Ujian hari raya dan setelahnya

13 09 2010
UNEG-UNEG Ane
Ude berape hari nih gak ngisi blog, terakhir tanggal 9 September 2010. Bujug deh, sekarang tanggal 13 September 2010 berarti 4 hari lalu. Bingung juga mau nulis apa lagi? Tapi kalo kagak nulis, nih kepala isinya seliwar-seliwer terus. Apa aje deh nyang penting uneg-uneg bisa lepas.

Sudah 2 hari lalu lebaran Idul Fitri 1431 H lewat, tidak seperti persiapan menghadapinya, semua tenaga dan fikiran seakan tercurah pada hari raya nan suci itu. Tak heran, kalau semua orang pada saat yg hamper bersamaan memiliki focus yg hampir sama pula, mau lebaran. Segala macam olahan khas lebaranpun tersaji dengan mewah maupun sederhana, belum lagi kalo pake acara “open house” segala. Pastinya yg open house sudah wajib menyediakan hidangan yg melimpah dan tentunya lezat, plus si tuan rumah kudu berbusana baru, mewah dan anggun agar para tamu senang hatinya. Tidak salah sama sekali, bahwa menjamu atau memanjakan tamu baik dari pandangan maupun selera sajian adalah hal yang diajarkan di dalam Islam. Mungkin selama sebulan Ramadhan, focus ibadah adalah kepada Allah dan ditunjang oleh ibadah kepada sesame manusia. Saat hari nan fitri tiba, ndak salah juga kalo focus ibadah lebih cenederung kepada manusia, para tetamu, sahabat dan saudara. Bersilaturahmi dan bermaaf-maafan adalah tradisi dan metode yg afdol untuk melunturkan kedengkian hati dan membuka hati, bahwa kita adalah mahluk yg tidakkan lekang dari perbuatan salah kepada manusia-manusia lainnya. Kembali lagi, bahwa hidangan dan busana, serta suasana rumah yg dibersihakn dan dipercantik hanyalah media agar proses silaturahmi dan bermaaf-maafan tadi bisa lebih nyaman dan indah rasanya. Tentunya, suasana lebaran Idul Fitri adalah puncak dari segala perayaan di dunia ini bagi kaum Muslim. Perayaan dan bukan pesta, dimana beragam suasana hati larut kedalam satu wadah, ikhlas dan gembira karena merasa menang selama beribadah di Ramadhan.

Melihat suasana nan fitri dan kegembiraan orang-orang banyak, lega rasanya bahwa hidup ini memiliki keberartian. Namun, dibalik semua itu, ada dan masih sebagian orang akan mengalami perasaan yg kurang dan perasaan gundah. Bagaimana tidak, jikalah dalam rangka memediasi jalinan silturahmi dan memaaf-maafkan kita lakukan dengan berlebih? Lebih dari takaran kemampuan kita, memaksakan dan bersusah payah agar performa diri saat berlebaran, saat bertemu dengan handai taulan bisa menjadi acuan dan primadona. Makna pokok untuk melakukan silaturahmi, bermaaf-maafan, merayakan kemenangan karena “merasa” kita menang dalam beribadah selama ramadhan justeru menjadi kabur, dan tidak jelas. Alasan untuk menyenangkan hati orang lain dengan hidangan dan berbusana bagus, terkesan dipaksakan. Ada yg berbulan-bulan menabung untuk kebutuhan berlebaran, untuk bermudik, untuk hidangan dan busana. Ada yg memperoleh THR (tunjangan hari raya) yang satu kali hingga beberapa kali gaji, dan semuanya kebanyakan habis untuk kebutuhan selama puasa dan berlebaran, ada yg juga berhutang, dan ada pula yg melakukan kegitan-kegiatan yg justeru bertentangan dengan hukum-hukum Islam guna memperoleh hasil yg berlebih untuk sekedar merayakan hari raya. Ironis memang. Kembali ke makna Ramadhan, dimana ibadah tersebut dilakukan karena Allah membutuhkannya, butuh bagi Allah agar manusia menyadari bahwa sulitnya makan dan minum bisa kita rasakan dengan seksama, dimana masih banyak orang yg tidak dan jarang makan dan minun di luar bulan-bulan ramadhan, masih banyak orang yg sama sekali tidak memiliki busana untuk berganti, apalagi untuk tampil anggun dan mempesona.

Dengan memahami dan merasakan bagiamana sulitnya menahan lapar dan haus, bagimana sulitnya tampil dengan busana  anggun, kita akhirnya sadar bahwa fitrah kita sebagai manusia hanya sementara di dunia ini. Semua kembali tanpa membawa apapun, kecuali iman dan ibadah yg kita lakukan dengan benar dan tentunya diterima oleh Allah, bukan menurut diri sendiri. Tapi justeru yg kita lihat adalah, selama ramadhan terkadang hidangan berbuka puasa melebihi hidangan-hidangan di hari-hari biasa, hidangan sahurpun demikian, malah ditambah obat-obatan atau suplemen yg tadinya jarang dikonsumsi dibeli juga. Terakhir sesaat sebelum berlebaran volume belanja meningkat drastis, semua nampaknya harus berlebih dan mewah. Semua itu apakah sesuai dengan yg diwajibkan oleh pencipta kita? Saya rasa tidak sama sekali, sense kita untuk merasakan penderitaan fakir miskin nampaknya dianggap selesai hanya dengan membayar zakat fitrah saja? Wow, sama sekali tidak. Makanya jangan heran dan jangan coba-coba untuk protes, kalaulah harga-harga barang pokok dan non-pokok naik, menjelang ramadhan kenaikan sudah terjadi kemudian harga naik dengan ekstrim menjelang Idul Fitri. Semuanya menjadi efek berantai, kenaikan yg bersifat eksponensial menjelang ramadhan hingga menjelang Idul Fitri akan sulit turun. Kembali, bahwa orang-orang yg harusnya penderitaannya bisa kita rasakan, akan mengalami kondisi yg lebih sulit dengan adanya kenaikan harga tersebut.

Bukankah berpuasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga saja? Semua nafsu harus kita belengu, nah ujian ini yg justeru paling sulit ketimbang berpuasa makan dan minum. Nafsu untuk berlebih, nafsu akan tampil lebih baik dari orang lain, nafsu agar selera makan kita dan para tetamu puas, tiadanya kemampuan untuk menahan malu bahwa hidangan dan busana kita adalah biasa-biasa saja. Bolehlah dianggap bahwa ujian-ujian harian selama ramadhan telah dilakukan, namun jangan sampai kita gagal di ujian akhirnya, yaitu saat ber-Idul Fitri dengan mengesampinkan perasaan orang-orang yg semestinya kita rasakan penderitaannya, orang-orang yg kita bayar zakat fitrahnya. Ternyata soal-soal ujian akhir Idul Fitri lebih variatif dan banyak jebakannya. Soal-soal Ujian harian ramadhan sudah jelas, ada niatnya, ada waktunya, ada jedanya, dan terfokus untuk ketaqwaan kita agar meningkat di mata Allah. Benar dan tidaknya kita menjalankan ujian harian ramadhan, hanyal Allah yg tahu, orang lain tidak dan terkadang kitapun tidak tahu, tentunya kita akan cenderung merasa benar dalam mengerjakan soal. Tapi, lihatlah ujian Idul Fitri, banyak variabelnya, dan terkadang kita lupa bahwa ria dan ingin membuat orang lain senang bedanya menjadi setipis rambut dibelah tujuh. Perasaan kita malah jadi kebal, ketidak pedulian kita akan penderitaan orang lain malah tidak ada, yang penting aku harus beda dari orang lain. Seakan, Idul Fitri adalah hari dimana pesta pora dilakukan, bukan perayaannya, tapi pestanya. Tengoklah, mereka yg berdesak-desakan hingga ada yg pingsan malah meninggal saat mengantri sedekah atau apalah istilahnya yg kadang hanya bernilai ribuan, belasan ribuan dan puluhan ribuan. Semua kita lupakan saat berlebaran tiba, kita pontang-panting mendatangi makam-makan saudara dan para orang tuan untuk berziarah dan berdoa dengan khusyu di sampan makam, padalah mendoakan mereka adalah tugas seorang anak, tugas seorang orang tua tentunya pasca sholat dilakukan. Kewajiban ke makam adalah untuk memelihara makam dan mengingatkan diri sendiri bahwa hidup tidak kekal.

Belum lagi pemaksaan yg kita lakukan untuk berlebaran selain meninggalkan tumpukan hutang, melakukan tindak criminal, adalah jatuhnya korban-korban kecelakaan dan korban desak-desakan. Bayangkan pada saat yg bersamaan, hampir 2/3 manusia berpindah posisi, dan diperparah jika sebagian besar ke arah yg bersamaan. Jika kita sampaikan bahwa hal tersebut adalah ketidak perluan, maka akan terdengar jawaban, bahwa inilah tradisi dan inilah kesempatan bersilaturahmi. Lucu terdengarnya, apakah silaturahmi hanya dibatasi oleh hari raya saja? Apakah liburan hanya terjadi saat berlebaran saja? Tentu tidak bukan. So, semua kembali ke keinginan tadi, atau nafsu. Sang ayah akan tidak perduli dengan keselamatan anak dan istrinya, dengan membonceng mereka melakukan perjalanan jauh dan selama perjalanan akan selalu berhadapan dengan maut. Statistik korban selama mudik gak usahlah disebutkan, ini sudah jadi konsumsi rutin kita setiap tahun, dan inipun akan dianggap lumrah setelah berlebaran berlalu untuk kemudian kita ulang lagi untuk lebaran tahun depannya. Memang, kematian yg menetukan bukan kita, namun kewajiban kita adalah menjaga keselamatan diri, karena itu kita diberi akal dan hati.

Setelah hari raya, kita akan membaca, mendengar dan melihat jumlah korban selama mudik yg hanya dibicarakan adalah angka atau presentasi kenaikan or penurunan korban yg tentunya pula akan dijadikan indikator keberhasilan atau kegagalan system untuk mengelola hari besar kita ini. Kemudian, berapa banyak jumlah jatuh korban karena berdesakan-desakan untuk zakat atau sedekah. Harga yg lamban sekali dan sepertinya malas untuk turun, uang tabungan habis dan sebagian barang-barang nemplok di pegadaian atau terjual. Lebih penting lagi, hebit kita akan kembali lagi kepada tindak tanduk yg selama ramadhan kita kekang, bermusuhan kembali, berlaku tidak benar kembali, kitakan merasa bahwa semua akan hangus di ramdhan dan semua akan normal setelah bersalam-salaman. Inikah yg diminta oleh Rasullah? Saya yakin tidak. Namun, semua kembali ke nurani masing-masing, bahwa kita diturunkan ke dunia tentunya memiliki tugas dan fungsi masing-masing untuk manusia lainnya, untuk alam dan untuk mengikuti aturan Sang Pencipta. Janganlah pasca lebaran menyisakan berbagai persoalan baru, masalah baru, lebaran adalah ujian akhir dari ujian harian ramadhan, yang jikalah semua ujian-ujian tersebut lulus di mata Allah, maka 11 bulan kedepan adalah tingkat kelas kita naik dan baru, dimana derajat kita diantara manusia lainnya akan meningkat pula.


Tulisan ini hanya unge-uneg saya saja, belumlah tentu benar karena ini bersifat pemikiran pribadi dan curahan keprihatian saya saja. Semoga jika ada yg benar datangnya tentu dari Allah, dan yg salah tentunya dari saya. Maklumlah, tahun ini saya “terpaksa” merayakan lebaran dan menjalani rutinitas sahur dan buka dengan kondisi sederhana. Keterpaksaan ini justeru membuka mata hati saya, dan Alhamdulillah keruwetan fikiran dan hati saat menghadapi lebaran tidak ada, tidak seperti tahun-tahun lalu, karena semua harus ada dan dipaksakan. Bahagia ketika kita menerima sedikit dan memberi secara berlebih. Semoga saja ke depan, masyarakat kita, kaum Muslim akan semakin menyadari, bahwa kesederhanaan kita dalam beribadah adalah kemewahan di mata Allah SWT. Semua kudu dilakukan dengan ikhlas dan pasrah, bukan dengan terpaksa dan memaksakan. Demikian deh, tulisan saya, jadi bingung mau nulis apa lagi. Oh, ya, terimakasihku yg tak terhingga untuk para orang tuaku, istri dan anak-anakku yg telah mau dan memaklumi kesederhanaan yg terpaksa aku berikan kepada kalian. Yang penting semangat untuk memaafkan dan bersilturahmi tetap kita lakukan.

Sekali lagi saya mengucapkan, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

13 September 2010

gambar/foto diambil dari beberapa sumber di Internet


Aksi

Information

4 responses

13 09 2010
Heny Suseno

Mantab bro….. kotbah jumat dunk sekale kale

13 09 2010
juarsa

Kagak beranii Bro…Arab gue kekentelan hahahahhaha. Ini mah curhat fikiran (curkir) aje Bro, soalnye siklus ini setiap tahun hampir sama, malah makin gak kerasa suasan lebarannye. Orang pade sibuk ame urusan masing2…..sedih gue. hik hik hik

15 09 2010
desylvia

iya sy setuju P, sy juga akhir2 ini ngerasa kaya gitu setiap lebaran, padahal makna lebaran lebih dari sekedar kebiasaan2 yg ada pada umumnya seperti baju baru, buat makanan yg banyak….mungkin ada beberapa yang bermaksud baik tapi malah ada juga yg bermaksud riya….juga tidak jarang dengan tradisi2 yg kurang pas itu malah mendatangkan musibah….

heheeee cuma unek2 sy dikit P😀

15 09 2010
juarsa

Thanks Va, kadang perlu juga uneg2 dikeluarin. Mencoba untuk belajar jujur dari apa yg kita fikirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: