Berawal dari “ditendang” dan maknanya (part 2 : selama dan setelahnya))

26 06 2012

Terakhir pada upload di blog saya tanggal 29 Maret 2012 di kalimat akhirnya saya tulis “cerita bakal berlanjut, seputar pengalaman berharga saya selama 1,5 bulan di Korsel dan akhirnya ketemu juga makna “ditendang” tadi” , and ternyata untuk nulis butuh kondisi badan, hati dan fikiran yg jernih ya? Atau bahasa anak muda sekarang kudu sedang “em-muud”. Gila juga ya, dah 3 bulan hampit saya baru pengen nerusin lagi itu cerita, sementara pengalama2 dan perasaan yg terkait dengan prosesi selama 1,5 bulan di Daejeon dah mulai luntur. Tapi, janji adalah janji, ya sudah saya tetap harus menuliskannya dan tentunya dengan segala kekurangannya.

Tiba di Daejeon, pada musim dingin bukanlah hal yang menyenagkan ternyata, terlebih kostum yg saya pake untuk udara di daerah pucak bogor, jadinye menderita deh. Tapi, meski dengan Manahan dingin, dan pengen pipis, setiba di Daejeon, teman saya Miss. Ai Malani dah ngejemput dan nganterin ke dormitory-nya KAIST, nama “Hwaam-Dom” dormitory, dan ini dormitory putra yang jaraknya terjauh dari main campus. But, tempatnya nyaman banget, saya tinggal di lantai 1 gedung dua, jadi ruangan R.2105. Ruangan tersebut semestinya untuk dua orang, namun atas kebaikan professornya Ai, bias buat sendirian. Lumayan juga untuk 1,5 bulan saya bayar 400.000 won. Ini harga jauh lebih murah ketimbang saya tinggal di hotel bintang dua, kelebihannya lagi ada kantin mahasiswanya yg lumayan murah untuk sekali makan (maksimal 4500 won) dan ternyata Bis Limousine yg KAIST punya untuk antar jemput mahasiwa juga mampir ke Dom ini, gile itu bis limousine and antar jemputnya dari jam 07.50 ampe jam 03.00.  Jadi kalo mau pulang dari kampus jam 03.00 juga masih ada bis. Kelihatan banget, mahasiswa di sini dimanjain banget sama pemerintahnya, sampe kampus punya anggaran untuk sewa bis dan mengadakan bis yg jenisnya “limousine” tadi untuk antar jemput mahasiswa di dalam kota (bukan di dalam kampus) yang menghubungkan semua asrama-asrama dan kampus utamanya. Jadi, memang gak ada alesan untuk bilang gak ada ongkos atau gak ada kendaraan, semua sudah di siapin. Hari pertama, setalah mengambil kunci dan menyimpan koper di dormitory, hari itu juga langsung meluncur ke kampus, dan langsung mengikuti seminar mingguan mereka. Oh, ya tempat yang bakal jadi medan belajar saya selama 1,5 bulan adalah lab. Riset yang di pimpin oleh professornya Ai Melani, namanya Prof. Soon Heung CHANG, Ph.D dan Lab. Riset Energy System Design and Safety (ESDAS), Department of Nuclear & Quantumn Engineering (NQe. ) KAIST, Build. N7 Room.2418, alamat Gwahangno 335 (373-1 Guseong-dong), Yuseong-gu, Daejeon 305-701. Kegiatan riset di ESDAS Lab. Memang menjurus kea rah Nuclear Technology Safety, khususnya di bidang Heat Transfer yang berfokus kepada Critical Heat Flux (CHF) dan System Design. Tentunya pula kenapa saya memilih program ke ESDAS jelasnya memang relevan dengan aktivitas riset yang saya lakukan semenjak saya bekerja di BATAN dan relevan dengan tema studi S3 saya di DTM FTUI Depok. Kegiatan pokok saya, tentunya melakukan riset bareng dan berdiskusi dengan mereka, khususnya di bawah bimbingan Prof. Chang terkait hasil-hasil penelitian S3 saya selama ini, dan goalnya adalah validasi paper internasional saya untuk syarat S3 dari pengalaman dan masukan teman2 di ESDAS.

Oke deh, balik hari pertama tadi, saya akhirnya berkenalan dengan anggota Lab.ESDAS, dan sekaligus saya juga disediakan tempat dengan mereka. Tadinya sih mau diberikan diruangan peneliti khusus, namun saya tolak karena pengen lebih dekat dnegan mahasiswa S2 dan S3 di Lab. ESDAS, tokh ogut juga kan masih mahasiswa (belakangan nyesel juga, ternyata di ruangan yg saya tolak berisi cewek2 cantik….huaaaaa, nasiip). Oh ya teman2 mahasiswa S2 dan S3 saya selain Ai Melani yang orang Indonesia, saya gambarkan di bawah seklagus posisi duduk saya.

web: http://esdas.kaist.ac.kr/xe/index.php

Usia mereka rata-rata di bawah 30 tahun (gue tua sendiri jadinye nih). Syukur, ternyata mereka semua teman-teman yang baik, dan selalu siap sedia untuk membantu saya. Sikap dan kehangatan mereka dalam berteman dan terhadap tamu patut dijadikan contoh, jika suatu saat kita juga menerima tamu dari luar negeri yg belajar dan bekerja sama dengan kita.

Setelah di minggu pertama saya di ajak muter-muter oleh Ai, sekigus juga mengurus soal dormitory, kartu pengenal (security card) yg saya bisa akses ke mana aja dengan menempelkan kartu pada pintu-pintu setiap ruangan di KAIST maupun di dormitory. Intinya, semua serba dimudahkan dan dilancarkan. Belum fasilitas mahasiswa untuk makan, olah raga, dsb serba lengkap. Soal jajanan lebih menarik lagi, bahwa harga-harga makana dan minuman di dalam kampus ternyata di subsidi oleh kampus sebesar 30%. Jadi kalo saya beli jus jeruk 1,5 liter di toko2 24 jam yg harganya 5000 won, di dalam kampus jadi 3000 won. Dan hanya rokok aje yg gak di subsidi (busyet dah), namun harga rokok lebih murah dari harga makan, rokok paling mahal 2500 won, makan paling murah 4000 won. Beda dengan di kita, rokok 13.500, nasi bungkus 8000 rupiah dah dapet. Intinya semua kondisi di KAIST memaksa semua mahasiswa untuk focus belajar dan hidup dalam rutinitas yg tidak menjemukan. Kok, enggak menjemukan? Karena itu tadi, semua fasilitas sudah disiapkan, seperti warung burger aja buka sampe jam 02.00 pagi. Terus di dalam lab sendiri, yg namanya kopi, teh atau bahan2 untuk minuman sudah selalu tersedia. Semua nampaknya Negara yg nyiapain, entah gimana tuh caranya. Iklim kompetisi juga berkembang dengan baik, dan tidak saling sikut. Terus yg saya lihat, teman2 Korea lebih “humanis” ketimbang ketika saya dulu sekolah di Negara sakura. Saya dan teman-teman di lab., masih punya waktu luang untuk sekedar ngobrol (Selain diskusi) dan kadang diajak makan bareang di luar, sehingga rutinitas yang saya ikuti tidak menjemukan. Komitmen terhadap diri mereka sendiri terlihat sangat kuat pada diri mereka, soal dating jam berapa dan pulang jam berapa saya lihat bukan menjadi urussan pokok. Tapi, tugas yg dikerjakan harus selesai dengan baik dan tepat waktu. Alhasil, saya sebelum berangkat masih membawa paper yg kasar untuk jurnal internasiional, waktu di korea, saya memperbaiki jurnal tersebut, malah bisa dibilang, “merombak” paper awal saya. Banyak perhitungan yg saya lakukan ulang, dan memasukkan analisis baru hasil diskusi dengan teman-teman disana. Kalo di Indonesia, baca jurnal begitu susahnya konsentrasi, selama di korea lumayan banyak jurnal yg terbaca dengan baik. Sehingga paper saya mengalami banyak perubahan, dan terkahir diperiksa dan dikoreksi oleh supervisor, dalam hal ini Prof. Chang yang kebetulan, selain professor KAIST beliyau juga Presiden Asosiasi Nulklirnya Korea (gile bener nih, ketemu ma biangnya langsung).

Biar rada singkat, detial2 cerita lain gak saya masukin deh, intinya dengan makna “ditendang” adalah, keberadaan saya di selama di korea adalah proses re-boot dari otak, mentalitas dan suasana yg selama ini sudah mulai menjenuhkan, apapun alasannya. Kondisi belajar di Negara orang dengan culture dan kondisi yg berbeda memberikan semangat baru dan motivasi baru dalam diri saya, dan saya baru faham betul, kenapa Prof. Raldi memaksa saya harus ke luar negeri selama mengikuti jenjang sekolah S3 ini. Selain untuk me-reboot kondisi saya yg kurang menguntungkan, juga sekaligus memvalidasi pekerjaan saya selama ini kepada institusi yang dianggap lebih faham akan riset saya dan sekaligus netral dalam hal ini ESDAS Lab., KAIST.  Selain saya jauh lebih pede tentunya juga banyak hal yang bisa ditularkan kepada teman2 di Indonesia atau berbagi pengalamanlah istilahnya.

Jadi ditendang di sini adalah istilah untuk kita hijrah dari kondisi diri sendiri yg kurang baik, untuk sementara naik ke level energy tertentu hingga kita recovery dan kembali dengan kondisi yg lebih fresh dan highly motivated. Jadi, jangan sungkan2 untuk pindah dari zona yg kita anggap aman yg sebetulnya secara pelan2 membunuh kreativitas kita, untuk segera pindah ke zona yg kelihatannya tidak nyaman, tapi justeru akan memberikan kemampuan kita untuk membuat kreativitas2 baru dan berguna. Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk saya pribadi dan keluarga, serta teman2.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Aksi

Information

One response

23 07 2013
Woodrow

Thanks in support of sharing such a nice thinking, paragraph is nice,
thats why i have read it fully

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: