Teknologi Nuklir, karena Bahaya Radiasi, masih perlukah?

17 03 2011

Opini Pribadi

Tentang Radiasi, sampai detik ini belum ada IPTEK yang mampu menghilangkan atau menetralkan radiasi sehingga aman untuk tubuh dan lingkungan. Sementara, tayangan di Metro TV (jam 18.30 an deh), terkait diskusi kecelakaan nuklir, salah satu pakar nampak bangga menyatakan: “pake saja sumber energi alternatif lainnya dan Indonesia-kan kaya akan sumber-sumber energi tsb.”, tapi kenyataannya yg kita rasakan bahwa pemadaman listrik selalu timbul dan menunjukkkan kekurangan pasokan listrik.

Sementara, pengeboran minyak dan gas, juga batu bara, masih melibatkan orang asing (karena teknologinya gak pernah bener-bener kita kuasai secara utuh), dan ini memang selalu terjadi. Yang berarti sebagian hasil tambang juga dinikmati asing, dan di export  ke LN oleh kita sendiri. So, jika semua energi tsb digunakan untuk menjadikan surplus cadangan listrik, saya yakin PLTN akan menjadi opsi yg paling buncit dan mungkin enggak diperlukan. Kembali pada omongan sang pakar bahwa sumber-sumber energi lain masih banyak, sementara kenyataannya adakah hal ini telah menutupi kekurangan energi kita saat ini? khususnya untuk listrik? Kalimat-kalimat seperti itu sudah sejak saya duduk di bangku SMA didengung-dengungkan (20 tahunan deh), namun sekali lagi, tetap saja itu hanya seakan jadi lips bahwa kita kaya sumber energi, tapi cenderung untuk menjualnya dan tidak bisa merealisasikannya untuk kebutuhan energi nasional. Nasib PLTN juga akan makin parah untuk di realisasikan jika pola fikir masyarakat hanya cukup dengan “nyanyian-nyanyian” kita kaya berbagai sumber energi namun sama sekali belum mengoptimalkannya dan cenderung lebih senang membeli teknologi, ketimbang membuat teknologi sendiri. Contohnya pembangkit-pembangkit listrik lainnya juga sebagian besar kita beli. Ingat kan Nurtanio? Jika saja program industri pesawat kita tidak di intervensi maka tidak akan menjadikan keadaannya seperti seakrang ini, dimana pesawat-pesawat komersial dari LN yg di beli oleh maskapai Nasional mungkin tidak akan terjadi dan cenederung menggunakan produk dalam negeri.

Saya hanya menyayangkan, bahwa kejadian di Fukushima disikapi dengan phobia seperti itu, sementara sebagian besar dari mereka (para ahli yang terlibat langsung dengan kejadian maupun organisasi terkait) masih harus menganalisis, menjelaskan, dan menguraikannya secara benar dan faktual berbasis konsep-konsep ilmiahnya, bukan kata koran, pakar jadi-jadian atau berita-berita tertentu. Biasanya, kejadian kecelakaan akan dideklarasikan setelah beberapa waktu tertentu setelah diperoleh validasi dan kesimpulan akhir. Seperti kecelakaan pesawat saja perlu waktu maksimal tahunan untuk disampaikan ke publik tentang fakta-fakta di balik kejadian secara ilmiah. So, teralu dini menjustifikasi kecelakaan nuklir di Fukushima sehingga muncul output: no nuclear power. Meski kita juga tahu, bagaimana efek akibat radiasi dan pengerahan massa yang begitu besar untuk di evakuasi serta bahayanya terhadap ke ekologi dan lingkungan. Yang perlu juga dicontoh dari kejadian tersebut, bagaimana suatu teknologi masih memiliki kondisi kritis dan kelemahan yg sama sekali belum terfikirkan sebelumnya (ini memang sifatnya manusia, mau Jepang kek, Indonesia kek, Amerika kek, sama saja). Dan setiap kejadian kecelakaan atau malfungsi dari suatu teknologi akan dijadikan bahan evaluasi untuk perbaikan desain dan peningkatan fungsi ke depan (hal ini akan terwujud jika para pakar atau ilmuwan tidak hanya ngoceh dan bereferensi dari Koran/Berita bukan dari fakta ilmiah dan kejadian yg faktual, tapi melakukan riset seutuhnya). Sebagai contoh, bahwa kecelakaan pesawat sering terjadi, namun orang tetap naik pesawat karena kebutuhan. Dan PLTN memang harus terkait dengan kebutuhan energi, dan bukan untuk ambisi. Butuh energi listrik dari nuklir atau tidak, hanya masyarakat pengguna energi yg tahu, dan itu termasuk kita-kita juga. Keputusan akhir ada di pemerintah, termasuk resiko-resiko yang bakal muncul dari penggunaan suatu teknologi (contoh kasus: Black Berry dan Menkominfo). Kembali ke tulisan pertama, bahwa bahaya radiasi adalah sesuatu yg paling mengerikan, selain radiasi tidak berbau, tidak terasa, tidak terlihat namun efeknya luar biasa dan destruktif jika berlebih dari ambang batasnya (minum obat berlebih juga akan mengalami resiko membahayakan). So, kita tinggal lihat catatan statistik jumlah korban akibat radiasi nuklir di dunia, dibandingkan dengan kecelakaan dari penggunaan teknologi lainnya. Life is a risk, but we should always minimize the risk and it is impossible to eliminate them. To minimize it, we will need a common sense, a mental health and a good knowledge in certain fields. Tetapi, kejadian bencana tidak ada yang bisa memprediksikan kapan terjadinya dan sebesar apa.

Terkait bencana nuklir (nuclear disaster), dimana kejadian TMI-2 (1979) sama sekali tidak dipicu dari kejadian bencana Gempa dan Tsunami, tapi akibat human error dan kegagalan fungsi kendali setelah dipicu oleh kegagalan pompa disistem sekunder. Sedangkan, kejadian Fukushima (2011) dipicu oleh gempa dan tsunami, namun proses thermal recovery mengalami kegagalan dan tentunya ini karena kondisi darurat, dimana fungsi alat tidak bekerja karena bencana. Saya sih lebih seneng memelototin “kegagalan sistem pendingin” darurat yg mereka lakukan, meski tekanan diturunkan dengan melepaskan uap (memventing)  yang mengandung material radioaktif dan hydrogen (akibat panas berlebih pada cladding Zirkaloy) via katup pembebas (relief) atau pengaman (safety) serta air laut diguyurkan ke dalam reaktor, kenyataannya termal masih eksis. Kalau efek kegagalan pendinginan dan fuel damage kemudian radiasi terlepas ke lingkungan, semua orang sudah tahu dengan urutan itu. Persoalannya adalah kejadian Fukushima, adalah kegagalan manajemen termal yang memicu kegagalan manajemen penahan radiasi ke lingkungan. Sedangkan manajemen teras, dianggap berhasil (aspek pembelahan inti, dengan dimasukkannya batang kendali_shutdown).

Semoga kejadian darurat nuklir di Fukushima yg dipicu oleh bencana, memberikan bahan-bahan untuk kita (khususnya ilmuwan/akademisi dan peneliti) bahwa multi-failure itu benar-benar terjadi dan semua kajian atau riset tentang fitur keselamatan PLTN perlu ditambahkan dan ditingkatkan berbasis kejadian Fukushima.

Persoalan PLTN mau di bangun atau tidak, saya fikir bukan urusan kita-kita dan jangan menjadikan kita patah arang, riset nuklir baik untuk aplikasi dalam bidang-bidang lain dan khususnya energi nuklir masih perlu dilakukan. Kecuali, jika dan hanya jika badan dunia PBB melarang penggunaan teknologi nuklir dalam bentuk apapun di dunia ini dan IAEA dibubarkan, maka sebaiknya kita pensiun dini saja, menjadi pengajar, jadi wirausaha, TKI atau buka warung nasi.

(belum ngilmiah, non-teknis)

17 Maret 2011, Bogor.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: