Keterpurukan ekonomi lain soal, Keterpurukan harga diri bangsa? Ini bener-bener persoalan seriyus

28 08 2010

Baru saja kita menikmati ultah Negara kita (Republik Indonesia, NKRI) yang ke 65 tahun. Meski tanpa gegap gempita dalam perayaannya seperti tahun-tahun lalu, karena emang kebeneran pas bulan Ramadhan. Namun tetep saja kebahagian selaku bangsa yang merdeka dan berdaulat tetep kita rasakan bersama dengan khidmatnya. Belum lagi, para pejabat negara terus-terusan dengan bangganya menunjukan bahwa ekonomi bangsa ini terus membaik, yang tentunya dilihat dari berbagai indikator. Misalnya yang gampang dilihat, banyak orang yang bisa kredit motor hanya dengan 100 rebu perak, segala lapisan masyarakat dari pemulung, pelajar dan penjabat sudah gak aneh pegang handphone. Seperti motor saja, jumlah motor terigestrasi oleh POLRI tahun 2008, adalah 47 juta unit alias setiap 1 motor untuk 5 penduduk sa-Indonesia, dibandingkan tahun 2003 dimana  setiap 1 motor untuk 7 penduduk, jadi kenaikan jumlah motor rata-rata 10% pertahunnya[1]. Belom lagi kalo cerita mobil, wah? 75% kendaraan roda empat di Jakarta aja diisi oleh kendaraan pribadi.  Terus yang punya handphone kira-kira ada 180 juta, sekitar 60%-an[2] dari jumlah penduduk Indoensia per-Juni 2010 adalah 234,2 juta jiwa (data BPS), belum tiap orang punya lebih dari 1 HP.

Krisis dunia yang dimulai dari Amerika sejak tahun 2007, dan kemudian memuncak pada tahun 2009 menjadi krisis global yang kedua sejak masa-masa depresi dunia tahun 1929. Hebatnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia (bacanye NKRI), berhasil lolos dari krisis tersebut (meski di tahun 1998-99, Negara agak kocar-kacir hingga munculnya Era Reformasi). Sekali lagi, presiden RI dengan bangga menyampaikan keberhasilan NKRI di depan publik Internasional Islam pada World Islamic Economic Forum(WIEF) ke-6 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 19 Mei 2010 lalu[3]. Cool…man, betapa hebatnya Negara kita lepas dari keterpurukan ekonomi dalam krisis global yang maha dashyat jilid 2 lalu. Lain cerita keberhasilan NKRI, lain cerita kondisi rakyat jelata di Indonesia. Belum lagi pidato pak Presiden pada tanggal 24 Agustus 2010[4] di dalam Gedung DPR/MPR RI, kelihatan indikator ekonomi makin kenceng dan naik terus. Pertumbuhan ekonomi nasional dah mencapai 4-4,5%, dan mungkin akan meningkat sampe 5% di akhir tahun 2010. Rencana defisit anggaran sekitar 1,6% dari PDB (lebih bagus dari tahun kemaren, 2,5%). Pokoknya semuanya bagus, dan keterpurukan ekonomi bukan menjadi momok bagi bangsa ini.

Sontak, akhir-akhir ini kita membaca dan melihat di mass media cetak, media elektronik (TV dan internet) yang mengusik rasa kebanggaan kita tentang segudang keberhasilan bangsa Indonesia yang mampu melalui krisis ekonomi global, berkurannya juga kasus-kasus penyakit seperi Flu Burung, Flu Babi dan system kesehatan yang mulai membaik. Terusiknya kebanggaan kita adalah semakin berulahnya tetangga kita yang paling dekat dan dibilang juga serumpun (saya sih senengnya bilang “serumput”). Betapa tidak? Menjelang HUT RI ke-65 lalu, 3 aparatur Negara RI malah ditangkap di wilayah NKRI sendiri. Saat mereka justeru sedang “jihad” membela bangsa terhadap para pencuri-pencuri dari Negara tetangga kita (yang dibilang juga sodare), Malaysia. Meski akhirnya mereka bertiga dapat kembali ke pangkuan NKRI, namun 7 orang pencuri juga diloloskan (ini bukan barter loh…bukkkaaann deh). Gelombang protes di seantero negeri bermunculan, semua mengecam Malaysia, termasuk media massa juga begitu gigih menyuarakan kejadian itu. Maka, bermunculah masalah-masalah yang selama ini juga terpendam, seperti ada 345 orang Indonesia yang katanya mau di eksekusi mati[5]. Belum kasus-kasus pelecehan terhadap tenaga kerja Indonesia (baca TKI), yang jumlahnya berada di Malaysia cukup banyak, sekitar 1,8 juta orang dan 60% (sekitar 1,2 juta orang) adalah illegal [6]. Sekitar 0,77% dari jumlah penduduk Indonesia mengadu nasibnya berarti (banyak banget yah?). Kebanyakan bekerja pada sector bawah, seperti buruh kasar dan pembantu rumah tangga. Emang orang melayu kagak ade yang mau kerja keras macem gitu, mungkin karena mereka sudah sejahtera. Kemudian, apa sih tindakan kita? Sewot, protes, mencaci, melakukan tindakan yang menunjukkan kekecewaan selaku sodara yang mulai dilunjakin atau apalah sikap kita yang menunjukkan kekesalan saya anggap hal yang wajar, toh semua tindakan itu masih di Indonesia di wilayah NKRI dan gak ngerusak property atau melakukan penganiayaan sama barang atau orang Malaysia. Semua hanya ingin menunjukkan sikap nasionalisme, dan masih beruntung kita bahwa sikap itu masih eksis dan ada. Ini yang bakal menjadi bahan bakar tetap eksisnya NKRI.

Cuman, kalo ditanya lagi, tindakan konkret apa sih yang bisa bikin Malaysia tidak lagi berlaku seperti itu? Ibarat ilmu coba-coba, insiden-insiden yang terjadi selama ini nampaknya baru coba-coba, kalo emang kita kelihatan “lemah” atau “menyerah” bakal gak mungkin, mereka nantinya bener-bener seriyus melakukan tindakan yang lebih jauh, bisa saja pengambilan wilayah yang berdekatan dengan batas wilayah Negara, tanpa pake runding-rundingan segala. Semuanya bisa terjadi, mungkin aje mereka hanya iseng dan gak ngapa-ngapain terusnya. Tapi pertanyaan belum terjawab bukan, harus bagimana?

Saya sih berpendapat pribadi saja, sikap Malaysia yang kita anggap menyebalkan dan propokatif serta mulai menyinggung kedaulatan suatu bangsa, bisa saja dianggap wajar. Contohnya, kalo ade orang kaya baru, sudah hal yang biasa, kebanyakan dari mereka tingkah lakunya belagu dan nyebelin, malah propokatif dengan pamer macem-macem sama tetangganya yang dianggap belangsak. Analogi ini bisa masuk akal, toh yang ada di Malaysia orang-orangnya juga sama dengan kita, makan nasi dan sambal. Belum lagi tetangga kite juga tahu bahwa, taruklah keluarga yang dianggap belangsak tersebut kerjanya mengalah mulu dan gak berani bertindak tegas. Rasa-rasanya, emang bakal dilunjakin terus sih.

Nah, dari sini saya sih pengen fikir positif dari pada maki-maki atau semacamanya (silahkan yang menunjukkan sikap seperti itu, saya anggap merupakan fungsi dan tugasnya masing-masing selaku anak bangsa, go a head aje…deh), ini mah untuk saya. Bahwa kita harus beranjak dari anggapan tetangga kita tersebut bahwa kita dianggep belangsak dan gak punya nyali, so ada dua factor, yaitu identitas ekonomi dan semua struktur penunjangnya harus diperjelas, serta kebiwaab pemimpin atau pengelola Negara yang kudu diperhatikan.

Mari kita lihat statistik Negara kita (data dari webnya BPS semua loh). BPS bilang dari 234,2 juta penduduk RI pada Juni 2010, hanya memiliki 8,59 juta pengangguran terbuka (7,41%) pada Februari 2010, yang kerja dianggap sekitar 104,87 juta orang.  Sedangkan jumlah orang miskin, sekitar 31,02 juta orang (13,33%) pada Maret 2010. Persoalannya apakah hanya dengan angka-angka ini saja yang bikin kita puas dan bertepuk dada? Bahwa kita bukan Negara belangsak? Apalagi kalo dah pake indikator ekonomi dan jumlah yang punya motor 20% dari penduduk Indoensia, dan HP 60% dari penduduk Indonesia? Pasti tidak, bukan?. Kenyataannya, coba lihat lagi statistik dimana pergeseran factor-faktor lainnya yang memang belum banyak bergeser, bahwa pada Februari 2010, pekerja kita yang berpendidikan SD ke bawah masih sangat tinggi sekitar 55,31 juta orang (51,5%), SMP 19,39 juta orang (20,3%), SMA 14,5 juta orang (15,63%), SMK 8,24 juta orang (8,34%), DI/DII/DIII sekitar 2,79 juta orang (2,89%) dan Sarjana ke atas sekitar 4,66 juta orang (2,89%). Kemudian yang nganggur (terbuka) justeru dikuasai oleh jebolan pendidikan tinggi dan diploma, keduanya menyumbang 29,95% (gak jelas juga datanya)[7].

Lihat Malaysia, dengan jumlah penduduk Juli 2010 sekitar 28,25 juta saja komposisi pendidikan rakyatnya adalah untuk perguruan tinggi saja (termasuk diploma, preparation to enter university) adalah 36%, dan SD kira 33% sisanya SMP-SMA (digabung, secondary jadi 5 tahun) dan TK sekitar 31%[8].

Kelihatan banget kan, kalo dilihat presentasinya dan jumlah orangnya yang berpendidikan tinggi sekitar 9,725 juta (tahun 2006) bandingkan dengan kita 9,95 juta (2010). Jangan seneng dulu meski mirip tapi kalo dengan rasio jumlah pendudukan kan kita kecil banget, rasio mereka dan kita adalah 1 banding 9,5. Pada Juni 2010 yang kerja sekitar 62,8% (11,191 juta orang) dan yang nganggur cuman 3,7% (426,6 ribu orang) sisanya belum kerja[9].

Kayaknya dengan melihat formasi pendidikan dan rasio pekerja jelas terilihat bahwa, bangsa kita masih 50% lebih penduduknya berpendidikan SD. Sementara di Malaysia hanya 33%, dan kelihatannya sektor-sektor kasar sebagian besar (jumalah TKI 1,8 juta) diisi oleh TKI yang notabene rata-rata pendidikannya menengah ke bawah. Apalagi kalo diceritain soal GDP mereka yang tinggi dibandingkan kita (akh bikin ngiler aje deh).

Soal pendidikan dan perkembangan teknologi di Malaysia, sebenarnya enggak kalah kite. Indonesia masih memiliki perguruan tinggi yang rangkin risetnya di atas perguruan tinggi Malaysia. Belom lagi dengan beberapa anak bangsa yang selalu menjuari Olympiade Internasional untuk science setiap tahunnya, rasa-rasanya sih enggak perlu minder untuk soal ini. Namun, saya teringat ketika mengikuti kursus penulisan ilmiah di kampus saya, kebetulan ada salah satu narasumber yang bekerja di Malaysia sebagai asosiate professor (tepatnya jabatannya kali), dan udah 6  tahun di sana. Cerita beliyau menjelaskan, bahwa system penghargaan terhadap insane-insan pendidik sudah cukup mapan, sekali lagi (seperti yg saya singgung dalam tulisan saya di Posting lalu), reward and punishment yang jelas di mereka sudah ada. Dengan penghasilan seorang dosen yang nilainya 20-30 kali dari di Indonesai dan harga nasgor cumin beda 1,5 kali dari nasgor kita, kelihatan kesejahteraannya tertunjang. Namun hukumannya berat, bayangkan setiap asisosiate professor harus buat paper yg diterbitkan jurnal internasion minimal 2 setahun, kalo enggak tunjangan dicabut atau malah dihentikan. Jadi gak heran kalo impact factor mereka dalam riset mulai kelihatan di Internasional. Back up dana pendidikan untuk rakuatnya juga jelas, dan gak ade tuh istilah sekolahan mahal. Jadi wajar sih kalo ngelihat presentasi pendidikannya yang bagus. Hebatnya merekan, dosen-dosen mereka rajin menyambangi perguruan tinggi top di Indonesia, sekedar untuk diskusi dan menawarkan beberapa kerjasama riset, dan imbalannya memang menggiurkan sih.

Nah, dari sini apakah kita masih terus-terus kesel sama mereka. Tapi ame kelakuannya sih tetep kesel, orang kita yang terhina kok. Tapi kan kita gak bisa terus-terusan begini, beda dengan jaman dulu, jaman orla, jamannya presiden pertama kita. Ini ada tulisan dari Wikipedia yang saya salin[10], tentang latar belakang konflik jaman dulu dengan Malaysia:

Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di Indonesia, terletak di selatan Kalimantan. Bagian utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni InggrisSarawak dan Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung MalayaFederasi Malaya dengan membentuk Federasi Malaysia.

Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kesultanan Sulu.

Di Brunei, Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak pada 8 Desember 1962. Mereka mencoba menangkap Sultan Brunei, ladang minyak dan sandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Dia menerima pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura. Pada 16 Desember, Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) mengklaim bahwa seluruh pusat pemberontakan utama telah diatasi, dan pada 17 April 1963, pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan berakhir.

Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas di daerah yang hendak dilakukan dekolonial memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi oleh PBB. Tetapi, pada 16 September, sebelum hasil dari pemilihan dilaporkan. Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, tanpa tempat untuk turut campur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia melihat hal ini sebagai perjanjian Manila Accord yang dilanggar dan sebagai bukti kolonialisme dan imperialisme Inggris.

Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul RahmanPerdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.

Demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur yang berlangsung tanggal 17 September 1963, berlaku ketika para demonstran yang sedang memuncak marah terhadap Presiden Sukarno yang melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia dan juga kerana serangan pasukan militer tidak resmi Indonesia terhadap Malaysia. Ini berikutan pengumuman Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia pada 20 Januari 1963. Selain itu pencerobohan sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase pada 12 April berikutnya. Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan demonstrasi anti-Indonesian yang menginjak-injak lambang negara Indonesia dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama  Ganyang Malaysia.

Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato beliau yang amat bersejarah, berikut ini:

“Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena
Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat”.(Soekarno)

Akhir ceritanya, menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S/PKI. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda. Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian.

Saat Soekarno membuat statemen, semua elemen bangsa begitu menggelora mendengar seruan dan ketegasan pimpinan bangsa Indonesia, meskipun pada akhirnya aksi tersebut tidak teraplikasin secara utuh. Namun hal yang patut dipetik adalah, para pemimpin menunjukkan kepastian sikap terhadap hal-hal yang menyinggung dan mengganggu martabat bangsa. Jadi bukan rakyatnya yang pontang-panting demo, di depan konjen atau kedubes. Sekali lagi sikap para pemprotes adalah tidak adanya kejelasan sikap tegas dari pemimpin bangsa saat ini. Sekali lagi, saya juga tidak ingin memposisikan diri sebagai orang yang melulu mengkritis para pemimpin negeri ini, namun patut juga ditanya pada diri masing-masing (terutama saua sendiri) apakah hanya mereka saja yang salah? Kemudian perlu kayaknya kita intropeksi diri, bahwa agar kita enggak terus-terusan jadi bahan olokan dan enggak belangsak, yah kembali ke falsafah bangsa, bahwa kita semua kudu kerja keras. Kita, selaku rakyat jelata emang kudu sinergi dengan yang mimpin, dan yang mimpin juga kudu ngartiin situasi yang terus-terusan berkembang. Dimana rakyat masih perlu jadi TKI dan kemungkinan menerimaan hinaan, fasilitas Negara untuk menjaga territorial ditingkatkan, kesempatan untuk sekolah dipermudah, dll. Rakyatpun kudu tekun dan giat kalo diberikan peluang-peluang oleh Negara. Jadi, kesimpulannya apa? Rada-rada bingun juga nih. Gini aja deh, para pemimpin harus memiliki sikap tegas, buat stetemen kek ke rakyatnya (kayak pak Karno, tapi gak usah mirip2in) biar kita pada tentrem dan gak perlu demo-demoan. Terus kita juga kudu terus mengukir prestasi internasional dan tentunya dengan dukungan penuh dari Negara. Lama-lamanya juga itu Malaysia jadi ngeper deh. Lha wong sampai detik ini mereka masih banget butuh kita, ya butuh TKI juga butuh ilmuwan-ilmuwan dan pendidik darik Negara kita. Coba deh stop arus keluar SDM Indonesia ke Malaysia, kasih kesempetan mereka untuk menerima reward di dalam Negeri (perberat punishment-nya).

Saya nulis gini juga tahu, pasti kerjanya pemerintah berat banget dan kagak mudah seperti membalikkan telapakan tangan. Namun, mulai deh dengan yang mudah deh, buat statemen bahwa NKRI eksis dan kita memiliki kedaulatan dan tidak memiliki keterpurukan harga diri bangsa. Lihat statemen pak Karno, “kalau kita laper itu biasa, kalau kita malu itu biasa…”, alias mau ekonomi terpuruk atau tidak, harga diri bangsa nomor satu. Jadi inget pepatah jawa, mangan ora mangan sing penting ngumpul (makna kesatuan dan harga diri), jangan sampai kita jadi bangsa yang ngumpul ora ngumpul sing penting mangan (makna individualistik) dan cerminan hijrahnya SDM kita ke luar negeri, bukan sebagai duta tapi untuk cari makan.  Akhirnya jangan sampai terjadi keterpurukan harga diri bangsa, dan ini akan menjadi persoalan yang bener-bener seriyus.

Masih ingin terus belajar agar tidak dihina terus…., 28 Agustus 2010.

Referensi:

[1].    http://aaajournal.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1049:jumlah-kendaraan-roda dua-terus-meningkat&catid=1003:ulasan-sektor&Itemid=28.

[2].    http://www.lintasberita.com/go/1187420.

[3].    http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/19/143728/23/2/Presiden-akan-Jelaskan-Cara-Indonesia-Lepas-dari-Krisis-di-WIEF.

[4].    File Pidato Presiden, dari www.fiskal.depkeu.go.id/…/siaranpdf%5Cpidato%20presidennk2010.

[5].    http://nasional.vivanews.com/news/read/172677-kasus-345-wni-dihukum-mati-dilaporkan-ke-sby.

[6].    http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=4932&Itemid=30.

[7].    http://www.bps.go.id/

[8].    http://stats.uis.unesco.org/unesco/TableViewer/document.aspx?ReportId=121&IF_Language=eng&BR_Country=4580

[9].    http://www.statistics.gov.my/portal/index.php?option=com_content&view=category&id=35&Itemid=53&lang=en)

[10].http://id.wikipedia.org/wiki/Konfrontasi_Indonesia-Malaysia

Gambar-gambar diambil dari beberapa sumber di internet.


Aksi

Information

2 responses

28 08 2010
MAMIN-73

hmmm….negara ini semakin kecil
kalo dulu macan…saat ini jangankan kucing…

28 08 2010
juarsa

Memang sedih mas Mamin, entah kapan kita mulai seperti dulu lagi. Besok-besok kalau mau nyoblos kita kudu jeli akh. Thanks ya responya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: