Menghilangkan Ketergantungan “mesbuk”

3 08 2012

Semenjak diluncurkan pertama kali di USA pada bulan Februari 2004, facebook (terjemaah bahasa gue : “mesbuk”) menjadi jejaring social yang sangat dominan diberbagai belahan dunia ini. Benua ke benua, Negara ke Negara, kota ke kota, desa ke desa hinga person ke person saling terkoneksi, ditambah dengan fitur-fiturnya yang semakin memanjakan penggunanya. Semenjak dari anak kecil hingga orang tua (kakek-nenek) seakan berlomba dalam menggunakan jejaring social ini. Berbagai strata social, pendidikan hingga beragam status bisa saling terkoneksi dan semua hanya dilakan dengan cukup menekan “klik” saja.

Sharing informasi, baik berupa kata-kata, dokumen, foto hingga video dapat dengan mudah dilakukan via facebook melaui wall teman, wall pribadi maupun inbox. Terlebih ada fitur dimana beberapa orang bisa membuat groups, sehingga tidak semua teman-teman yg enggak sealiran bisa masuk, terus groups bisa dibuat hingga tidak terhitung dan nampaknya akan lahir terus setiap harinya sesuai dengan dinamika perubahan social, dinamika waktu (lampau, sekarang maupun masa depan), benefitas, dan sebagainya. Semua yg mulanya kita niatkan untuk men-share sesuatu kepada kalayak (all friends) akhirnya terbagi menjadi segmen-segmen informasi khusus melalui facebook groups, dikotomi atau pengelompokan memang sudah menjadi habitat manusia, baik di alam nyata maupun di dunia cyber. Yang jelas facebook telah menjelma menjadi salah satu media komunikasi yang paling padat di dunia ini, sampai-sampai pesan-pesan yg biasanya disampaikan via surat konvensional, surat elektronik (email), short message service (sms) by phone menjadi berkurang kuantitasnya, mengingat berkirim informasi melalui facebook bisa apa saja dan dengan siapa saja secara bersamaan dan terdokumentasi dengan baik. Tentunya fitur timeline menjadikan dokumentasi kita jadi lebih apik dan teratur berdasarkan waktu. Hingga pada akhirnya ketika komputer kita, baik laptop atau destop terhubung dengan jaringan internet, maka biasanya situs facebook yang pertama kali kita buka. Lumayan minimal 15 menit (paling cepat) kita pasti melototin layar monitor yg berisi “pesan-pesan” facebook, dan tanda merah sebagai status pesan masuk yg selalu kita harapkan.

Positifnya facebook? Wuih banyak juga, selain menimbulkan kreatifitas, seperti munculnya ide-ide untuk menuliskan sesuatu di status atau sekedar humor atau informasi yg bersensasi sehingga teman-teman yg membaca jadi terhibur atau malah ikut prihatin karena neyuarakan kegalauan, dukacita atau kesedihan lainnya, bisa juga terjalinnya hubungan keluarga atau perteman yg telah lama terputus atau terpisah, informasi keberadaan kawan atau apa saja. Saya termasuk pengguna aktif sejak tahun 2008 (telat 4 taon dari semenjak facebook ada), dan sudah lumayan juga groups facebook yg saya buat. Alhamdulillah sebagian besar groups facebook tersebut saya jadikan media share kepada rekan sejawat dan mahasiswa saya, meski kadang lucu juga status saya berderet cuman sendirian sedangkan mahasiswa yg menimpali (komen) paling juga hanya beberapa orang dan kadang itu-itu aja orangnya. Lucunya, kalau saya buat status aneh dan lucu atau apalah, kadang gak tertuga komen begitu banyak. Jujur sih, kadang kalo dapat komen banyak jadi terpuaskan dan merasa terperhatikan, ini memang yg disebut narsis kali. Ditambah dengan seringnya meng-upload setiap kegiatan pribadi (untung aje, kegiatan rutin nongkrong di toilet enggak di update). Pokoknya, positifnya adalah makin banyaknya pertemanana dan jaringan, serta media untuk mengurangi strees hidup.

Negatifnya? Kayaknya ndak ada deh? Iya sih, dari 2008 hingga akhir Juli 2012 kemarin belum terasa benar negatifnya, namun entah kenapa usai sholat subuh tangga 1 Agustus 2012 kemarin tiba-tiba kok merasakan kejenuhan yang amat sangat dengan facebook. Terbayang, bahwa tanpa disadari, hampir 30-40% waktu saya di depan computer setiap harinya pasti nagkring di facebook, baik itu nyetatus ke student soal kegiatan dan informasi ilmuah, nyetatus prasaan hati (baik kesel, happy atau apa aja), ngomentari status temen, update macem2 deh, hingga cuman bacaain status orang dan nge-like doang. Wuuuiihh…30-40% di pesbuuk??? Kalo sehari saya buka laptop sekitar 8 jam saja, berarti 2,4-3,2 jam sehari waktu saya untuk facebook, taruklah rata-rata setiap hari saya buka atau di depan komputer 4 jam saja, maka setiap hari rata-rata waktu untuk mesbuk sekitar 1,2-1,6 jam/hari dikalikan 365 hari. Luar biasa facebook itu ternyata. Jadi dalam setahun waktu saya untuk mesbuk rata-rata memakan waktu 18-24 hari. Belum dengan kegiatan lain yang menggunakan situs internet lainnya selain facebook? So, saya fikir saya sudah seperti “ketergantungan” alias “nyandu” dengan facebook. Dan entah karena apa pula tiba-tiba fikiran “negatif” tentang facebook datang dan tanggal 1 Agustus 2012 itulah saya non-aktifkan sementara akun facebook saya (belum brani permanen, belum sungguh2 soalnya). And, gila luar biasa, setelah di tutup itu akun facebook, selama dua hari ini ternyata saya diserang “kegelisahaan” yg luar biasa, kegelisahan ingin melihat “kondisi” all friends di facebook, ada kabar apa, ada info baru apa, atau ada foto dan video apa? Semua bikin penasaran dan itu kali yang disebut “sakaw nyetatus”?. Selama 2 hari, hampir beberapa kali saya ingin membuka lagi akun saya, namun Alhamdulillah, masih bisa di tahan. Makanya, di hari ke-3 ini saya dah mulai bisa kuasai kedaan, dan menuliskan perasaan saya ini melalui blog saya. Hhhmmmm, luar biasa, pengalaman ini terulang kembali ketika saya waktu masih muda, yang berhenti dari kebiasaan minum-minum, namun bisa dan akhirnya bisa jadi sarjana dan sekarang hampir s3, dan sudah punya anak 4.

Memang akan menjadi mudah saat kita dengan kata-kata baik lisan maupun tulisan diharuskan beropini apakah sesuatu itu ada positifnya atau ada negatifnya? Bagi saya semua hal, pasti ada positif negatifnya. Mudah saja, ibadah sholat adalah hal yg paling positif, tapi ketika kita dengan tidak sengaja dan sengaja melakukannya karena “ria” ibadah kita menjadi hal yg negatif. Begitu juga dengan studi, semakin tinggi jenjang studi kita akan semakin positif untuk kita dan keilmuan, namun jika kita melupakan hal-hal yg harusnya bisa kita lakukan agar bermanfaat, maka pendidikan akan merubah kita menjadi manusia yg angkuh dan sombong. Semua yg kita kejar hanya bermuara untuk diri kita dan kelompok2 kita. Jadi yakinlah, bahwa semua hal yang ada di depan mata akan berubah kearah kutub mana saja, positif maupun negatif. Alkohol akan menjadi negatif jika di minum, namun positif jika digunakan untuk membersihkan luka. Kembali lagi, semua hal tetap tersusun dari hal yang negatif dan positif, seperti semua unsur di kehidupan jagat raya ini. Selalu ada hal yg saling berlawan, dan yang saling berlawanan itu tentunya harus saling melengkapi dan menyeimbangkan kita. Namun, jika salah satunya mulai tidak seimbang, kita buru-buru kudu sadar dan mulai menyeimbangkan kembali. Yaahh, seperti kasus penutupan akun facebook saya, saya merasakan bagian negatifnya mulai lebih besar dan harus saya kurangi.

Tapi, this is true my friend. Menghilangkan kebiasaan mesbuk, sungguh luar biasa sulitnya dan terasa lumayan menyiksa. Untunglah, kondisi ini saya lakukan saat Ramadhan, sehingga untuk 2 hari ini sudah mulai teratasi. Masak puasa makan, minum dan lainnya tahan, mesbuk aja enggak sih? Silahkan deh mencoba, daripada hidup terus-terus terjajah.

Semoga teman-teman bisa faham deh, setelah baca tulisan saya ini kenapa saya tutup (sementara) akun facebook. Karena, saya hanya manusia biasa saja, yang hanya ingin hidup tenang dan selalu berkeinginan menyeimbangkan kondisi hidup saya.

Oh ya, agar kita bisa tetap berhubungan silahkan bagi yang ada keperluan atau sekedar nyapa kirim  aja ke email saya : myjuar@yahoo.com (ini rutin saya buka tiap hari). terimakasih.

mulya.juarsa@facebook.com – 3 Agustus 2012


Aksi

Information

2 responses

3 08 2012
SOEDARDJO

MESBUK karena nggak ada kerjaan lain yang menyibukkan. Kalau ngantor saja nggak jelas kerjaannya selain presensi lalu dihukum Surat Peringatan, maka masih banyak yang mesbuk.

Mesbuk banyak sekali negatifnya, namun juga banyak sekali positifnya, karena banyak sekali facebook isinya dakwah islamic, bahkan tilawah alquran, pelajaran aqidah, bahkan situs eksperimen scientific.

Jadi tinggal kita yang wajib memilihnya, mana yang positif untuk kita.

Demikian juga, e-mail, banyak e-mail hoax, banyak spam, banyak pula yang negatif dan yang positif untuk diri kita. Dalam sekejap pula e-mail yang negatif dapat di delete, walau mungkin capek mendelete tumpukan sampah yang negatif.

Facebook bisa membuat saya termotivasi namun juga demotivasi, tinggal kita bisa tidak menikmati mensyukuri nikmat Alloh SWT dengan ada atau tidak adanya facebook yang menggerakkan kita mesbuk atau berhenti mesbuk. Semua pilihan kembali ke kita sendiri yang tahu manfaat mudhorotnya.
Salam Dardjo

3 08 2012
juarsa

Terimakasih atas tanggapannya pak Soedardjo, dan selamat menjalankan ibadah shaum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: