Ngejawab Email soal “PROVEN” (Re-Posting)

19 11 2010

Pertanyaan ttg proven :

Kalo kita buka kamus inggris-indonesia (di internet aja), proven : teruji, terbukti. Maksudnya sudah jelas sesuatu yg telah terlihat hasilnya setelah mengalami waktu tertentu tanpa perubahan konsep awal dan berjalan seperti yg diharapkan, sesuatu yg kekuatannya telah diuji (meski dalam hal ini part by part).

Terus kalo baca PP No.43 Tahun 2006, pasal 4 ayat 2, bunyinya gini nih:

“Yang dimaksud dengan teknologi teruji (proven technology) adalah teknologi yang digunakan dalam suatu desain yang telah terbukti melalui pengalaman operasi reaktor paling singkat 3 (tiga) tahun secara selamat dengan faktor kapasitas rerata minimal 75% (tujuh puluh lima persen)”

Jelas sih kalo baca sepintas, kayaknya cuman pada variable waktu dan daya saja. Dimana kalo kita ngidupin reaktor dengan daya minimal (rata2) 75% ampe 3 tahun, terus enggak ada accident atau incident dapat dianggap teruji. Ternyata gak itu aja maksudnya, padahal kalo kita mau jeli, proses izin dari tapak, konstruksi, komisioning, operasi/komersial, ampe dekomisioning semua harus melewati izin tiap tahapnya. Otomatis semua kudu melalui proses pe-nguji-an (di-proven-in kali ye) untuk semua variabel yang berpengaruh dan terikat pada setiap tahapan dan bersifat lampau setelah dioperasikan selama 3 tahun. Contoh tahap tapak, variable seimik, geologi, dsb. Tahap konstruki, uji material dan keandalan system, dsb. Jelas semua kudu di UJI atai di PROVE, terus dikasih lisensi kalo lolos proses PROVE.

1.    Tolong definisi proven disini seperti apa ya? apakah PLTN yang sudah komersial dan dipakai dibanyak negara yang dioperasikan sampai saat ini belum dikatakan proven?

Kalo definisi saya (saya loh), kayak yg di atas saya tulis itu, soal PROVEN. Jelas udah proven dong, skalanya pake daya minimal (rata2) 75% terus udah lebih dari 3 taon.

2.    Apakah standar designya reaktornya dengan menggunakan data gempa terbaru bisa dikatakan proven? atau ini jadinya proven terhadap gempa? jadi nunggu gempa dulu berkali-kali baru proven? Mengacu ke gempa di Kashiwazaki Jepang, apakah PLTN tersebut belum bisa dikatakan proven?

Kalo soal data terbaru, tentunya skala gempa make skala sejarah gempat terkuat pada suatu tapak. Ya gak lucu kita maksain bangun reactor di daerah yg emang gempanya (sejarahnya) pernah gede banget. Kalo bicara gempa, kan sebenernya bicara goyangan (ada yg naik dan turun, dan yg kiri-kanan), teknologi keselamatan reactor emang ngacu pada aspek kelakuan system thermalnya terhadap “goyangan”, selain secara mekanik juga, misalnya tidak mematahkan pipa pendingin yg bisa mengarah kepada kebocoran air pendingin (misal PWR) di system primer akibat goyangan gempa. Kualitas bahan terkait sifat elastisitasnya jelas diperhitungkan untuk menghadapi kondisi seperti itu, belum soal korosi, perubahan bahan akibat paparan panas dan radiasi (di primer). Soal di PLTN KK (KashiwazaKi), memang muncul data baru tentang pergerakan tanah yg melewati batas desain pergerakan tanah (bdpt). Dari sini emang jelas, balik ke proven, bisa saja kita berkilah, “kok gak proven?” , “kok masih ada radiasi yg keluar?”, tapi kalo kita udah gak percaya orang2 kita, minimal deh kita percaya ame hasil investigasi IAEA tentang besaran radiasi yg keluar ternyata masih di bawah ambang keselamatan. Buka aja http://www.iaea.org/ terus masukin judul “Kashiwazaki” di search, banyak tuh dokumen2 yg nyeritain soal gempa dan akibatnya. Jadi proven tentunya berdasarkan kondisi lampau.

Soal gempa berkali2 ngehantem reactor nuklir, bukannya enggak ada, banyak malah, reaktor2 di jepang hampir tiap hari kena gempa. Tapi yg angkanya melebihi bdpt, baru reactor KK (kalo ada yg lainnya mohon tambahin deh). Dari situ pelajaran mahal bagi desainer reactor (bukan soal generasi reaktornya aja) , skala ketahan gempa untuk reactor praktis ditingkatkan, tentunya untuk reactor generasi sejenis tapi belum dibangun akan ada adjust terhadap beberapa parameter. Bisa saja kita berkilah, meski ada gempa yg melebihi skala desainnya, toh reactor enggak meledak kayak Chernobyl. Persoalannya, sampe saat ini belum ada mekanisme iptek yg bisa pasti memastikan skala gempa tertinggi dan kapan gempa muncul. Tengoklah Aceh, siapa sangka? Padang? Padahal dengan adanya gempa kemarin, saya enggak denger tuh PLTU atau system pembangkit konvensional rusak parah atau trafo atau system pendinginnya meledak? Padalah standar industry dan perizinan PLT konvensional di bawah PLTN. Yang ada kapal PLN, naik ke atap rumah orang.

3. Kalau pengertian proven disesuaikan dengan negara( kondisi gempa misalnya-red) maka tidak ada yang namany proven universal. Dan apabila proven disini diikuti dengan kudu adanya pembuktian hasil2 terbaru, yang kejadiannyapun belum terjadi. Artinya tidak ada yang namanya teknologi proven, tapi yang ada adalah teknologi kadaluarsa,solanya proven berdasarkan waktu, seperti makanan sudah tidak layak makan.

Saya setuju banget tuh, soal proven terkait waktu ke depan gak ada (bahasanya aja TERUJI, alias udah di UJI), sekali kali proven disini terkait waktu kebelakang (lampau), kan bunyinya setelah 3 taon. Seperti yg dinomor dua, gara2 ada masalah pada PLTN KK karena melebihi bdpt-nya, maka ketika mereka mau bangun baru reactor sejenis dan se-generasi tentunya adjust didesain dilakukan terkait data baru tadi. Kalo yg lama mah kan udah dimatiin. Kalo kita bakal beli reactor sejenis dan modelnya udah proven (udah ada dan dioperasikan), tetep yg dibangun yg baru plus adjust2 tadi selama anomaly yg muncul dalam pengoperasiannya di lampau. Saya kadang juga suka bingung, kalo kita yakiin banget bahwa ada PROVEN ke masa depan kayak yg udah pasti, sekali lagi kejadian gempa di Sumatera dan Jawa akhir2 ini, sebelum kejadiankan gak ada yg nebak atau mastiin. Namun, minimal deh meski kita enggak tahu “kapan”nya dan “berapa” besarnya, dengan negok lagi ke belakang (PLTN KK) tadi, skala gempa pltn yg mau dibangun angkanya akan dibuat ekstrim (dan ini emang filosofi di desain keselamatannya) meski akan berdampak kepada biaya (akan membengkak, dan kalo gak ekonomis ya udah ngiler lagi).

4.    Mohon pandangannya, memisahkan design reaktor core, design thermal hydrolic dan turbinnya, serta design bangunannya apakah tahan gempa kekuatan berapa sekala richter atau kuat ditubruk pesawat boing 737 bisa dikatakan proven.

Sepengetahuan saya emang gak ada eksperimen skala 1:1, seperti menabrakkan pesawat 737 ke salah satu PLTN di amerika misalnya, atau saat turbinya beroperasi di goyang2 dengan mesin  uji yng memiliki skala gempa tinggi banget, dsb. Yang pernah ada cuman 1, yaitu Chernobyl, meskipun eksperimennya bertujuan untuk menghemat BB dan bisa menghasilkan plutonium yg banyak. Toh dunia belajar dari situ bahwa eksperimen skala 1:1 diharamkan (lihat lagi di internet akibat Chernobyl, itulah sosok yg mengerikan dari kecelakaan nuklir, tapi lihat juga penyebabnya, biar per). Makanya dalam eksperimen, para pakar  nuklir di dunia pake scale-down dan tentunya gak kan persis banget dengan skala 1:1-nya, via eksperimen yg diskalakan, hasil2 (korelasi) dimuatkan dalam bentuk kode2 komputer, sehingga riset berjalan dua arah, eksperimental (empiric) dan simulasi computer. Kalo nanya bukti pertanyaan No.4, ya gak ada lah. Tapi kalo nanya bukti part by part di ujikan atau yg scale-down ada, tinggal cari deh di jurnal2 riset internasional soal riset tek.keselamatan nuklir. Pesawat terbang aja yg ada riset skala 1:1, tetep aje dari tahun ke tahun ada yg jatuh dan memakan korban. Tapi apakah saat kita ke Yogya dan kudunya naik pesawat karena waktu mau seminar mefet, terus jadi anti pesawat yah enggak, trus dari pada kreta api yg 8 jam, tetep aje kreta juga ada kecelakaannya. So, PROVEN ke masa depan gak pernah ada. Semua rahasia yg nyiptain alam. Semua ilmuwan hanya bisa menebak (estimasi) dengan pengalaman empiricnya (uji lampaunya) dan berdasarkan data2 anomali dari setiap kejadian di lampau. Jadi kalo saya ditanyian apakah PLTN aman? Saya jawab tidak, karena parameter masa depan hanya bisa diestimasi saja dan gak ada angka pastinya. Tapinya, kita juga kudu jujur, kalo ditanya: apakah pesawat terbang, kapal laut, mobil, sepede motor dan sepede gowes…dikatakan AMAN? Pasti enggak juga, karena gak pernah ada berita bahwa tidak pernah ada pesawat yg jatuh atau kapal laut yg tenggelam kan. Semua manusia masih menggunakannya meski tahu resiko ketidak amanannya ada. Karena apa??? Karena kebutuhan bukan, butuh transportasi. Maka kalo bicara soal energy, mari kita juga mempertimbangkan ke soal kebutuhannya, bahwa bangsa ini butuh energy banyak. Sumber2 energi terbarukan lainnya kan belom dimanfaatkan? Iya emang, dan kita bisa mix semua, tinggal cari yg suplay energy-nysa agak konstan, terus kita jadiin “backbone”-nya system energy nasional, jadi biar gak biar pet, bukan soal kuantitasnya aja, tapi stabilitas penyediaan suplay energy. Misal, batu bara lagi syusah nyari, terus laut dan angin lagi kenceng2nya, pratktis transportasi batu bara terganggu, supply energy terganggu. Kalo dijadiin backbone batu bara sulit rasanya.

5.  Mohon juga pandangannya, bahwa bahaya radiasi itu terletak pada sistem kontainment core reaktor, yaitu pada bagian fuel pin, fuel assembly,reactor vessel, ditambah dengan pelindungan reaktor beton plus bagunan itu sendiri. Kalau gempa berapapun besarnya, bahan bakar plus radiasinya masih terkungkung dalam vessel dan reaktor dengan sendirinya shutdown sendiri, dan   core reaktornya tidak mengalami pelelehan, maka reaktor tersebut bisa dikatakan proven?

Standar keselamatan dalam reactor, berbasis pada tiga pilar yaitu pengontrolan reaktivitas (neutronik), pemindahan panas (thermal hydraulics) yang berlebihan dari inti reaktor dan menjaga/menjamin agar material radioaktif tidak keluar (pertahanan berlapis). Maksudnya adalah, meskipun reaktivitas dikendalikan dan reactor bisa dipadamkan, decay heat selalu ada (dibawah 10% deh), disini peran thermal hydraulics jadi dominan, karena konsepnya bagaimana2 caranya dengan waktu yg cepat dan kondisi tepat agar kelebihan panas bisa dibuang dari system atau diturunkan dari system, sehingga tidak ada panas berlebih di teras (meski padam) yang kalo tidak terjaga akan menyebabkan fenomena pendidihan muncul, yg tentunya akan mengarah ke persoalan burnout, kalo udah burnout alias gosong, dimungkinkan cladding leleh (kejadian TMI-2). Tapi kalo system bisa cepat2 kita dingingkan, dan fenomena boiling tidak terjadi, endak ada panas berlebih diteras yg sedang padam. Reaktor save. Saya setuju unsur radioaktif juga ada di dalam air pendingin primer, sebagai hasil belahan fisi, dan nilainya lebih rendah dibandingkan fuel dari cladding ke luar karena patah atau melting. Dan radiasi emang ada di mana-mana, di sekitar kita jelas radiasi ada, radiasi dari kosmik. Sebagai gambaran, asal cairan pendingin di system primer bisa dijaga untuk tetap pada temperatur di bawah saturasi, maka tidak akan mengarah ke boiling. Tapi, kalo sudah berlebih, alias temperatur cairan pendingin (air, misalnya) berada pada saturasinya, maka fenomena boiling akan menjadi dominan, kondisi saturasi pada air adalah kondisi dua-fasa (two-phase), prosesnya boiling, dalam boiling seiring inputan kalor yg konstan dari decay heat reactor yg padam ke cairan, maka lama-lama perubahan rejim pendidihan dari didih inti, ke-didih transisi dan didih film, sementara cairan tidak mengalami penuruan temperature, akan terjadi.Celakanya kalau sampai film boiling dan bertahan terus2an tanpa adanya pendinginan, cladding akan akan naik temperturnya, dimulai dari burnout dan titik leleh cladding akan terlampaui. Belum lagi munculnya hydrogen selama film muncul, yg justeru bisa menyebabkan terjadinya ledakan di teras (jika ada oksigen yg masuk). Dengan memahami sifat termal fluida pendingin maupun material lainnya, pengendalain termal bisa kita lakukan, tentunya kalo soal kepanasan, cara kita adalah cepet2 ngedinginin. Hal sederhana ini juga terjadi dengan kita, kalo badan kepanasan, maka kalo kita enggak buka baju terus ngidupin kipas angin juga belum ilang itu gerahnya, paling kalo ada sungai kita berendem di situ atau di bak kamar mandi. Persoalan termal pembangkit konvensional non-nuklir dengan nuklir bedanya adalah, bahwa nuklir mengatur dari 100% ke arah bawah, sedangkan non-nukir dari bawah ke 100%. Ini yg lumayan unik menurut saya.

Maaf kalo saya kepanjangan menjawabnya. Saya bukannya nuklir minded, saya lebih seneng mikir bahwa kita butuh energy terserah energy apapun itu, yg penting kita enggak “biyar per” dan “sumber energy untuk memicu ekonomi, tersedia dengan melimpah”, Tengoklah yg mudik, mereka butuh mudik apapun caranya dilakonin, padahal angka korban selama mudik lumayan terbilang tinggi dari tahun ket tahun, enggak ada yg gak kapok tuh, dan diulang terus2an. Tapikan PLTN gak kan nekad seperti kasus mudik bukan?

Meskipun, semua peralatan yg diciptakan manusia memiliki resiko dan bahaya, yg tentunya akan mengancam keselamatan manusia, tetap bahaya radiasi adalah sesuatu yg mengerikan, tidak tercium, tidak berwarna dan tidak terasa, tahu-tahu sudah teradiasi. aja Justeru dari sifat radiasi tersebut, konsep, perhitungan, analisis di bidang nuklir bukan pekerjaan asal-asalan, dan tentunya dengan step2 perizinannya dan pengawasannya baik nasional , LSM dan internasionall, para ahlinya bekerja dengan seriyus. Belum lagi PROVEN-nya. Apakah PLTU Batu-bara ada Provennya? Atau kalo mau per, bahwa disekitar PLTU Batubara, polusi udara tidak boleh melebihi ambang batas pencemaran? Pastinya ada juga bukan. Juga dengan pembangkit lainnya.? Sama saja, yg jelas KITA BUTUH ENERGI.

Salam energi,

Mulya Juarsa

Mahasiswa Pascasarjana DTM-FTUI

(re-posting, 7 Oktober 2010, dari halaman “Flash Nuklir”)

 


Aksi

Information

3 responses

19 11 2010
juarsa

just testing, to show my new gravatar.

3 11 2011
Bambang Riyono

Wah menarik juga postingnya ini sensei, tapi mungkin ada beberapa perkembangan terbaru sepanjang yang saya ketahui, diskusi tentang proven technology yang di jadikan acuan tersebut mengacu pada PP 43/2006 yang saat ini sedang dalam proses revisi, yang rencananya akan diganti dengan Perizinan Instalasi nuklir yang muatannya juga termasuk juga perizinan reaktor nuklir, kemudian khusus untuk penjelasan tentang proven technology wah diskusinya alot and sengit he he he, kemudian kayaknya mulai mengerucut pada dua hal yaitu untuk reaktor yang bener2 baru (belum ada yang beroperasi, tetapi telah mendapat sertifikasi desain) dan untuk reaktor yang telah berdiri. Akhirnya mulai difikirkan untuk membuat definisi yang lebih moderat sebagai berikut:

Yang dimaksud dengan teknologi teruji adalah teknologi yang:
1. a. telah diterapkan dalam purwarupa (prototype) (dalam hal ini Struktur sistem dan komponen);
b.diuji dalam lingkungan yang relevan atau sesuai dengan kondisi operasi; dan
c. memiliki kinerja yang memadai dalam jangka waktu tertentu; atau

2. dibuktikan dengan telah diberikannya izin operasi oleh badan pengawas negara pembuat.

tetapi sekali lagi yang saya tulis diatas masih subject to change karena belum bener2 final, masih di usulkan, kedepannya jadinya seperti apa kita masih tunggu bersama. semoga bisa menambah info, dan saya juga mohon sumbangan sarannya apabila ada ide lain yang lebih baik terkait penjelasan tersebut.

28 11 2013
Serticol

cialis pictures
cialis online
viagra and cialis side effects submit.pl
– cialis online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: