“Galau Akademik” & “Minder Ilmiah” (curhat aje)

17 12 2011

Istilah galau dalam bahasa Indonesia menunjukkan maksud bahwa kita dalam kondisi “gelisah”, “cemas”, “khawatir”, “resah”, “kusut” dan “was-was” atau kondisi yg memperlihatkan instability of morality (bener gak nih..tulisannye?). Sedangkan minder, bermaksud menunjukkan kondisi diantara “eweuh-pakeweuh” dengan “rendah diri”. Sedangkan bagi saya minder menunjukkan kurang kuwatnya hati atau merasakan ketidak mampuan diri yang amat sangat. Ini tulisan buat prologue aje biar rada keliatan ngilmiah gitu. Tapi, cerita yang sebenarnya adalah ane pengen curhat soal beberapa bulan ke belakang kondisi galau dan minder berkecamuk dan menyebabkan “blackout” dalam motivasi dan fikiran ane terkait studi (akademik) dan keilmuan yg ane tekuni (ilmiah). Juga hal-hal lain yang masih kefikiran terus.

Entahlah ane mesti mulai cerita darimane ye?, yang jelas seingat ane setelah ujian kualifikasi dalam fikiran berkecamuk segala hal, apalagi pasca kejadian gempa bumi di Jepang (ape hubungannye???), sekitar awal Maret 2011. Saat itu ane sering buwat state, bahwa ane sedang “disorientasi” (bahasa apa lagi ini?).  Gempa bumi yg ternyata hampir meruntuhkan jargon bahwa PLTN dikatakan sangat aman, ternyata menunjukkan karakter yg sebelumnya gak pernah diprediksikan orang-orang, termasuk yg ngedisainnya, saat itu reaktor Fukushima Dai-ichi (ane singkat FD-1) mengalami kecelakaan parah (severe accident). Dari aspek ilmiah, peristiwa tersebut menunjukkan gagalnya sistem pendinginan (manajemen termal) di reaktor nuklir pasca pemadaman reaksi fisi (shutdown), dan mengarah pada kecelakaan parah yang akhirnya melepaskan material radiasi ke lingkungan. Kaitannya dengan ane terus ape? Nah, kaitannye dengan ane adalah, semenjak sekolah sarjana ampe sekolah doktor sekarang, latar belakang riset ane adalah kecelakaan parah yg sebelumnya juga terjadi pada PLTN, tepatnya Three Mile Island Unit-2 (disebut TMI-2), di Amerika taon 1979 (hampir 31 tahun lalu). Meski peristiwa di TMI-2 enggak ngelepasin radiasi sebesar di FD-1, namun kegagalan manajemen termal (pengendalian panas) masih menjadi momok dalam kasus jika dan jika PLTN mengalami kecelakaan. Bayangin, modal kejadian di TMI-2 untuk riset ane yg boleh dibilang seumur hidup, belom tuntas, ekh ternyata ada peristiwa terbaru yang menunjukkan kondisi yg lebih parah dan tidak terbayangkan. Gimana ane gak shock? Pengennya output riset ane bisa memberikan kontribusi dalam pencegahan serupa jika terjadi kasus seperti TMI-2 melalui solusi dalam peningkatan manajemen termalnya,  ekh udah muncul kejadian FD-1. Seakan-akan yg ane lakukan menjadi sesuatu yg tidak berguna dan gak ada arahnya, maka timbulah perasaan “minder ilmiah” yang menguat sejak itu. Efeknya dari minder ilmiah yang ane alamin, menjadi kondisi “galau akademik” alias males2an ke kampus, bener-bener disorientasi deh. Ane selalu inget yg Prof. Raldy (Guru gue) diskusiin soal manajemen thermal, pengendalian kalor pada PLTN sangat unik kata beliyau, beda banget dengan pembangkit lainnya. Pembagkit lainnya, jika mengatur kalor umumnya dilakukan dari state 0% ke state 100% daya optimal. Sedangkan nuklir, beliyau bilang, ngendaliinnya dari state 100% daya ke 0% daya. Gue bayangin kalo di dunia penerbangan, kondisi PLTN kayak kita mau nge-landing-in pesawat kali ya, sedangkan pembangkit lainnya seperti mau take-off. Masalahnya adalah, kita sebenernye menerima kuantitas energi yg sudah sedemikian besar dan masif, dan mengendalikannya kea rah yang lebih rendah bukanlah pekerjaan mudah. Untungnya pada kondisi normal (operasional) ilmu fisika reactor sudah sangat establish, sehingga dengan mengatur sifat kristis dari reaksi fisi dengan menggunakan batang kendali (BK) yg berisi Boron (menyerap neutron), dimana kalo BK nyelup semuanye ke dalam teras reaksi fisi terhenti daya dianggap nol (padahal masih ada decay heat), nah kalo itu BK dinaikin semuanya ke atas, maka daya optimal. Jadi dengan menaikkan dan menurunkan BK, proses pengendalian teras dan thermalnya untuk daya telah dilakukan pada kondisi steady-state (normal). Masalahnya kalo ada kecelakaan, meski BK sudah nyelup semuanya dan reactor dibilang shutdown, namun decay heat (sisa panas peluruhan) masih ada, dan nominlnya 10% dari daya optimalnya. Dalam kondisi transien seperti ini, pengaturan termal memerlukan disiplin dan keilmuan yg tinggi, jika gagal, maka TMI-2 dan FD-1 sebagai akibatnya. Gilakan, elmu yg ane gelutin? Bayangin aja, belum dapet hasil apa2 ekh kejadian baru muncul, sekali lagi, shock.

Okehlah, terlepas juga dari persoalan kejadian kecelakaan FD-1, minder ilmiah memang nampaknya juga sudah menjalar seperti wabah muntaber atawa DBD or fluburung. Memang ini ditunjukkan dengan rendahnya hasil2 riset dari saya dan temen2 yg sebagian besar tidak mampu untuk dipublish secara internasional, tentunya di jurnal yg ade impact factornya. Minder untuk kasus tersebut emang macem2 penyebabnya, umunya disorientasi antara tujuan cita-cita sebagai periset ame cari tambahan uang dapur, dan ini udah menjadi masalah klasik alias sejak jaman purba udah begitu adanye. Masalahnya solusi belum juga ade. Kemudian kejenuhan juga bisa sebagai penyebab, selain hal-hal laen seperti sibuk di partai atau di organisasi lainnya. Sehingga minat untuk terus menekuni jadi punah, dan ketika harus “bertanding” muncul minder ilmiahnya. Jadi apa yang dikerjakan, sepertinya hanya menggugurkan kewajiban saja, datang pagi pulang sore teng. Kondisi itu juga menyebabkan ane jadi disorientasi, karena pengap dengan keadaan seperti itu. Ini memperparah galau akademik, sehingga berbulan-bulan ane kurnag kontinyu ngampus. Meski kalo dibilang berkilah masih ade sih yg dikerjain, seperti melakukan eksperimen terkait studi ane, juga ngembangin lab.riset, dapetin hibah dan publish ke internasional conference melalui kampus tempat gue ngajar dan ngeriset. So, tetep aje ane salah, kewajiban untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan kampus tempat ane belajar sama sekali gak berjalan dengan mulus, dan sialnya bukan persoalan klasik penyebabnya alias gak punya ongkos, tapi itu minder ilmiah yg mengakibatkan kegalauaan akademik. Was-was, resah, cemas, khawatir dan gelisah saban mau ke kampus untuk memenuhi tuntutan akademik.

Namun yang namanya hujan pasti ada berhentinya, demikian juga dengan kemarau pasti ade ujannye. Akhirnya, Prof ane manggil (melalui Negara lain lagi, Austria). Setelah ketemu, semua galau akademis mulai sirna pelan-pelan, dan hal yang paling membuat ane terkesan dengan state Prof ane, beliyau bilang, semua harus dikerjain, kerja dan kerja, perkara hasilnya? Kalo bagus, Alhamdulillah, kalo jelek? Ane sudah memperoleh sesuatu dari kerja tersebut, justeru dari jelek or salah tersebut banyak hal yg bisa ane pelajari. Begitu kata beliyau. Finally, untuk minder ilmiah juga mulai berkurang, bahwa dengan adanya kejadian FD-1 akibat gempa besar di Jepang, menunjukan bahwa elmu itu emang gak ade batesannya, setiap peristiwa dalam kecelakaan adalah momentum untuk terus memperbaiki performa, prosedur dan aturan, termasuk juga sosial budayanya. Jadi, bener emang yg ane kerjain ternyata bukan sia-sia, dan masih banyak ceruk-ceruk yang harus diarungi. Dengan mantafnya kondisi akademik dan ilmiah, guna mempertahankan state kondisi, terpaksa beberapa kegiatan yg bisa dikatakan menyita waktu, fikiran, tenaga dan perasaan terpaksa ane shutdown juga, biar focus ceritanye. Apa lagi, kegalauan akademik dan minder ilmiah emang lagi mewabah di kampus tempat ane ngajar, dan persoalan yg muncul lebih banyak kea rah non-teknis, termasuk kerjaan yg perlu dikerjakan gak dikerjakan, dan yg gak perlu dikerjakan malah dikerjakan, dari pade puyeng, dan malu sama rakyat, ya sudah ditinggal saja dahulu. Tokh kewajiban ane kan buwat institusi yg nyekolahin ane. Terusan, telah dua bulan ini ane lakonin kewajiban ane di kampus, ternyata ada sesuatu yg ane sesali kenapa gak dari dulu dilakonin, yaitu “kekeluargaan” yg dimiliki oleh temen2 di AHTRG (http://appliedheattransfer.wordpress.com) dengan kehangatan, team-work dan flexibility yg menjadikan cikal bakal bagi institusi riset bergengsi di masa depan.

Alhamdulillah, seperti Sensei ane bilang, bahwa emang ane harus melalui proses semacam di atas dalam ber-studi, dan beliyau bilang jangan berkecil hati, pengalaman adalah guru yg terbaik, dan pengalamanpun gak kudu yg bagus2 saja, tapi termasuk yg jelek2. Thanks berat buat Sensei ane yg gak henti-henti memotivasi dan menegur dikala ane lengah dan teledor. Semoga keminderan ilmiah dan kegalauan akademik yang mengarah pada disorientasi cita-cita bisa ditepis berbasis pengalam jelek yang kemaren-kemaren. Please Allah help me and blessing me, also for the people I respect, I care and I care about.

17 Desember 2011, Gunungsindur Bogor.

thanks to: Hedriawan Anandaputra-DTM FTUI (yg ude ng-state galau akademik)


Aksi

Information

8 responses

17 12 2011
Ayie

Hahahahahaa………………………….Mantaaafffff………….

17 12 2011
juarsa

makacih chayang…

18 12 2011
zooky

uuuuhhhhhhhuuuuuuuuuuuyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy………………………..

18 12 2011
juarsa

Uhhuuyyy..juga pak kajur TM hehehehe….

19 12 2011
soedardjo

bagus

19 12 2011
applied312

terimakasih pak Dardjo

7 07 2012
Gi'e

Gak usah risau! Sesungguhnya itu soal mudah,. Robah main set aja kang!
Contoh: Radiasi Nuklir identik dengan “bahaya”, coba dirubah, Radiasi Nuklir menjadi sumber energi. so tinggal cari “converter Radiasi Nuklir ke apapun?”
Yang umum pendinginan menggunakan air, coba lainnya keq biar bisa suden death gitu! Sok tahu ya kang?! Maaf soale lagi galau juga nih. maaf lagi ya kang……….

7 07 2012
juarsa

its oke…thanks berat Gie…sukses selalu untukmu ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: