Berlikunya Mendaki Profesi Peneliti

27 10 2010

Oleh Heni Rosmawati MSi, Bekerja di LIPI

Mencermati tulisan di Media Indonesia edisi Jumat, 17 September 2010 dengan judul ‘Nasib Peneliti di Ujung Tanduk’ cukup membuat hati ini terusik. Sebagai PNS di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang bergaul dengan para peneliti, sedikit banyak apa yang ditulis oleh Siswantini Suryandari itu benar adanya. Hasil wawancara yang dilakukan perwakilan peneliti dari BPPT dan LIPI seolah menyiratkan nasib orang-orang pintar (peneliti) di negeri ini sedang berada di ujung tanduk. Ujung tanduk digambarkan dengan ketidakberpihakan pemerintah terhadap pengembangan dunia riset yang ditunjukkan dengan minimnya anggaran riset per tahun hingga pengabaian aset intelektual yang terlihat dari minimnya gaji seorang peneliti.

Menjadi peneliti
Mungkin tidak banyak masyarakat yang mengetahui bagaimana seorang peneliti itu harus berjuang untuk memulai profesinya. Sebagai gambaran awal, untuk penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di LIPI seorang kandidat peneliti paling tidak harus memiliki IPK 3,5 dan biasanya merupakan lulusan universitas ternama di Indonesia. Dengan latar belakang seperti ini, ternyata tidak otomatis membuat seorang kandidat peneliti dapat mulus menjadi peneliti. Ada beberapa prasyarat lanjutannya, yaitu mengikuti diklat fungsional peneliti, meneliti, membangun pemahaman melalui analisis dan sintesis, dan akhirnya menuliskan laporan hasil penelitian baik yang berupa jurnal ilmiah maupun buku sebagai kum untuk peningkatan kariernya.

Peneliti masa lalu
Situasi itu belum seberapa jika dibandingkan dengan kejadian yang dialami para intelektual muda pada dekade 20 tahun ke belakang. Pada 1985 seperti yang tertulis di buku Pak Zuhal yang berjudul Kekuatan Daya Saing Indonesia, melalui program yang dikenal dengan OFP (Overseas Fellowship Program), Science and Technology Manpower Development Program (STMDP) dan Science and Technology and Industrial Development (STAID) lebih dari 5.000 SDM telah disekolahkan ke luar negeri dengan dana dari Bank Dunia. Mereka adalah para lulusan terbaik dari SMA terbaik yang terpilih dari seluruh Indonesia yang harus melanjutkan S-1 dan S-2 di universitas terbaik dunia di Amerika, Inggris, Prancis, Belanda, dan Jepang. Negara-negara itu dipilih karena di sanalah kiblat dan pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi pada saat itu. Bidang-bidang yang dipelajari merupakan bidang-bidang yang menurut Pak Habibie (waktu itu masih menristek) akan menjadi bidang unggulan Indonesia di masa depan seperti teknologi penerbangan dan luar angkasa. Salah seorang peneliti LIPI, alumnus program OFP yang menuntut ilmu di TU Delft Belanda jurusan material science, menceritakan bagaimana dia sampai ‘berdarah-darah’ harus menyelesaikan studinya.

Waktu itu, menurutnya, para calon mahasiswa yang telah dinyatakan lulus seleksi ternyata sulit untuk memilih program studi yang pas. Semuanya harus sesuai dengan perencanaan dan pemetaan yang telah dilakukan di bawah Menristek Habibie, demikian juga universitasnya telah ditentukan sebelumnya. Yang ada dalam benak mereka adalah tanggung jawab besar yang dipikul demi menjaga kehormatan, harapan dan kebanggaan negara, keluarga, dan diri sendiri. Mereka diharapkan dapat menyelesaikan studi tepat waktu dan sekembalinya ke Tanah Air akan ditempatkan di lembaga litbang seperti LIPI, BPPT, Lapan, dan Batan.

Tantangan peneliti
Dengan berlikunya perjuangan untuk menjadi peneliti baik di era dulu maupun sekarang, ternyata hal itu tidak serta-merta memuluskan karier seorang peneliti. Seperti disebutkan, tantangan yang terus dihadapi peneliti Indonesia secara global adalah ketidakberpihakan negara dan minimnya anggaran penelitian. Hal itu sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan karya seorang peneliti mengingat laboratorium penelitian beserta kelengkapan alat-alat penelitiannya membutuhkan biaya yang mahal, pun kegiatan/survei lapangan yang pasti juga memerlukan biaya. Hal itu yang sering membuat para peneliti Indonesia masygul, kalau tidak bisa dibilang patah arang, karena dengan dana penelitian yang minim, apa yang dicita-citakan dan diimpikan untuk diteliti tidak bisa terwujud. Struktur pembiayaan penelitian yang tidak realistis dan seadanya seperti biaya bahan, peralatan, perjalanan, dan gaji yang cenderung terkesan sebagai ‘bantuan tunai langsung’ ala peneliti. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para peneliti Indonesia lebih suka bermitra dengan lembaga penelitian luar negeri karena selain fasilitas laboratoriumnya canggih dan lengkap, segala yang diperlukan peneliti seperti survei lapangan yang berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, di pulau terpencil bisa dibiayai full. Banyak penemuan-penemuan peneliti Indonesia akhir-akhir ini merupakan hasil kerja sama dengan pihak luar.

Hal itu juga dialami para intelektual Indonesia hasil program OFP, STMDP, dan STAID. Setelah pulang ke Indonesia, dengan semangat dan cita-cita mulia mengembangkan iptek nasional, ternyata mereka harus dihadapkan dengan ketidaksiapan infrastruktur dan sistem iptek nasional. Teman peneliti yang sama menjelaskan waktu itu sekitar 1994 tidak ada perhatian yang serius dari pemerintah dalam re-entry program bagi mereka setelah kembali ke Indonesia. Hal itu diperparah tidak adanya strategi besar secara nasional yang diberlakukan sama di setiap instansi litbang dalam pengelolaan aset intelektual (peneliti) ini. Yang ada yaitu setiap instansi bereksperimen masing-masing bagaimana ‘mempekerjakan’ tenaga-tenaga peneliti muda potensial ini. Alhasil yang terjadi adalah pengabaian aset intelektual yang tidak ternilai. Hal itu membuat hengkangnya aset intelektual tersebut dari lembaga-lembaga litbang di Indonesia. Ada banyak yang bekerja di Malaysia (yang notabene sering melecehkan Indonesia) dan berkontribusi tinggi bagi kemajuan teknologi aerospace Malaysia. Banyak yang bekerja di dunia teknologi informasi sekadar ‘mencari mainan baru’ untuk menyalurkan kebutuhan aktivasi intelektual, walaupun tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka. Untuk sebagian yang lain, mereka tetap berada di Indonesia dan mampu mewujudkan idealisme sebagai peneliti karena bidang studi dan penelitian mereka sinkron dengan kondisi unit kerja litbang tempat mereka dipekerjakan. Sebagian peneliti yang lain, karena bidang studi dan minat penelitian tidak sesuai dengan kebutuhan unit kerja, memilih untuk keluar dari litbang dan dari dunia penelitian dan berkiprah di perusahaan swasta ataupun berwiraswasta.

Bisa dibayangkan kalau aset intelektual pada waktu itu ditempatkan dalam kondisi yang kondusif, Indonesia sekarang mungkin bisa bersaing dengan India, China, dan Korea dalam bidang-bidang seperti teknologi penerbangan dan angkasa luar, nuklir, farmakologi, komunikasi baik optik, seluler, maupun radio, dan dalam bidang teknologi informasi dan komputasi seperti dalam teknologi rekayasa peranti lunak, database, dan internet. Harusnya harapan yang sering diungkapkan Pak SBY, yaitu upaya mencapai critical mass of good leader (dalam hal ini bidang iptek) bisa mendekati kebenaran. Kalaupun kita belum mencapai producer of hi-tech product, paling tidak kita bisa mencapai kemandirian dalam implementasinya baik itu dalam bidang manufaktur, manajemen, maupun rekayasa sosial yang tingkat kompleksitasnya tinggi, seperti yang telah dilakukan India.

Sepertinya Indonesia masih punya banyak PR dalam mengelola dan memanfaatkan aset intelektual (peneliti) untuk memajukan bangsanya. Keberpihakan pemerintah dalam memajukan iptek semoga tidak sekadar slogan karena aset intelektual Indonesia sesungguhnya tidak kalah dari bangsa lain.

Suntingan Berita dari MEDIA INDONESIA, 14 Oktober 2010 (hari lahir gue)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/14/175000/68/11/Berlikunya-Mendaki-Profesi-Peneliti

Terkait:

Nasib Peneliti di Ujung Tanduk
17 Sep 2010 (MEDIA INDONESIA)

Kesejahteraan para peneliti di Indonesia masih rendah. Akibatnya, banyak para peneliti lari ke Malaysia.

oleh : Siswantini Suryandari

KEBERADAAN peneliti di Indonesia belum menjadi sumber daya manusia yang penting untuk memajukan Indonesia. Pemerintah harus lebih peduli pada nasib peneliti-peneliti Indonesia. Banyak peneliti Indonesia kini pindah ke lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Malaysia.

Kondisi semacam itu tecermin pada nasib para peneliti Indonesia. Seperti diungkapkan Didik Notosudjono kepada Media Indonesia, guru besar di bidang energi terbarukan dan marketing global. Peneliti dari BPPT ini dulunya mendapat beasiswadari BJ Habibie untuk menimba ilmu di Universitas Flensburg, Jerman. Didik lulus depgan predikat aimlfliide. Sebagai pakar energi terbarukan, ia pun diakui dunia internasional.

“Problema yang dialami para peneliti di BPPT, LIPI, Baran, dan sebagainya telah terakumulasi dengan banyaknya prosedur atau aturan yang dimainkan birokrasi. Kami sebagai peneliti tidak leluasa meneliti. Bahkan dana penelitian juga minim karena aturan main terlalu bain .ik,” terangnya.

Didik pun pernah mengungkapkan dia tidak sanggup menyelesaikan riset dan berpre-sentasi ke forum internasional tahun lalu karena tidak ada sponsor. “Padahal saya masuklima besar peneliti biomassa internasional. Karena tidak ada biaya, saya tidak berangkat,” kenangnya sambil tertawa pahit.

Hal serupa juga diungkapkan Estiko Rijanto, peneliti dari LIPI yang dikenal dengan temuannya mobil robot penjinak bom. Alumnus Tokyo University ini memberi gambaran dalam skala makro anggaran penelitian di Indonesia sebesar 0,09% dari gross domestic bruto (GDP). Sementara itu, untuk negara-negara berkembang seperti Malaysia berani memberikan alokasi anggaran untuk penelitian sebesar 0,7% pada 2003.

“Sekarang sudah meningkat 14 kalinya. Dari premis itu saja sudah terlihat bahwa Indonesia akan tertinggal jauh. Saya melihat Indonesia dalam bahaya apabila mengabaikan ilmu pengetahuan dan teknologi.” Saat ini pemerintah hanyamengandalkan tanah dan air untuk dijual kepada para investor. “Di masa depan yang terjadi masyarakat akan berebut sumberdaya alam karena untuk kepentingan hidup. NKRI bisa terpecah. Bangsa Indonesiaakan menjadi bangsa kuli,” kritiknya.

Hal itu dibenarkan Didik. Dia telah melihat ada eksodus di kalangan peneliti ke Malaysia. “Banyak teman saya pindah ke Malaysia karena digaji 10 kalilipatnya atau sekitar Rp40 juta sampai Rp50 juta. Terlebih mereka bisa leluasa meneliti sesuai dengan keahlian mereka.”

Menagih janji SBY

Peneliti memilih hengkang ke luar negeri karena masalah kesejahteraan dan keinginan berkreasi atau menciptakan sesuatu. Namun, ada juga yang nrimo menjadi pegawai” negeri sipil, kemudian masuk jajaran birokrasi.

Dalam kesempatan itu Estiko pun menagih janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah melontarkan pernyataan agar kesejahteraan peneliti dinaikkan karena penelitian itu penting. “Janji Pak SBY itu pada 2008 diucapkan di Sukamandi. Janji itu diulangi lagi di tahun yang sama di depan empat menteri. Namun, sepertinya janji itu hanya janji.” (Nda/B-1)ndari@mediaindonesia.com

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: