bisa membantu kebutuhan keluarga selama ini. Semua pasti ada minus dan plusnya, semua dalam kondisi setimbang. Nah, terkait cerita soal pulang setelah subuh (sekitar jam 05 dari kampus), aku selalu naik kendaraan umum setelah diantar oleh muridku hingga pada lokasi tertentu. Hidupku yang kuanggap lumayan terasa berat karena sedikit ceritaku di atas, ternyata jauh berbeda dengan orang yg setiap subuh aku temui. Ketika aku pulang naik bis di setiap subuh pagi itu, aku selalu berbarengan dengan bapak-bapak yg mungkin usianya di atasku 10-20. Bapak tersebut selalu membawa 2 karung yang berisi sayur mayur dari lokasi Bogor ke Parung. Beliyau terlihat begitu rentanya terlebih ketika menaikkan karung-karung tersebut ke atas bis di bagian belakang, kebetulan aku memang suka duduk di bagian belakang bis. Terlihat nafasnya yang tersengal-sengal dikarenakan setelah berjalan kaki menuju ke pinggir jalan raya tempat dia menunggu bis, plus 2 karung yang juga harus tetap beliyau gotong. Namun, meski dengan wajah capek dan lelah, tetap saja saat bertemu denganku beliyau melepaskan senyumnya. Seperti biasa aku ajak ngobrol atau beliyau yg duluan mengajak ngobrol. Hhhhmm, ternyata pengahasilan beliyau tidak seberapa dengan menjual sayuran tersebut (biasanya daun singkong dan daun papaya). Namun semangat hidupnya dan keceriaannya menghadapi hidup ini dengan nafas menderu setiap pagi buta untuk menyambung nyawa (mencari makan) tidak menunjukkan bahwa beliyau menyesali kehidupannya. Huh, kalo teringat keluhanku terhadap kondisi hidupku (meski hanya direlung hati), keadaan bapak tersebut  sepertinya menamparku dan membangunkanku, bahwa apa yg sudah aku peroleh selama ini jauh harus aku syukuri. Bahwa, ketika kembali di panggil Allah, hanya jasad yang membusuk tersisa di liang lahat. Semua amal dan ibadah yang hanya di bawa.

Alhamdulillah, terimakasih Allah atas semua limpahan rahmat dan hidayahmu, Amin.

Gunungsindur, 9 Agustus 2012


Aksi

Information

2 responses

9 08 2012
SOEDARDJO

ArRaahman (QS:55) Ayat 13 dst ( 31 buah Ayat)

10 08 2012
juarsa

Terimakasih pak Dardjo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: