Kecelakaan, Resiko dan Kebutuhan Energi

9 09 2010

Soal resiko dari kecelakaan PLTN, jangan ditanya deh. Biaya yang dihabiskan Rusia pada tahun 1986 untuk Chernobyl (tipe RMBK, pendinginnya pakai grafit) sekitar 80 Milyar US, dan masalah radiasinya sampai detik ini masih ditangani. Terus, kejadian lebih awal, reaktor TMI2 di USA (tipe PWR900, pendinginnya pakai air ringan H20), juga mengalami kecelakaan, terasnya leleh sampai 20 ton-an, namun tidak ada radiasi yg lepas ke lingkungan. Kedua kejadian tersebut disebabkan oleh faktor manusia dan sistem reaktor sendiri.

Chernobyl mengalami ledakan (“ledakan”, namun bukan seperti hiroshima atau nagasaki) karena personel menggunakan reaktor real (beneran) skala 1:1 untuk eksperimen efsiensi  thermal bahan bakarnya, dengan alasan untuk penghematan BB agar listrik yg dihasilkan optimal. Namun ini hanya alasan saja, karean produksi dari sisa bakar reaktor bisa menghasilkan Plutonium untuk bom atom. Didukung desain reaktor yg menggunakan grafit, sehingga reaktivitas sistem jadi positip, alias kalo panas naik, neutron yg diproduksi makin banyak. Kemudian reactor hanya ditutup oleh beton dan dibagian luar bejana hanya ditutup dengan penutup tidak dari konkret (kayak pabrik). Bisa dibayangkan kalo reactor mengalami superkritis, ledakan akan terjadi dan merusak struktur bangunan pengukungnya. Ledakan tidak akan menghancurkan bangunan2 di sekitar, tidak seperti kasus bom kuningan atau Bali. Namun, pecahan2 partikel dari reactor yg memiliki sumber radiasi tinggi akan muncrat kemana-mana. Belum awan radioaktfnya, wow, mengerikan deh. Kota disekitar reactor sampai saat ini belum bisa dihuni oleh manusia. Bahan bisa dicari lewat youtube dengan judul video Chernobyl Disaster Incident (ada 10 bagian, rata2 30 MB).

Sesaat setelah kejadian dan hingga beberapa bulan, ratusan ribu engineering dan tentara dikerahkan untuk menutupi atau mengurangi dampak radiasi yg muncul. Sampai saat ini, kondisi reactor masih seperti dulu. Reaktor ditutupi dengan “peti mati batu”  disebut sarkofagus (sarcophagus). Untuk Chernobyl, sarkofagus terbuat dari lempengan baja tahan karat, dan biaya untuk membuatnya sekitar 1,4 milyar US. Ini bentuk suatu kegagalan dan keteledoran yg pernah dilakukan manusia, meskipun hanya sedikit memakan korban (jika dibandingkan dengan angka kecelakaan lalin, tiap tahun di Indonesia akibat mudik dengan sepeda motor). Namun harus diakui, kerusakan lingkungan yg bisa dikategorikan permanen tidak bisa dihindari.

Lalu kecelakaan yg pertama untuk PLTN sebenarnya terjadi di Amerika Serikat, pada tahun 1979 yaitu reactor TMI (Three Mile Island) unit 2, inipun diawalai oleh kegagalan pompa air demineral di sistem sekunder, pompa mati dan reaktor sebenarnya mati. Otomatis tekanan di primer naik, kemudian tekanan harus dibuang melalui katup pengaman atau disebut sebagai pilot-operated relief valve (PORV) yang berada pada system tabung penekan reactor (pressurizer) di system primer. Permasalahnya, ketika tekanan sudah normal kembali (sekitar 155 bar), katup masih terbuka, sedangkan di panel di ruang kendali menunjukan katup sudah menutup kembali. Operator baru sadar setelah 8 menit bahwa di lapangan katup masih terbuka, dan teras sudah mendidih dan bahan bakar dan penyokongnya di dalam bejana reaktor leleh, 20 ton lelehannya, meskipun telah diambil tindakan dengan mengguyur teras melalui system pendingin teras darurat (ECCS, emergency core cooling system). Meskipun teras meleleh, namun tidak ada ledakan atau material radioaktif yg terlepas ke lingkungan lelehan tetap terjaga di dalam bejana reactor (lapis ke-3 proteksi keselamatan reactor). Meskipun, efek radiasi disekitar lingkungan komples TMI2 ( radius 10 mil) tidak terjadi indikasi bahwa adanya korban dari masyarakat sekitar TMI2 akibat paparan radiasi, hingga saat ini (tidak seperti kasus Chernobyl).

Namun, demikian tetap saja yang namanya kecelakaan adalah kecelakaan dan akan memakan korban. Apalagi ini sola radiasi, yang tidak terlihat dan terasa oleh panca indra normal kita. Musuh yg tak tampak ini, pastinya akan mematikan dan berbahaya. Lantas apakah karena kejadian seperti di TMI2 bahkan Chernobyl, semua PLTN di dunia dimatikan? Bayangkan, pada bulan Juni 2010 disemua Negara (30 negara) yang total memiliki PLTN sekitar 438 unit telah menyumbangkan listrk di dunia sebesar 372 GWatt. Kemudian ada 16 negara yg sedang membangun PLTN sebanyak 61 unit dengan sumbangan listrik sebesar 59 GWatt (sumber : http://www.euronuclear.org/info/encyclopedia/n/nuclear-power-plant-world-wide.htm). Sekitar 14% lebih listrik dunia saat ini berasal dari energy nuklir reaksi fisi, dan diperkirakan pada tahun 2050 akan menjadi 25% dari produksi litrik dunia (IEO-2010), tentunya nuklir akan didampingi oleh sumber energy terbarukan (renewable energy), seperti biogass, solar, angin, dll.

Cerita macem begini, sebenarnya banyak dan bisa dicari via internet dan bukan hal yg ditutup-tutupi. Kedua hal tersebut menunjukkan bahaya dan resiko dari kegagalan sistem yg dibuat manusia (kecuali buatan Sang Maha Pencipta). Tahun 2008, 300-an orang mati dalam kecelakaan motor karena mudik. Tahun 2009 jumlahnya naik menjadi 700-an orang. Semua karena motor, belum yg kendaraan roda empat dan truk, semua karena kendaraan yg diciptakan manusia. So, semua benda/sistem yg diciptakan manusia tidak ada yg sempurna sama sekali dan memiliki resiko negative, berbahaya dan mematikan. Tidak ada yg namanya reaktor nuklir bakal tidak mengalami kecelakaan, ilmuwan dan engineeringnya sendir masih menggunakan probabilitas kecelakaan. Gak ada yg pasti deh. Kembali keterkaitan teknologi yang sama-sama diciptakan manusia, seperti PLTN dan disini keta focus ke persoalan kebutuhan energy saja. Maka, jika memikirkan kebutuhan akan energy untuk terus memicu ekonomi tentunya segala sumber energy akan digunakan, termasuk nuklir. Saya berfikiran, jika sudahlah kita masukkan defines pro dan kontra terhadap suatu produk, maka yg  bicara disini lebih ke arah kepentingan pergolongan, individu atau tatanan tertentu. Sebaiknya soal kebutuhan harus didasarkan kepada kebutuhan orang banyak dan umum. Jangan digeser-geser ke area yg abu-abu, apalagi dilatar belakangi kepentingan politis. Maka, sia-sialah persoalan ilmiah dibicarakan, sia-sialah uang Negara dihamburkan untuk mempelajari dan menguasai suatu IPTEK yg dimiliki oleh Negara-negara maju. Alasan-alasan yg sering dugunakan untuk yg kontra adalah: terlalu mahal, sumber cadangan masih banyak, ketidak siapan SDM, dan keterbergantungan kepada Negara lain. Mari kita berjujur ria, berikan contoh apakah sebagian besar produk2 yg kita nikmati kita buat sendiri, apakah memang kita terus bergnatung kepada Negara luar.  Karena BBM saja, Negara kita sudah menjadi net importir. Soal SDM, nah ini yg paling seru, karena kita selalu mengkaitkan berbagai peristiwa kecelakaan atau kegagalan sebagai lemahnya SDM kita dan malah gak sungkan2 menghina kemampuan bangsa sendiri. Padahal kalo bangsa lain yg menghina marahnya minta ampun deh. Lucu jadinya, saya malah punya fikiran dangkal, bahwa nampaknya kalo SDM kita bisa dianggap pinter maka akan menjadi ancaman bagi kaum tertentu atau rejim tertentu. Tengok saja pak Habiebie, berbagai cara agar beliyau tidak maju menjadi pimpinan, karena orang takut, takut dipimpin sama orang pinter. Tengok juga bahwa SDM kita sebenarnya banyak yg malang-melintang di Negara orang dan memperoleh prestasi tingkat dunia, karena bukan soal materinya saja, tapi penghargaan dari masyarakat mereka dapatkan. Terlalu mahal dalam investasi untuk PLTN iya memang, karena system  keselamatan yg selalu berlapis dan waktu konstruksi yang memakan waktu sampai 5 tahun. Namun kalo jujur, biaya operasionalnya jelas bisa rendah disbanding pembankit lain dan efek polusi lingkungan tidak signifikan selama operasi. Lalu sumber energy lain masih banyakkan? Betul memang, namun kebanyakan masih sporadic dan untuk kebutuhan yg besar harus disatukan dan inipun memerlukan teknologi dan biaya yg tidak sedikit pula. Cadangan yg lain, wajib kita manfaatkan seoptimal mungkin, demi kelangsungan bangsa dan harga diri bangsa. Tidak ada satupun sumber energy yg tidak boleh dimanfaatkan.

Mari kita berfikir, bahwa sanya setiap keadaan ataupun hal-hal yang bersifat “kebutuhan” apalagi menyangkut energy hendaknya jangan dipolitisir dan dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat atau golongan tertentu. Negara butuh energy untuk memicu ekonomi dengan dukungan perkembangan teknologi yang pesat, Negara perlu “bahan bakar” agar bisa melesat maju sehingga bangsa ini tidak terus-terusan di hina, dilecehkan dan dijelekkan, baik oleh Negara lain maupun sebagian warga bangsa yang memiliki kepentingan pribadi dan bersifat sesaat.  Soal energy sebaikknya kita kembalikan ke persoalan “kebutuhan” dan ke kaidah “ilmiahnya”. Indonesia ibarat tubuh, jika tubuh kekurangan energi alias tidak makan/minum, maka tubuh akan lemas, segala penyakit akan mudah datang.

=== masih bingung, 9 September 2010 ===


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: