1 Jiwa Indonesia di Tanah Asing adalah Seluruh Jiwa Bangsa

17 11 2010

Mungkin berita akhir-akhir ini di media massa sangat beragam, dari berita artis yg pindah profesi jadi pemain blue film, artis yg berantem, pelaku koruptor dan para tahanan yg bisa bolak-balik pelesiran meski secara hukum dia sebagai pesakitan. Beragam memang, terlebih bencana kembali menghampiri negeri kita, meski memang kita semua tahu bahwa kita adalah Negara bencana, karena secara geografis berada pada daerah the ring of fire dan daerah pertemuan berbagai lempeng kulit bumi. Bencana tsunami di Mentawai memakan korban jiwa sekitar 447 orang, meletusnya Merapi sekitar 135 orang [sumber : http://nasional.vivanews.com/news/read/187408-korban-tewas-merapi-135-orang–mentawai-447]. Belum kesemua itu ditambah deretan bencana-bencana alam sebelumnya, dari tsunami Aceh, gempa di Sumbar dan Nias, ribuan nampaknya menjadi korban jiwa alias meninggal. Belum termasuk korban Wasior di Papua. Takkan terhitung korban2 luka parah, korban luka ringan dan korbang kehilangan harta benda, semua karena bencana, meskipun ini bukanlah dari kelalaian, tapi cara Tuhan menegur dan mengasihi kita. Kita akan coba terus berhitung secara statistik, kira2 berapa rata2 orang Indonesia meninggal (bukan karena factor alamiah, umur, dan sakit) setiap tahunnya? Mungkin akan ketemu angka yg lumayan fantastis. Sekali lagi ini semua factor alam dan kehendak Illahi. Kita hanya pasrah & nrimo, berdoa, dan berusaha membantu & menolong mereka, sembari terus2an beristighfar bahwa ajal akan selalu menghampiri kapanpun, dimanapun serta dalam keadaan dan waktu yg tidak bisa diduga-duga.

[sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Pacific_Ring_of_Fire.png]

Korban kelalaian manusia sendiri sudah cukup fantastis angkanya, seperti korban kecelakaan lalulintas, yang diperkirakan memakan korban antara 29-50 orang per-harinya atau belasan ribu per-tahun [sumber: Road Safety Association (RSA), dari Detik.com, 23 Novemeber 2009], tidak termasuk yg luka parah dan luka ringan serta kerugian material karena hancurnya kendaraan. Korban-korban kelalaian lain seperti kecelakaan kerata api, kapal laut dan pesawat terbang, karena sebagian besar diakibatkan oleh kelalaian manusia juga menambah daftar korban jiwa di negeri tercinta ini. Begitu mudahnya nyawa melayang karena factor kelalain, meskipun anda dan saya akan sepakat, bahwa ini bagian dari takdir hidup kita sebagai manusia di muka bumi ini. Namun yg perlu dicermati, adalah the way we die, apakah serumit itu atau malah semudah itu? Hanya kecerobohan or kelalaian. Tapi bener sih, bahwa korban kecelakaan trasnportasi, ledakan tabung gas, dan keteledoran lainnya akibat diri sendiri dan sebagian karena prosedur dan aturan tidak kita taati, jadi bukan karena “kesengajaan”.

[sumber : http://langsungenak.com/images/medium/idul-adha.jpg]

Cerita ini memang saya coba kaitkan dengan semaraknya hari raya Kurban (Idul Adha), dimana makna dari hari raya ini adalah diujinya kemampuan manusia untuk mengorbankan sesuatu yg paling dicintai, paling dipertahankan dan paling dimilikinya. Dimana, Nabi Ibrahim AS, menunjukkan kecintaan dan ketaqwaan beliyau untuk mengorbankan anaknya Nabi Ismail AS, hanya semata kepada Allah SWT. Sedangkan di masa sekarang kita sibuk dengan makna simbolik dengan menyembelih hewan2 kurban setiap Idul Adha tiba. Saya fikir tidak sesederhana itu sobat, pengorbanan tidak mesti kita lakukan setiap Idul Adha hanya dengan memotong hewan kurban dan membagikan daging kurban ke semua penduduk (termasuk yg mampu, seharunya hanya kepada kaum fakir saja), pengorbanan seharusnya dilakukan setiap hari dengan iklhas dan berserah kepada Allah, dari 1 Idul Adha ke Idul Adha berikutnya. Perngorbanan akan sifat sirik, sifat dengki, tamak, dendam, keukeuh, marah, dan sifat2 buruk lainnya yg cenderung kita pertahankan karena ego dan kecintaan kita akan duniawi. Berkorban bahwa posisi atau jabatan hilang karena pembenahan dan kebutuhan oleh pihak tertentu, sehingga tanpa harus mengadakan demo-demo yg akhirnya menimbulkan kekeruhan dan konflik juga salah satu cara untuk berkurban. Berkorban dan dikorbankan adalah predikat dan objek, semua tergantung dari subjek untuk makna apa hal tersebut terjadi.

[sumber : http://www.berita8.com/newspic.php?tgl=2010-11-17&id=1504&view=view]

Kembali ke soal berita-berita di mass media, korban jiwa, luka paran hingga cacat dan luka ringan yg terjadi bukan karena factor alam dan keteledoran diri sendiri adalah korban yang timbul pada para tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, saya senengnya nyebut Tanah Asing. Inilah yg lebih memilukan, pada saat mereka, para TKI disebut sebagai pahlawan devisa, tapi disaat yg bersamaan mereka menjadi korban kekejaman para tuan-tuan dan system di tanah asing. Sementara, penyelenggara Negara hanya berusaha dan memperbaiki ketika telah ada korban. Berkilah, bahwa hanya sekian persen (dianggap tidak signifikan) yg jadi korban dibandingkan success story TKI-TKI lainnya, saya anggap sebagai tidak adanya kemampuan perlindungan terhadap jiwa orang Indonesia yg ada di perantauan tanah asing. Musibah yang datang menimpa mereka bukan karena, sekali lagi, keteledoran atau bencana alam, tapi karena kelalaian penyelenggara. Bahwa system sangat sulit untuk melindungi 1 jiwa-pun orang kita yang berada di tanah asing, meskipun setelah terjadi, proses hukum dan keadilan ditegakkan, namun cerita-cerita tersebut masih berulang dan menjadi bagian dari berita di mass media, yg kadang juga hanya mengambil porsi berita yg tidak signifikan dibandingkan cerita selebritis. Hal yang sangat dilupakan adalah, ketika kita baru merayakan hari Pahlawan tanggal 10 Nopember lalu dan hari raya Kurban tanggal 17 Nopember ini, bahwa semua korban harus memiliki makna dan jalannya masing-masing. Betapa para pejuang rela berkorban jiwa untuk meneggakkan bendera merah putih melawan penjajah, namun  dengan semena-mena kita lalai, warga kita menjadi korban di tanah asing dan cerita ini menjadi cerita klasik. Sangat kontradiktif, bahwa korban-korban TKI sepertinya antiklimask dari makna hari Pahlawan dan makna Idul kurban. Mereka merantau sebagai pahlawan devisa, pahlawan keluarga untuk lepas dari jerat kemiskinan, namun malah menjadi korban kekejaman asing, dan ini merupakan bentuk penghinaan yang paling keras terhadap bangsa ini, dibandingkan kita bicara penghinaan soal simbol2 dan batasan wilayah. Dimana sekarang bangsa ini berada? Setumpuk buku2 sejarah yg bercerita tentang heroisme perjuangan bangsa dan harga diri bangsa, berbagai ritual dan acara yg bersifat menguatkan keutuhan kemanusian, sepertinya meluncur sebagai bagian dari hidup kita saja. Tiba saatnya, para pahlwan devisa diberikan perlindungan yg menyeluru dari Negara, menertibkan jalur penyaluran TKI illegal. Seorang SUMIATI telah menjadi korban kekejaman dan kelalaian sistem, meskipun hanya 1 jiwa, karena 1 jiwa orang Indonesia di tanah asing adalah seluruh jiwa Bangsa ini.

———

Coba untuk relax, MJ, 17-11-2010


Aksi

Information

2 responses

30 08 2011
Moratorium PNS dan TKI Perlukah? « JUARSA (jiwa)

[…] Meskipun kita akui, persoalan TKI adalah persoalan yang lebih kompleks. Lihat tulisan saya di : https://juarsa.wordpress.com/2010/11/17/1-jiwa-indonesia-di-tanah-asing-adalah-seluruh-jiwa-bangsa/. tentang korban-korban penyiksaan hingga pembunuhan TKI di luar negeri. Mereka yang justeru […]

4 09 2011
Moratorium PNS dan TKI Perlukah? | BOLMUT POST

[…] TKI. Meskipun kita akui, persoalan TKI adalah persoalan yang lebih kompleks. Lihat tulisan saya di :https://juarsa.wordpress.com/2010/11/17/1-jiwa-indonesia-di-tanah-asing-adalah-seluruh-jiwa-bangsa/. tentang korban-korban penyiksaan hingga pembunuhan TKI di luar negeri. Mereka yang justeru […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: