Datang dan Pergi: Sebuah Reposisi Sosial

16 01 2011

Hingar bingar pemilihan kepala daerah, dari ketua RT sampai ke Presiden akan selalu menarik perhatian publik, bak menonton laga sepak bola, masing-masing pendukung akan mengunggulkan “jagoannya” untuk menang dalam laga, yang menang akan larut dalam kegembiraan dan yang kalah akan larut dalam kesedihan dan kekesalan. Seperti sepak bola juga, pemilihan ketua daerah, tentunya terbagi dalam strata liga, liga kecil, liga menengah dan liga utama. Liga kecil, bisalah saya sebut untuk pemilihan ketua RT sampai lurah, liga menengah untuk bupati/walikota dan gubernur, sedangkan liga utama adalah pemilihan presiden dan wakil presidennya. Kontribusi hingar bingar hingga keuangan akan naik seiring tingkatan pemilihan, ada dibeberapa daerah untuk ketua RT dan RW akan memerlukan uang dalam prosesi pemilihannya, dan uang disini tentunya untuk biaya administasi pemilihan dan iklan. Daerah yang syarat dengan penghasilan dari retribusi bangunan, pedagang dan tambang akan menyedot perhatian dan kekhususan bagi calon2 ketua/kepala. Namun, untuk liga kecil, syarat politis masih belum begitu diperlukan. Karena kepentingan yang muncul pada liga kecil, sifatnya hanya sesaat. Barulah, ketika strata pemilihan naik, dimulai dari liga menengah ke liga utama, syarat politis menjadi syarat pokok bagi peserta pemilihan, dan hal ini akan linier atau malah eksponesial dengan kebutuhan uangnya sebagai biaya pemilihan yang bersifat politis. Berbagai ragam cara akan dilakoni untuk menjadi juara, dari yang per-peran sampai yang curang-curangan, ini memang sangat bergantung kepada mentalitas sang calon dan tujuan pokok sang calon untuk menjadi pemimpin. Bagi masyarakat sendiri, kehadiran “konser” pemilihan kepala daerah dan Negara pada zaman sekarang, lebih sebagai kagiatan yang bisa dikatakan semi-wajib untuk mengikutinya, dan terkadang bagi sebagian masyarakat akan menjadi hiburan semata, seperti nonton bola tadi. Prediksi atau perkiraan siapa sang juara/pemenang akan menjadi menu utama bagi masyarakat saat sedang di kedai kopi, di tempat kerja dan amalah di dalam kendaraan umum. Kekecewaan masyarakat akan proses pemilihan yang begitu berbelit-belit dan ternyata memakan dana yang tidak sedikit terkadang pula menjadi isyu dan bagian dari dinamika masyarakat itu sendiri, untuk setelah pemilihan berlangsung, kita semua akan kembali kepada rutinitas dan aktivitas menjalani kehidupan dan bekerja. Lupa dan mungkin sudah tidak mau mengingat “proses” yang terjadi selama pemilihan lalu berlangsung. Tanpa kita sadari bahwa, keadaan dalam proses masyarakat sedikit banyak mengalami perubahan oleh kebijakan dan peraturan yang dibuat oleh para pemenang liga tersebut. Indikasi ekonomi dan kesulitan hidup biasanya akan menjadi parameter pokok dalam mengukur perubahan social yang muncul dari kebijakan dan peraturan yang dibuat oleh pemimpin, khususnya untuk pemenang dari liga menengah dan utama.

Sejak republic ini didirikan dan pemilihan dilakukan, model dan ragam cara untuk melakukan pemilihan telah mengalami berbagai modifikasi dan perbaikan. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah, adalah janji-janji manis atau iklan-iklan yang semakin menarik dan pada akhirnya sulit untuk dibuktikan secara keseluruhan menjadi konsumsi masyarakat dan berakibat kepada masyarakat yang notabene adalah pemegang suara yang disumbangkan bagi pemenang. Sebagian kelompok masyarakat dan biasanya ini tidak besar, atau bolehlah disebut golongan tertentu, yang memang merupakan golongan masyarakat yang mendorong dan menginginkan “jagoannya” untuk memang akan segera mengalami reposisi social. Mereka tidak akan segan melakukan apa saja dan menyumbangkan apa saja, asal jagoannya menang dan kepentingan mereka dapat diakomodir oleh jagoannya jika kelak menang. Kita banyak belajar dari sejarah, ketika terjadi pergantian pemimpin, sebagian besar golongan masyarakat yang berada pada lingkar mantan pemimpin akan mengalami perubahan strata social dan malah lebih cenderung untuk dibatasi ruang lingkupnya, terkadang ada juga yang dikejar-kejar oleh hukum. Padahal saat, jagoannya berkuasa, golongan ini sangat sulit disentuh oleh hukum. Namun, masih ada juga yang memiliki kesaktian dan masih sulit didekati hukum. Karena biasanya mereka itu memegang kartu truf pemimpin yang baru. Bagi mereka (golongan dan pemimpin), reposisi sosial yang terjadi pada setiap pergantian pemimpin biasanya sudah diantisipasi dengan melebarkan dan mengguritakan antek-antek atau agen-agen yang akan memberikan kesinambungan kekuasaan dan keleluwasaan untuk hidup di atas aturan dan hukum. Bagi anggota golongan yang kurang loyal dan kurang bermodal, biasanya tidak akan diselamatkan dan cenderung akan dijadikan kambing hitam untuk menutupi dosa-dosa masa lalu. Meskipun reposisi sosial terjadi pada mereka, masyarakat tetap pada persoalan hidup yang disibukkan dengan aturan dan perjuangan untuk mempertahankan hidup, masyarakat umum tidak akan pernah mengalami reposisi sosial. Datang dan perginya pemimpin melalui aksi pemilihan, bagi sebagian besar masyarakat adalah seperti menyaksikan kekalahan atau kemenangan dalam suatu pertandingan atau merayakan pergantian tahun, dimana setelah acara selesai mereka akan kembali kepada kehidupan nyata dan rutinitas. Sementara bagi pemain yang menang dan kalah, akan ber-musyawarah untuk kepresisian dalam reposisi sosial mereka.

Reposisi sosial pada tatanan atau strukutur di bawah pemenang pemilihan biasanya terjadi secara ekstrim, sudah menjadi konsumsi umum, bahwa semakin banyak kontribusi para golongan pendukung terhadap pemenang, maka reward dalam posisi-posisi di dalam strukutur akan semakin besar dan menggiurkan. Soal kredibilitas dan akuntabilitas, hanya dijadikan lips saja saat aksi pemilihan terjadi, pada kenyataannya, yang loyal dan berkontrubut banyaklah yang akan memperoleh posisi sosial yang tinggi. Sulit bagi si pemenang untuk memberikan posisi bagi kalangan di luar golongan yang notabene kurang berkontribusi di dalam pemilihan yang padahal terkadang lebih unggul dalam kredibilitas dan akuntabilitas untuk mengisi posisi tertentu. Kenyataannya yang ada, dan jika memang harus ada, maka persentasenya hanya sebagian kecil dari sejumlah posisi yang ada. Alhasil, reposisi sosial dikalangan pendukung utama dan pemimpin akibat datang dan perginya sang pemimpin tidak memberikan dampak terhadap reposisi sosial pada masyarakat secara umum.

Pergantian posisi jabatan dibawah strukutur sang pemenang, selain ekstrim terkadang penuh dengan kepentingan sesaat dan kurang didasari pada pertimbangan kepentingan umum. Karena perjuangan yang dituju adalah melanggengkan suatu golongan untuk tetap eksis pada strata sosial yang paling tinggi di masyarakat, kalau perlu di atas hukum sendiri. Namun, ada pula, reposisi yang dilakukan tetap didasari atas pertimbangan professional dan kepentingan kemajuan bersama, dan lumrah juga, bagi yang tergantikan posisinya akan berada pada posisi yang oposan, dan cenderung menkritik dan menghujat. Padahal, dengan menjadi oposan yang terkadang didasari aksi sakit hati, malah akan mengganggu perbaikan yang dituju melalui reposisi. Perubahan dari pendukung menjadi oposan juga bagian dari reposisi sosial tentunya. Menghadapi reposisi sosial dari setiap pergantian pemimpin selayaknya disikapi dengan dewasa dan lapang dada, yang terpenting reposisi sosial yang terjadi akan juga berlaku kepada masyarakat, yaitu naiknya tingkat kehidupan masyarakat baik materiil dan morilnya, sehingga semual elemen masyarakat dan para pemimpin sama-sama mengalami reposisi sosisal ke arah yang lebih baik.

Meskipun pemilihan kepala daerah atau pergantian pemimpin, bagi sebagian masyarakat awam bisa dijadikan sebagai tontonan yang manarik dan mungkin berikutnya akan terlupakan, namun perlu diingat oleh sang pemenang, bahwa masyarakat akan selalu bertambah kecerdasannya dan akan semakin kuat kewenangan mereka dalam memberikan nilai terhadap kinerja para pemenang. Akibatnya bagi sang pemenang atau pemimpin baru yang mengabaikan sifat masyarakat tersebut, maka nilai nol atau “ketidak percayaan” terhadap para pemimpin akan hilang, dan tentunya pada laga berikutnya tidak akan dilirik atau dipilih lagi. Pemilik suara dan pengawas adalah masyarakat, dan selayaknya mereka juga mengalami reposisi sosial ke arah yang lebih baik dan kualitas hidup yang meningkat sebagai perubahan fase akibat datang dan perginya pemimpin dan sekali lagi bukan sekedar untuk golongan tertentu saja.

Minggu, 16 Januari 2011 (04:06)

 

Sumber foto :

– http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1286368505/pemilihan-ulang

– http://kpupesisirselatan.blogspot.com/2010/10/pelantikan-pps.htmll


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: