Temporary Single Parent

16 08 2012

Istilah “single parent” atawa orang tua tunggal biasanya berlaku pada suami atau istri yg hidup tanpa pasangannya karena berbagai sebab terjadinya perpisahan, namun juga memiliki anak-anak yang harus di asuh. Sulit membayangkan menjadi menjadi ortu tunggal, dan selama ini my wife always beside me untuk “mengasuh” anak-anak (ada 4 anak kami). Namun, beberapa hari ke depan selama seminggu saya akan merasakan hidup sebagai ortu tunggal, dikarenakan istri saya akan bepergian ke luar negeri tanpa saya dan anaka-anak alias mandiri. Rupanya ini mungkin bales dendam istri saya yang hampir setiap tahunnya saya tinggal ke luar negeri untuk urusan riset ataupun studi, dulu selama 6 bulan pernah ketika anak kami masih satu orang. Kemudian 2-3 bulan, sepuluh hari, seminggu dan beberapa hari. Gak kebayang tuh, gimana istri saya ngurus anak-anak saya sedang ke luar negeri, maklum anak-anak kan rada2 mirip babenye, rada susah diatur.

 Kenapa istri saya bisa pergi ke luar negeri selama seminggu, panjang ceritanya.  Di awali dengan saya studi lanjut untuk s3 pada September 2009, yang otomatis segala tunjangan kerja saya dicabut dan meski ada beasiswa bulan tetep masih minus (hehehe, curhat dikit akh). Nah, istri berinisiatif untuk nyari tambahan karena minus tadi itu. Rupanya ada bisnis MLM yg sifatnya on-line, alias gak perlu ke pelanggang nemuin face to face, cukup di depan computer dan internetan. Yang dibutuhkan mesin fax sama printer scan, jadi deh itu usaha dengan di awali bonus bulan hanya seratus ribuan dengan modal daftar 37 rebuan deh. Singkat cerita, setelah beberapa tahun (2012 ini) posisinya di itu bisnis produk kosmetik dari Sweden dah jadi Gold Director (disingkat GD), keren juga kedengerannya GD gethuu, tapi jangan bayangin kayak direktur lainnya hehehehe. Nah, tahun ini dia dapet tiket dan akomodasi gratis ke Stockholm, Swedia untuk pelesiran dan ada semacam training kali ya, selama seminggu (termasuk perjalanan). Ternyata pula tanggal berangkatnya, hari raya Idul Fitri ke-2, yaitu hari Senin tanggal 20 Agustus 2012 dan baru kembali hari Minggu 26 Agustus 2012. Istri berangkat dengan penerbangan Luthfansa dan transit di Munich, Germany sebelum ke Stockholm, Swedia. Nah ini dia, akhirnya saya jadi ortu tunggal sementara (temporary single parent), dan ini jadi pengalaman pertaman saya seumur-umur ngasuh 4 anak tanpa istri tercinta. Tapi, saya rada curang dikit, karena kebetulan ada ibu kandung saya yang sedang tinggal di rumah saya, jadinya gak begitu puyeng2 amat nantinya (ngandelin nyokap).

Semoga saja perjalan istri saya kali ini akan memberikan yang terbaik untuk keluarga kami, istri belajar bagaimana rasanya berlibur tanpa keluarga dan saya belajar mengasuh anak-anak tanpa istri yang tentunya diharapkan akan meningkatkan kualitas kehidupan keluarga kami. Mohon doanya teman-teman, agar istri saya dapat kembali dengan selamat dan perjalanannya lancer dan aman.





Pagi hari buta, deru nafas menyambung nyawa

9 08 2012

Alhamdulillah, ramadhan tahun ini bisa juga aku nikmati. Meski kegiatan pokokku aku istirahatkan sejenak karena kepenatan, kejenuhan dan kekecewaan dengan diri sendiri. Syukurlah, bahwa hidup tetap harus memiliki makna, khususnya bagi diri sendiri dan sekitar. Meskipun, istirahat “belajar” tapi aku harus menjalani aktivitas yang menambah keinginanku untuk tetap “belajar” akan keberartian hidup dan kemanfaatan dalam hidup. So, akhirnya selama ramadhan ini kegiatanku setiap jumat hingga minggu subuh (dua malam) bolak-balik ke kampus di Bogor. Kebetulan, seminggu sebelum ramadhan lab.riset kami pindahan ke gedung yang baru di bagian belakang kampus (enggak ke belakang banget sih). Dan selama bulan September 2011 hingga Juli kemarin frekuensiku ke lab di Bogor sangat jarang, maklum kudu fokus ke studi ceritanya. Alhasil, lab menjadi sepi dan selalu kosong, sehingga apa yg dulu dicita-citakan nyaris tinggal kenangan. Alhamdulillah, kepindahan lab. ke tempat baru dan kesadaranku bahwa ndak mesti juga untuk mengejar studiku semua hal yg mungkin akan bersifat positif harus ditinggalkan juga. Sementara yang namanya umur, hanya Allah yg tahu dan entah kapan kita dipanggil. Istighfar, dan kembali ke kegiatan mengasuh mahasiswa dan rekan-rekan di lab Bogor yg memang ingin sekali maju dan berkembang.

Singkat cerita, setiap Jumat siang aku sudah ke kampus Bogor dan kembali setelah sholat shubuh ke rumah pada hari Minggunya. Bersyukur, bahwa istri dan anak-anak sudah terbiasa dan mengerti soal hebitku ini. Meski merekapun tahu, kepergian ayahnya tidak untuk mencari uang dan memang tidak ada uang sebagai bayaran. Aku hanya yakin, bawah rezeki hanya Allah yang mengatur dan mengadakan. Terkadang sedikit sedih juga, dengan kondisi saat ini yang memang penghasilanku sedang kurang baik (karena status belajar) dan juga cuti dari kampus tempat ngajar (karena pengen fokus) kemudian berada pada kondisi ramadhan seperti ini. Kembali aku harus bersyukur, anak-anakku memang bukan tipikal perengek dan peminta-minta, meski mereka berpuasa dan teman-temannya sudah mulai belanja disana-sini, mereka sama sekali tidak menanyakan perihal tetek-bengek soal asesoris berlebaran. Justeru sikap mereka seperti itu yg bikin hati ini jadi tambah pilu dan luka. Sedangkan waktuku kadang lumayan banyak di luar. Meski penghasilanku sedang dalam kondisi “studi”, Alhamdulillah istriku berperoleh rezeki yg lumayan bisa membantu kebutuhan keluarga selama ini. Semua pasti ada minus dan plusnya, semua dalam kondisi setimbang. Nah, terkait cerita soal pulang setelah subuh (sekitar jam 05 dari kampus), aku selalu naik kendaraan umum setelah diantar oleh muridku hingga pada lokasi tertentu. Hidupku yang kuanggap lumayan terasa berat karena sedikit ceritaku di atas, ternyata jauh berbeda dengan orang yg setiap subuh aku temui. Ketika aku pulang naik bis di setiap subuh pagi itu, aku selalu berbarengan dengan bapak-bapak yg mungkin usianya di atasku 10-20. Bapak tersebut selalu membawa 2 karung yang berisi sayur mayur dari lokasi Bogor ke Parung. Beliyau terlihat begitu rentanya terlebih ketika menaikkan karung-karung tersebut ke atas bis di bagian belakang, kebetulan aku memang suka duduk di bagian belakang bis. Terlihat nafasnya yang tersengal-sengal dikarenakan setelah berjalan kaki menuju ke pinggir jalan raya tempat dia menunggu bis, plus 2 karung yang juga harus tetap beliyau gotong. Namun, meski dengan wajah capek dan lelah, tetap saja saat bertemu denganku beliyau melepaskan senyumnya. Seperti biasa aku ajak ngobrol atau beliyau yg duluan mengajak ngobrol. Hhhhmm, ternyata pengahasilan beliyau tidak seberapa dengan menjual sayuran tersebut (biasanya daun singkong dan daun papaya). Namun semangat hidupnya dan keceriaannya menghadapi hidup ini dengan nafas menderu setiap pagi buta untuk menyambung nyawa (mencari makan) tidak menunjukkan bahwa beliyau menyesali kehidupannya. Huh, kalo teringat keluhanku terhadap kondisi hidupku (meski hanya direlung hati), keadaan bapak tersebut  sepertinya menamparku dan membangunkanku, bahwa apa yg sudah aku peroleh selama ini jauh harus aku syukuri. Bahwa, ketika kembali di panggil Allah, hanya jasad yang membusuk tersisa di liang lahat. Semua amal dan ibadah yang hanya di bawa.

Alhamdulillah, terimakasih Allah atas semua limpahan rahmat dan hidayahmu, Amin.

Gunungsindur, 9 Agustus 2012





Menghilangkan Ketergantungan “mesbuk”

3 08 2012

Semenjak diluncurkan pertama kali di USA pada bulan Februari 2004, facebook (terjemaah bahasa gue : “mesbuk”) menjadi jejaring social yang sangat dominan diberbagai belahan dunia ini. Benua ke benua, Negara ke Negara, kota ke kota, desa ke desa hinga person ke person saling terkoneksi, ditambah dengan fitur-fiturnya yang semakin memanjakan penggunanya. Semenjak dari anak kecil hingga orang tua (kakek-nenek) seakan berlomba dalam menggunakan jejaring social ini. Berbagai strata social, pendidikan hingga beragam status bisa saling terkoneksi dan semua hanya dilakan dengan cukup menekan “klik” saja.

Sharing informasi, baik berupa kata-kata, dokumen, foto hingga video dapat dengan mudah dilakukan via facebook melaui wall teman, wall pribadi maupun inbox. Terlebih ada fitur dimana beberapa orang bisa membuat groups, sehingga tidak semua teman-teman yg enggak sealiran bisa masuk, terus groups bisa dibuat hingga tidak terhitung dan nampaknya akan lahir terus setiap harinya sesuai dengan dinamika perubahan social, dinamika waktu (lampau, sekarang maupun masa depan), benefitas, dan sebagainya. Semua yg mulanya kita niatkan untuk men-share sesuatu kepada kalayak (all friends) akhirnya terbagi menjadi segmen-segmen informasi khusus melalui facebook groups, dikotomi atau pengelompokan memang sudah menjadi habitat manusia, baik di alam nyata maupun di dunia cyber. Yang jelas facebook telah menjelma menjadi salah satu media komunikasi yang paling padat di dunia ini, sampai-sampai pesan-pesan yg biasanya disampaikan via surat konvensional, surat elektronik (email), short message service (sms) by phone menjadi berkurang kuantitasnya, mengingat berkirim informasi melalui facebook bisa apa saja dan dengan siapa saja secara bersamaan dan terdokumentasi dengan baik. Tentunya fitur timeline menjadikan dokumentasi kita jadi lebih apik dan teratur berdasarkan waktu. Hingga pada akhirnya ketika komputer kita, baik laptop atau destop terhubung dengan jaringan internet, maka biasanya situs facebook yang pertama kali kita buka. Lumayan minimal 15 menit (paling cepat) kita pasti melototin layar monitor yg berisi “pesan-pesan” facebook, dan tanda merah sebagai status pesan masuk yg selalu kita harapkan.

Positifnya facebook? Wuih banyak juga, selain menimbulkan kreatifitas, seperti munculnya ide-ide untuk menuliskan sesuatu di status atau sekedar humor atau informasi yg bersensasi sehingga teman-teman yg membaca jadi terhibur atau malah ikut prihatin karena neyuarakan kegalauan, dukacita atau kesedihan lainnya, bisa juga terjalinnya hubungan keluarga atau perteman yg telah lama terputus atau terpisah, informasi keberadaan kawan atau apa saja. Saya termasuk pengguna aktif sejak tahun 2008 (telat 4 taon dari semenjak facebook ada), dan sudah lumayan juga groups facebook yg saya buat. Alhamdulillah sebagian besar groups facebook tersebut saya jadikan media share kepada rekan sejawat dan mahasiswa saya, meski kadang lucu juga status saya berderet cuman sendirian sedangkan mahasiswa yg menimpali (komen) paling juga hanya beberapa orang dan kadang itu-itu aja orangnya. Lucunya, kalau saya buat status aneh dan lucu atau apalah, kadang gak tertuga komen begitu banyak. Jujur sih, kadang kalo dapat komen banyak jadi terpuaskan dan merasa terperhatikan, ini memang yg disebut narsis kali. Ditambah dengan seringnya meng-upload setiap kegiatan pribadi (untung aje, kegiatan rutin nongkrong di toilet enggak di update). Pokoknya, positifnya adalah makin banyaknya pertemanana dan jaringan, serta media untuk mengurangi strees hidup.

Negatifnya? Kayaknya ndak ada deh? Iya sih, dari 2008 hingga akhir Juli 2012 kemarin belum terasa benar negatifnya, namun entah kenapa usai sholat subuh tangga 1 Agustus 2012 kemarin tiba-tiba kok merasakan kejenuhan yang amat sangat dengan facebook. Terbayang, bahwa tanpa disadari, hampir 30-40% waktu saya di depan computer setiap harinya pasti nagkring di facebook, baik itu nyetatus ke student soal kegiatan dan informasi ilmuah, nyetatus prasaan hati (baik kesel, happy atau apa aja), ngomentari status temen, update macem2 deh, hingga cuman bacaain status orang dan nge-like doang. Wuuuiihh…30-40% di pesbuuk??? Kalo sehari saya buka laptop sekitar 8 jam saja, berarti 2,4-3,2 jam sehari waktu saya untuk facebook, taruklah rata-rata setiap hari saya buka atau di depan komputer 4 jam saja, maka setiap hari rata-rata waktu untuk mesbuk sekitar 1,2-1,6 jam/hari dikalikan 365 hari. Luar biasa facebook itu ternyata. Jadi dalam setahun waktu saya untuk mesbuk rata-rata memakan waktu 18-24 hari. Belum dengan kegiatan lain yang menggunakan situs internet lainnya selain facebook? So, saya fikir saya sudah seperti “ketergantungan” alias “nyandu” dengan facebook. Dan entah karena apa pula tiba-tiba fikiran “negatif” tentang facebook datang dan tanggal 1 Agustus 2012 itulah saya non-aktifkan sementara akun facebook saya (belum brani permanen, belum sungguh2 soalnya). And, gila luar biasa, setelah di tutup itu akun facebook, selama dua hari ini ternyata saya diserang “kegelisahaan” yg luar biasa, kegelisahan ingin melihat “kondisi” all friends di facebook, ada kabar apa, ada info baru apa, atau ada foto dan video apa? Semua bikin penasaran dan itu kali yang disebut “sakaw nyetatus”?. Selama 2 hari, hampir beberapa kali saya ingin membuka lagi akun saya, namun Alhamdulillah, masih bisa di tahan. Makanya, di hari ke-3 ini saya dah mulai bisa kuasai kedaan, dan menuliskan perasaan saya ini melalui blog saya. Hhhmmmm, luar biasa, pengalaman ini terulang kembali ketika saya waktu masih muda, yang berhenti dari kebiasaan minum-minum, namun bisa dan akhirnya bisa jadi sarjana dan sekarang hampir s3, dan sudah punya anak 4.

Memang akan menjadi mudah saat kita dengan kata-kata baik lisan maupun tulisan diharuskan beropini apakah sesuatu itu ada positifnya atau ada negatifnya? Bagi saya semua hal, pasti ada positif negatifnya. Mudah saja, ibadah sholat adalah hal yg paling positif, tapi ketika kita dengan tidak sengaja dan sengaja melakukannya karena “ria” ibadah kita menjadi hal yg negatif. Begitu juga dengan studi, semakin tinggi jenjang studi kita akan semakin positif untuk kita dan keilmuan, namun jika kita melupakan hal-hal yg harusnya bisa kita lakukan agar bermanfaat, maka pendidikan akan merubah kita menjadi manusia yg angkuh dan sombong. Semua yg kita kejar hanya bermuara untuk diri kita dan kelompok2 kita. Jadi yakinlah, bahwa semua hal yang ada di depan mata akan berubah kearah kutub mana saja, positif maupun negatif. Alkohol akan menjadi negatif jika di minum, namun positif jika digunakan untuk membersihkan luka. Kembali lagi, semua hal tetap tersusun dari hal yang negatif dan positif, seperti semua unsur di kehidupan jagat raya ini. Selalu ada hal yg saling berlawan, dan yang saling berlawanan itu tentunya harus saling melengkapi dan menyeimbangkan kita. Namun, jika salah satunya mulai tidak seimbang, kita buru-buru kudu sadar dan mulai menyeimbangkan kembali. Yaahh, seperti kasus penutupan akun facebook saya, saya merasakan bagian negatifnya mulai lebih besar dan harus saya kurangi.

Tapi, this is true my friend. Menghilangkan kebiasaan mesbuk, sungguh luar biasa sulitnya dan terasa lumayan menyiksa. Untunglah, kondisi ini saya lakukan saat Ramadhan, sehingga untuk 2 hari ini sudah mulai teratasi. Masak puasa makan, minum dan lainnya tahan, mesbuk aja enggak sih? Silahkan deh mencoba, daripada hidup terus-terus terjajah.

Semoga teman-teman bisa faham deh, setelah baca tulisan saya ini kenapa saya tutup (sementara) akun facebook. Karena, saya hanya manusia biasa saja, yang hanya ingin hidup tenang dan selalu berkeinginan menyeimbangkan kondisi hidup saya.

Oh ya, agar kita bisa tetap berhubungan silahkan bagi yang ada keperluan atau sekedar nyapa kirim  aja ke email saya : myjuar@yahoo.com (ini rutin saya buka tiap hari). terimakasih.

mulya.juarsa@facebook.com – 3 Agustus 2012





10 Tahun Perjalanku “Jangan Anak Tirikan PLTN” by Yudi Sandika

25 07 2012

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/16/10-tahun-perjalanku-jangan-anak-tirikan-pltn/

————————————————————————————————-

Tidak terasa dalam beberapa  minggu kedepan , seluruh dunia dan bangsa ini khususnya akan menyambut lembaran baru tahun 2012, tahun yang begitu di nantikan banyak orang dan tahun yang begitu sakral bagi beberapa orang yang berkeyakinan bahwa kiamat akan segera datang di tahun ini, tapi  sampai penghujung ini belum ada tanda ilmiah kearah apa yang mereka yakini, dan merekapun telah mati di tahun-taahun sebelumnya.  Bagi penulis sendiri di tahun 2012 ini adalah tahun yang sangat penuh arti, tahun di mana manusia bisa saling mengkoreksi dan menilai apa-apa yang telah mereka capai di tahun-tahun sebelumnya,  yang jelas tahun ini harus lebih baik dari tahun sebelumnya, dan di tahun 2012 ini adalah genap 10 tahun pergulatan  penulis  dalam diskusi menentang diskriminasi energy. Diskriminasi dan ketidak adilan terhadap opsi “NUKLIR”, yang hanya di dasarkan atas alasan-alasan yang tidak rasional, nalar dan cendrung emosional, politis dan tidak nasionalis.

Melalui UU No 10/1997, PP No 5 tahun 2006, Undang-undang No 17 tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025 Bab IV.2.3. (2015-2019), Inpres No. 1 Tahun 2010, PeraturanPresiden No. 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010-2014, yang menjadi dasar hukum bagi bangsa ini  untuk memanfaatkan teknologi nuklir di berbagai bidang tidak terkecuali sebagai sumber energy. Namun pada kenyataan nya nuklir tidaklah mudah di terima di Negara ini. Bangsa ini sudah terlanjur asyik dengan batu bara dan migas yang entah di sadari atau tidak, cadangan untuk SDA tersebut semakin berkurang,  sebagai catatan untuk minyak cadangan sekitar 23 tahun lagi dan untuk gas sekitar 60 tahun lagi( sumber :http://www.migas.esdm.go.id/#) itu pun dengan prediksi konsumsi energy untuk saat ini. Logika sederhana dengan pertumbuhan ekonomi dan penduduk dapat di pastikan nilai konsumsi akan meningkat  tajam. Di sisi lain eksplorasi terhadap cadangan baru masih di kuasai asing yang di dominasi Amerika , Eropa dan China. Biaya ekplorasi yang mahal dan berteknologi tinggi terutama di wilayah laut dalam membuat bangsa ini tidak berdaya untuk berbuat sesuatu. Bagi hasil adalah jalan keluar yang di ambil , itupun bergantung ke pada biaya  yang di keluarkan investor. Intinya Negara ini tidak bisa berharap banyak dengan system tersebut sebab apabila biaya investor tinggi secara otomatis bagi hasil yang di terima pemerintah akan turun/rendah. Yang di takutkan di kemudian hari adalah bangsa ini hanya bisa bangga dengan data cadangan migas yang dimilikinya ,  tapi tidak bisa merasakan manfaat dari  data cadangan tersebut. Seperti halnya migas , batubara bernasib sama dengan cadangan terbukti sekitar 5,5 miliar ton dengan produksi saat ini dengan asumsi konsumsi saat ini adalah 229,2 juta ton.

Difersifikasi energy adalah kata kunci dalam mengatasi krisis energy yang akan bangsa ini hadapai, singkat kata sesegera mungkin menghilangkan ke bergantungan dengan satu sumber energy khususnya migas dan batu bara(coal), masih banyak alternative sumber energy lain seperti  PLTAir, BioGas, PLTAngin, PLTS, Geothermal dan lain-lain . kabar baiknya sumber-sumber alternative tersebut saat ini sudah berjalan walaupun baru memberikan kontribusi yang kecil,  tercatat dalam kebijakan Mix Energi dengan komposisi batubara 32,7 %, Gas bumi 30.6%, minyak bumi 26.2%, PLTA 2.4%, panas bumi 3.8% dan lainnya 4.4%(ESDM 2009). Terlihat kebergantungan Indonesia terhadap coal dan migas masih tinggi di tengah keadaan yang telah ditulis di atas.

Lalu bagaimana dengan “Nuklir” opsi ini seakan hilang atau di anak tirikan bahkan oleh ibu kandungnya sendiri(beberapa orang di batan). Sungguh keadaan yang cukup menghawatirkan. Indonesia di usianya yang genap 19 tahun yang masih sangat belia telah berhasil mengendalikan situasi kritis dari reactor TRIGA bandung di mana pada situasi kritislah sebuah reactor nuklir bisa berjalan. Jadi nuklir bukanlah barang baru di negri ini. Di asia tenggara ,Indonesia telah mendapat pengakuan dari dunia internasional (IAEA) dalam teknologi Nuklirnya. Hal itu bukan omong kosong belaka, ada beberapa criteria yang harus di penuhi. Indonesia yang sudah cukup lama bergelut di dunia nuklir telah memiliki tiga reactor nuklir skala riset di Jogyakarta, Bandung dan Serpong Tanggrang, Indonesia sudah memiliki dasar hukum dan perundang-undangan di bidang nuklir, riset secara berkala, regenerasi SDM merupakan beberapa criteria yang harus di miliki. Untuk PLTN sendiri telah banyak peneliti yg melakukan penelitin yang berfokus di pemanfaatan nuklir untuk daya/energy. Tercatat publikasi ilmiah mulai dari disain  reactor, studi kelayakan, effisiensi dan BBN, serta telah ratusan anak negri ini menimba ilmu dan langsung  melakukan kerja praktek lapangan di beberapa PLTN di luar negri.

Setelah panjang selama 10 tahun ikut dalam berbagai diskusi dalam seminar dan forum di dunia nyata maupun dunia maya , setidaknya ada beberapa isu pokok yang menyebapkan pandangan miring terhadap PLTN  diantaranya adalah :

1. Apakah SDM Indonesia siap atau mampu?[ baca sejarah, bertanya dengan ahlinya, berpikiran terbuka jangan pesimis, dalam dunia sains dan teknologi tidak ada yang berdiri sendiri ada prinsip korenpondensi, transfer ilmu, lihat Iran sekarang semua Negara segan dengan teknologi nuklirnya, apakah mereka buat atau ciptakan sendiri?? Tentu tidak, ada Rusia di belakangnya , kerjasama yang apik antara keduanya membawa Iran jaya dengan nuklirnya, PLTN di Iran telah di hubungkan dengan jaringan nasional Negara tersebut telah mampu mengadopsi dan menjaga arus transfer ilmu dengan cukup baik , memang begitulah sains di tularkan, dan itulah gunanya kerjasama antar Negara. Selama kerjasama itu saling menguntungkan , mengapa tidak?? Apalagi Indonesia yang sudah mempunyai pondasi kuat di bidang nuklir ,tentunya akan semakin mempermudah prosess transfer ilmu tersebut. Ingat di dunia ini kita tidak sendiri.]

2. Indonesia Negara Korup, apakah tidak takut nanti PLTN nya di korupsi juga?

[tidak ada yang membantah Indonesia masih kental dengan korupsinya, tapi adakah yang membantah bahwa Indonesia sedang menuju perbaikan dalam memberantas korupsi, apakah koruptor yang di tangkap dan diadili berkurang? Atau malah bertambah? Lalu apakah PLTU ,PLTD, dan pembangkit listrik lainya boleh di dirikan di Negara yang katanya korup? Mengapa hanya PLTN yang selalu di hubungkan dengan korupsi? Apakah dampak korupsi di PLTU ,PLTD, dan pembangkit listrik lainya tidah berdampak buruk lebih dari PLTN?] pertanyaan-pertanyaan itulahlah yang menjadi jawabanya. Sudah menjadi aturan tak tertulis di seluruh dunia, bahwa semua operator dan orang-orang yang terlibat dalam oprasional PLTN akan di tempatkan dalam satu komplek yang berjarak beberapa meter dari reactor, selain mengantisipasi kesiapan, dan kesigapan operator dan efektifitas kerja, juga sebagai perisai psikologis bagi sikap disiplin dan tanggung jawab kerja yang tinggi. Di mana apa bila ketidak disiplinan yang menyebapkan kelalaian terjadi maka anak/istri di sebelah reactor akan jadi taruhanya.

3. Chernobyl dan Fukushima .

26 april 1986 Chernobyl sebuah malapetaka nuklir terbesar yang terjadi dari sebuah PLTN, kecelakaan yang menewaskan 31 orang dan membuat 135 ribu lainnya mengungsi serta menurut data terakhir 4000 jiwa akan tewas terpicu kangker Chernobyl Ukraina Utara (adipedia.com). Berbeda dengan chernobyl  tragedi fukushima di picu oleh bencana alam, Ledakan PLTN Fukushima Akibat Gempa dan Tsunami Jepang Tanggal, Waktu dan Kejadian 11 Maret 2011 13.06 Gempa 8,9 Skala atau hampir 9 skala,  laporan IAEA yang di muat dalam berita republika  6 oktober 2011 tercatat 15.000 orang tewas dan 4.000 orang di nyatakan hilang akibat “Gempa dan Tsunami”. Tidak ada korban tewas dari ledakan “Reaktor Fukushima” kecuali 11 orang operator yang mengalami luka, namun  112 ribu orang harus di evakuasi untuk menghindari kebocoran radiasi, namun saat ini mereka semua telah kembali ketempat tinggal masing-masing.

Dua contoh rentetan pristiwa kecelakaan dari sebuah PLTN di atas memang cukup mengerikan, dan sering di jadikan alasan untuk menolak opsi PLTN,  kalau sebagian masyarakat di negara ini masih mengganggap dua tragedi ini  paling mengerikan, bearti makna tragedi sebenarnya belum di pahami sepenuhnya, diawali pada tanggal 6 maret 2008 dunia di kejutkan oleh laporan ketua tim peneliti NSDIC   Ted Scambos bahwa 414 kilometer persegi bongkahan Es (atau setara dengan satu setengah kali kota Surabaya ) “Runtuh”.di Antartika, “ Ini akibat Pemanasan Global” ujar Ted. Hal ini mendapat perhatian khusus seluruh dunia , wajar saja karena di Antartika adalah tempat bersemayamnya 90% Es di dunia. Apa saja konsekuaensi dari pemanasan Global. Jelas contoh kejadian di atas adalah salah satunya, yang secara otomatis akan menyebapkan kenaikan permukaan air laut yang selanjutnya akan menenggelamkan pantai, pelabuhan dan pulau2 kecil di seluruh dunia(NASA) bisa di bayangkan kekacauan yang terjadi saat itu terjadi mungkin evakuasi akan 1000 kali lipat Chernobyl dan Fukushima, ekonomi hancur di sebapkan pelabuhan-pelabuhan dangang tenggelam, dampak lain adalah anomali cuaca  serta iklim dunia , badai/gelombang panas , tahun 2007 di St. George USA suhu mencapai rekor tertinggi 48 drajat celcius, Death Valley California USA sempat menyentuh 53 drajat celcius. Tahun 2003 tragedi di eropa selatan gelombang panas menghantam daerah tersebut, kebanyakan penduduk belum siap menghadapinya 35.000 orang tecatat meninggal dunia dan terbanyak di Prancis sekitar 14.802 penduduk meninggal(ustoday.com). Tapi mengapa berita ini kalah populer di bandingkan Chernobyl dan Fukushima? Tragedi tidak sampai di situ perubahan iklim global menyebapkan bencana , badai, topan, putting beliung di seluruh belahan dunia . Adakah yang menghitung total korbanya?di tambah lagi  gagal panen , kematian ternak mengancam ketersediaan pangan dan akan menuai petaka kelaparan atau minimal kenaikan harga bahan konsumsi. Di bidang kesehatan menipisnya lapisan Ozon menyebapkan radiasi sinar UV tak terbendung lagi, kanker dan bermacam endemik penyakit baru bermunculan , malaria yang terbukti meningkat 60 % akibat peningkatan suhu , merambah ke jantung dan paru-paru akut yang kesemuanya muncul dari tiga hal utama Perubahan Cuaca, Pergeseran ekosistem dan Degradasi lingkungan .Dan perlu di ketahui tragedy ini bersifat global mengancam tiap jengkal dari bagian dunia ini tidak satupun yang bisa lolos dari ancaman ini, kecuali apabila ada yang berinisiatif untuk tinggal di pelanet yang lain kecuali bumi, tua-muda ,di timur atau di barat di utara atau selatan, berbeda dengan Chernobyl yang hanya menjangkau bagian utara Ukraina dan Fukushima di sebagian Jepang dan Pasifik. Jadi bila mau sedikit membandingkan bencana Chernobyl hanya menyebapkan penderitaan  beberapa ribu orang dan menewaskan 33 orang dari ledakan dan kerusakan lingkungan di bagian utara Negara ukraina dan Fukushima menyebapkan penderitaan ratusan ribu pengungsi dan 11 orang terluka akibat ledakan reactor. Tentu isu pemanasan global ini berjuta-juta kali lipat lebih mengerikan.

Lalu apakah itu Pemanasan Global( Global Warming) , Global Warming adalah kejadian di mana meningkatnya suhu rata-rata  di atmosfer, daratan, dan lautan di bumi(globalwarming.com). fenomena ini di sebapkan oleh 3 hal, yang pertama adalah Efek Rumah Kaca yaitu energy yang berasal dari matahari dalam bentuk radiasi gelombang menyentuh bumi dari cahaya menjadi panas yg secara alami di gunakan untuk memanas kan permukaan  bumi dan sisanya di pantulkan kembali ke angkasa namun dengan adanya gas rumah kaca seperti uap air , karbondioksida dan metana, panas yang di pantulkan ini terperangkap dalam atmosfer bumi, terakumulasi dan menjadi panas, hal ini terjadi secara terus menerus. Yang ke dua  adalah efek umpan balik, berlanjut dari efek rumah kaca pemanasan menyebapkan volume air yang menguap  ke atmosfer bertambah, di mana uap air itu sendiri adalah salah satu dari gas rumah kaca, hilangnya lapisan es juga menyebapkan efek umpan balik yaitu menurunya kemampuan Albedo(memantulkan cahaya ) oleh Es. Lautan juga kehilangan fungsinya dalam menyerap karbon di sebapkan berkurangnya organisme penting  di dalamnya. Dan yang ketiga adalah Variasi Matahari yaitu meningkatnya aktifitas matahari.

Tidak terbantahkan lagi emisi Carbondioksida menjadi “Agen Utama” penyebap fenomena Pemanasan Global. Tercatat di tahun terakhir terdapat “8 Miliar Ton CO2 di lepaskan dan masuk ke atmosfer. Di mana 40 % CO2 di hasilkan dari pembangkit listrik berbahan Coal(batubara) dan MIGAS, 33 % dari kendaraan sisanya dari industry dan lain-lain, point penting nya adalah 98 % Karbondioksida di hasilkan dari usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan energy( Globalwarming.com).

4. PLTN tidak aman.? Limbahnya berbahaya? Lagi-lagi Chernobyl dan Fukushima dan beberapa kecelakan nuklir lainnya di jadikan parameter aman atau tidaknya sebuah PLTN , tanpa melihat generasi ke berapakah PLTN-PLTN tersebut, ingat ! tidak ada teknologi yang sempurna, tapi semua teknologi menuju ke kesempurnaan. Kasus terakhir di Fukushima walaupun pada kenyataanya reactor dalam proses padam, telah mengispirasi banyak ilmuan untuk menciptakan teknologi –teknologi baru yang lebih aman dari mulai system keamanan pasif sampai system keamanan berlapis. Terbukti PLTN-PLTN modern sekarang ini relative aman dari berbagai incident. Lalu bagai mana dengan limbah radioaktif dari PLTN? Ada fenomena lucu ketika orang-orang meributkan beberapa drum limbah radioaktif secara berlebihan yang belum tentu menimbulkan petaka (asal kan penangananya benar dan sesuai prosedur), di sisi lain membiarkan “8 Miliar Ton” limbah dari PLTU dan PLTD yang berupa emisi Karbondioksida dan tanpa penanganan khusus di lepas begitu saja ke udara dan telah pasti menimbulkan kehancuran bagi kehidupan.sekarang dan mendatang.  Sampai saat ini banyak di lakukan riset tentang penanganan maupun pemanfaatan limbah nuklir, salah satunya adalah yang di lakukan GE Hitachi dengan mendaur ulang limbah untuk di jadikan BBN kembali. Selain itu NASA telah mempublikasikan tren Kendaraan massa depan yang berbahan bakar nuklir(BBN) berupa Plutonium yang di persiapkan untuk misi ke Mars. Terdapat juga teknologi PUREX( Plutonium uranium Extraction) yang mengektrak kembali BBN menjadi bahan bakar Oksida  Campuran(MOX).

5. Biaya pembangunan infrastruktur  sebuah PLTN kapasitas  2x 1.000 Megawatt berkisar antara 36-48 Triliun rupiah, dengan asumsi harga pembangkit saat ini US$2.000 – US$2.500 perkilowattelectric dan harga jual ke konsumen US$ 6 sen – US$ 7 sen (Rp 540- Rp630) per Kwh, belum termasuk biaya eksternal(dampak lingkungan/sosial dan kecelakaan(jika terjadi), Pengolahan limbah/daur ulang(jika mau)).. , dari uraian singkat di atas , Apakah harga PLTN mahal? Jawaban nya relatif. Yang pertama jika mau menggantikan otak anda dengan otak “tengkulak” ya jawabanya adalah mahal, susah berinvestasi dengan modal begitu besar jangka waktu yang lama, serta resiko kegagalan yang ada, Duit untung yang kembali akan meragukan, walaupun kenyataan nya sampai sekarang masih banyak perusahaan swasta dunia yang masih enjoy dengan bisnis PLTN nya. Yang kedua apabila mau berfikir bijak, apalah arti triliaun rupiah di bandingkan dengan masa depan anak cucu, bangsa dan dunia  yang akan dan sedang menhadapai krisis energi saat ini,coal dan migas menipis dan harga semakin mahal, sementara negara harus mengeluarkan 40- 50 triliun Rupiah tiap tahunnya untuk mensubsidi dan setiap tahun beban ini bertambah, belum lagi penangan dmpak limbah emisi yang menjadi biang pemanasan global, penanganan musim kemarau berkepanjangan, banjir, penyakit yang kesemuanya timbul sebagai akibat dari fenomena Global Warming yang membuat dunia ini lebih cepat menghampiri kiamat. Tentu tidak sopan mengkalkulasi harga nyawa anak cucu dan kelangsungan kehidupan di dunia dengan uang.

6. PLTS  lebih baik?

Dari segi oprasional dan sumber energi tidak dapat di bantah khususnya PLTS sangat ramah lingkungan pengoprasian gampang dan simpel. Begitu juga PLTAngin, yang jadi masalah adalah pertama effisiensi surya sel yang kecil sekitar 18 % , tentu untuk kebutuhan rumah tangga hal ini masih di mungkinkan, tapi untuk pemenuhan energi skala industri masih belum begitu memungkinkan, di sinilah masalahnya. Ingat PLTS bersumber dari rangkaian utama surya cell dan Surya Cell ini tidak tidak jatuh dari langit atau di sulap dari kantong ajaib “Doraemon”,  tercatat dalam memperoleh silokon dengan mereaksikan SiO2(pasir silika) + C(karbon)  —> Si(silikon belum murni) + CO2(Agen Global Warming) di perlukan suhu 1900-2100 drajat Celcius atau di perlukan listrik sebesar 10-30 MW atau sepersepuluh kekuatan PLTU Muara Karang 300 MW (Agen Global Warming) kebutuhan listrik tergantung besar atau kecilnya tanur/furnace, untuk skala industri daya ini mutlak di perlukan . Perlu di ketahui bahwa proses ini baru sampai di pemisahan silikon dari pasir silika, masih banyak tahapan untuk sampai ke waffer sikon, tahapan selanjutnya adalah  refining/permurnian  proses pemisahan dari impurity dan mineral ikutan proses ini berlangsung pada suhu 1700 DrajatCelcius lagi-lagi energy yang cukup besar di perlukan dalam tahapan ini, selanjutnya pembentukan silikonclorida pada suhu 350 drajat celcius, selanjutnya proses untuk mendapatkan kadar kemurnian “Eleven_Nine” atau  99,999999999 % kadar kemurnian untuk mendapatkan  performa terbaik dari sel surya. Tahapan ini di lakukan pada medium yang di sebut reactor Siemens pada suhu 1100 dan di lanjutkan dengan proses pembentukan wafer silicon dengan teknik Czochralski (Cz) pada suhu sekitar 1200 drajat celcius untuk mencapai titik lebur(http://energisurya.wordpress.com). Point pentingnya tidak hanya di masalah besarnya energy dan investasi serta teknologi yang di butuhkan, tapi effisiensi yang kecil berakibat teknologi ini tidak mampu memutuskan / meminimalisir rantai lingkaran setan emisi carbondiaoksida, di mana seperti di ketahui energy yang cukup besar dalam proses ini hanya bisa di penuhi oleh sebuah PLTU, jika opsi PLTN di hapus, artinya semakin industrialisasi silica di perbesar maka jumlah emissi CO2 yang di lepas semakin Besar pula, sebuah korelasi yang tak terbantahkan,  ingat emisi tidak hanya di hasilkan dari suplay energy tapi juga dari proses pemurnian itu sendiri, sehingga penulis menyebut fenomena ini dengan “Double Emission”. Pelepassan CO2 ini belum termasuk proses penambangan pasir silica dan lain-lain. Jadi apabila ada LSM atau organisasi lingkungan hidup yang mengkampanyekan penggunaan PLTS dalam kegiatanya seperti selogan “ Ayo gunakan PLTS” atau “Go energy Surya” berarti  saat itu pula mereka mengkampanyekan” Ayo ciptakan Emisi baru CO2 di bumi” atau “Go Emisi Rumah Kaca”. Sekali lagi semua sumber energy ada plus-minusnya tentunya semua bisa berkontribusi bagi kehidupan sesuai porsinya masing-masing , jangan lantas mendiskriminasikan salah satu sumber energy seperti PLTN, tapi setidaknya apabila opsi PLTN di loloskan maka nantinya di harapkan dapat menyuplai energy secara massif bagi industry silica dalam negri sehingga lingkaran setan emisi rumah kaca dapat di putus atau di minimalkan.

7. Menangani lumpur Lapindo dan Gas 3 Kg saja tidak becus?

Kalau kasus satu ini jawabanya singkat saja, yang pertama masalah lumpur dan gas di bandingkan PLTN jelas berbeda. Tidak Aple to Aple, tidak fair. Yang kedua ada istilah orang lain berbuat, kita yang menanggung dosa. Artinya begini, coba di renungkan dan di kilas balik Mengapa bisa terjadi Tragedi lumpur Lapindo???jawabnya adalah akibat kegilan dan kecanduan bangsa ini terhadap migas, sehingga di saat sadar migas sudah habis. Ekplorasi dan ekloitasi di kejar habis-habisan, “ayo cari lagi migas, minyak sudah mulai naik harganya begitu juga gas, subsidi membengkak” akibatnya target di kejar-kejar factor savety di abaikan dan terjadilah Tragedy Lapindo, malang,begitu malang PLTN yang jadi tumpuan dosa nya. Lapindo di jadikan Alasan Penolakan PLTN..sedih..

Hal serupa terjadi pula pada Kasus gas 3 kg, ketika cadangan minyak menipis dan harga mulai naik , subsidi membengkak lagi, dirasa gas masih banyak(padahal sedikit), buru-buru mengkonversi minyak ke gas. Seperti lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya, akibatnya kerja seperti di kejar-kejar setan, kesiapan di kebut-kebut dan akibatnya banyak tabung yang meledak. Celakanya PLTN lagi-lagi jadi sasaran dan penanggung dosa, dan ledakan tabung gas 3 kg di korelasikan dengan ledakan Reaktor Nuklir yang kontruksinya pun belum di bangun, sungguh Kejam.

8. Politik?

Sebagai Negara besar yang menganut paham demokrasi, isu politik masuk dalam ranah yang sangat sensitive , wajar saja apapun di negri ini sudah terpolitisasi, mulai dari UU sampai ke masalah nyamuk pun di politisasi. Apalagi isu PLTN yang akan menyedot dana yang tidak sedikit, dan mudah sekali bergesekan dengan berbagai kepentingan terutama politisasi ekonomi bisnis,untuk membiayai suatu partai agar besar tentu perlu dana yang besar,dana yang besar dari kader yang besar, kader yang besar dari saudagar minyak dan batubara yang besar, PLTN berdiri minyak dan batu bara tidak laku. Terlalu luas apabila di bahas lebih lanjut. Titik point ketika isu penolakan PLTN  di jadikan komoditi politik, memanfaatkan pengetahuan awam manyarakat tentang nuklir dan ketakutan akan bom nuklir akan berdampak ke pembodohan public. Di sini masyarakat di uji logika dan kecerdasan akal nya, sebagai contok yang pernah terjadi dan sedang terjadi, di mana seorang calon pemimpin mengkampanyekan gerakan anti PLTN sebagai teknik untuk mendapatkan dukungan dan simpati masyarakat pemilih, “saya calon pemimpin daerah ini menolak keras PLTN, jangan jadikan daerah ini Chernobyl, demi anak cucu kita” demikian kira-kira inti kampanyenya. Ini sama saja menelanjangi diri sendiri, masyarakat harus pandai memilih antara calon pemimpin yang belum terbukti dan pemimpin yang telah terbukti. Harus tau criteria mutlak seorang pemimpin. Selain pintar, berahlak,visioner, berjiwa pemimpin (leadership) by doing, berpikiran maju ke depan, mempunyai kemampuan menegerial yang baik. Berikut beberapa contoh pemimpin yang terbukti dan di akui secara nasional maupun internasional:

a. Bill Gates pendiri perusahaan raksasa Microsoft,orang terkaya, ahli sedekah,pemimpin yang terbukti di kagumi banyak orang, pendiri yayasan social terbesar”Bill Gates Foundation”. Berbicara di depan ribuan mahasiswa di Caltek(California Institute Technology) menantang mahasiswa dan generasi muda di seluruh dunia untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang akan terjadi di masa depan termasuk di bidang energy.  Gates yang jenius dan berfikir jauh kedepan melihat peluang energy dari nuklir yang menjanjikan dan menyatakan” I Love Nuclear” kecintaan atas nuklir yang ia sebut sebagai solusi energy masa depan yang aman, membuat nya mengambil keputusan membentuk TerraPower(Perusahan yang bergerak di bidang Energi Nuklir). Pernyataan terakhir ketika kunjungan kerjasama nuklir dengan China Gates menjanjikan “All these new designs are going to be incredibly safe,”. Ya ini yang di sebut reactor supersafe.

b. Patrick Moore salah satu pendiri organisasi internasional GrennPeace, di mana ketika orang kebanyakan masih awam tentang pentingnya lingkungan hidup, Patrick bersama rekan-rekanya telah bergerak dalam tujuan penyelamatan dunia dari polusi dan perusakan. Patrick melihat polusi yang merusak telah terjadi akibat usaha manusia memenuhi kebutuhan energy. Dan ia melihat masih ada peluang memperbaikinya dan melihat peluang itu dari “NUKLIR”. Namun pendapatnya ini mendapat tentangan dari rekan-rekanya di Greenpeace. Di Jakarta beberapa waktu lalu dia menyatakan “Greenpeace telah melakukan kesalahan besar dengan menyamakan bom nuklir dan energi nuklir (PLTN)”

c. Dahlan Iskan pria kelahiran Magetan Jatim CEO  Jawa pos dan Jawa Pos Network, sosok pemimpin yang sederhana , cerdas, berwawasan , banyak di kagumi bawahanya dan rekan kerjanya, sosok yang berani terjun langsung ke lapangan, menerapakan secara effektif konsep LeaderShip by Doing, membuat perubahan dan reformasi positif di salahsatu BUMN yang terkenal sakit parah (PLN). Sekarang di percaya menjadi salah satu mentri di Negara ini. Kekagumannya terhadap nuklir energy di buat dalam catatan yang di publikasi dengan judul “Nuklir Tidak Habis Pikir” sosok cerdas ini sudah mampu melihat peluang dalam mengatasi masalah energy masa depan. Dalam seminar di gedung DPR-RI Dahlan Iskan mengatakan “Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) mau tidak mau harus dikembangkan penggunaannya. Kalau ingin memiliki energi yang handal dan murah maka teknologi nuklir menjadi salah satu jawabannya,”

d. BJ Habibie di kenal dengan bapak Teknologi dan Demokrasi, pemilik banyak hak paten di bidang teknologi penerbangan, membawa Indonesia dalam masa-masa transisi yang kritis menuju perbaikan. Pernah menjadi presiden, mentri, pendiri habibie center dan banyak lagi kegiatan-kegiatan yang mempu memberikan sesuatu bagi kemajuan bangsa indo nesia, untuk nuklir dan PLTN beliau berkomentar“Saya berpendapat sudah waktunya dikeluarkan deklarasi mengenai PLTN ini. Saya mendukung penuh pembangunan PLTN, karena sudah tidak ada jalan lagi,” kata Habibie usai seminar bertajuk ‘PLTN Menjamin Ketahanan Penyediaan Listrik Nasional’ di hotel Grand Melia, Jakarta, Rabu (3/1/2010) okezone.com

e. Komaruddin Hidayat. adalah rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dalam bukunya “ Apa Kata Mereka Tentang Nuklir” membahas pentingnya pemanfaatan energy nuklir untuk kesejahteraan. Dalam acara bedah buku tersebut beliau mengatakan “Makanya saya katakan orang yang menolak pembangunan PLTN sama saja anti kemajuan. Bagaimana mungkin industri bisa berkembang tanpa dukungan energi yang cukup, ”

Dan banyak lagi tokoh-tokoh pemimpin yang memandang perlu penerapan teknologi nuklir di berbagai bidang tak terkecuali di bidang energy, penulis tidak mengatakan mereka yang di sebutkan di atas adalah pemimpin yang sempurna, tapi setidaknya ada nilai-nilai penting yang telah terbukti mereka berikan bagi dunia dan bangsa ini. Tinggal kita sebagai masyarakatlah yang harus pandai-pandai memilih dan menilai sosok calon pemimpin negri ini di masa datang, dalam sains dan teknologi di kenal istilah Kalibrasi dan Verifikasi , Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi. Tidak bermaksud menyamakan manusia dengan benda atau alat, tapi tidak kah kita bisa jadikan ini sebagai salah satu teknik dalam memilih pemimpin.

Sekali lagi, sudah saatnya bangsa ini “sadar energy”, tentunya di sadari bahwa mewujudkan sebuah sebuah sumber energy massif dari pemanfaatan nuklir  tidak dapat di lakukan dalam waktu singkat. Oleh karena itu dalam dunia PLTN ada istilah “Sekarang atau Tidak selamanya”. Dan penulis dari 10  tahun mengikuti diskusi mengenai isu ini telah memilih opsi “Sekarang”. Ya sudah saatnya bangsa ini untuk “Go Nuclear”.





Pengurangan 12 Huruf

4 07 2012

Huruf Abjad Indonesia akan dikurangkan menjadi 12 huruf saja (sumber: PPI Jerman & KAIST INA) <– http://www.facebook.com/groups/kaist.indonesia/
——————————————————————————–

LIPI (Lembaga Ilmu Penyederhanaan Indonesia) akan memformulakan aturan baru dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Salah satunya adalah mengurangi jumlah abjad pada bahasa Indonesia.

Abjad yang digunakan saat ini berjumlah 26. Para pakar Komunikasi merasa Ke-26 abjad tersebut masih terlalu banyak, lagipula ada beberapa abjad yang jarang digunakan.

Pertama, huruf X, diganti dg gabungan huruf K dan S. Kebetulan hampir tidak ada kata dalam bahasa Indonesia asli yg menggunakan huruf ini, kebanyakan merupakan serapan dari bahasa asing. Misal taxi menjadi taksi, maximal menjadi maksimal.

Selanjutnya, huruf Q diganti dg KW. Kata-kata yang mengunakan huruf ini juga sangat sedikit sekali.

Huruf Z. Huruf Z diganti menjadi C. Tidak ada alasan kuat tentang hal ini.

Huruf Y diganti dg I. Hal ini dilakukan sebab bunii huruf tersebut mirip dengan I.

Lalu huruf F dan V keduania diganti menjadi P. Pada lepel ini masih belum terjadi perubahan iang signipikan.

Hurup W kemudian diganti menjadi hurup U.

Berarti sampai saat ini kita sudah mengeliminasi 7 hurup.

Hurup iang bisa kita eliminasi lagi adalah R, mengingat baniak orang iang kesulitan meniebutkan hurup tsb. R kita ganti dengan L.

Selanjutnia, gabungan hulup KH diganti menjadi H.

Iang paling belpengaluh adalah hulup S iang diganti menjadi C.

Hulup G juga diganti menjadi K.

Dan hulup J juga diganti menjadi C.

Caia laca cudah cukup untuk hulup-hulup konconannia.
Cekalank kita kanti hulup pokalnia.
Cuma ada lima hulup pokal,A,I,U,E,O.
Kita akan eliminaci dua hulup pokal.

Hulup I mencadi dua hulup E iaitu EE. Cementala hulup U mencadee dua hulup O iaitoo OO.

Cadi,campe cekalank, keeta belhaceel menkulangee hooloop-hooloop keeta. Kalaoo keeta tooleeckan lagee, Hooloop-hooloop eeang telceeca adalah : A,B,C,D,E,H,K,L,M,N,O,P,T.

Haneea ada 12 belac hooloop!! Looal beeaca bookan? Padahal cebeloomneea keeta pooneea 26 hooloop.

Eenee adalah penemooan eeank cankat penteenk dan cikneepeekan! Co,ceelahkan keeleemkan tooleecan anda denkan menkkoonakan dooa belac hooloop telceboot.

kala kala manucia alay hulup hulup belkulang

loaaal beecaa! coopel cekalee

celamat malam ..calam cejahtela untuk cemua ….

(Disadur dari Paskibra Aloysius)





Entrance Region

26 06 2012

Cold Experiment

Quenching Experiment





Berawal dari “ditendang” dan maknanya (part 2 : selama dan setelahnya))

26 06 2012

Terakhir pada upload di blog saya tanggal 29 Maret 2012 di kalimat akhirnya saya tulis “cerita bakal berlanjut, seputar pengalaman berharga saya selama 1,5 bulan di Korsel dan akhirnya ketemu juga makna “ditendang” tadi” , and ternyata untuk nulis butuh kondisi badan, hati dan fikiran yg jernih ya? Atau bahasa anak muda sekarang kudu sedang “em-muud”. Gila juga ya, dah 3 bulan hampit saya baru pengen nerusin lagi itu cerita, sementara pengalama2 dan perasaan yg terkait dengan prosesi selama 1,5 bulan di Daejeon dah mulai luntur. Tapi, janji adalah janji, ya sudah saya tetap harus menuliskannya dan tentunya dengan segala kekurangannya.

Tiba di Daejeon, pada musim dingin bukanlah hal yang menyenagkan ternyata, terlebih kostum yg saya pake untuk udara di daerah pucak bogor, jadinye menderita deh. Tapi, meski dengan Manahan dingin, dan pengen pipis, setiba di Daejeon, teman saya Miss. Ai Malani dah ngejemput dan nganterin ke dormitory-nya KAIST, nama “Hwaam-Dom” dormitory, dan ini dormitory putra yang jaraknya terjauh dari main campus. But, tempatnya nyaman banget, saya tinggal di lantai 1 gedung dua, jadi ruangan R.2105. Ruangan tersebut semestinya untuk dua orang, namun atas kebaikan professornya Ai, bias buat sendirian. Lumayan juga untuk 1,5 bulan saya bayar 400.000 won. Ini harga jauh lebih murah ketimbang saya tinggal di hotel bintang dua, kelebihannya lagi ada kantin mahasiswanya yg lumayan murah untuk sekali makan (maksimal 4500 won) dan ternyata Bis Limousine yg KAIST punya untuk antar jemput mahasiwa juga mampir ke Dom ini, gile itu bis limousine and antar jemputnya dari jam 07.50 ampe jam 03.00.  Jadi kalo mau pulang dari kampus jam 03.00 juga masih ada bis. Kelihatan banget, mahasiswa di sini dimanjain banget sama pemerintahnya, sampe kampus punya anggaran untuk sewa bis dan mengadakan bis yg jenisnya “limousine” tadi untuk antar jemput mahasiswa di dalam kota (bukan di dalam kampus) yang menghubungkan semua asrama-asrama dan kampus utamanya. Jadi, memang gak ada alesan untuk bilang gak ada ongkos atau gak ada kendaraan, semua sudah di siapin. Hari pertama, setalah mengambil kunci dan menyimpan koper di dormitory, hari itu juga langsung meluncur ke kampus, dan langsung mengikuti seminar mingguan mereka. Oh, ya tempat yang bakal jadi medan belajar saya selama 1,5 bulan adalah lab. Riset yang di pimpin oleh professornya Ai Melani, namanya Prof. Soon Heung CHANG, Ph.D dan Lab. Riset Energy System Design and Safety (ESDAS), Department of Nuclear & Quantumn Engineering (NQe. ) KAIST, Build. N7 Room.2418, alamat Gwahangno 335 (373-1 Guseong-dong), Yuseong-gu, Daejeon 305-701. Kegiatan riset di ESDAS Lab. Memang menjurus kea rah Nuclear Technology Safety, khususnya di bidang Heat Transfer yang berfokus kepada Critical Heat Flux (CHF) dan System Design. Tentunya pula kenapa saya memilih program ke ESDAS jelasnya memang relevan dengan aktivitas riset yang saya lakukan semenjak saya bekerja di BATAN dan relevan dengan tema studi S3 saya di DTM FTUI Depok. Kegiatan pokok saya, tentunya melakukan riset bareng dan berdiskusi dengan mereka, khususnya di bawah bimbingan Prof. Chang terkait hasil-hasil penelitian S3 saya selama ini, dan goalnya adalah validasi paper internasional saya untuk syarat S3 dari pengalaman dan masukan teman2 di ESDAS.

Oke deh, balik hari pertama tadi, saya akhirnya berkenalan dengan anggota Lab.ESDAS, dan sekaligus saya juga disediakan tempat dengan mereka. Tadinya sih mau diberikan diruangan peneliti khusus, namun saya tolak karena pengen lebih dekat dnegan mahasiswa S2 dan S3 di Lab. ESDAS, tokh ogut juga kan masih mahasiswa (belakangan nyesel juga, ternyata di ruangan yg saya tolak berisi cewek2 cantik….huaaaaa, nasiip). Oh ya teman2 mahasiswa S2 dan S3 saya selain Ai Melani yang orang Indonesia, saya gambarkan di bawah seklagus posisi duduk saya.

web: http://esdas.kaist.ac.kr/xe/index.php

Usia mereka rata-rata di bawah 30 tahun (gue tua sendiri jadinye nih). Syukur, ternyata mereka semua teman-teman yang baik, dan selalu siap sedia untuk membantu saya. Sikap dan kehangatan mereka dalam berteman dan terhadap tamu patut dijadikan contoh, jika suatu saat kita juga menerima tamu dari luar negeri yg belajar dan bekerja sama dengan kita.

Setelah di minggu pertama saya di ajak muter-muter oleh Ai, sekigus juga mengurus soal dormitory, kartu pengenal (security card) yg saya bisa akses ke mana aja dengan menempelkan kartu pada pintu-pintu setiap ruangan di KAIST maupun di dormitory. Intinya, semua serba dimudahkan dan dilancarkan. Belum fasilitas mahasiswa untuk makan, olah raga, dsb serba lengkap. Soal jajanan lebih menarik lagi, bahwa harga-harga makana dan minuman di dalam kampus ternyata di subsidi oleh kampus sebesar 30%. Jadi kalo saya beli jus jeruk 1,5 liter di toko2 24 jam yg harganya 5000 won, di dalam kampus jadi 3000 won. Dan hanya rokok aje yg gak di subsidi (busyet dah), namun harga rokok lebih murah dari harga makan, rokok paling mahal 2500 won, makan paling murah 4000 won. Beda dengan di kita, rokok 13.500, nasi bungkus 8000 rupiah dah dapet. Intinya semua kondisi di KAIST memaksa semua mahasiswa untuk focus belajar dan hidup dalam rutinitas yg tidak menjemukan. Kok, enggak menjemukan? Karena itu tadi, semua fasilitas sudah disiapkan, seperti warung burger aja buka sampe jam 02.00 pagi. Terus di dalam lab sendiri, yg namanya kopi, teh atau bahan2 untuk minuman sudah selalu tersedia. Semua nampaknya Negara yg nyiapain, entah gimana tuh caranya. Iklim kompetisi juga berkembang dengan baik, dan tidak saling sikut. Terus yg saya lihat, teman2 Korea lebih “humanis” ketimbang ketika saya dulu sekolah di Negara sakura. Saya dan teman-teman di lab., masih punya waktu luang untuk sekedar ngobrol (Selain diskusi) dan kadang diajak makan bareang di luar, sehingga rutinitas yang saya ikuti tidak menjemukan. Komitmen terhadap diri mereka sendiri terlihat sangat kuat pada diri mereka, soal dating jam berapa dan pulang jam berapa saya lihat bukan menjadi urussan pokok. Tapi, tugas yg dikerjakan harus selesai dengan baik dan tepat waktu. Alhasil, saya sebelum berangkat masih membawa paper yg kasar untuk jurnal internasiional, waktu di korea, saya memperbaiki jurnal tersebut, malah bisa dibilang, “merombak” paper awal saya. Banyak perhitungan yg saya lakukan ulang, dan memasukkan analisis baru hasil diskusi dengan teman-teman disana. Kalo di Indonesia, baca jurnal begitu susahnya konsentrasi, selama di korea lumayan banyak jurnal yg terbaca dengan baik. Sehingga paper saya mengalami banyak perubahan, dan terkahir diperiksa dan dikoreksi oleh supervisor, dalam hal ini Prof. Chang yang kebetulan, selain professor KAIST beliyau juga Presiden Asosiasi Nulklirnya Korea (gile bener nih, ketemu ma biangnya langsung).

Biar rada singkat, detial2 cerita lain gak saya masukin deh, intinya dengan makna “ditendang” adalah, keberadaan saya di selama di korea adalah proses re-boot dari otak, mentalitas dan suasana yg selama ini sudah mulai menjenuhkan, apapun alasannya. Kondisi belajar di Negara orang dengan culture dan kondisi yg berbeda memberikan semangat baru dan motivasi baru dalam diri saya, dan saya baru faham betul, kenapa Prof. Raldi memaksa saya harus ke luar negeri selama mengikuti jenjang sekolah S3 ini. Selain untuk me-reboot kondisi saya yg kurang menguntungkan, juga sekaligus memvalidasi pekerjaan saya selama ini kepada institusi yang dianggap lebih faham akan riset saya dan sekaligus netral dalam hal ini ESDAS Lab., KAIST.  Selain saya jauh lebih pede tentunya juga banyak hal yang bisa ditularkan kepada teman2 di Indonesia atau berbagi pengalamanlah istilahnya.

Jadi ditendang di sini adalah istilah untuk kita hijrah dari kondisi diri sendiri yg kurang baik, untuk sementara naik ke level energy tertentu hingga kita recovery dan kembali dengan kondisi yg lebih fresh dan highly motivated. Jadi, jangan sungkan2 untuk pindah dari zona yg kita anggap aman yg sebetulnya secara pelan2 membunuh kreativitas kita, untuk segera pindah ke zona yg kelihatannya tidak nyaman, tapi justeru akan memberikan kemampuan kita untuk membuat kreativitas2 baru dan berguna. Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk saya pribadi dan keluarga, serta teman2.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.








%d blogger menyukai ini: