Akademisi dan Pencari Nafkah…

22 08 2010

Kalo diitung-itung, lumayan juga dah 5 tahun aku menjadi dosen di suatu PTS di Bogor, kira-kira mulai dari tahun 2005-an deh. Sebenernya sih aku mulai ngajar jadi dosen dari tahun 1999 pada PTS di Jakarta. Namun karena aku keburu sekolah lagi (S2) dan sesudah sekolah selesai mulai gak kuat untuk PP Bogor-Jakarta, akhirnya berhenti (2003) dari PTS tersebut.

Mengajar nampaknya sudah mulai menjadi bagian dari hidupku sejak aku SD mungkin, ngajarin teman-teman menggambar awalnya. Kemudian di SMA terkadang gantiin guru matematiku (Bu Eti) kalo beliyau berhalangan hadir, pas lulus SMA juga aku ngajar anak tetangga, dan tentunya dengan honor yang lumayan untuk gantiin uang rokok. So, sejak itu ngajar menjadi suatu hobby dan masalah honor yang ala kadarnya hanya bagian yang kadang gak kepikiran, yang penting ngajar dan bisa ngelepus. Tiba di bangku kuliah, ada juga kegitan himpunan, namanya responsi buat adik-adik kelas, juga aku ikut-ikutan ngajarin matematika fisika (kalo gak salah…ya?), terus pas waktu jadi ketua bidang litbang di himpunan, aku buat quisoner untuk mengetahui korelasi pengetahuan fisika anak-anak SMA terhadap aplikasinya dan “like and dislike”nya mereka. Oh, ya aku kuliah di jurusan fisika. Hasilnya riset-risetan tersebut menunjukkan, bahwa perlunya seorang guru fisika yang bisa meyakinkan anak-anak didiknya bahwa elmu fisika itu banyak bisa diaplikasiin. Malah semua teknologi yang digunakan manusia turun dari fisika (Ups, kebanyakan omong fisika nih). Balik soal ngajar, kami juga dari himpunan ngadain semacam pengajaran kepada murid-murid sekolah baik SMP dan SMA disekitar kampus. Tujuannya membantu para guru untuk mempercepat pemahaman muridnya terhadap elmu fisika dan matematika. Lumayan deh, cukup banyak interaksi sosialnya. Pemikiran waktu itu, agar dampak PTN yang ada di suatu wilayah tidak hanya melulu naikkin nilai ekonominya (maksudnya dengan adanya kost-kost-an dan kegiatan ekonomi untuk kebutuhan mahasiswa), namun juga harus berdampak terhadap ipteknya. Muluk gak tuh…, tapi waktu itu jalan terus. Hingga akhirnya kegiatan tersebut terhenti, karena apa? Aku lupa deh. Moga aja adik-adik kelasku, kalo baca ini bisa nerusin lagi. Manfaat keberadaan kita akan terasa jika langsung dilakukan dan diterapkan pada masyarakat sekitar kampus.

Akhirnya, kata “akademisi” jadi bagian dari perjalanan hidupku, selain aku sendiri bekerja sebagai peneliti. Nah, ini emang pasangan yang kelop, bahwa pendidikan dan penelitian emang dua kata yang udah dijodohin dan pasangan ideal. Meski di jaman sekarang, mereka berdua (pendidikan + penelitian) sudah harus melahirkan “anak”,  namanya “enterpreuneur” (bener gak aku nulisnya ya?). Alias semua produk-produk dari dua hal tersebut sudah harus bisa diaplikasikan, bermanfaat dan bisa dijual. Yang dijual tentunya karya ilmiah atau semacam “kebaharuan”, kerenya inovasi kali ya. Pendidikan, disini aku memang merasakan tugas sebagai seorang pendidik atawa di PT disebutnya akademisi aku geluti. Sangat menarik dan variatif persoalan dalam kependidikan, menghadapi murid-murid dengan latar belakang yang variatif dan kemampuan yang variatif, perlu metode pengajaran dan sikap yang variatif. Bahasa temen ku, kudu bisa maen sirkus. Bagaimana tidak, elmu yang harus diberikan kepada murid-muridku, jika mereka denger aja judul kuliahnya udah “gerah”, yaitu fisika dasar dan matematika tekhnik. Wah, repot jadinye. Tapi, itu tadi karena dah jadi hobby, tugas ngajar jadi agak ringan (enggak kepaksa maksudnya). Walhasil, banyak metode ngajar yang aku kembangkan, dengan tujuan agar murid-muridku enggak phobia sama mata kuliah yang aku berikan. Bayangin deh, aku kalo muali ngajar fisika, udah buat statemen ke anak didikku agar mereka jangan sekali-kali “ngapalin” rumus-rumus. Bingung jug awalnya mereka, namun lama-lama mereka mulai faham. Bahwa, apa yang aku ajarkan adalah rangkuman matematis dari proses yang terjadi di jagad raya ini, dan semuanya selalu ada disekitar kita semua. Sampai sekarang aku masih terus-terusan mengembangkan metode agar matakuliahku makin bisa diterima dan disukai murid-muridku. Aku pernah bilang ke mereka, kalo mereka ngejawab soal fisika pake acara “diketahui” dan “ditanyakan” tanpa “ngegambar” kejaidan, mending balik saja  lagi ke SMA/SMK. Konsep, dan konsep yang harus dipegang, bukan rumus dan angka-angka saja. Kalo tahu konsepnya, yang namanya rumus dan angka bakal ngikutin sendiri. Tentunya juga ngajar fisika dan matematika, juga pake ala “debodor”, wih kalo enggak bisa pada kabur tuh mahasiswa. Intinya, ngajar sebagai akademisi sangat menyenangkan dan bikin hidup ini merasa terus punya arti, apalagi kalo murid-muridku 80% lebih dapet nilai AB ke atas.

Tugas akhir, adalah bagian yang paling ujung untuk setiap proses pendidikan setelah SMA. Kalo enggak praktek, ya riset. Riset untuk S1 macam-macam bentuknya, bisa pemodelan, buat alat, ataw cuman simulasi doang pake computer software, de-el-el. Nah, masalah yang menarik pada saat tugas akhir adalah menanamkan “pola fikir” bukan hanya standar keilmiahan saja yang ditargetkan. Kebanyak mahasiswa belom sampai ke arah itu, dan bukan salahnya mereka. Justeru akademisi yang harus bertanggung jawab. Terlihat bahwa, bagaima suatu masalah diidentifikasi, terus dicarikan jalan keluarnya dan dibuat batasannya, terus teori atau pengetahuan apa yang ngedukung untuk pemecahan masalah, nah kemudian metode. Biasanye para tugas akhir-wan/wati, paling mudah tuh ngumpulin bab 1 ampe bab 3, mentoknye di bab 4 dan 5. Alias kemampuan analisis, termasuk ngitung dan membahasa suatu trend/profile atau apalah namanya yang keluar dari hasil risetnya, babak belur. Kembali gak salah mereka juga sih. Yang mengenaskan akhirnya ada yang lulus dengan standar “kasihan” dan ini yang sesungguhnya mencederai perasaan para akademisi (bagi yg mikir tentunya). Meski tidak sedikit juga yang lulus dengan nilai yang bagus dan layak dipertanggung jawabkan.

Kalo dirunut-runut kenapa kok bisa begitu? Yah, kalau ngebandingin dengan PT yang udah bagus alias mapan, keliatan sih bedanya. Sorotanku ada pada pola mereka menjadi akademisi tidak mereka jadikan sebagai “sarana” untuk mencari nafkah saja. Bahwa, menjadi akademisi adalah suatu pilihan hidup (bukan dari pilihan hidup yang udah mentok). Emang beda sih, kalo yang namanya cari nafkah, yah seperti kita melakukan suatu pekerjaan yang bersifat rutin dan hanya perlu pengetahuan ala kadarnya saja, gak perlu inovasi atau tetek-bengeknya, yang penting jalan dan bisa makan (kalo perlu bisa nabung buwat beli kendaraan atau property lainnya). Sebagai akademisi, semuanya mesti lebih. Memang sih, nilai inkam akan terkorelasi dengan “kekhusyuan” akademisi saat bertugas, toh akademisi juga bukan “ayam” yang gak butuh inkam. Dalam hal ini yang punya duwit, pemerintah sudah membuat mekanisme macem-macem, agar para akademisi terus menggenjot kemampuan mereka, dan semua kudu terukur (salah satunya sertifikasi), sehingga rewardnya jelas. Dah dimulai sejak 2005-2006 (lupa tepatnya). Sekali lagi, kalo emang dah males, akhirnya ada juga yang akal-akalan untuk bisa terukur. Soalnya, antara “reward and punishment” gak berimbang, agak ke rewardnya. Mungkin karena rewardnya dianggap belom layak. Pokoknya apapun deh, penyebab sulitnya anak didik untuk lebih cepat mengerti dan menguasai materi studinya, tidak akan pernah terlepas dari peranan akademisinya. Itu yang pasti. Bisa saja sih dengan mudah para akademisi ngasih nilai dengan mudah, namun kemampuan akan terukur dan terlihat ketika mereka harus menyelesaikan tugas akhirnya. Hampir rata-rata ilmu-ilmu yang terkait dengan riset mereka, banyak yang lupa alias tidak ngerti. Yang ketiban tentunya dosen pembimbing, saat membimbing akhirnya kudu juga mengajar kuliah-kuliah yang sudah lewat banyak. Ironis, kalo ada dosen pembimbing yang ala kadarnya juga membimbing. Lulus sih lulus, tapi bisa tidak dipertanggung jawabkan sama tuhan dan masyarakat, itu sih muluk deh. Sama dirinya sendiri aja. Nah, harus bagaimana jadinya?

Orang yang buat Tri Dharma Perguruan Tinggi (TDPT), bukan asal ngejeplak. Dua unsur pokok dalam TDPT adalah pendidikan dan penelitian, satu unsur penunjang TDPT adalah pengabdian pada masyarakat. Coba lihat, baca dan fikir baik-baik, dua unsure pokok dari TDPT. Logikanya, seorang akademisi harus mengajar dan meneliti juga. Kebanyakan di PT, cumin ngajar doang. Bahan-bahan yang diajarkan hanya text book, kemudian ketika ngejelasin ke mahasiswa cumin dari text book. Pengalaman empiric seorang akademisi terkait iptek yang dia kuasai dan kuliah yang diberikan harus kuat ikatannya. Kembali ke tulisan di atas, metode-metode pengajaran akan terus berkembang seiring perkembangan iptek dan kemampuan akademisi dalam melakukan penelitian terhadap iptek yang berkembang secara cepat. Sehingga pegajaran menjadi dinamis karena factor kemampuan akademisi yang bergerak karena risetnya yang mengikuti perkembangan iptek. Nah loh? Kelihatan kan, kalo akademisi hanya mencari nafkah doang tanpa sadar apa intinya menjadi seorang GURU, dan untuk dosen apa itu TDPT. Repot deh, akhirnya ke kampus hanya untuk mencari nafkah, bukan untuk menjadi seorang akademisi.

Agustus 22, 2010. Tulisan ini dibuat karena pengamatan pribadi semata dan keprihatinan, penulis juga masih terus belajar dan belajar untuk menjadi akademis tulen dan peneliti beneran.

Sumber-sumber foto :

http://sudewi2000.wordpress.com

http://nasional.kompas.com/read/2010/06/07/1001002/Pansel.KPK.Jemput.Akademisi.


Aksi

Information

9 responses

23 08 2010
mew da vinci

itulah bisnis… *paha rapat, tangan di paha, manggut-manggut*
*balik lagi mantengin monitor, ngedesain stiker “100% laris”*

23 08 2010
juarsa

waduh repot dunk kalo semuanya jadi bisnis. Thanks komennye ye, Fie.

23 08 2010
Heny Suseno

Selamat Teman karena telah mengajar lebih dari 5 tahun yang tentu saja lebih banyak mengorbanannya dibandingkan penghasilannya. Memang mengajar dan meneliti seharusnya berjalan linier dan sinergis. Tapi apa daya disamping talentanya yang ngk nongol juga sudah salah pemahamannya. Mungkin pelan-pelan diubah dan diberikan pemahaman yang benar

23 08 2010
juarsa

Terimakasih my brother, dibandingkan pengalaman kang Heny yg sudah lebih 10 tahun (di tempat yg sama dng ogut), tentunya definis-definisi yg tepat terkait tulisan di atas bisa lebih meramaikan lagi. Semoga kita tetap bertahan untuk coba terus berkiprah dalam dunia akademik, disamping tetap pada tugas penelitian. Merdeka Brow…!

24 08 2010
tsdipura

Alhamdulillah..semoga grup yang dibangun di PTS nya semakin mantep Kang. Kalo nyoba merintis grup untuk riset reaktor nuklir (neutronik) apa udah ada yang garap di sana ? kira2 ada peminat gak ya ?

24 08 2010
juarsa

Hatur nuhun kang. Insya Allah pami hoyong na mah janten akademisi teh sesuai sareng tujuanna, oge boh dina peneletianna. Kaleureusan pami grup neutronik mah acan aya, tah tiasa sareng kang Iwan anu kenceng di neutron (material science). Mangga di antos Kang.

24 08 2010
arya

Selamat Mas, 5 tahun yang sangat bernilai dan bermanfaat bagi banyak pihak. Semoga gak keberatan kasih masukan ke saya yang masih perlu banyak belajar.

24 08 2010
juarsa

sama-sama Bro, sama gak keberatan Ya. Kalo mau belajar juga tuh ke pak Heny Suseno. Dia lebih dari 10 taon mengajar dengan honorarium yang minim, tapi ngeksis terus.

Dah muali kuliah? , tgl 30 Agustus yah?

3 01 2011
2010 in review « JUARSA (jiwa)

[…] The busiest day of the year was August 24th with 148 views. The most popular post that day was Akademisi dan Pencari Nafkah…. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: